KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum genap satu bulan mereka berpacaran. Malam Minggu ini mereka sepakat untuk bertemu, mengobrol, dan berkencan pertama di sebuah kafe pinggir sungai.
Heru Pambudi, seorang karyawan perusahaan telekomunikasi adalah laki-laki yang penuh usaha keras untuk mendapatkan simpati Tuty Rosdiana yang bekerja sebagai manajer pemasaran perusahaan properti. Meski sesungguhnya Heru adalah lelaki yang realis, pragmatis, dan kaku; namun ketika berkenalan dengan Tuty rasa romantis Heru muncul juga. Karena itulah ia mengajak Tuty untuk kencan pertama di sebuah kafe pinggir sungai.
Sedangkan Tuty Rosdiana adalah perempuan yang sangat peka. Ia tidak begitu mudah untuk jatuh cinta kepada lelaki. Tapi entah kenapa, Tuty merasa begitu cepat menerima cinta Heru. Ia merasakan kenyamanan ketika mengobrol dan berbicara visioner tentang rumah tangga masa depan. Tuty menganggap Heru lelaki yang penuh tanggung jawab dan hidupnya terencana dengan baik.
Sebelum berangkat menjemput Tuty, sepeda motor Heru sudah dicuci bersih. Jaket denim ia pakai. Salah satu alasan Heru memakai jaket itu adalah ucapan Tuty: “Mas Heru tampak cowok banget kalau pakai jaket”. Parfum disemprotkan ke jaket itu tiga kali. Heru juga mneyemprot langit-langit kamarnya dengan harapan aroma wangi jatuh ke seluruh tubuhnya.
Tuty sudah siap di depan rumah ketika Heru memarkir sepeda motornya. Ia kenakan celana jeans dan baju lengan panjang warna hitam kesukaannya. Senyum manis diumbar untuk menyambut kekasihnya. Ia sudah berencana untuk berbincang banyak hal saat kencan nanti; mulai soal pekerjaan, makanan kesukaan, film yang sering ditonton, hingga masalah rumah tangga bila mereka menikah kelak.
“Mas, kok ngajak kencan di kafe pinggir sungai sih? Serem tahu..,” ucap Tuty ketika mereka bersiap untuk berangkat. Tuty naik ke jok belakang sepeda motor sambil tertawa kecil. Tangannya memegang ujung jaket Heru.
“Viral di TikTok, Tut. Kafenya estetik. Kopinya katanya bisa bikin jujur. Cocok buat kencan pertama,” kata Heru memberi alasan.
Tuty tertawa renyah mendengar jawaban Heru. Ia suka sekali bila Heru bercanda, tapi tak garing. Ada saja pilihan kata yang membuat Tuty merasa adem berada di sisi Heru. Itu pula yang membuat Tuty merasa sudah puluhan tahun mengenal Heru, meski mereka baru sebulan berpacaran.
***
Tepat di tikungan jalan raya ada jembatan besar yang di bawahnya terdapat Sungai Belut dengan arus air tak begitu deras. Disebut Sungai Belut, karena konon banyak belut yang hidup di pinggiran sungai. Anehnya masyarakat sekitar tak mau menangkap belut di sungai itu, lantaran dianggap jelmaan makhluk gaib.
Terdapat jalan berundak turun menuju kafe di pinggir sungai. “River Senja” nama kafe itu. Tuty Rosdiana melihat cat di papan nama kafe mulai mengelupas. Bahkan Tuty melihat huruf N di kata “Senja” tampak seperti warna darah mengering. Tuty curiga, ada yang tidak beres dengan kafe ini.
“Benar ini kafenya, Mas? Nggak salah?” tanya Tuty memastikan kepada Heru. Sebelum berangkat tadi Tuty mencoba mencari tahu kafe itu di media sosial. Ada yang berbeda dengan yang ia lihat.
“Benar, Tut. Sesuai di google map. Bagus kan?” jawab Heru meyakinkan. Meskipun ia sering tersesat saat menggunakan aplikasi pencarian lokasi, namun ia yakin kafe ini adalah yang viral di media sosial.
Tuty mengamati kafe itu sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Perasaannya tidak enak. Ia menduga Heru salah alamat. Mereka masuk. Lantai 1 kafe itu tersedia beberapa kursi dan meja kayu. Lampu gantung berwarna kuning, dan kaca besar menghadap sungai. Terdapat 13 meja, dan pada meja 13 terletak tulisan “Reserved”. Berarti meja 13 sudah ada yang memesan.
Lantai 2 kafe itu ditutup dengan alasan sedang direnovasi. Padahal dari luar tadi Tuty jelas mendengar suara kursi yang diseret di lantai 2. Tuty mulai merasa tidak nyaman. Apalagi saat ia melihat kasir kafe yang sudah tua, kisaran usia 70 tahun. Para pelayan kafe memanggilnya Mbah Kunti. Tuty sempat kaget dan sedikit merinding mendengar nama itu.
Heru dan Tuty duduk di kursi nomor 10, tidak begitu jauh dari kursi nomor 13 yang sudah dipesan. Dari tempat duduk mereka terlihat jelas Sungai Belut. Arusnya tenang, tapi airnya berwarna hitam. Tuty pernah mendengar dari tetangganya, sungai ini kadang minta tumbal pada malam Jumat Kliwon. Banyak kasus orang tenggelam di sungai, tapi jasadnya tidak ditemukan.
Percakapan mengalir dari mulut Heru dan Tuty di kencan pertama ini, tentang banyak hal. Tuty menanyakan kenapa Heru tertarik padanya. Heru tak eksplisit menjelaskan alasannya. Namun dari kalimat yang diungkapkan, Tuty merasa tersanjung ketika disebut sebagai perempuan yang mandiri, konsisten, dan kadang manja pada orang yang disayang.
Heru segera memesan minuman untuk mereka berdua. “Kopi Senja” untuk Heru, dan “Lemon Tea” untuk Tuty. Sedangkan kuenya Heru memesan butter croissant, sedangkan Tuty meminta almond croissant. Tak perlu menunggu lama, pelayan mengantar pesanan mereka. Wajahnya tampak pucat. Tuty terkesiap. Ia melihat jari tangan pelayan itu hanya empat ketika menaruh gelas di meja. Kelingkingnya tidak ada.
“Mungkin silau terkena sinar lampu, Tut. Aku nggak lihat tadi,” kata Heru saat Tuty menanyakan apakah ia melihat jari tangan pelayan kafe.
Tuty masih menerima alasan Heru. Ia tak mau berdebat di kencan pertama mereka. Namun tak lama berselang Tuty kembali dikejutkan oleh sosok pocong yang keluar dari balik kaca jendela kafe. Tuty merinding ketakutan. Anehnya Heru juga tak merasakan apa pun.
“Mungkin hanya properti kafe, Tut,” ujar Heru menenangkan Tuty
“Bukan mas.. pocong beneran. Tuh lihat, dia duduk di kursi nomor 13,” kata Tuty meyakinkan Heru.
Heru mencoba mendongakkan wajah ke arah kursi nomor 13. Kali ini ia melihat sosok pocong yang dikatakan Tuty. Namun ia masih menduga itu hanya bagian dari properti untuk menarik pengunjung kafe.
“Kopi pahit satu..”, kata pocong itu memesan kepada pelayan kafe.
“Baik.. tunggu sebentar,” jawab pelayan sambil membungkukkan badan.
Kali ini Heru terkejut ketika melihat pelayan itu membalikkan badan. Rambut pelayan kafe itu terurai panjang sampai mata kaki. Yang membuat Heru merinding, kaki pelayan itu tak menyentuh tanah, seperti melayang. Namun ketika Heru mengerdipkan mata, pelayan itu berjalan normal seperti biasa. Heru mulai merasakan sesuatu seperti yang dirasakan Tuty, merinding.
***
Kencan pertama Heru dan Tuty di kafe pinggir sungai mulai diwarnai oleh keganjilan yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Sedari tadi tidak ada satu pun pengunjung kafe yang datang selain mereka. Kecuali sosok pocong yang duduk di kursi nomor 13, yang keluar dari balik kaca jendela kafe.
Heru mulai berpikir apa yang dikatakan Tuty ketika pertama tiba di kafe. Jangan-jangan ia salah lokasi atau disesatkan oleh mesin aplikasi pencarian lokasi. Namun ia melihat apa yang ada di dalam kafe mirip dengan yang ia tonton di media sosial. Ia pun curiga, jangan-jangan media sosial itu milik makhluk halus.
Percakapan seputar kencan pertama berubah menjadi perbincangan seputar kafe dan hantu gentayangan. Wajah Tuty mulai menunjukkan raut cemas dan takut. Hawa dingin ia rasakan di sekitar kafe dan tubuhnya. Heru pun menangkap kecemasan itu. Ia meremas tangan Tuty, mencoba menenangkan. Tuty merasakan sedikit kehangatan. Ia menatap Heru, antara cemas dan gemas.
Malam kian larut. Namun masih belum ada pengunjung kafe lain yang datang. Di saat Heru dan Tuty diliputi keanehan, mereka dikejutkan dengan suara getaran yang datang dari lantai 2. Tampak sosok makhluk tinggi besar turun. Rambutnya gimbal sambil membawa sebongkah kayu mirip tongkat pemukul.
Aroma busuk dan nyinyir mengiringi kedatangan makhluk tinggi besar itu. Bau kemenyan juga menebar ke seluruh ruangan kafe. Tuty mendekatkan duduknya di samping Heru.
“Seperti genderuwo..,” ucap Tuty ketakutan sambil menggamit lengan Heru.
“Mungkin gimmick kafe ini, Tut. Halloween yang terlalu cepat,” ujar Heru menenangkan.
Tuty tetap tak merasa tenang. Makhluk itu matanya merah dan bulat besar. Ia menatap Heru dan Tuty seolah menunjukkan sikap tak senang dengan kehadiran mereka di kafe. Ia berjalan dan berhenti di pojok kafe sambil mengeluarkan suara keras: “Arrrgghhhhh…!!!”. Bergetar seluruh bangunan kafe. Heru dan Tuty kaget dan ketakutan. Suasana kafe menjadi mencekam.
Dari arah kasir Mbah Kunti berjalan terseok-seok. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi aneh, dan dari lantai yang ia injak keluar asap hitam. Tuty menggigil sambil memegang erat Heru. Sedangkan Heru mulai panik. Mbah Kunti mendekati mereka. Wajahnya dingin menyeramkan.
“Sebentar lagi kafe tutup. Ini bill kalian,” kata Mbah Kunti sambil menyodorkan kertas putih dengan tulisan berwarna merah darah.
Sedikit gemetar Heru dan Tuty membaca tulisan yang ada dalam nota pesanan mereka. Jantung mereka terasa seakan berhenti berdetak. Nota itu bertuliskan: “Sewa sungai sudah jatuh tempo. Biaya dua nyawa untuk tumbal sungai dan dekorasi kafe”.
Tuty langsung menangis. Heru tampak emosi kepada Mbah Kunti.
“Mbah, kami hanya pesan kopi dan lemon tea..!” teriak Tuty sambil menangis memelas.
Mbah Kunti tertawa. Tampak giginya hitam semua. Heru dan Tuty saling berpegangan ketakutan.
“Kalian pesan “Kopi Senja”. Itu kopi tumbal Sungai Belut. Yang minum tubuhnya harus diserahkan ke sungai. Kalau tak diberi makan, sungai ini akan meluap. Satu kampung bisa mati. Kalian datang berdua untuk dipersembahkan malam ini,” kata Mbah Kunti mengancam.
Tak mau diancam untuk dijadikan tumbal, Heru dan Tuty berdiri. Mereka kini bukan hanya takut, tapi juga muncul keberanian dan perlawanan.
“Kami tak mau jadi tumbal kafe sialan ini..!!!” teriak Heru.
Mbah Kunti menunjukkan amarahnya. Kakinya menghentak lantai sehingga menimbulkan asap hitam berbau gosong. Pocong yang duduk di kursi nomor 13 tiba-tiba bangkit dan menjerit histeris sambil memukul-mukul tubuhnya. Tali pocong di kepalanya lepas. Matanya berlubang menyeramkan. Dadanya kosong, hanya tampak tulang. Heru dan Tuty saling berpelukan menahan takut.
Makhluk seperti genderuwo yang berdiri di pojok kafe juga mengeluarkan suara geram. Bangunan kafe bergetar keras. Ia memandang Heru dan Tuty dengan sorot mata penuh kemarahan. Kemudian ia mendekati Heru dan Tuty sambil mengayunkan kayu yang dibawanya. Bersiap ia akan memukul Heru.
Merasa kekasihnya terancam, Tuty segera memeluk Heru. Dibenamkan wajahnya di dada Heru. Ia merasakan degup jantung Heru berdetak begitu kencang. Heru memegang erat punggung Tuty agar lebih mendekat ke tubuhnya.
“Aku tak rela kamu disakiti mereka, Mas..,” ujar Tuty seraya menangis keras.
“Peluk terus aku, Tut. Kekuatan cinta kita tak mungkin mereka kalahkan,” kata Heru.
Benar saja. Makhluk genderuwo itu menjatuhkan kayu pemukul. Wajahnya menjadi pucat tak bersemangat. Tubuhnya seperti meleleh mengeluarkan bau busuk. Pocong yang sudah bangkit dari tempat duduknya meronta seperti kesakitan. Sedangkan Mbah Kunti sempoyongan hendak jatuh ke lantai.
“Manusia tak tahu diri. Cinta kalian telah merusak rencana pesta di Sungai Belut. Keluar kalian dari ruangan ini..!!!” bentak Mbah Kunti sambil menunjuk ke luar kafe.
Masih sambil berangkulan, Heru dan Tuty bergegas keluar meninggalkan kafe. Begitu sampai di luar, bau busuk menyengat dari dalam kafe. Angin bertiup kencang. Tak lama kemudian “Brraaakkk…”. Kafe runtuh. Asap hitam membumbung ke udara. Tuty semakin erat memeluk Heru.
***
Sejak peristiwa menyeramkan di kafe pinggir sungai, Heru dan Tuty tak mau lagi kencan malam hari. Apalagi di tempat yang sepi. Saat melintasi jalanan di dekat jembatan Sungai Belut mereka selalu merasa merinding. Masih terus terbayang wajah-wajah menyeramkan di dalam kafe yang misterius itu.
Bukan berarti Heru dan Tuty tak lagi mau berkencan. Rasa cinta Tuty kepada Heru kian dalam. Lelaki itu telah mampu menjadi pelindungnya. Bahkan untuk mengingat peristiwa yang mendebarkan itu mereka sepakat untuk patungan modal mendirikan kafe di sebuah kompleks pertokoan. Mereka namakan kafe itu “Pulang Senja”.
Pelanggan kafe milik Heru dan Tuty tidak terbatas pada anak muda saja, tetapi juga pasangan keluarga. Apalagi menu yang ditawarkan begitu banyak, mulai dari beragam racikan kopi hingga camilan yang kekinian. Sesekali Heru dan Tuty kencan di kafe milik mereka sendiri selepas pulang kerja, sambil mengawasi para pegawainya.
Hingga suatu malam, masuk dua orang pengunjung kafe. Satu anak lelaki belia dan perempuan tua berbaju hitam. Sepertinya anak itu cucu dari perempuan tua itu. Heru dan Tuty terkejut. Wajah perempuan tua itu mirip sekali Mbah Kunti pemilik kafe pinggir sungai. Ia juga berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.
“Kopi Senja dua ya..,” kata perempuan tua itu memesan minuman kepada pramusaji kafe.
Saat melewati tempat duduk Heru dan Tuty, perempuan tua itu berhenti sejenak dan melihat ke arah mereka cukup lama. Heru dan Tuty saling pandang. Mereka bertanya-tanya, benarkah perempuan tua itu Mbah Kunti? Heru memanggil pramusaji kafenya. Ia menanyakan pesanan “Kopi Senja” atas nama siapa.
“Atas nama Ibu Nunung, Pak,” jawab pramusaji kafe.
Heru menarik napas lega, perempuan itu bukan Mbah Kunti. Ia kembali duduk di samping Tuty. Mereka berkencan sambil sesekali mengulang cerita peristiwa di kafe pinggir sungai. Kekuatan cinta telah menyelamatkan mereka dari tumbal Sungai Belut. Kekuatan cinta mereka pula yang kelak akan mengantarkan ke gerbang pernikahan. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole































