SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui Direktorat SMA dan terus dilanjutkan oleh Abdul Mu’ti yang memimpin Kemendikdasmen. Walaupun Nomenklatur Kementerian berubah, Program Duta SMA masih menjadi program primadona pelajar SMA seluruh Indonesia. Buktinya pelajar SMA yang berpartisipasi dalam kegiatan ini pada 2026 sebanyak 2241 orang, padahal yang dicari hanya 76 orang dengan dua orang perwakilan masing-masing provinsi (laki-laki dan perempuan). Pada 2026, Program Duta SMA sudah memasuki Tahun V. Tema yang diusung untuk Pemilihan Duta SMA Angkatan V adalah “Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa”
Sebagai Kepala Sekolah, saya berharap program ini menjadi agenda tahunan berkelanjutan (walaupun rezim berganti) untuk menyiapkan generasi emas 2045. Bukan karena sekolah yang saya pimpin berhasil lolos, saya menyaksikan betapa serunya mereka belajar sebelum acara formal dimulai di bawah bimbingan seniornya yang mantan Duta SMA tahun sebelumnya dan kini sudah menjadi mahasiswa. Begitu mereka bergabung, walaupun ada yang terlambat datang karena kondisi dan penerbangan yang tidak tepat waktu, diskusi langsung hangat. Hal itu misalnya, saya amati Duta SMA dari Provinsi Bali, I Komang Agus Wahyu Suliandika (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) dan Desak Ketut Ari Septiana (SMA Negeri 1 Singaraja) tidak perlu waktu lama mereka cepat beradaptasi dan langsung ngegas dengan ide-ide briliannya. Salut buat Duta Bali, tidak hanya di dalam sesi Kelas di Indoluxe Hotel Yogyakarta mereka jago. Terpantau juga di Kraton Yogyakarta, mereka menjadi pusat kendali dengan argumentasi cerdas, bernas, bermakna, bermartabat tentu saja berkarakter. Walaupun Wakil Bali tidak menjadi Juara dalam Pemilihan Duta SMA 2026, dari disiplin, wawasan, keaktifan, komunikasi, kepemimpinan, integritas tampaknya mereka bersinar. Hal ini dapat menjadi harapan masa depan Manusia Bali Unggul untuk menulis Indonesia kian mendunia.
Pemilihan Duta SMA Tahun 2026 berlangsung selama 5 hari di Kota Yogyakarta menjadi menarik dikulik. Pertama, Yogyakarta mewakili keseluruhan tema, “Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa”. Kedua, Status Yogyakarta sebagai Kota Pelajar sekaligus Kota Perjuangan dan Daerah Istimewa menjadi atmosfir penguatan karakter. Ketiga, dibandingkan dengan Jakarta, aura Yogyakarta lebih adem dan inspiratif. Ini tampaknya tidak terlepas dari berkah Dalem Keraton Yogyakarta yang tidak mengenal Pemilihan Langsung Gubernur seperti daerah lain, termasuk DKI Jakarta.
Direktur SMA Kemendikdasmen Yuli Haryanto, S.E., M.Si. yang menyambut kedatangan peserta dari seluruh Provinsi di Indonesia menekankan, “Pemilihan Duta SMA Tingkat Nasional bukan semata-mata menjadi juara, walaupun juara harus dihasilkan sebagai konsekuensi dari sebuah seleksi. Yang lebih penting, setelah Pengukuhan dan Penguatan, Duta SMA masing-masing Provinsi harus terus bergerak menjadi agen perubahan bergandengan tangan dengan pemangku kepentingan di daerah untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Pada bagian lain, Direktur SMA juga menyampaikan tujuan Pemilihan Duta SMA Tahun 2026. Pertama, mempersiapkan Duta SMA sebagai pemimpin muda yang berkarakter, adaptif, dan mampu menginspirasi lingkungan sekitarnya; Kedua, mendorong implementasi program prioritas Kemendikdasmen melalui aksi nyata yang dilakukan Duta SMA di sekolah dan masyarakat; Ketiga, membangun kolaborasi antar Duta SMA untuk menciptakan inovasi dan dampak positif demi kemajuan Pendidikan Indonesia.
Selanjutnya Dirjen PAUD Dikdas dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD Dikdas PNFI ) Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D menggarisbawahi pentingnya mental baja melawan kemalasan dan kebodohan. Lantas, ia berkisah tentang perjalanan hidupnya yang bermula dari guru SMA dengan dukungan beasiswa mampu menaklukkan dunia akademik di Amerika Serikat (Oregon State University) hingga S-3 padahal saat menjadi guru hanya bermodal ijazah D-3 Pendidikan Matematika Universitas Airlangga. Kisahnya sebagai manusia pembelajar menginspirasi munculnya berbagai tanggapan dari para Duta SMA. Desak Ketut Ari Septiana misalnya, merespon pertanyaan, “Mengapa menjadi Duta SMA ? “Berbagai ekstrakurikuler pernah saya coba, Berbagai lomba debat juga pernah saya ikuti. Saya berdialog dengan Tuhan, mengapa tidak mengizinkan saya menang lomba baca puisi, misalnya. Ternyata Tuhan memilihkan saya menjadi Duta SMA”, kata Septi panggilan siswa SMA Negeri 1 Singaraja seraya mengungkapkan cita-citanya berkuliah di Fakultas Hukum UGM.
Pengakuan Septi mirip dengan I Komang Agus Wahyu Suliandika (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) yang gagal ke Jakarta saat SMP karena hanya bercokol di Juara II dalam ajang Festival Bahasa Ibu saat SMP 2024. “Tuhan ternyata menyediakan karpet merah buat saya menjadi Duta SMA 2026”, kata Wahyu reflektif mengenang kegagalannya.
Begitulah Dirjen PAUD Dikdas PNFI memberikan arahan sekaligus berdialog dengan peserta tanpa kesan menggurui, tetapi menggali kegundahan peserta dari berbagai Provinsi seluruh Indonesia. Dirjen Gogot Suharwoto juga mempunyai cara khas dalam Membuka Acara dengan Pemukulan Gong secara bergantian mulai dari Pejabat tertinggi hingga perwakilan Duta SMA (laki-laki dan perempuan) sehingga suara gongnya pun tidak beraturan dan jumlah pukulan gong sesuai dengan jumah orang yang berada diatas panggung. Tampaknya kepemimpinan Pak Dirjen terinspirasi dari penabuh gamelan. Gayanya sangat cocok dengan tema memperkuat budaya bangsa yang disambut hadirin dengan gemuruh tepuk tangan memberikan aplaus.
“Dengan pemukulan gong secara bergantian, maka Pembukaan Acara Pengukuhan dan Penguatan Duta SMA 2026, resmi dimulai. Seluruh peserta, mohon menggunakan selempangnya masing-masing”, demikian pewara memberikan arahan dari sudut ruangan Indoluxe Hotel Yogyakarta.

Acara Pengukuhan dan Penguatan Duta SMA 2026 berlangsung spektakuler diawali dengan persembahan Tari Golek Ayun-Ayun dari SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman Yogyakarta. Tari Golek Ayun-Ayun merupakan tari klasik gaya Yogyakarta berkisah tentang seorang perempuan muda dalam menemukan jati diri, keanggunan, dan kedewasaan melalui gerak yang lemah lembut penuh makna. Kata golek berarti mencari sedangkan ayun-ayun bermakna gerakan berayun. Secara keseluruhan Tari Golek Ayun-Ayun bermakna perjalanan remaja mencari dan menata diri menuju kematangan melalui gerakan yang lembut, teratur, dan penuh pengendalian diri. Gerakan tari mencerminkan nilai karakter, ketelitian, kesopanan, serta keseimbangan lahir dan batin. Tarian ini dibawakan tiga perempuan dan satu laki-laki sebagai pemberi komando, Kevin namanya. Ketiga penari yang cantik itu adalah Putri, Anggun, dan Aesia. Lenggak-lenggoknya mencerminkan keseluruhan perjuangan peserta hingga sampai di Yogyakarta. Tarian ini diiringi gamelan Jawa dan mampu menyedot perhatian selurah Duta SMA dan para undangan yang hadir. Terasa tepat mewakili tema yang diusung dalam memperkuat budaya bangsa.
Acara Pengukuhan dan Penguatan Duta SMA 2026 berlangsung selama 5 hari di Yogyakarta diisi dengan sesi materi: Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Gerakan 7 KAIH, Serimoni Pembukaan, Perjalanan Budaya ke Keraton, Kunjungan ke SMA Negeri 2 Ngaglik, Materi Kesehatan Mental, Materi Talenta, Penampilan dan Pengenalan Duta SMA Provinsi, Penganugrahan Juara Duta SMA dengan berbagai katagori, Materi BKKBN, Materi Publikasi dan Komunikasi, Penyusunan Rencana Tindak Lanjut, dan Malam Keakraban. Dua materi tergolong baru yang tidak diperoleh Duta SMA tahun-tahun sebelumnya, yaitu Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah dari Bank Indonesia dan Sosialisasi Pendidikan Antikorupsi dari KPK RI. Semua sesi Materi dan diskusi berlangsung di Indoluxe Hotel Yogyakarta,sedangkan Malam Penganugrahan Duta SMA 2026 berlangsung di Pelataran Candi Prambanan.
Dalam kunjungan lapangan ke SMA Negeri 2 Ngaglik, Duta SMA disambut para siswa dengan lagu “Rukun Sama Teman” yang secara spontanitas para Duta SMA berbaur menyanyi bersama. Asyiknya mereka bernyanyi, sampai lupa lapar. Setelah rehat makan siang, dilanjutkan acara simulasi Budaya dan Demo Ekstrakurikuler yang beragam termasuk Demo Memasak. Menariknya acara di SMA ini juga dihadiri para mahasiswa asing yang berkuliah di UGM. Sebagaimana namanya Duta SMA bertugas menjadi pelantang sebaya untuk memperkuat budaya bangsa. “Dari Duta SMA, kelak bisa menjadi Duta Besar”, seloroh Dirjen PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto.[T]































