BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim liburan tiba. Sungai menjadi tempat melepas penat pada akhir pekan. Pepohonan menjelma latar belakang yang mempercantik selembar foto. Perlahan-lahan, hubungan manusia dengan alam berubah menjadi hubungan antara subjek dan objek. Manusia memandang, sementara alam dipandang. Manusia mengukur, sementara alam diukur. Hubungan yang semula bersifat timbal balik bergeser menjadi hubungan yang sepihak.
Seni, sesekali, mengingatkan bahwa cara pandang seperti itu tidak selalu benar. Melalui karya-karya keramiknya, Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. menghadirkan kemungkinan pembacaan yang berbeda. Alam tidak tampil sebagai lanskap yang berdiri di hadapan manusia, melainkan sebagai ruang tempat manusia sesungguhnya berasal dan akan kembali.
Batu, dedaunan, aliran air, pusaran yang menyerupai galaksi, hingga wajah yang larut dalam keheningan bertemu di atas tubuh bejana yang dibentuk dari tanah. Semua elemen itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling menghidupi, seolah mengingatkan bahwa kehidupan selalu berlangsung melalui hubungan-hubungan yang tak terlihat.
Cara pandang tersebut bertumpu pada dua konsep yang menjadi dasar penciptaan karya, yakni Alam Kedamaian dan Alam Semesta. Pada konsep pertama, seniman menghadirkan bentuk-bentuk organik yang terinspirasi dari aliran air, batu, daun, dan angin sebagai refleksi hubungan manusia dengan lingkungan yang rapuh, tetapi tetap menyimpan harapan akan keseimbangan. Sementara itu, Alam Semesta memperluas pembacaan menuju orbit planet, gugusan bintang, dan pusaran galaksi sebagai ajakan untuk merenungkan posisi manusia di tengah keluasan kosmos.
Karya ini dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5-18 Juli 2026 lalu.
Kekuatan karya-karya ini tidak berhenti pada konsep yang menyertainya. Ia justru tumbuh dari cara gagasan tersebut diwujudkan melalui medium yang sangat sederhana, yakni, tanah liat.
Tanah merupakan material yang sejak awal menyertai perjalanan manusia. Dari tanah, manusia membuat tempat tinggal, membentuk kendi, tempayan, dan bejana untuk menyimpan air, makanan, serta benih kehidupan. Dalam banyak kebudayaan, tanah juga menjadi simbol asal-usul. Manusia dipercaya berasal darinya dan kelak akan kembali kepadanya. Karena itu, ketika tanah liat dipilih sebagai medium berkarya, sesungguhnya yang sedang dibentuk bukan hanya sebuah benda. Yang sedang dibentuk adalah ingatan tentang hubungan manusia dengan bumi.
Barangkali di situlah letak kekhasan karya-karya Rai Sunarini. Ia tidak memperlakukan tanah liat sebagai bahan yang harus ditaklukkan hingga kehilangan karakternya. Material itu justru dibiarkan tetap berbicara. Permukaannya tidak sepenuhnya halus. Tekstur organiknya tetap dipertahankan. Bekas sentuhan tangan tidak dihapus. Warna-warna bumi yang muncul setelah pembakaran tidak ditutupi oleh lapisan warna yang berlebihan. Semua itu memperlihatkan penghormatan terhadap sifat dasar materialnya.
Pilihan tersebut sejalan dengan konsep Alam Kedamaian, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa permukaan karya dibiarkan menyimpan jejak tangan melalui teknik pinching. Jejak itu menjadi simbol bahwa kedamaian tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari penerimaan terhadap proses. Warna-warna alami tanah dipadukan dengan nuansa bumi untuk menghadirkan suasana yang tenang dan harmonis.
Di sinilah karya Rai Sunarini melampaui persoalan teknik kriya. Jejak tangan bukan lagi sekadar bukti bahwa karya dibuat secara manual. Ia menjadi penanda kehadiran tubuh manusia di dalam material. Setiap tekanan jari meninggalkan ingatan. Setiap lekukan menyimpan waktu. Setiap permukaan menjadi catatan tentang proses yang tidak pernah berlangsung secara tergesa-gesa.
Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si, lahir di Denpasar tanggal 13 Juli 1968. Pendidikan terakhir pada Program Studi Seni Program Doktor ISI Bali. Sebagai dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali. Bidang keahlian yaitu Kriya. Prestasi yang diperoleh yaitu Sertifikat Kompetensi dalam bidang Pekeramik tahun 2024. Prestasi lainnya yaitu Penghargaan Adhayapka Nata Kerthi Nugraha yaitu Dosen Berkinerja Sangat Baik pada tahun 2023 dan tahun 2024.
Adapun pengalaman pameran yang pernah diikuti yaitu tahun 2011 Desa Kala Patra Adaptasi Diri dalam Multikultural Art Centre Denpasar, tahun 2012 Pameran Inovasi Produk Kriya Menuju Industri Kreatif Museum Bali, tahun 2013 Pameran Bersama PS. Kriya yang bertempat di Galeri Monkey Forest, Ubud, tahun 2014 mengikuti International Exhibition International Studio For Art & Culture FSRD ALVA yang bertempat diThe University of Western Australia, tahun 2016 Pameran Penciptaan ISI Denpasar, tahun 2018 Academic Exhibition of Craftmanship Utilizing Ceramic & Wood Products Denpasar Art Space, tahun 2020 “Virtualization Movement” virtual exhibihion yang bertempat FSRD Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pada tahun 2025 ia mengikuti Pameran Seni Visual Kantya Samasta Kanta yang bertempat di ISI Denpasar dan mengikuti Pameran Karya Campus Week 2025 “Kolaborasi Mahasiswa dan Dosen ISI Bali. Bulan Oktober tahun 2025 ini baru saja mengikuti Pameran B-GAAD B-Game (Bali Global Art Map Exhibition) yang bertempat di Agung Rai Museum Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery Ubud, Bali. Pada tahun 2026 mengikuti Pameran Prasangsa sebagai Seniman yang bertema “Sebelum Bentuk Menjadi Padat” berlokasi di Jogja Gallery, serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan Diskusi Kajian Artistika Dalam Seni Rupa Kontemporer Bali yang diselenggarakan di Jogja Gallery.
Dalam dunia yang semakin mengagungkan hasil akhir, karya-karya Rai Sunarini mengingatkan bahwa proses memiliki martabatnya sendiri.
Tidak mengherankan apabila kesan pertama yang muncul bukanlah kemegahan, melainkan ketenangan. Karya-karya ini tidak berusaha mengejutkan penonton melalui bentuk-bentuk yang spektakuler. Ia lebih memilih berbicara perlahan. Relief-relief kecil, tekstur yang mengingatkan pada batu dan akar, lengkung-lengkung yang mengalir, serta warna-warna bumi membangun pengalaman yang mengajak mata bergerak pelan dari satu bagian ke bagian lainnya.
Di situlah sesungguhnya perjumpaan dengan karya dimulai. Bukan ketika kita berhasil menemukan maknanya, melainkan ketika kita bersedia memperlambat cara memandang.
Jika ada satu bentuk yang terus hadir dalam sejarah peradaban manusia, bentuk itu adalah bejana. Jauh sebelum manusia mengenal gedung pencakar langit, mesin, atau teknologi digital, mereka telah mengenal wadah. Bejana digunakan untuk menyimpan air, menaruh hasil panen, menjaga benih agar tetap hidup hingga musim tanam berikutnya, atau menjadi tempat persembahan dalam berbagai ritus keagamaan. Dengan kata lain, sebuah bejana tidak pernah hanya menjadi benda. Ia selalu berkaitan dengan kehidupan.
Perspektif inilah yang menarik ketika membaca karya-karya Rai Sunarini. Bentuk bejana yang dipilihnya bukan semata-mata keputusan formal, melainkan bagian dari cara berpikir artistik. Tubuh karya menjadi ruang tempat berbagai unsur bertemu. Relief dedaunan, pusaran, tekstur menyerupai bebatuan, hingga wajah yang larut dalam keheningan tidak ditempelkan sebagai ornamen. Semua itu tumbuh dari tubuh karya, seolah-olah bentuk tersebut sedang mengalami proses kehidupan yang terus berlangsung.
Di titik ini, saya tidak lagi melihat bejana sebagai wadah yang menyimpan sesuatu. Bejana itu sendiri telah menjadi sesuatu yang disimpan; sebuah ruang yang menampung ingatan tentang hubungan manusia dengan bumi.
Pembacaan seperti itu membuat konsep Alam Kedamaian memperoleh kedalaman yang lebih luas. Dalam penjelasan seniman, bentuk-bentuk organik yang terinspirasi dari aliran air, batu, daun, dan angin menjadi refleksi hubungan manusia dengan lingkungan yang rapuh, tetapi tetap menyimpan harapan akan keseimbangan. Permukaannya sengaja mempertahankan jejak tangan agar karya tidak kehilangan sifat manusianya. Kedamaian, dengan demikian, tidak dipahami sebagai keadaan yang sempurna, melainkan sebagai kesediaan menerima proses kehidupan sebagaimana adanya.
Yang menarik, gagasan itu tidak berhenti pada tataran konsep. Ia menjelma pengalaman visual. Jika diamati lebih lama, tidak ada satu bidang pada karya yang benar-benar dibiarkan kosong. Permukaannya dipenuhi ritme yang bergerak perlahan. Relief-relief kecil muncul tanpa saling berebut perhatian. Garis-garis melengkung menghubungkan satu bidang dengan bidang lainnya. Tekstur kasar bertemu dengan permukaan yang lebih halus. Semua unsur hadir dalam komposisi yang seimbang.
Pilihan seperti ini membuat mata tidak berhenti pada satu titik. Pandangan terus bergerak mengelilingi tubuh karya, mengikuti irama yang dibangun oleh seniman. Tidak ada pusat yang benar-benar dominan. Tidak ada bagian yang memaksa dirinya menjadi perhatian utama.
Barangkali di situlah kualitas kontemplatif karya-karya ini berada. Kontemplasi bukanlah sikap pasif. Ia adalah kesediaan tinggal lebih lama bersama sesuatu. Dalam pengalaman menikmati karya seni, kontemplasi berarti membiarkan mata menemukan hubungan-hubungan kecil yang tidak langsung tampak pada pandangan pertama. Karya Rai Sunarini bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak menghabiskan seluruh ceritanya dalam sekali lihat.
Relief wajah yang muncul pada salah satu sisi karya, misalnya, tidak hadir sebagai representasi tokoh religius yang dominan. Mata yang terpejam, ekspresi yang tenang, serta posisinya yang menyatu dengan tekstur di sekelilingnya membuat sosok tersebut lebih dekat dibaca sebagai metafora kesadaran. Wajah itu tidak berada di atas alam. Ia tumbuh dari dalamnya.
Pembacaan tersebut menjadi penting karena mengubah cara kita memahami hubungan manusia dengan lingkungan. Selama ini manusia sering menempatkan dirinya sebagai pusat, sementara alam menjadi latar yang mengelilinginya. Pada karya Rai Sunarini, hubungan itu justru dibalik. Manusia menjadi bagian dari lanskap yang sama. Ia tumbuh bersama dedaunan, batu, air, dan tanah.
Cara pandang seperti ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berlangsung secara terpisah. Pohon tidak hidup sendiri. Batu tidak berdiri tanpa tanah. Sungai tidak mengalir tanpa hujan. Manusia pun tidak pernah hadir sebagai individu yang benar-benar otonom. Seluruh kehidupan bertahan karena adanya relasi yang saling menopang.
Barangkali itulah alasan mengapa karya-karya ini terasa begitu tenang. Ketenangan yang dihadirkan bukan lahir dari ketiadaan persoalan, melainkan dari kesadaran bahwa kehidupan selalu berlangsung melalui keseimbangan. Tidak ada unsur yang berdiri paling tinggi. Tidak ada yang paling berkuasa. Semua mengambil perannya masing-masing.
Dalam konteks itu, medium kriya menemukan maknanya yang paling dalam. Tanah tidak dipaksa menjadi sesuatu yang asing bagi dirinya. Ia tetap menjadi tanah, tetapi kini membawa kemungkinan baru sebagai ruang kontemplasi. Proses membentuk material menjadi bentuk artistik bukanlah tindakan menguasai, melainkan percakapan yang berlangsung perlahan antara tangan manusia dan material bumi.
Mungkin di situlah karya-karya Rai Sunarini mengandung etika yang jarang diucapkan secara langsung. Cara seorang seniman memperlakukan tanah liat sesungguhnya mencerminkan cara manusia memperlakukan alam. Ketika material dihormati, alam pun memperoleh martabatnya kembali. Dan ketika manusia belajar menghormati alam, barangkali di situlah kedamaian menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Apabila Alam Kedamaian berangkat dari pengalaman manusia yang paling dekat dengan bumi, maka Alam Semesta mengajak pembacaan bergerak lebih jauh. Namun, “jauh” di sini bukan semata-mata menunjuk jarak astronomis. Semesta dalam karya-karya Rai Sunarini bukan ruang yang asing dan tak terjangkau, melainkan kesadaran bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam jaringan yang lebih luas daripada dirinya sendiri.
Dalam konsep yang ditulis seniman, karya ini terinspirasi oleh orbit planet, gugusan bintang, dan pusaran galaksi. Bentuk-bentuk spiral yang muncul pada tubuh karya menjadi metafora tentang luasnya kehidupan sekaligus ajakan untuk merenungkan posisi manusia sebagai bagian kecil dari kosmos yang tidak bertepi.
Menariknya, gagasan tentang semesta itu tidak diterjemahkan secara ilustratif. Tidak ada planet yang digambarkan secara realistis. Tidak ada langit yang dipenuhi bintang. Rai Sunarini memilih bahasa yang jauh lebih halus. Lengkung-lengkung yang terus bergerak, pola spiral yang saling bertaut, dan ritme permukaan yang mengalir menjadi isyarat yang cukup untuk membangkitkan pengalaman tentang keluasan.
Pilihan tersebut memperlihatkan kedewasaan artistik. Sebab karya seni tidak selalu harus menjelaskan sesuatu secara harfiah. Sering kali, ia justru menjadi lebih kuat ketika memberi ruang kepada imajinasi penikmatnya.
Spiral yang berulang pada tubuh karya, misalnya, dapat dibaca dalam berbagai kemungkinan. Ia mengingatkan pada pusaran air yang perlahan membentuk arus. Ia menyerupai cangkang siput yang bertumbuh mengikuti hukum alam. Ia juga menghadirkan bayangan tentang galaksi yang terus berputar tanpa henti. Bentuk yang sama ternyata hadir dalam skala kehidupan yang berbeda-beda. Dari sesuatu yang dapat digenggam oleh telapak tangan hingga bentangan semesta yang nyaris mustahil dibayangkan, alam seolah menggunakan bahasa visual yang serupa.
Di sinilah karya Rai Sunarini mengajukan sebuah gagasan yang menarik: semesta ternyata tidak selalu berada di atas kepala kita. Semesta juga hidup di dalam hal-hal yang tampak kecil. Pada sehelai daun yang memperlihatkan pola pertumbuhan. Pada batu yang berubah perlahan karena air. Pada lingkaran tahun yang tersimpan di dalam batang pohon. Bahkan pada segenggam tanah yang menjadi medium karya-karya ini.
Karena itu, membaca Alam Semesta tidak harus dimulai dari langit. Ia justru dapat dimulai dari bumi. Pemikiran seperti ini mengingatkan kita bahwa dalam banyak kebudayaan tradisional, manusia tidak pernah memisahkan bumi dari langit. Keduanya dipahami sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi.
Apa yang terjadi di bumi memiliki hubungan dengan keteraturan kosmos, sebagaimana gerak benda-benda langit menjadi penanda perubahan musim, waktu tanam, hingga ritme kehidupan manusia. Walaupun Rai Sunarini tidak secara eksplisit menyatakan rujukan tersebut, karya-karyanya membuka kemungkinan pembacaan ke arah itu karena hubungan antara bumi dan kosmos terus hadir melalui bentuk-bentuk visual yang dipilihnya.
Di sisi lain, saya melihat bahwa semesta dalam karya-karya ini bukan terutama berbicara tentang keluasan ruang, melainkan tentang kerendahan hati.
Semakin luas semesta dibayangkan, semakin kecil pula posisi manusia di dalamnya. Kesadaran semacam itu justru penting pada masa ketika manusia sering merasa mampu menguasai segala sesuatu. Kita dapat mengukur kedalaman laut, memetakan permukaan planet lain, dan mengirim wahana ke ruang angkasa. Namun, pada saat yang sama, kita sering lupa merawat sungai di dekat rumah, lupa menjaga tanah tempat berpijak, bahkan lupa bahwa tubuh kita sendiri bergantung pada keseimbangan alam.
Barangkali karena itu, karya-karya Rai Sunarini tidak sedang mengajak manusia mengagumi semesta. Ia mengajak manusia menemukan kembali tempatnya di dalam semesta.
Kesadaran tersebut terasa semakin kuat karena tidak ada satu pun elemen visual yang tampil dominan. Wajah, daun, spiral, dan tekstur organik hidup berdampingan. Tidak ada yang menguasai komposisi. Semua hadir sebagai bagian dari keseluruhan. Komposisi seperti ini seolah menjadi metafora bahwa harmoni lahir bukan ketika satu unsur mengalahkan unsur lain, melainkan ketika semuanya menemukan ruangnya masing-masing.
Di sinilah dua konsep yang diusung Rai Sunarini akhirnya saling bertemu. Alam Kedamaian berbicara tentang keseimbangan dalam hubungan manusia dengan lingkungan, sementara Alam Semesta memperluas keseimbangan itu ke dalam kesadaran kosmis. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling menjelaskan.
Dan mungkin, justru di titik itulah karya-karya ini memperoleh daya gugahnya. Ia tidak hanya menawarkan bentuk yang menarik untuk dipandang, tetapi juga mengajak kita memikirkan kembali sebuah pertanyaan yang semakin jarang diajukan dalam kehidupan modern: di manakah sebenarnya tempat manusia di tengah kehidupan yang begitu luas ini?
Barangkali di sinilah karya-karya Rai Sunarini menemukan relevansinya. Ia tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang manusia yang perlahan kehilangan hubungan dengan alam. Yang dipersoalkan bukan semata-mata kerusakan lingkungan, melainkan cara pandang yang membuat manusia merasa berada di luar dunia yang menopang kehidupannya.
Kita hidup pada masa yang bergerak semakin cepat. Waktu diukur melalui produktivitas. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan. Bahkan pengalaman estetik pun kerap berlangsung secepat gerakan jari di layar telepon genggam. Karya seni dilihat sekilas, dipotret, lalu ditinggalkan sebelum benar-benar sempat mengendap menjadi pengalaman.

Dalam situasi seperti itu, karya-karya Rai Sunarini justru menawarkan ritme yang lain. Ia tidak menuntut kekaguman. Ia meminta kesabaran. Kesabaran untuk mengikuti lekukan demi lekukan yang tumbuh di permukaan karya. Kesabaran untuk membaca hubungan antara dedaunan, bebatuan, pusaran, dan wajah yang menyatu dengan tubuh bejana. Kesabaran untuk memahami bahwa keindahan tidak selalu hadir melalui sesuatu yang mengejutkan, tetapi sering kali tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana.
Barangkali karena itu karya-karya ini terasa begitu sunyi. Keheningan yang dihadirkannya bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang yang memungkinkan penonton bercakap dengan dirinya sendiri. Semakin lama memperhatikan permukaan karya, semakin terasa bahwa tidak ada satu bentuk pun yang benar-benar ingin mendominasi. Semua hadir dalam kadar yang seimbang. Seluruh unsur visual saling memberi ruang.
Keseimbangan seperti itulah yang sesungguhnya semakin langka dalam kehidupan hari ini. Manusia modern terbiasa memosisikan dirinya sebagai pusat. Alam dipandang sebagai sumber daya. Tanah menjadi komoditas. Sungai menjadi saluran. Hutan menjadi angka dalam laporan investasi. Cara pandang seperti itu membuat hubungan manusia dengan bumi berubah menjadi hubungan kepemilikan.
Padahal, karya-karya Rai Sunarini justru mengajukan pemahaman yang berbeda, bahwa tanah bukan sesuatu yang dimiliki manusia. Manusialah yang hidup karena tanah. Gagasan itu memang tidak pernah diucapkan secara langsung oleh seniman. Namun, seluruh pilihan artistiknya bergerak ke arah sana. Tanah tetap dibiarkan menjadi tanah. Tekstur alaminya dipertahankan. Jejak tangan tidak dihapus. Material tidak dipaksa kehilangan karakternya hanya demi mencapai kesempurnaan visual. Sikap artistik tersebut menjadi semacam etika yang halus: memperlakukan material dengan hormat berarti memperlakukan alam dengan hormat.
Di titik ini, saya merasa karya-karya Rai Sunarini sesungguhnya tidak sedang mengajarkan manusia untuk mencintai alam. Alam tidak membutuhkan cinta yang romantis. Yang dibutuhkan alam adalah kesadaran bahwa manusia merupakan bagian darinya.
Perbedaan itu penting. Mencintai masih menyisakan jarak antara subjek dan objek. Menjadi bagian berarti menyadari bahwa kerusakan alam pada akhirnya adalah kerusakan terhadap diri manusia sendiri. Bahwa menjaga bumi bukan tindakan heroik, melainkan bentuk paling sederhana dari menjaga keberlangsungan hidup.
Barangkali karena itulah bentuk bejana menjadi sangat bermakna dalam karya-karya ini. Bejana selalu diciptakan untuk menampung kehidupan. Dahulu ia menyimpan air, benih, hasil panen, atau persembahan. Dalam karya Rai Sunarini, bejana itu seolah berubah menjadi wadah yang menyimpan kesadaran. Kesadaran bahwa bumi, manusia, dan semesta bukanlah tiga dunia yang terpisah. Ketiganya saling menghidupi dalam hubungan yang terus bergerak.
Pada akhirnya, saya tidak membaca Alam Kedamaian sebagai gambaran tentang dunia yang bebas dari pertentangan. Saya justru membacanya sebagai kemampuan menerima bahwa kehidupan selalu dibentuk oleh proses. Demikian pula Alam Semesta, yang bagi saya bukan sekadar metafora tentang keluasan jagat raya, melainkan pengingat bahwa setiap kehidupan memperoleh maknanya karena berada di dalam jaringan kehidupan yang lebih besar.
Dari situlah karya-karya Rai Sunarini menemukan kedalaman maknanya. Ia tidak berhenti sebagai objek yang memanjakan mata atau menunjukkan kecakapan mengolah medium. Ia menjadi ruang kontemplasi, tempat manusia diajak meninjau kembali hubungannya dengan bumi yang dipijak setiap hari.
Mungkin itulah yang sesungguhnya disimpan Rai Sunarini di dalam tubuh karya-karyanya. Bukan sekadar bentuk yang dibakar hingga mengeras, melainkan sebuah pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri di luar alam. Kita selalu hidup di dalamnya, dibentuk olehnya, dan pada waktunya akan kembali menjadi bagian darinya.
Sebagaimana segenggam tanah liat yang perlahan menemukan bentuk di tangan seorang perupa, barangkali kehidupan pun sedang membentuk manusia dengan cara yang tidak selalu dapat dipahaminya. Dan justru di situlah kedamaian menemukan maknanya: ketika manusia berhenti merasa sebagai pusat semesta, lalu belajar kembali menjadi bagian darinya.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto



![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-360x180.jpg)
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-360x180.png)


























