17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
in Panggung
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar pertunjukan tari. Yang memenuhi ruangan justru keheningan. Puluhan pasang mata tertuju ke panggung, menunggu seseorang melafalkan bait pertama.

Lalu kata-kata pun mengalir.

Bukan sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Setiap larik menjelma suara, tatapan, gerak, dan getaran emosi. Dalam sekejap, puisi tak lagi hanya deretan kalimat di atas kertas, tetapi menjadi tubuh yang bernapas di hadapan penonton.

Begitulah suasana Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Selama perlombaan berlangsung, penonton seolah diajak memasuki dunia yang dibangun oleh setiap peserta. Mereka tidak hanya menyaksikan kompetisi, melainkan menyaksikan bagaimana kata-kata menemukan nyawanya sendiri.

Sebanyak 25 peserta tampil pada hari itu, memperlihatkan kemampuan mereka mengolah vokal, penghayatan, dan ekspresi. Mereka merupakan bagian dari 50 finalis terbaik yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Dari sekian banyak pendaftar, panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final,” ujar dewan juri yang terdiri atas AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.

Di atas panggung, setiap peserta menghadirkan tafsir yang berbeda terhadap puisi yang sama. Ada yang memilih suara lirih hingga membuat ruangan terasa sunyi. Ada pula yang melontarkan setiap bait dengan ledakan emosi yang kuat, seolah sedang mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kehilangan, atau harapan yang tersimpan di balik kata-kata.

Ekspresi wajah berubah mengikuti denyut puisi. Tatapan mata yang tajam menghadirkan amarah, senyum tipis menghadirkan kelembutan, sementara tubuh bergerak mengikuti ritme larik demi larik. Sebagian peserta memanfaatkan panggung layaknya ruang teater, menghadirkan gestur yang memperkuat makna setiap bait.

Dalam kompetisi ini seluruh finalis membawakan puisi wajib “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira. Selain itu mereka juga memilih satu puisi pilihan, antara lain “Abad yang Luka” karya Tan Lioe Ie, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, dan “Perempuan di Puputan Klungkung” karya Alit S. Rini.

Bagi AA Mas Ruscitadewi atau yang akrab disapa Gung Mas, lomba baca puisi bukan sekadar ajang mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkapnya.

Karena itulah, setelah perlombaan usai, para peserta tidak langsung pulang membawa hasil penilaian. Mereka mendapat kesempatan mendengarkan evaluasi langsung dari dewan juri.

Bagi Gung Mas, sesi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang, melainkan menjadi ruang refleksi agar setiap peserta memahami kelebihan sekaligus kekurangan penampilannya. Dari sana mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan panjang mengasah kepekaan rasa.

Dalam menentukan pemenang, dewan juri berpegang pada tiga landasan utama dalam tradisi membaca puisi di Bali, yakni wirasa, wirama, dan wiraga.

Wirasa berbicara tentang kedalaman penghayatan. Sejauh mana seorang pembaca mampu menangkap dan menyampaikan ruh puisi kepada pendengarnya.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Wirama menilai irama pembacaan, intonasi, dinamika, tempo, hingga kualitas vokal yang membuat puisi terdengar hidup.

Sementara wiraga berkaitan dengan penampilan fisik, meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, penguasaan panggung, hingga keselarasan gerak yang mendukung penyampaian makna.

Namun bagi para juri, tiga unsur tersebut belumlah cukup. Kreativitas dan keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

“Seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik. Karena itu, kreativitas dan eksplorasi menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelas Gung Mas.

Ia optimistis masa depan seni baca puisi di Bali masih terbuka lebar. Menurutnya, ketika seseorang belajar membaca puisi, sesungguhnya ia sedang belajar memahami manusia. Ia mengasah kepekaan, melatih empati, memperhalus batin, sekaligus membangun hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.

Harapan terbesar dari Pawimba Baca Puisi, katanya, bukan semata melahirkan pembaca puisi yang piawai berdiri di atas panggung. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi kreatif yang kelak melahirkan karya-karya sastra dan seni yang terus memperkaya kebudayaan Bali.

Menjelang sore, satu per satu peserta meninggalkan panggung. Suara tepuk tangan perlahan mereda, tetapi gema bait-bait puisi seolah masih tertinggal di dalam ruangan. Sebab, di Festival Seni Bali Jani, puisi tidak hanya dibacakan. Ia menjelma suara, gerak, dan jiwa—menghubungkan kata-kata dengan manusia yang mendengarkannya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

Read moreDetails

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

Read moreDetails

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
0
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

Read moreDetails

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

Read moreDetails

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

Read moreDetails

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

Read moreDetails

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co