PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita, menghadirkan enam pementasan tunggal yang berjalan berurutan sepanjang malam.
Setelah dibuka dengan sajian tari, panggung bergantian diisi oleh Santi Dewi dengan Agem Ni Pollok, Widhi dengan Profesor Tai, Bintang Shafnat dengan Sejarah, Purba Wiangga dengan Pidato, Vira Pramitha dengan Tolong, dan Pande dengan Prodo Imitatio. Namun di antara keenamnya, satu pementasan berhasil menahan perhatian lebih lama dari yang lain: Agem Ni Pollok, naskah tulisan sekaligus dibawakan sendiri oleh Santi Dewi.
Ni Pollok bukan nama asing bagi siapa pun yang mengenal sejarah seni rupa di Bali. Ia adalah penari legong keraton asal Banjar Kelandis, Denpasar, yang kemudian menjadi model sekaligus istri pelukis Belgia, Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès.
Sosok Ni Pollok dikenal luas sebagai perempuan yang setia menjaga warisan suaminya hingga akhir hayat—mengurus museum yang menyimpan puluhan lukisan Le Mayeur, sebagian besar berwajah dirinya sendiri. Tapi justru di titik inilah Agem Ni Pollok mulai bekerja, bukan sekadar menghidupkan kembali sosok historis itu di atas panggung, melainkan mempertanyakan citra yang selama ini melekat padanya. Sebab, citra istri setia itu sendiri pada akhirnya adalah semacam lukisan lain—dibentuk, diwariskan, dan dipercaya begitu saja tanpa pernah benar-benar diuji.
Yang membuat pementasan ini menarik bukan hanya pada naskahnya, melainkan pada cara Desi Nurani sebagai sutradara menerjemahkan gagasan lukisan ke dalam bahasa tubuh. Tidak ada satu pun kanvas yang dihadirkan secara harfiah di atas panggung. Sebagai gantinya, tubuh Santi Dewi sendiri yang menjelma medium: pada momen-momen tertentu ia berhenti bergerak, membentuk pose diam yang mengingatkan pada komposisi lukisan-lukisan Le Mayeur—lekuk tubuh yang dibingkai cahaya, gestur tangan yang tertahan di udara, seolah tubuhnya tengah dibekukan menjadi objek pandang.
Ketiadaan lukisan fisik di panggung justru menjadi pilihan yang tepat. Ia menegaskan argumen utama pementasan, bahwa tubuh perempuan dalam relasi ini tidak pernah benar-benar hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan selalu sudah menjadi bayang-bayang dari sesuatu yang dilukiskan orang lain.

Capaian akting Santi Dewi juga patut digarisbawahi. Ia membawakan Ni Pollok bercerita layaknya sedang berhadap-hadapan langsung dengan penonton—mengisahkan pertemuannya dengan Le Mayeur, lamaran yang diterimanya, hingga bagaimana tubuhnya dilukis berkali-kali oleh sang suami. Tempo bicaranya diatur dengan hati-hati: melambat pada bagian-bagian yang mengandung kerentanan, memberi jeda yang cukup panjang hingga terasa hampir tak nyaman, lalu ditutup dengan kontak mata langsung ke arah penonton. Kombinasi ini menciptakan efek yang nyaris hipnotik—penonton tidak sedang menonton kisah tentang Ni Pollok, melainkan seolah sedang didatangi olehnya.
Di titik inilah kata agem dalam judul naskah menemukan kedalamannya. Dalam tari Bali, agem merujuk pada sikap atau posisi dasar tubuh penari—sebuah bentuk yang harus dijaga, ditahan, dipertahankan keindahannya. Naskah ini meminjam istilah itu sebagai metafora, bagaimana tubuh perempuan yang terus-menerus dituntut mempertahankan bentuk, dijaga keindahannya untuk dipandang, namun tak pernah benar-benar dimiliki secara utuh sebagai manusia seutuhnya.
Ni Pollok dilukis berulang kali oleh suaminya, dikenang sebagai istri paling setia, namun dalam kritik yang dibangun pementasan ini, kesetiaan dan keindahan itu sendiri bisa dibaca sebagai bentuk kepemilikan yang halus—tubuh yang diberi tempat abadi di dinding museum, tapi kehilangan ruang untuk menjadi apa pun selain objek yang dipandang.
Di antara enam monolog yang tampil malam itu, Agem Ni Pollok berhasil membuktikan bahwa kekuatan sebuah pementasan tunggal tidak selalu bergantung pada properti atau tata panggung yang rumit.

Dengan tubuh sebagai satu-satunya medium, dan tempo sebagai satu-satunya senjata, Santi Dewi mengubah kisah seorang istri pelukis dari abad lalu menjadi cermin yang masih relevan untuk dibaca hari ini: tentang bagaimana perempuan, dalam banyak narasi yang mengagungkannya, sering kali hanya diberi ruang untuk menjadi indah—bukan untuk menjadi utuh. [T]


























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)



