SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas dikeroyok massa di Baturiti, Tabanan. Lelaki berinisial KD itu diduga mencuri ayam aduan. Peristiwa tersebut terjadi pada 24 Juli 2026 dini hari di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti. Polisi kemudian menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan tersebut.
Entah mengapa, saya langsung teringat kepada Clifford Geertz. Bukan karena Geertz pernah menulis tentang pencurian ayam. Bukan pula karena pengeroyokan massa dapat disamakan begitu saja dengan sabung ayam yang ditulisnya. Justru sebaliknya, saya teringat kepadanya karena Geertz mengajarkan bahwa sebuah peristiwa yang tampaknya sederhana hampir selalu menyimpan sesuatu yang lebih rumit di baliknya.
Seekor ayam, beberapa orang, sekelompok warga, kemarahan, kemudian seorang manusia meninggal. Kalau dilihat sepintas, semuanya tampak sederhana; ada orang yang diduga mencuri ayam, tertangkap, lalu dikeroyok massa. Tetapi mungkin justru di situlah persoalannya. Kita terlalu cepat merasa sudah memahami sebuah peristiwa hanya karena kita sudah mengetahui apa yang terjadi.
Geertz mungkin akan mengajak saya berhenti sebentar. “Coba lihat lagi,” barangkali begitu ia berkata. Saya membayangkan kami duduk berdua, membicarakan sebuah ayam. Saya lalu bertanya kepadanya, “Clifford, mengapa Anda begitu tertarik pada sabung ayam?”
Ia mungkin menjawab dengan tenang, “Karena ayam itu bukan hanya ayam.” Saya tahu, tentu saja, saya sedang membayangkan percakapan dengan orang yang telah meninggal pada 2006. Tetapi bukankah membaca buku pada dasarnya juga semacam bercakap-cakap dengan orang yang tidak berada di hadapan kita?
Geertz meninggalkan gagasan yang masih hidup dalam The Interpretation of Cultures, buku yang pertama kali terbit pada 1973. Salah satu esai terkenalnya adalah “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight”, yang membicarakan sabung ayam di Bali bukan semata sebagai permainan, tetapi sebagai arena simbolik tempat status, harga diri, hubungan sosial, persaingan dan berbagai ketegangan masyarakat dipertunjukkan.
Ayam, dalam pembacaan Geertz, menjadi semacam pintu masuk untuk memahami manusia. Karena itu saya merasa perlu membaca kembali berita dari Baturiti. Bukan untuk mengatakan bahwa pengeroyokan adalah sabung ayam. Bukan. Keduanya berbeda secara moral, sosial, dan hukum. Sabung ayam merupakan praktik pertarungan ayam dalam konteks tertentu. Pengeroyokan adalah kekerasan terhadap manusia. Ketika kekerasan itu menyebabkan kematian, persoalannya menjadi perkara pidana. Tetapi keduanya memiliki satu titik yang membuat saya ingin mengobrol dengan Geertz, yakni; ayam dapat menjadi pintu masuk untuk melihat manusia.
Dalam antropologi, Geertz terkenal dengan istilah thick description, atau deskripsi tebal. Kita tidak cukup hanya mencatat apa yang dilakukan seseorang. Kita harus mencoba memahami konteks dan jaringan makna yang membuat tindakan itu berarti.
Bayangkan seseorang mengedipkan mata. Secara fisik, kita hanya melihat kelopak mata bergerak. Tetapi apakah ia sedang berkedip biasa, memberi kode kepada temannya, menggoda seseorang, atau meniru kedipan orang lain? Gerakannya mungkin sama, tetapi maknanya berbeda. Begitulah kira-kira Geertz mengajarkan kita membaca kebudayaan.
Maka kalau saya hanya menulis, “Seorang terduga pencuri ayam dikeroyok massa hingga meninggal,” saya baru menghasilkan deskripsi tipis. Deskripsi tebal akan membuat saya bertanya lebih jauh; bagaimana dugaan pencurian itu diketahui? Bagaimana kabarnya menyebar? Mengapa warga berdatangan? Apa yang terjadi ketika seseorang yang semula disebut “terduga pencuri” berubah menjadi “maling”? Bagaimana kemarahan seorang pemilik ayam berubah menjadi kemarahan sekelompok orang? Kapan warga berubah menjadi massa?
Dan yang paling penting, adalah, makna apa yang bekerja di antara semua tindakan itu? Pertanyaan tersebut bukan untuk membenarkan kekerasan. Justru sebaliknya. Dengan memahami konteks, kita mungkin dapat melihat bagaimana kekerasan menjadi mungkin.
Dalam pemberitaan mengenai kasus Baturiti, peristiwa bermula ketika KD diduga hendak membawa ayam milik warga. Informasi mengenai kejadian kemudian menyebar dan warga berdatangan. Dalam rangkaian kejadian itu, KD dikeroyok hingga meninggal. Polisi kemudian memproses dugaan pencurian sekaligus dugaan pengeroyokan.

Saya membayangkan Geertz tidak hanya akan tertarik pada pukulan yang menyebabkan kematian. Ia mungkin akan bertanya tentang semua yang terjadi sebelum pukulan pertama. Karena kekerasan kolektif tidak lahir begitu saja dari ruang kosong.
Ada kabar, simbol, rasa takut, kemarahan, ada identitas “kami”, dan ada seseorang yang kemudian ditempatkan di luar “kami”. Saya juga tertarik pada ayamnya. Ayam aduan bukan sekadar benda yang kebetulan dicuri. Ia mempunyai nilai bagi pemiliknya. Ia dipelihara, dirawat, dilatih, dan mungkin memiliki nilai ekonomi maupun emosional.
Di sinilah saya teringat kembali pada Geertz. Dalam “Deep Play”, ia menunjukkan bagaimana ayam jantan mempunyai hubungan simbolik dengan laki-laki Bali. Ayam dirawat dan dipersiapkan untuk pertarungan. Ia bukan sekadar binatang, tetapi bagian dari jaringan simbol yang berkaitan dengan pemiliknya. Karena itu kita perlu berhati-hati dengan kalimat “cuma gara-gara ayam”. Kata “cuma” sering membuat kita gagal memahami sesuatu. “Cuma ayam.” “Cuma uang.” “Cuma sandal.” “Cuma masalah kecil.”
Dalam kehidupan sosial, sesuatu yang tampak kecil dapat menjadi besar ketika sudah terhubung dengan harga diri, kepemilikan, rasa aman, atau identitas seseorang. Sebuah benda bisa menjadi jauh lebih besar daripada benda itu sendiri. Mungkin inilah salah satu pelajaran penting dari Geertz. Tetapi saya tidak ingin berhenti pada ayam. Sebab ada sesuatu yang lebih menarik dalam kasus Baturiti, yakni, massa. Massa tidak selalu sama dengan masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan manusia yang memiliki hubungan sosial, institusi, aturan, sejarah, dan berbagai bentuk keterikatan. Massa dapat terbentuk dalam waktu yang sangat singkat.
Seseorang berteriak, orang lain datang. Seseorang menunjuk. Yang lain mendengar cerita, emosi menyebar. Dan tiba-tiba banyak orang merasa sedang menghadapi satu masalah yang sama. Di titik tertentu, persoalan seorang pemilik ayam berubah menjadi persoalan bersama. Ini menarik jika dibaca secara antropologis. Manusia tidak hanya hidup sebagai individu. Kita hidup dalam jaringan makna. Kita mengenali siapa yang “orang kita”, siapa yang “orang luar”, siapa yang dianggap aman, dan siapa yang dianggap mengancam.
Di sinilah sebuah dugaan pencurian dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada nilai seekor ayam. Orang yang dituduh mencuri tidak lagi hadir sebagai seorang individu dengan sejarah, keluarga, ketakutan dan kehidupannya sendiri. Ia berubah menjadi sebuah label; maling. Dan ketika label itu sudah menempel, manusia yang berada di baliknya bisa menghilang.
Yang tersisa hanyalah musuh. Saya kira di sinilah kita perlu berhenti cukup lama. Salah satu bahaya terbesar dalam kerumunan adalah hilangnya kemampuan melihat orang lain sebagai manusia. Ada ironi yang membuat saya terus memikirkan kasus ini. Geertz menulis tentang sabung ayam sebagai sebuah arena tempat manusia mempertarungkan sesuatu melalui ayam. Dalam kasus Baturiti, ayam yang menjadi objek dugaan pencurian justru berakhir dengan manusia mempertarungkan kemarahan mereka sendiri.
Ayam tidak lagi bertarung, manusialah yang bertarung. Dan pertarungan itu berakhir dengan kematian manusia. Kalau Geertz masih hidup, saya ingin bertanya kepadanya; “Apakah ini juga sebuah deep play?” Saya kira ia mungkin akan mengingatkan saya untuk berhati-hati. Deep play bukan sekadar permainan yang intens. Geertz menggunakan istilah itu untuk menunjukkan permainan dengan taruhan yang begitu tinggi sehingga, jika dilihat dari kalkulasi rasional semata, tampak tidak masuk akal. Dalam sabung ayam, yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi juga kehormatan, status, dan hubungan sosial.
Tetapi dalam pengeroyokan tidak ada permainan. Yang ada adalah kekerasan. Yang dipertaruhkan bukan kehormatan dalam sebuah arena dengan aturan, melainkan keselamatan manusia. Karena itu saya tidak ingin menggunakan Geertz untuk memberi nama baru kepada kekerasan.
Saya ingin menggunakan Geertz untuk membaca sebelum menghakimi. Ironisnya, mungkin justru itu yang kita butuhkan ketika berbicara tentang main hakim sendiri. Ada hal lain yang penting; kita tidak boleh menjadikan peristiwa Baturiti sebagai alasan untuk mengatakan bahwa “begitulah budaya Bali”.
Kalimat semacam itu terlalu mudah, terlalu luas, dan terlalu berbahaya. Kekerasan massa bukan sifat bawaan sebuah kebudayaan. Bali tidak dapat disederhanakan menjadi masyarakat yang identik dengan pengeroyokan hanya karena satu peristiwa.
Sebuah kejadian tidak cukup untuk mewakili keseluruhan masyarakat Bali. Justru antropologi mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa membuat generalisasi. Karena itu Baturiti harus dibaca sebagai sebuah peristiwa, bukan sebagai cermin tunggal tentang Bali.
Ia adalah pertemuan berbagai hal; dugaan pencurian, kepemilikan, ayam aduan, rasa aman, solidaritas warga, emosi, kerumunan, kekerasan dan hukum. Saya kemudian membayangkan percakapan kami berlanjut.
“Clifford,” saya bertanya, “apa yang harus dilakukan ketika kebudayaan bertemu dengan hukum?” Ia mungkin menjawab, “Jangan mencari jawaban terlalu cepat.” Sebab kebudayaan dan hukum tidak selalu berbicara dalam bahasa yang sama.
Masyarakat dapat memiliki gagasan sendiri tentang apa yang dianggap benar, salah, pantas, memalukan, berbahaya, atau harus dihukum. Hukum negara bekerja dengan prosedur. Ada penyelidikan, bukti, tersangka, pemeriksaan, pengadilan, dan ada putusan. Sementara emosi massa bekerja dengan kecepatan yang berbeda. Ia tidak menunggu berkas perkara, menunggu hakim, dan juga membutuhkan ruang sidang. Ia bisa bekerja dalam hitungan menit. Ketika dua sistem itu bertemu, persoalannya menjadi rumit.
Dalam kasus Baturiti, polisi kemudian menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka dalam dugaan pengeroyokan. Perkembangan itu menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi penting; dugaan pencurian tidak menghapus hukum terhadap kekerasan.
Seseorang boleh diduga melakukan kejahatan.Tetapi dugaan itu tidak memberikan hak kepada orang lain untuk menghukumnya sendiri.Di situlah negara hukum berdiri.Dan mungkin antropologi membantu kita memahami mengapa prinsip yang sederhana itu kadang begitu sulit dijalankan dalam situasi nyata.
Saya kembali kepada Geertz. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan merupakan jaringan makna yang ditenun manusia sendiri. Tugas antropolog bukan sekadar mengumpulkan fakta, tetapi mencoba menafsirkan jaringan makna tersebut.
Mungkin karena itu saya tidak ingin menjadikan kasus Baturiti sebagai cerita tentang “orang baik melawan pencuri”. Saya justru ingin melihatnya sebagai cerita tentang manusia yang berada dalam jaringan makna.
Tentang bagaimana seekor ayam bisa berarti begitu banyak, bagaimana rasa kehilangan bisa berubah menjadi kemarahan, bagaimana kabar dapat mengumpulkan manusia, bagaimana individu dapat larut ke dalam kerumunan, bagaimana sebuah label dapat menghilangkan wajah manusia, dan tentang bagaimana kemarahan dapat bergerak lebih cepat daripada hukum.
Pada akhirnya, mungkin inilah yang membuat saya ingin bercakap-cakap dengan Clifford Geertz. Bukan karena saya membutuhkan teorinya untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Hukum akan mengurus pertanyaan itu melalui prosedurnya.
Saya membutuhkan Geertz untuk mengajukan pertanyaan lain; apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara manusia ketika sebuah peristiwa kecil berubah menjadi kekerasan besar? Seekor ayam mungkin tampak kecil. Tetapi di belakang ayam ada pemiliknya. Di belakang pemilik ada keluarga. Di belakang keluarga ada lingkungan sosial. Di belakang lingkungan ada banjar. Di dalam banjar ada ingatan, hubungan, aturan dan solidaritas.
Dan ketika semua itu bertemu dengan rasa takut, kemarahan dan dugaan ancaman, seekor ayam bisa menjadi lebih dari seekor ayam. Begitulah saya membaca Geertz hari ini. Kebudayaan bukan hanya sesuatu yang diwariskan dari masa lalu. Ia juga hadir dalam cara kita bereaksi terhadap peristiwa yang sedang berlangsung.
Ia hadir dalam cara kita menyebut seseorang, dalam cara kita berkumpul, dalam cara kita memandang orang yang dianggap bukan bagian dari kita. Ia hadir dalam cara kita membedakan keadilan dan pembalasan. Dan mungkin, yang paling penting, ia hadir dalam pertanyaan apakah kita masih mampu melihat manusia sebagai manusia ketika ia sudah terlanjur kita beri nama sebagai “maling”.
Saya menutup The Interpretation of Cultures. Ayam tetaplah ayam. Baturiti tetaplah Baturiti. Clifford Geertz sudah lama meninggal. Tetapi percakapan itu belum selesai. Sebab setiap kali manusia berkumpul di sekitar sebuah peristiwa, mempertarungkan harga diri, kemarahan, ketakutan atau kehormatan, kita selalu mempunyai sesuatu untuk dibaca.
Bukan hanya apa yang mereka lakukan, tetapi apa yang sedang mereka katakan melalui tindakan itu. Mungkin itulah cara paling sederhana untuk bercakap-cakap dengan Geertz; melihat lebih lama, menghakimi lebih lambat, dan mencoba memahami bahwa di balik setiap tindakan manusia selalu ada sebuah dunia makna yang belum selesai kita baca. [T]































