DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan para tetua. Mitos hidup dalam upacara, bergerak di balik kelir wayang, hadir dalam kidung, terpahat pada dinding pura, dan terus menemukan bentuk-bentuk baru di tangan para seniman. Ia tidak sekadar menceritakan asal-usul dunia atau kisah para kesatria. Mitos adalah cara sebuah kebudayaan merawat ingatan dan memahami perubahan zaman.
Karena itu, ketika seorang seniman menghadirkan kembali Bhisma ke dalam bahasa seni rupa kontemporer, sesungguhnya yang sedang dihidupkan bukan hanya tokoh dalam Mahabharata. Yang kembali dibuka adalah percakapan mengenai manusia. Tentang kesetiaan yang diuji oleh keadaan. Tentang pengorbanan yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Tentang dharma yang sering diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dijalankan.
Dalam konteks itulah karya Satya-Tyagya-Dharma (2025) karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. menarik untuk dibaca. Karya yang dipamerkan dalam B-GAME (Bali Global Art Map Exhibition) bertema Tutur Bhuwana Tuwuh (Myths-World-Memories) ini tidak memperlakukan mitologi sebagai nostalgia. Sebaliknya, ia menjadikan mitologi sebagai cara membaca manusia kontemporer.
Tema kuratorial pameran tersebut sesungguhnya memberi landasan yang kuat. Mitos dipahami sebagai ingatan budaya yang terus bertumbuh. Ia berpindah dari satu medium ke medium lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa kehilangan kemampuannya menjelaskan persoalan-persoalan mendasar yang terus dihadapi manusia.
Pilihan Suardana menghadirkan Bhisma terasa sangat tepat. Dalam epos Mahabharata, Bhisma bukanlah tokoh yang dikenang karena kemenangan. Ia dikenang karena keteguhan. Demi memenuhi janji kepada ayahnya, ia melepaskan hak atas takhta dan memilih hidup selibat. Sumpah itu kemudian menentukan seluruh perjalanan hidupnya. Ia memperoleh kehormatan, tetapi sekaligus memikul penderitaan yang panjang.
Ketika perang Bharatayudha pecah, Bhisma berdiri di pihak Kurawa. Keputusan itu sering dipersoalkan. Namun, justru di situlah letak kompleksitas tokoh ini. Bhisma tidak memilih berdasarkan rasa suka atau benci. Ia memilih berdasarkan kewajiban yang telah diikrarkannya. Ia tetap setia kepada sumpahnya, meskipun kesetiaan itu menempatkannya pada posisi yang tragis.

Tragedi tersebut mencapai puncaknya ketika tubuh Bhisma dihujani anak panah Arjuna. Tubuhnya roboh, tetapi tidak menyentuh tanah. Puluhan anak panah justru menjadi alas tempat ia berbaring. Dengan anugerah iccha mrityu, Bhisma memilih sendiri saat kematiannya. Ia menunggu hingga waktu yang dianggap tepat untuk meninggalkan dunia.
Adegan itulah yang menjadi titik tolak Satya-Tyagyah-Dharma. Namun, Suardana tidak memilih jalan yang lazim. Ia tidak memahat Bhisma sebagai figur manusia lengkap dengan mahkota, busana, dan atribut kepahlawanan. Ia justru menghadirkan sebatang kayu trembesi yang telah menua. Kayu itu dibiarkan mempertahankan lengkung alaminya, retakan-retakannya, bahkan bekas pelapukan yang menjadi penanda usianya. Dari tubuh kayu tersebut, belasan batang besi menyerupai anak panah menembus ke berbagai arah. Kayu jepun dan kulit melengkapi keseluruhan komposisi.
Keputusan artistik itu segera mengubah cara kita membaca karya. Bhisma tidak lagi dikenali melalui wajahnya. Ia dikenali melalui lukanya.
Di sinilah karya Suardana bergerak menjauh dari ilustrasi. Ia tidak sedang memindahkan adegan Mahabharata ke dalam bentuk patung. Ia menerjemahkan pengalaman batin Bhisma ke dalam bahasa material. Kayu menjadi tubuh. Besi menjadi luka. Ruang kosong menjadi kesunyian. Semua unsur bekerja membangun pengalaman estetik yang jauh lebih subtil daripada sekadar menghadirkan representasi visual.
Pilihan material tersebut memperlihatkan kepekaan yang khas. Kayu tidak diperlakukan sebagai bahan baku yang harus kehilangan identitasnya setelah disentuh seniman. Sebaliknya, Suardana membiarkan material mempertahankan sejarahnya sendiri. Serat-serat kayu, warna alami, dan bekas-bekas usia menjadi bagian dari narasi artistik.
Ada sesuatu yang sangat puitis dalam keputusan itu. Tubuh Bhisma yang telah renta dipertemukan dengan tubuh kayu yang sama-sama menyimpan usia. Keduanya sama-sama memikul waktu, membawa luka, sama-sama bertahan.
Dalam perspektif antropologi material, pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa benda tidak pernah sepenuhnya mati. Material memiliki riwayat hidup. Ia tumbuh, berubah, menua, lalu memperoleh makna baru ketika bersentuhan dengan tangan manusia. Kayu trembesi dalam karya ini bukan sekadar media, melainkan bagian dari cerita yang sedang dibangun Suardana.
Karena itu, karya ini tidak hanya berbicara mengenai Bhisma. Ia juga berbicara mengenai waktu. Tentang bagaimana usia meninggalkan jejak pada tubuh.
Tentang bagaimana luka tidak selalu menghancurkan, dan tentang bagaimana sesuatu yang tampak rapuh justru mampu menyimpan daya tahan yang luar biasa.
Jika pada pandangan pertama Satya-Tyagya-Dharma menghadirkan tubuh Bhisma melalui bahasa material, maka semakin lama karya ini diamati, semakin terasa bahwa yang sesungguhnya sedang dibicarakan bukanlah perang, melainkan perjalanan batin manusia. Suardana tidak mengajak penonton mengingat siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam Bharatayudha. Ia justru mengarahkan perhatian pada apa yang tersisa setelah peperangan selesai, yakni luka, kesetiaan, dan pilihan-pilihan yang tidak pernah sederhana.
Di sinilah judul karya menjadi penting. Satya, Tyagya, dan Dharma bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan tiga lapis makna yang menyusun keseluruhan bangunan konseptual karya.
Satya adalah kebenaran. Namun, dalam diri Bhisma, kebenaran bukanlah sesuatu yang berdiri di luar kehidupan. Ia harus dijalani, dipertahankan, bahkan dibayar dengan penderitaan. Kesetiaan Bhisma kepada sumpahnya bukan keputusan yang menghadirkan kenyamanan. Sebaliknya, sumpah itulah yang membuat hidupnya dipenuhi dilema.
Dalam kehidupan modern, kesetiaan sering dipahami sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan. Janji dapat diubah mengikuti keadaan. Prinsip dapat bergeser mengikuti kepentingan. Dunia bergerak terlalu cepat sehingga komitmen sering kali menjadi sesuatu yang sementara. Melalui Bhisma, Suardana menghadirkan kemungkinan lain, yakni bahwa martabat manusia justru lahir dari keberaniannya memegang sesuatu yang diyakini benar, meskipun harus membayar harga yang mahal.

Konsep kedua adalah Tyagya, yang berakar pada pengertian tyāga atau pengorbanan. Akan tetapi, pengorbanan dalam karya ini tidak dipahami sebagai tindakan heroik yang penuh kemegahan. Ia hadir sebagai pilihan sunyi. Bhisma tidak pernah mengumumkan pengorbanannya kepada dunia. Ia hanya menjalaninya. Pengorbanan menjadi bagian dari kesehariannya, bukan sesuatu yang dimaksudkan untuk memperoleh pujian.
Barangkali di sinilah karya ini menyentuh pengalaman manusia masa kini. Kita hidup di tengah budaya yang sering mendorong setiap tindakan untuk segera dipublikasikan dan diakui. Bahkan pengorbanan pun kadang berubah menjadi pertunjukan. Suardana mengingatkan bahwa ada pengorbanan yang tidak memerlukan tepuk tangan. Ada kesetiaan yang tetap bermakna meskipun tidak diketahui siapa pun.
Konsep ketiga adalah Dharma. Kata ini mungkin merupakan istilah yang paling sering diucapkan, tetapi sekaligus paling sulit dijelaskan. Dharma bukan hanya aturan moral, melainkan kesadaran untuk menjalani kehidupan sesuai dengan tanggung jawab yang diyakini. Ia bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam diri manusia.
Dalam kisah Bhisma, dharma tidak pernah tampil sebagai jawaban yang sederhana. Justru karena ia terus bergulat dengan dharma, Bhisma menjadi tokoh yang begitu manusiawi. Ia tidak selalu berada dalam posisi yang mudah. Ia harus memilih di antara kewajiban-kewajiban yang saling bertabrakan. Dan setiap pilihan meninggalkan luka.
Suardana menangkap kompleksitas itu dengan sangat baik. Ia tidak mengubah Bhisma menjadi simbol kesempurnaan. Sebaliknya, ia memperlihatkan Bhisma sebagai manusia yang tetap teguh, meskipun tidak pernah terbebas dari konflik batin.
Secara visual, Satya-Tyagya-Dharma dibangun melalui kesederhanaan yang matang. Tidak ada kecenderungan memenuhi setiap bidang dengan detail atau ornamen. Justru ruang kosong memperoleh fungsi yang sama pentingnya dengan ruang yang terisi.
Batang kayu yang melengkung menjadi sumbu utama komposisi. Anak-anak panah yang menembus tubuh kayu membentuk ritme visual yang membuat pandangan mata terus bergerak. Mata mengikuti arah besi, kembali kepada tubuh kayu, lalu berhenti pada ruang-ruang yang sengaja dibiarkan kosong.
Ruang kosong itulah yang menghadirkan keheningan. Dalam seni rupa, keheningan sering kali lebih sulit diciptakan daripada keramaian. Keheningan bukan berarti tidak ada bentuk, melainkan kemampuan sebuah karya memberi ruang bagi penonton untuk masuk ke dalamnya. Satya-Tyagya-Dharma memiliki kualitas tersebut. Ia tidak segera membuka seluruh maknanya. Karya ini meminta waktu, kesabaran, dan perhatian.
Semakin lama dipandang, semakin terasa bahwa hubungan antarmaterial menjadi pusat kekuatannya.
Kayu menghadirkan kehangatan dan jejak kehidupan. Besi menghadirkan ketegangan dan luka. Kulit menjadi penghubung yang memberi kesan organik.
Ketiga material itu tidak saling mengalahkan. Masing-masing mempertahankan karakternya, tetapi sekaligus membangun kesatuan makna. Di tangan Suardana, material tidak kehilangan identitasnya. Ia justru memperoleh kehidupan baru.
Sebagai profesor seni kriya, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. menunjukkan bahwa kriya kontemporer tidak lagi berhenti pada persoalan keterampilan mengolah bahan. Kriya berkembang menjadi cara berpikir. Material dipilih bukan semata karena sifat fisiknya, melainkan karena kemampuannya membawa gagasan. Penguasaan teknik hadir tanpa perlu dipertontonkan secara berlebihan. Ia bekerja dengan tenang di balik bentuk, membiarkan makna tumbuh perlahan melalui pengalaman estetik penonton.
Di titik inilah Satya-Tyagya-Dharma memperlihatkan dirinya bukan hanya sebagai karya yang indah secara visual, tetapi juga sebagai karya yang mengandung kedalaman intelektual. Ia menghubungkan mitologi, material, dan pengalaman manusia dalam satu bahasa artistik yang utuh.
Jika dicermati lebih jauh, Satya-Tyagya-Dharma tidak hanya berbicara tentang Bhisma. Karya ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus hidup tanpa harus terperangkap dalam pengulangan bentuk. Di tangan Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., Mahabharata tidak diperlakukan sebagai teks yang harus diilustrasikan secara setia. Ia menjadi sumber perenungan yang terus terbuka terhadap pembacaan baru.
Pilihan semacam ini penting dalam perkembangan seni rupa Bali kontemporer. Selama bertahun-tahun, seni Bali sering dikenali melalui kekayaan ornamen, ketelitian teknik, dan kedekatannya dengan narasi-narasi religius. Ciri-ciri tersebut tentu merupakan bagian penting dari sejarah seni Bali. Namun, ketika hanya berhenti pada pengulangan bentuk, tradisi berisiko kehilangan daya hidupnya.
Suardana menunjukkan jalan yang berbeda. Tradisi tidak harus diulang, tetapi harus diajak berdialog.
Dalam karya ini, yang dipertahankan bukan bentuk visual Bhisma sebagaimana dikenal dalam wayang atau lukisan klasik, melainkan nilai yang dikandung tokoh tersebut. Dengan demikian, Mahabharata tidak hadir sebagai kisah masa lalu, tetapi sebagai perangkat untuk membaca persoalan manusia hari ini.
Pendekatan seperti itu mengingatkan bahwa kebudayaan sesungguhnya selalu bergerak. Tradisi bukan benda mati yang disimpan di museum. Tradisi bertahan karena terus ditafsirkan kembali. Setiap generasi memberikan pengalaman baru, dan pengalaman itu melahirkan cara pandang baru terhadap warisan yang diterimanya.

Tema Tutur Bhuwana Tuwuh (Myths-World-Memories) memperoleh makna yang konkret melalui karya ini. Kata tuwu, yang artinya bertumbuh, menjadi kunci untuk memahami keseluruhan pameran. Ingatan budaya tidak membeku. Ia tumbuh bersama masyarakat yang menghidupinya. Mitos tidak kehilangan makna ketika berpindah medium. Sebaliknya, perpindahan itulah yang membuatnya tetap relevan.
Karena itu, Bhisma dalam karya Suardana bukan lagi milik India kuno ataupun semata-mata milik dunia pewayangan. Ia telah menjadi bagian dari percakapan universal mengenai integritas. Pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi Bhisma adalah pertanyaan yang masih dihadapi manusia modern, yakni, bagaimana mempertahankan prinsip ketika dunia terus menawarkan jalan yang lebih mudah? Bagaimana tetap setia ketika kesetiaan justru mendatangkan kerugian? Dan bagaimana menjalankan dharma ketika setiap pilihan mengandung konsekuensinya sendiri?
Di sinilah karya ini terasa sangat kontemporer. Ia tidak berbicara mengenai masa lalu, melainkan berbicara mengenai hari ini.
Ada hal lain yang menarik untuk dicermati, yakni hubungan antara karya ini dengan perkembangan seni kriya Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, kriya mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai seni terapan yang menonjolkan fungsi dan keterampilan, kini batas antara kriya, patung, dan seni instalasi semakin cair. Material tidak lagi dipilih hanya karena keindahan atau kegunaannya, tetapi juga karena kemampuan simboliknya.
Sebagai akademisi yang lama bergelut dalam pendidikan seni, Suardana memperlihatkan pemahaman yang matang terhadap perubahan tersebut. Satya-Tyagya-Dharma tidak berusaha menunjukkan kerumitan teknik demi mengesankan penonton. Sebaliknya, teknik bekerja secara sunyi. Yang menonjol bukan kepiawaian tangan, melainkan kejernihan gagasan.
Dalam dunia seni rupa, sikap seperti ini menunjukkan kedewasaan artistik. Seniman tidak lagi merasa perlu membuktikan kemampuannya melalui demonstrasi teknik. Ia cukup menghadirkan bentuk yang jujur terhadap gagasan yang ingin disampaikan.
Pilihan membiarkan tekstur kayu tetap kasar, mempertahankan retakan alami, serta tidak menutupi bekas perjalanan material merupakan keputusan estetik yang penting. Kesempurnaan visual bukan lagi tujuan. Justru ketidaksempurnaan itulah yang menghadirkan pengalaman estetik yang lebih manusiawi.
Tubuh Bhisma tidak mungkin sempurna. Ia adalah tubuh yang menanggung usia.
Tubuh yang membawa luka, namun tetap berdiri karena luka-luka itu sendiri. Barangkali karena itulah karya ini menghadirkan pengalaman yang hening. Tidak ada ledakan dramatik atau efek visual yang memaksa perhatian. Semuanya berlangsung perlahan. Penonton diajak melihat, kemudian merenung. Dan setelah perenungan itu selesai, karya masih terus bekerja di dalam ingatan.
Di titik inilah seni menemukan salah satu perannya yang paling penting. Ia tidak sekadar menghasilkan objek yang indah untuk dipandang. Ia menciptakan ruang bagi manusia untuk bercakap dengan dirinya sendiri. Seni menjadi jeda di tengah kehidupan yang bergerak terlalu cepat. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal harus segera dipahami. Ada pengalaman yang memang memerlukan waktu untuk mengendap sebelum akhirnya menjadi kebijaksanaan.
Pada akhirnya, Satya-Tyagya-Dharma memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah karya seni tidak selalu terletak pada kemampuannya menciptakan bentuk yang sama sekali baru. Kekuatan itu sering justru lahir dari keberanian membaca kembali sesuatu yang telah lama dikenal, lalu mempertemukannya dengan pengalaman manusia pada zamannya. Itulah yang dilakukan Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. terhadap Bhisma.
Ia tidak menghidupkan kembali seorang kesatria, namun menghidupkan kembali sebuah pertanyaan, yakni, bagaimana manusia menjaga integritas ketika dunia terus berubah?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi justru di sanalah letak kedalamannya. Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang tanpa henti. Nilai-nilai berubah begitu cepat. Ukuran keberhasilan semakin sering ditentukan oleh pencapaian material, popularitas, dan kemampuan memenangkan persaingan. Dalam situasi seperti itu, kata-kata seperti satya, tyagya, dan dharma mudah terdengar sebagai istilah yang berasal dari masa lalu.

Namun, karya ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Justru ketika dunia berubah sangat cepat, manusia membutuhkan titik pijak yang tidak mudah bergeser. Kesetiaan kepada kebenaran, kesediaan berkorban demi sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, serta keberanian memegang tanggung jawab moral merupakan nilai-nilai yang tetap dibutuhkan, betapapun bentuk kehidupan telah berubah.
Suardana menyampaikan gagasan tersebut tanpa khotbah. Ia tidak memerintah dan menggurui. Ia hanya menghadirkan tubuh kayu yang ditembus anak-anak panah, lalu membiarkan penonton membangun percakapannya sendiri dengan karya itu.
Di situlah seni bekerja. Seni tidak menawarkan jawaban yang selesai. Seni justru menjaga agar pertanyaan-pertanyaan penting tidak pernah berhenti diajukan. Setiap penonton mungkin akan membawa pulang tafsir yang berbeda. Ada yang melihat keteguhan, penderitaan, ada juga yang melihat pengorbanan. Bahkan mungkin ada yang melihat dirinya sendiri di dalam tubuh Bhisma yang tetap bertahan meskipun dipenuhi luka.
Kemampuan menghadirkan banyak kemungkinan tafsir merupakan salah satu kualitas penting karya seni yang matang. Sebab sebuah karya tidak lagi sepenuhnya menjadi milik senimannya ketika ia dipertemukan dengan publik. Ia memperoleh kehidupan baru melalui pengalaman setiap orang yang melihatnya.
Dalam konteks itulah Satya–Tyagya–Dharma berhasil menerjemahkan semangat Tutur Bhuwana Tuwuh (Myths-World-Memories). Mitos tidak diposisikan sebagai peninggalan yang dibekukan dalam sejarah. Ia menjadi ingatan budaya yang terus tumbuh, terus bergerak, dan terus menemukan bentuk baru. Seni rupa menjadi salah satu ruang tempat pertumbuhan itu berlangsung.
Yang tumbuh bukan hanya bentuk, melainkan makna. Bhisma tidak lagi tinggal di dalam halaman-halaman Mahabharata. Ia berpindah ke tubuh kayu, memasuki ruang pamer, lalu hidup kembali di dalam kesadaran orang-orang yang memandangnya.
Barangkali di situlah arti penting karya ini. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui tafsir. Setiap generasi menerima warisan yang sama, tetapi tidak pernah membacanya dengan cara yang sama. Dan ketika seorang seniman mampu menghadirkan pembacaan baru tanpa memutus hubungan dengan akar budayanya, di situlah tradisi menunjukkan bahwa ia masih hidup.
Melalui Satya-Tyagya-Dharma, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. memperlihatkan bahwa seni kriya kontemporer dapat menjadi ruang perjumpaan antara keterampilan, pemikiran, dan pengalaman spiritual. Material tidak berhenti sebagai benda. Ia berubah menjadi bahasa. Bahasa yang tidak hanya berbicara tentang Bhisma, tetapi juga tentang manusia.
Tentang manusia yang terus belajar menerima luka, dan berusaha menjaga martabatnya. Juga, manusia yang tidak pernah berhenti mencari makna di tengah perubahan zaman.
Mungkin karena itulah Bhisma tidak pernah benar-benar mati di Kurukshetra. Ia hidup setiap kali manusia memilih tetap jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan, setiap kali seseorang rela melepaskan kepentingan pribadinya demi kebaikan yang lebih besar, setiap kali dharma dipertahankan meskipun harus dibayar dengan pengorbanan. Dan melalui tangan kreatif Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., kehidupan itu memperoleh tubuh yang baru: sebatang kayu trembesi yang menua, belasan anak panah yang membelah kesunyian, serta sebuah karya seni yang mengingatkan bahwa mitos terbesar tidak pernah berhenti pada kisah para kesatria. Mitos terbesar selalu bermuara pada manusia yang terus berusaha memahami dirinya sendiri.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto






























