SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7 Agustus 2026, adalah kemunculan Nenden Shintawati di panggung. Di antara denting piano, tiupan brass, dan permainan ritmis puluhan musisi, suara Nenden terdengar lantang dan merdu. Ia menyanyikan bagiannya dengan tenang, seolah panggung sebesar itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Penampilannya malam itu sebenarnya hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang Nenden Shintawati di industri musik. Jauh sebelum berdiri di panggung festival jazz di Ubud itu, ia telah mengenal dunia tarik suara sejak masih kecil. Ia tumbuh sebagai penyanyi cilik pada era 1980-an, ketika musik anak-anak masih memiliki ruang yang cukup besar dalam industri rekaman Indonesia. Dua karya yang pernah dibawakannya antara lain album ‘Kasih Mama’ (1985) dan ‘Matahatiku’ (1986).
Dari sana, perjalanan Nenden tidak berhenti sebagai penyanyi cilik. Ia terus tumbuh bersama musik, melewati perubahan zaman, genre, dan panggung yang berbeda. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia masih berdiri di hadapan penonton dan bernyanyi dengan energi yang sama.

Kini Nenden dikenal sebagai penyanyi, pelatih vokal, sekaligus pencipta lagu. Jazz menjadi salah satu wilayah yang paling dekat dengannya, meski kemampuan vokalnya tidak berhenti pada satu genre. Ia dapat membawakan musik pop, melayu, hingga dangdut. Kemampuan berpindah karakter inilah yang membuat pengalaman panjangnya sebagai penyanyi terasa penting. Ia tidak sekadar memiliki suara, tetapi juga memahami bagaimana suara bekerja di dalam beragam bentuk musik.
Di panggung SUVJF 2026, kemampuan itu menemukan ruang yang berbeda. Bersama Salamander Big Band, Nenden menjadi bagian dari pertunjukan pembuka festival yang sejak 2013 mempertahankan jazz sebagai identitas utamanya. Pada penyelenggaraan ke-13 ini, SUVJF kembali mempertemukan musisi dari berbagai latar dengan penonton di kawasan Sthala, Mawang, Lodtunduh, Ubud. Festival tersebut tidak sekadar menyusun pertunjukan, tetapi juga menyediakan ruang untuk komunitas, edukasi, kolaborasi, dan pertemuan antarmusisi.
Di tengah lingkungan seperti itulah Nenden tampil. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan siapa dirinya melalui kisah yang mengundang iba. Justru sebaliknya, kekuatan Nenden terletak pada bagaimana ia menempatkan musik sebagai pusat dari dirinya.
Ia tidak ingin dikenal terutama karena keterbatasan penglihatannya. Dalam perjalanan karier yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun, Nenden memilih untuk berbicara melalui kemampuan bernyanyi dan bermusik. Baginya, keterbatasan bukan sesuatu yang perlu dijadikan komoditas untuk mendapatkan perhatian. Ia ingin penonton mengenalnya karena kualitas vokalnya.

Pilihan itu terasa semakin kuat ketika melihat cara Nenden bernyanyi. Nada rendah maupun tinggi dapat ia olah dengan leluasa. Suaranya tidak hanya terdengar lantang, tetapi juga mampu mengikuti kebutuhan aransemen. Dalam format big band, ketika banyak instrumen bekerja dalam satu komposisi, seorang vokalis harus mampu menemukan ruangnya sendiri tanpa kehilangan hubungan dengan keseluruhan musik. Dan Nenden, memiliki pengalaman untuk itu.
Perjalanan Panjang itu juga membawanya ke berbagai bentuk karya dan profesi. Ia pernah terlibat sebagai pencipta lagu, termasuk ikut menciptakan dan menyanyikan “Cuma Rindu” atau “Dan Kau Hadir” bersama Atalia Praratya sebagai persembahan untuk mendiang Emmeril Kahn Mumtadz. Ia juga pernah membuat karya untuk penyanyi lain. Semua itu menunjukkan bahwa perjalanan Nenden tidak hanya berlangsung di depan mikrofon, tetapi juga di balik proses penciptaan musik.
Sebelumnya, Nenden juga telah melewati berbagai panggung kompetisi. Ia merupakan jebolan Cipta Pesona Bintang 1995 dan dikenal kerap meraih prestasi dalam sejumlah ajang bernyanyi.
Karena itu, penampilannya bersama Salamander Big Band di SUVJF 2026 tidak tepat jika hanya dilihat sebagai penampilan seorang penyanyi yang datang mengisi festival. Ada perjalanan panjang yang ikut naik ke atas panggung malam itu. Perjalanan seorang anak yang mulai bernyanyi pada dekade 1980-an, melewati industri musik yang terus berubah, mencoba berbagai genre, menciptakan lagu, melatih vokal, hingga akhirnya berdiri sebagai penyanyi jazz yang matang.

Di Sthala, perjalanan itu bertemu dengan sebuah festival yang juga memiliki perjalanan panjangnya sendiri. SUVJF telah berlangsung selama tiga belas tahun penyelenggaraan dan tetap memilih jazz sebagai identitas, meski pilihan tersebut tidak selalu menjadi jalan yang paling mudah di tengah tuntutan pasar musik. Festival ini bahkan menempatkan musisi muda dan senior dalam ruang yang sama, membuka kemungkinan regenerasi sekaligus menjaga hubungan antargenerasi dalam komunitas jazz.
Di titik itulah penampilan Nenden terasa memiliki makna lebih. Ia bukan hanya bagian dari sebuah pertunjukan, tetapi juga representasi dari bagaimana seorang musisi dapat bertahan melewati perubahan zaman tanpa kehilangan hubungan dengan musik.
Dari penyanyi cilik yang pernah direkam dalam bentuk kaset hingga vokalis yang berdiri di tengah panggung jazz dengan aransemen big band, Nenden Shintawati telah melewati perjalanan yang panjang. Empat dekade mungkin mengubah banyak hal di sekelilingnya, tetapi satu hal tetap sama, ia masih bernyanyi.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































