12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

Ni Made Ratminingsih by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
in Esai
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Ni Made Ratminingsih

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan ditandai bukan sebagai kegelapan secara harfiah tanpa cahaya atau kegelapan tanpa ilmu pengetahuan, namun lebih kepada merosotnya nilai-nilai kebenaran (dharma). Banyak orang pintar di zaman ini, namun sering kepintaran itu tidak digunakan untuk hal-hal yang baik dan benar yang berlaku universal, tetapi sebaliknya kebenaran dan kebaikan yang didasarkan pada kepentingan pribadi dan kelompok semata. Dengan kepintarannya, manusia sering mengkemas kebohongan dan kejahatan melalui tampilan spiritualitas dan kebaikan palsu. Hukum dipelintir sana sini bahkan diubah-ubah demi kepentingan pribadi dan kelompok demi kekuasaan.

Orang-orang baik dan jujur di zaman ini justru banyak memilih diam, tidak mampu bersuara lantaran tidak punya kekuatan dan kekuasaan. Mereka juga banyak ditinggalkan karena tidak masuk dalam lingkarannya, mereka akan dibungkam supaya tidak bersuara.  Manakala berani bersuara, apalagi lantang dan mengkritisi dengan objektif dan tajam, mereka bisa terkena sangsi  melalui undang-undang yang dapat memenjarakan.

Di zaman Kali Yuga ini, dunia juga dipenuhi konflik dan berujung perang. Hal yang paling kontroversial, di balik kemajuan teknologi yang masif dan pesat yang mestinya semakin mendekatkan dunia dan menjadikannya semakin damai dengan diplomasi dan kerjasama global untuk saling memajukan dan menyejahterakan, justru berbalik. Perang Ukraina dengan Rusia sudah berjalan 4 tahun. Perang di jalur Gaza antara Palestina dan Israel tidak pernah berkesudahan sejak lama, bahkan sekarang memanas dengan hadirnya Iran yang mampu meluluhlantakkan Israel dengan ratusan rudalnya. Perang masih terus akan berlanjut. Adakah perang menguntungkan?

Perang dan konflik bersenjata lainnya yang berkedok atas nama ideologi, politik, kekuasaan bahkan demi perdamaian mungkin dianggap benar untuk sang penguasa untuk mempertahankan wilayah kekuasaan dan harga diri. Namun, pernahkah mereka berpikir akan dampak yang diakibatkannya?

Terlalu banyak yang dikorbankan olehnya. Infrastruktur yang dibangun dengan susah payah dan dalam jangka waktu yang lama dengan uang rakyat yang tak sedikit, semua luluh lantak dalam sekejap. Rumah sakit yang seharusnya menyehatkan orang sakit, justru hancur kena bom. Sekolah tempat menjadikan anak-anak pintar, maju, dan berkarakter pun tak luput dari kerusakan. Banyak rumah warga sipil hancur berkeping yang hanya menyisakan puing-puing. Tak hanya itu, banyak luka kemanusiaan yang ditimbulkan. Keluarga kehilangan orang-orang tercinta, anak kehilangan orangtua, perempuan menjadi janda kehilangan suami, orangtua kehilangan anak penerus kehidupannya, kematian seolah lumrah dalam perang. Masyarakat sipil yang tidak paham, mereka yang tak berdosa menjadi korban kebiadaban perang. Adakah perang menjadi harga yang pantas untuk semua ini?

Dimana nurani penguasa yang telah menerjadikan perang? Apakah mereka berpikir dampak dari keputusannya yang egois? Mereka tampak menutup mata terhadap penderitaan warga sipil demi untuk menunjukkan kekuasaan, kehebatan, dan kecanggihan peralatan perang yang dimiliki. Ini adalah sebuah kesombongan yang dipertontonkan, dengan rela mengorbankan warga yang tak berdosa.

Agama tidak pernah mengajarkan kita menjadi pembenci dan melakukan perang. Kurikulum pendidikan di semua negara selalu mengajarkan hal-hal yang bukan hanya terkait kepintaran, kemajuan, dan keterampilan, namun yang terpenting perilaku, sikap dan budi pekerti luhur. Kekerasan yang ditunjukkan lewat perang pun tidak pernah dihadirkan dalam kurikulum, karena pendidikan selalu menekankan pada memanusiakan manusia, sehingga peradaban dan perdamaian menjadi tolak ukur setiap negara yang ingin maju dan sejahtera.

Perang tidak pernah membawa solusi yang manusiawi. Perang tampaknya hanya menguntungkan bagi si pembuat dan penjual senjata serta mereka yang haus kekuasaan. Sisanya, hanyalah kehancuran baik fisik, material, moral, dan sosial. Bukan hanya yang kalah, tetapi juga yang menang.

Perang mengajarkan kita bahwa ambisi dan kekuasaan selalu membawa penderitaan yang jauh lebih besar. Terdapat kehancuran, luka, kehilangan yang tak tergantikan. Kekerasan bukanlah sebuah solusi, kekerasan hanyalah sebuah jalan pintas yang bukan menyelesaikan masalah. Justru perang menimbulkan lebih banyak masalah yakni masalah kemanusiaan.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa perang telah menindas dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian tidak dihasilkan dari perang itu sendiri, namun dari kebesaran hati para pemimpin untuk tidak membenci, dendam, merasa paling hebat, namun memupuk rasa empati, rasa hormat, kesetaraan, saling berbagi, memberi dan menerima, melengkapi, dan saling memaafkan, dengan menghadirkan dialog-dialog kerjasama bilateral yang mutualisme. Bila semua nilai kebaikan ini dihadirkan oleh semua pemimpin dunia, niscaya perdamaian menjadi destinasi kehidupan yang beradab, bermartabat, dan menyejahterakan bagi keberlanjutan (sustainability) umat manusia. 

Semoga Indonesiaku tercinta dijauhkan dari perang fisik yang menyengsarakan, namun tetap menggelorakan semangat berperang dalam melawan kebodohan untuk menjadikan manusia Indonesia yang lebih baik, menjujung nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban, dan kemajuan. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdekalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, dan Majulah Indonesiaku. [T]

Singaraja, 11 Agustus 2026

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RIperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

Next Post

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Ni Made Ratminingsih

Ni Made Ratminingsih

Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Related Posts

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co