10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
August 10, 2026
in Panggung
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Sebagian bergerak mengikuti musik—bahkan sampai ada yang berdansa. Menjelang tengah malam, penonton masih ramai di Giri Stage, pada penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026.

Malam penutupan terasa sedikit berbeda. Pengunjung terlihat lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Mungkin karena mereka tahu ini malam terakhir. Mungkin juga karena sudah dua hari larut dalam suasana festival, sehingga pulang terasa sedikit berat.

Saya datang ke UVJF dengan satu pengalaman yang paling terasa sejak awal, yaitu kedekatan.

Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.

Beberapa penampil itu sempat saya ajak berbincang santai pasca manggung. Saya sempat ngobrol dengan Indra Gupta dari Pong Nakornchai Ensemble, juga dengan Ayu Viby bersama kawan-kawan Westside Vinyl DeeJays.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok UVJF

Jarak antara penonton dan musisi terasa dekat. Setelah tampil, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Itu yang membuat pengalaman menonton di UVJF terasa intim dan hangat.

Penontonnya juga beragam. Ada keluarga dengan anak-anak, pasangan, orang yang datang sendiri, penonton dewasa, sampai bule-bule yang cukup banyak terlihat di antara kerumunan.

Di salah satu bagian festival, anak-anak memiliki ruang sendiri untuk bermain dan menggambar sambil mendengarkan musik jazz. Bagi saya, ini menarik. Anak-anak bisa mengenal jazz tanpa harus duduk dengan sikap seperti sedang mengikuti pelajaran musik. Mereka bermain, musik berjalan. Keduanya bertemu dengan cara yang sederhana.

Vinyl, Obrolan, Komunitas, dan Reuni Fans

Area Community Stage punya suasana yang berbeda dari panggung utama.

Di sana Westside Vinyl DeeJays memainkan musik jazz dari piringan hitam. Di sekilingnya terdapat stand makanan dan minuman. Orang-orang duduk, makan, minum, mengobrol, lalu sesekali memperhatikan musik yang sedang diputar. Area ini yang paling guyup, seperti tempat bertemunya orang-orang memang. Pengunjung dari Giri Stage yang ingin ke Subak Stage akan melewati area ini, begitu juga sebaliknya.

Ini semacam area kumpul komunitas, bahkan bukan hanya komunitas musik. Orang-orang dari berbagai latar komunitas yang berbeda bisa guyup di area ini.

“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” ungkap UVJF Committee Diana Surya.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di Community Space, orang-orang tetap ngobrol dengan teman mereka, musik menjadi bagian dari suasana tanpa harus mengambil seluruh perhatian. Ada yang sibuk dengan makanan. Ada yang sekadar duduk. Tetapi, vinyl jazz terus berputar di tengah percakapan itu. Suasananya guyup.

Malam itu saya juga menonton Ayu Viby bermain vinyl. Dengan kacamata minus dan rambut yang mulai banyak beruban, perempuan paruh baya itu tetap terlihat enjoy memutar piringan hitam.

Ada satu kejadian kecil yang menurut saya menarik. Seorang perempuan paruh baya—sekilas lebih tua dari Ayu Viby—datang dari kursi penonton dan menghampiri Ayu. Ia berterima kasih karena sudah memainkan lagu-lagu lawas yang ia sukai. Salah satunya lagu dari Al Jarreau. Saat menghampiri Ayu Viny, perempuan itu seperti sedang reuni sesama fans Al Jarreau—selain sesama paruh baya juga sesama generasi X yang masih gila musik.

Momen itu sederhana. Tetapi menunjukkan bagaimana sebuah lagu bisa mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan saling mengenal jika tidak berada di tempat itu.

Ketika Jazz Membuat Penonton Tersihir

Salah satu penampilan yang paling saya rasakan malam itu datang dari Pong Nakornchai Ensemble. Saya seperti ditarik masuk ke dalam alunan musik mereka.

Pong Nakornchai memainkan drum dengan tenaga yang berubah-ubah. Ada saat ketika pukulannya cepat dan keras. Ada pula bagian ketika ia bermain sangat pelan, gerakannya kadang seperti memukul, kadang seperti membelai.

Ekspresinya ketika bermain juga menarik untuk diperhatikan. Kepala plontos dengan ekspresi serius tapi ketukan drumnya halus-halus sopan kadang.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di panggung yang sama, permainan contrabass Indra Gupta membuat saya melihat alat musik itu dengan cara berbeda. Selama ini saya membayangkan contrabass sebagai alat musik yang berat dan kaku. Di tangan Indra, instrumen itu justru terasa hidup dan menyenangkan.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg.

Saya cukup lama terdiam mendengarkan mereka. Musiknya membuat perhatian saya tertarik penuh ke panggung. Barangkali jika ada orang memanggil saat itu, mungkin saya tidak akan mendengarnya.

Penonton juga memberikan respons yang spontan. Beberapa kali terdengar suara dari kerumunan. “Huuuuuuuhhhh.Aaaahhhhhh”

Seperti suara orang yang baru saja dirangsang sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Penampilan lain yang apik juga datang dari H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka—biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU. Mereka tampil di Giri Stage membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Trio instrumental asal Jepang itu membuat saya melongo tanpa sadar. Penampilan pianisnya cukup akrobatik menurut saya, entah terbuat dari apa jari-jemarinya itu. Barangkali itu juga, jika mengetik nama band ini dengan album Questune di YouTube, maka yang muncul adalah gambar album mereka dengan gurita yang memainkan piano menggunakan tentakelnya. Pantas saja, pikir saya.

Di malam penupatan itu, ada juga Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

Lalu ada Peperzak Quartet—dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors—yang membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam.

Orang-Orang yang Datang dan Merasa Ikut Memiliki

Selama dua hari, saya melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bercampur di festival.

Ada musisi muda, musisi senior, musisi Indonesia, dan musisi dari berbagai negara. Ada komunitas, keluarga, wisatawan, pekerja festival, tenant, dan penonton.

Di UVJF, batas-batas itu terasa cair. Penonton juga tidak seperti orang yang hanya datang membeli tiket kemudian duduk menonton pertunjukan. Mereka seperti ikut menjadi bagian dari suasana festival.

Hal itu terasa ketika Aji Anom Darsana memberikan sambutan pada penghujung acara. Ia bertanya kepada penonton, apakah mereka love dengan festival ini? Penonton menjawab serentak, “Love! banget”.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi suasana yang mengikutinya cukup terasa. Orang-orang masih bertahan meski waktu sudah mendekati tengah malam.

Kemudian Salamander Big Band memainkan musiknya. Banyak warna bunyi bertemu dalam satu panggung. Ritmenya membuat energi Giri Stage kembali naik. Orang-orang bergerak dan beberapa di antaranya berdansa. Festival terasa belum selesai meskipun pertunjukan sudah berada di penghujung.

Membawa Jazz Lebih Dekat

Ada anggapan bahwa jazz adalah musik yang sulit dijangkau. Musik yang dekat dengan kalangan tertentu dan sering dianggap terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.

Pengalaman di UVJF terasa berbeda. Jazz bisa terdengar dari piringan hitam ketika orang sedang ngobrol. Bisa didengarkan anak-anak sambil bermain dan menggambar. Bisa membuat penonton diam karena terlalu larut mendengarkan permainan musik. Bisa membuat seseorang mengenang lagu lama dari Al Jarreau.

Mungkin itu yang sedang dilakukan UVJF. Membuat orang terhubung dengan jazz dan hal-hal lainnya.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Festival ini mempertemukan orang dengan musik, tetapi juga mempertemukan orang dengan orang lain dan dengan berbagai isu yang ada di sekitar mereka. Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha—menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan. Delapan seniman itu ada Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.

Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan lahir dari barang bekas, material daur ulang, hingga sisa industri untuk kemudian diolah menjadi karya seni.

Bagi saya, jazz malam itu terasa dekat. Dekat dengan telinga, dekat dengan tubuh, dan dekat dengan orang-orang yang menikmatinya serta orang-orang yang menjadi bagian darinya.[T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

Tags: Sthala Ubud Village Jazz FestivalSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Next Post

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co