“Hari ini kesiapan sudah seratus persen,” ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club, Kamis (23/7). Kalimat itu menjadi penanda bahwa pesisir utara Bali kembali bersolek.
“Lovina mulai hidup kembali,” lanjutnya.
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun, perubahan di Pantai Lovina kini mudah terlihat. Sejak jalur pedestrian selesai ditata, kawasan pesisir itu menghadirkan wajah baru. Laut tetap tenang, perahu-perahu nelayan melaut seperti biasa, sementara angin pantai berembus melintasi Tasikmadu. Dalam beberapa hari ke depan, pesisir itu akan dipenuhi beragam pertunjukan seni tradisional, seni modern, serta berbagai side event yang meramaikan Pantai Lovina.
Suasana itulah yang akan mewarnai Lovina Festival 2026 pada 24–28 Juli. Memasuki penyelenggaraan ke-12, festival mengusung tema Theatre of Dolphins, yang menggambarkan Lovina sebagai panggung alam tempat laut, lumba-lumba hidup berdampingan bebas dengan masyarakat, budaya, dan kearifan lokal.
Beragam agenda disiapkan untuk mempromosikan destinasi kepada wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah Kabupaten Buleleng menargetkan sekitar 25 ribu kunjungan selama lima hari penyelenggaraan. Salah satu indikatornya terlihat pada lomba perahu layar mini yang mencatat 1.230 peserta, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peserta datang dari berbagai daerah di Bali, bahkan Banyuwangi turut mengirimkan wakilnya.
Menurut Sutjidra, meningkatnya jumlah peserta menunjukkan bahwa Lovina Festival semakin dikenal wisatawan dari luar daerah.
“Kalau peserta datang dari luar daerah, mereka tentu menginap, makan di warung, menikmati wisata lumba-lumba, berbelanja di UMKM, lalu mengunjungi destinasi lain di sekitar Lovina. Pergerakan seperti itu yang kami harapkan terus tumbuh,” ujarnya.
Laut menjadi ruang pertama yang menyambut pengunjung festival.
Di atas perairan yang setiap pagi menjadi habitat lumba-lumba, ribuan perahu layar mini akan bergerak mengikuti arah angin. Seluruh perahu dibuat sendiri oleh para peserta, lengkap dengan tiang dan layar yang mengandalkan hembusan angin sebagai tenaga penggerak.
Tradisi ini telah lama hidup di tengah masyarakat pesisir Bali Utara. Bermula dari permainan sederhana, perahu layar mini kemudian berkembang menjadi atraksi yang selalu dinantikan setiap kali Lovina Festival digelar.
Tahun ini perlombaan berlangsung selama dua hari dengan sistem gugur. Sepuluh perahu dilepas dalam setiap putaran, kemudian dua tercepat melaju ke babak berikutnya hingga menyisakan para finalis.
Tokoh pariwisata Buleleng, Nyoman Arya Astawa atau yang akrab disapa Mang Dauh, menilai lonjakan jumlah peserta menjadi pertanda bahwa gaung Lovina Festival semakin luas.
“Bahkan teman saya tidak bisa mendapatkan hotel di kawasan Lovina karena sudah penuh,” katanya.
Menurut Mang Dauh, sebagian besar peserta datang bersama keluarga maupun kerabat. Mereka menghabiskan waktu beberapa hari di Lovina, menikmati wisata lumba-lumba, mencicipi kuliner lokal, hingga berbelanja di kios-kios masyarakat.
“Kalau mereka tinggal lebih lama, perputaran ekonomi ikut bergerak,” ujarnya.
Dari pesisir, festival berlanjut menuju desa.
Di Desa Kaliasem, lomba sapi gerumbungan kembali digelar sebagai bagian dari identitas agraris Bali Utara. Sebanyak 14 pasangan sapi akan memasuki arena dengan balutan hiasan berwarna-warni, menampilkan kekompakan langkah yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaan para peternak.
Tradisi tersebut lahir dari kehidupan masyarakat pedesaan. Seiring waktu, sapi gerumbungan berkembang menjadi pertunjukan yang memperlihatkan keterampilan joki, keindahan tata rias, sekaligus hubungan masyarakat dengan dunia pertanian.
Melalui festival ini, wisatawan diajak mengenal sisi lain Bali Utara yang tumbuh dari sawah, ladang, dan desa-desa di sekitar kawasan pesisir.
Panitia juga memperkenalkan Lovina Cross Country, lintasan lari sejauh delapan kilometer yang melintasi Tasikmadu, Kalibukbuk, Kaliasem, hingga Temukus sebelum kembali ke garis akhir.
Sekitar 250 pelari telah mendaftarkan diri.
Rute tersebut dirancang agar peserta menyusuri bentang alam Bali Utara melalui jalan-jalan desa, hamparan sawah, kawasan perbukitan, lalu kembali bertemu laut. Di sejumlah titik, masyarakat akan menyambut para pelari dengan baleganjur dan kesenian tradisional sehingga menghadirkan pengalaman yang lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Di tengah berbagai pertunjukan dan perlombaan, festival juga menyediakan ruang untuk membaca kembali sejarah Lovina.
Panitia menghadirkan bedah buku Bunga Rampai Anak Agung Pandji Tisna yang disusun Anak Agung Ngurah Ugrasena. Agenda tersebut mengajak publik menelusuri kembali pemikiran Anak Agung Pandji Tisna, sastrawan sekaligus tokoh yang memperkenalkan nama Lovina kepada dunia.
Melalui buku itu, perjalanan Pandji Tisna dibaca dari berbagai sudut pandang, mulai dari kebudayaan, masyarakat Bali Utara, hingga pandangannya terhadap laut utara Bali sebagai ruang hidup yang terus berkembang.
Penanggung jawab Lovina Festival 2026, Putu Ayu Reika Nurhaeni, menjelaskan bahwa tema Theatre of Dolphins dipilih untuk menggambarkan Lovina sebagai panggung alam tempat lumba-lumba, manusia, seni, budaya, dan kehidupan pesisir saling bertemu.
Festival tahun ini berlangsung di dua kawasan. Tasikmadu menjadi pusat kegiatan pada 24–26 Juli, kemudian rangkaian acara berlanjut di Pantai Binaria hingga 28 Juli. Selama lima hari, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan seni tradisional dan modern, Gerakan Gemar Makan Ikan, diskusi ekonomi kreatif, workshop, pameran UMKM, serta berbagai kegiatan komunitas.
Sebanyak 250 seniman dan pengisi acara, 82 pelaku UMKM, serta 44 komunitas terlibat dalam festival yang menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Menjelang matahari tenggelam, Lovina kembali memperlihatkan denyut kehidupan yang akrab bagi masyarakat pesisir.
Anak-anak berlari di sepanjang pedestrian. Wisatawan berhenti memotret laut yang mulai berubah warna. Pedagang sibuk menata dagangan. Di kejauhan, panggung-panggung telah berdiri menunggu pertunjukan dimulai.
Dalam beberapa hari ke depan, ribuan perahu layar mini akan kembali memenuhi laut. Sapi gerumbungan memasuki arena. Para pelari melintasi sawah dan jalan-jalan desa. Seniman bergantian tampil di atas panggung. Pembaca berkumpul membicarakan Pandji Tisna.
Semua peristiwa itu akan berlangsung di pesisir utara Bali, tempat laut, tradisi, kesenian, literasi, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu perayaan. Melalui Lovina Festival 2026, kawasan ini kembali menunjukkan wajahnya sebagai ruang yang terus hidup, dirawat oleh warganya, dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenalnya lebih dekat.[T]
Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Jaswanto































