26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Chusmeru by Chusmeru
July 27, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan baliho. Pemimpin dinilai dari hasil kerjanya selama lima tahun. Kini, satu potongan video tujuh detik dapat membuat kinerja pemimpin selama lima tahun dipertanyakan.

Komunikasi politik pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan, simbol, narasi oleh aktor politik ke publik untuk membangun opini, dukungan, dan legitimasi. Dahulu, komunikasi politik lebih bersifat satu arah. Kini lebih bersifat multiarah dan dialogis. Omongan pemimpin tidak serta-merta akan didengar rakyat, malah kadang langsung dibalas dengan respons nyinyir di media sosial.

Masalah muncul ketika pemimpin kekinian tak menyadari tentang pergeseran perilaku komunikasi politik masyarakat Indonesia. Mereka masih sering berkomunikasi satu arah, sibuk memamerkan capaian kerja, namun jarang mau mendengar keluhan rakyat. Pemimpin semacam itu akan dihadapkan pada krisis komunikasi publik.

Krisis komunikasi publik merupakan kondisi ketika pesan pemimpin tidak sampai, tidak dipercaya, dan memicu kemarahan publik. Krisis ini dapat memantik aksi jalanan oleh rakyat. Tak kalah seru, rakyat juga melampiaskan kemarahannya di jagat maya. Apalagi lebih dari 80 persen rakyat Indonesia sudah melek digital dan aktif di media sosial.

Pertanda krisis komunikasi publik memang sangat mudah dilacak di dunia maya. Terjadi asimetri informasi. Pemerintah sudah merasa melakukan komunikasi politik dengan baik, merasa telah menjelaskan kebijakan; akan tetapi publik tetap tak paham, tak tahu, atau salah paham. Buktinya, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini percakapan publik di ranah digital masih tinggi, lantaran komunikasi di awal memang buruk.

Pesan komunikasi barangkali saja sampai ke publik, tetapi tidak dipercaya, sehingga menimbulkan krisis legitimasi. Yang paling berbahaya, pesan diterima dan dimengerti, namun membuat publik marah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa nggak pakai dolar” memicu reaksi negatif netizen.

Krisis dan Blunder

Mengapa kini banyak pemimpin yang mengalami krisis komunikasi politik dan komunikasi publik? Salah satu penyebabkan adalah perkembangan teknologi digital. Media sosial membuat segalanya berjalan begitu cepat. Jika dulu klarifikasi kebijakan bisa dilakukan 1×24 jam; kini potongan pidato pejabat viral dalam waktu kurang dari satu jam. Klarifikasi yang terlambat membuat publik sudah terlanjur marah.

Rakyat Indonesia saat ini juga bukan lagi penerima pesan yang pasif. Rakyat adalah aktor politik yang aktif pula. Mereka tersebar di berbagai pulau, aktif menafsirkan berbagai pesan, dan selalu mempertanyakan narasi yang dibuat para pemimpin. Maka, ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) “dipaksakan” berdiri di setiap desa dengan narasi demi kesejahteraan, rakyat mempertanyakannya serta menuding pemerintah tak mau mendengar rakyatnya.

Ekspektasi publik kepada pejabat negara kini juga sangat tinggi. Apalagi di era keterbukaan informasi. Sedikit saja pejabat salah berkomunikasi akan langsung mendapat atensi publik. Komunikasi politik dan komunikasi publik pejabat dianggap bagian dari kinerja, bukan sekadar pelengkap. Karenanya, setiap pernyataan pejabat yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat haruslah berkorelasi dengan kebijakan yang dibuatnya.

Komunikasi politik pejabat dan pemimpin yang buruk kerapkali menjadi blunder. Pernyataan bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh terhadap perekonomian orang desa akan dianggap sebagai hilangnya empati pejabat terhadap rakyat. Publik merasakan tekanan ekonomi setiap hari, sementara pejabat tetap mengatakan ekonomi Indonesia baik-baik saja.

Klarifikasi pejabat acapkali juga terlambat yang berakibat blunder dalam komunikasi politik. Kasus pelarangan dan intimidasi terhadap pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” menjadi contoh betapa buruk komunikasi publik pemimpin. Di beberapa tempat telah terjadi pembubaran acara nonton bareng (nobar) film tersebut.

Belakangan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi atau kebijakan yang melarang pemutaran maupun acara nobar film dokumenter tersebut.  Menko Yusril menyatakan bahwa pembubaran acara nobar di beberapa daerah bukanlah arahan terpusat dari pemerintah maupun aparat penegak hukum nasional.

Blunder komunikasi politik terjadi ketika pemimpin terlalu asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Pemerintah sibuk berbicara tentang capaian MBG, tapi tak mau mendengar komentar wali murid yang ketakutan anaknya keracunan, porsi makan yang kurang, distribusi  yang terlambat, dan potensi korupsi dalam proyek MBG itu. Selalu mengeklaim MBG berhasil, meski banyak kasus menimpanya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Puncak Harlah ke-28 PKB tanggal 23 Juli 2026 lalu juga menggambarkan blunder dan krisis komunikasi politik pemimpin. Ia menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM seperti layaknya Londo Ireng, yang merujuk pada sebutan pribumi yang berkhianat lantaran membantu penjajah Belanda. Seraya bertanya: “Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handpondmu siapa?”(CNN Indonesia, 24 Juli 2026). Tentu saja itu pernyataan dan pertanyaan yang tidak layak diucapkan oleh seorang presiden.

Wajah Komunikasi Politik Kini

Pendapat Ketua Umum Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menarik untuk disimak. Dalam satu kesempatan ia mengataakan, bahwa pejabat yang viral itu pertanda baik, tinggal bagaimana menyiasati dan memitigasi pandangan publik. Begitulah memang wajah komunikasi politik kekinian. Popularitas, dan barangkali juga elektabilitas; mengikuti gejala politik algoritma. Tidak cukup hanya mengandalkan baliho, poster, atau kinerja partai.

Algoritma menjadi tim sukses baru bagi politisi. Algoritma TikTok, Instagram, X, dan YouTube sering menyodorkan konten yang sesuai selera penonton milenial dan Gen Z. Bila penonton suka pada kritik politik, maka yang muncul di beranda adalah konten kritik terhadap pemerintah. Politik algoritma kini menjadi wajah komunikasi politik, dan dijadikan strategi aktor politik untuk membidik audiens yang sesuai dengan targetnya.

Influencerisasi politik mempunyai pengaruh yang besar ketimbang partai. Hal ini membuat politik, hiburan, dan budaya populer bercampur menjadi satu paket. Tak heran bila lagu “My Little Bolu Ketan” menjadi tren dan memenuhi beranda setiap media sosial. Orang tak lagi mempersoalkan kinerja Bahlil Lahadalia sebagai menteri. Dan tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Bahlil dan partai politik yang dipimpinnya.

Sudah pasti wajah pemimpin yang terbentuk lantaran politik algoritma akan membawa konsekuensi. Demokrasi lantas menjadi semacam perang dunia maya. Mereka yang memiliki data serta tim informasi dan teknologi kuat dapat mengalahkan orang yang mempunyai visi namun gagap teknologi.

Potensi terjadinya filter bubble juga terbuka lebar. Orang terjebak dalam gelembung opini. Mereka yang pro penguasa hanya akan melihat konten yang pro pemerintah; begitu pun sebaliknya. Akibatnya publik kian terfragmentasi. Tidak ada lagi ruang publik bersama untuk demokrasi. Setiap orang tinggal di dunianya sendiri sesuai dengan algoritma.

Dapat disimpulkan, bahwa krisis komunikasi publik pemimpin pada masa kini merupakan manifestasi dari pergeseran paradigma demokrasi dari representative democracy menuju cyberdemocracy. Dalam tatanan baru ini, ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal, melainkan diproduksi ulang melalui interaksi simbolik di platform digital yang digerakkan algoritma.

Pada akhirnya, era cyberdemocracy tidak memberi ruang kedua bagi klarifikasi yang datang terlambat. Pemimpin hari ini diuji dua kali; saat bekerja untuk rakyat, dan saat menjelaskan kerja itu agar sampai kepada rakyat. Lantaran  algoritma tidak peduli niat baik, ia hanya membaca engagement. Cara pemimpin berbicara karenanya lebih menentukan nasib kebijakan daripada isi kebijakan itu sendiri

Maka, kata-kata seperti ndhasmu, emang gue pikirin, antek-antek asing, dan sebagainya yang keluar dari mulut pemimpin layak untuk dicermati secara serius. Apakah pernyataan itu terlontar sebagai candaan yang tak lucu ataukah memang bagian dari demokrasi siber untuk menggerakkan algoritma? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Next Post

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co