SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar pertunjukan tari. Yang memenuhi ruangan justru keheningan. Puluhan pasang mata tertuju ke panggung, menunggu seseorang melafalkan bait pertama.
Lalu kata-kata pun mengalir.
Bukan sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Setiap larik menjelma suara, tatapan, gerak, dan getaran emosi. Dalam sekejap, puisi tak lagi hanya deretan kalimat di atas kertas, tetapi menjadi tubuh yang bernapas di hadapan penonton.
Begitulah suasana Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Selama perlombaan berlangsung, penonton seolah diajak memasuki dunia yang dibangun oleh setiap peserta. Mereka tidak hanya menyaksikan kompetisi, melainkan menyaksikan bagaimana kata-kata menemukan nyawanya sendiri.
Sebanyak 25 peserta tampil pada hari itu, memperlihatkan kemampuan mereka mengolah vokal, penghayatan, dan ekspresi. Mereka merupakan bagian dari 50 finalis terbaik yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat.

“Proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Dari sekian banyak pendaftar, panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final,” ujar dewan juri yang terdiri atas AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.
Di atas panggung, setiap peserta menghadirkan tafsir yang berbeda terhadap puisi yang sama. Ada yang memilih suara lirih hingga membuat ruangan terasa sunyi. Ada pula yang melontarkan setiap bait dengan ledakan emosi yang kuat, seolah sedang mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kehilangan, atau harapan yang tersimpan di balik kata-kata.
Ekspresi wajah berubah mengikuti denyut puisi. Tatapan mata yang tajam menghadirkan amarah, senyum tipis menghadirkan kelembutan, sementara tubuh bergerak mengikuti ritme larik demi larik. Sebagian peserta memanfaatkan panggung layaknya ruang teater, menghadirkan gestur yang memperkuat makna setiap bait.
Dalam kompetisi ini seluruh finalis membawakan puisi wajib “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira. Selain itu mereka juga memilih satu puisi pilihan, antara lain “Abad yang Luka” karya Tan Lioe Ie, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, dan “Perempuan di Puputan Klungkung” karya Alit S. Rini.
Bagi AA Mas Ruscitadewi atau yang akrab disapa Gung Mas, lomba baca puisi bukan sekadar ajang mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkapnya.
Karena itulah, setelah perlombaan usai, para peserta tidak langsung pulang membawa hasil penilaian. Mereka mendapat kesempatan mendengarkan evaluasi langsung dari dewan juri.
Bagi Gung Mas, sesi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang, melainkan menjadi ruang refleksi agar setiap peserta memahami kelebihan sekaligus kekurangan penampilannya. Dari sana mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan panjang mengasah kepekaan rasa.
Dalam menentukan pemenang, dewan juri berpegang pada tiga landasan utama dalam tradisi membaca puisi di Bali, yakni wirasa, wirama, dan wiraga.
Wirasa berbicara tentang kedalaman penghayatan. Sejauh mana seorang pembaca mampu menangkap dan menyampaikan ruh puisi kepada pendengarnya.

Wirama menilai irama pembacaan, intonasi, dinamika, tempo, hingga kualitas vokal yang membuat puisi terdengar hidup.
Sementara wiraga berkaitan dengan penampilan fisik, meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, penguasaan panggung, hingga keselarasan gerak yang mendukung penyampaian makna.
Namun bagi para juri, tiga unsur tersebut belumlah cukup. Kreativitas dan keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru juga menjadi bagian penting dalam penilaian.
“Seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik. Karena itu, kreativitas dan eksplorasi menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelas Gung Mas.
Ia optimistis masa depan seni baca puisi di Bali masih terbuka lebar. Menurutnya, ketika seseorang belajar membaca puisi, sesungguhnya ia sedang belajar memahami manusia. Ia mengasah kepekaan, melatih empati, memperhalus batin, sekaligus membangun hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.
Harapan terbesar dari Pawimba Baca Puisi, katanya, bukan semata melahirkan pembaca puisi yang piawai berdiri di atas panggung. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi kreatif yang kelak melahirkan karya-karya sastra dan seni yang terus memperkaya kebudayaan Bali.
Menjelang sore, satu per satu peserta meninggalkan panggung. Suara tepuk tangan perlahan mereda, tetapi gema bait-bait puisi seolah masih tertinggal di dalam ruangan. Sebab, di Festival Seni Bali Jani, puisi tidak hanya dibacakan. Ia menjelma suara, gerak, dan jiwa—menghubungkan kata-kata dengan manusia yang mendengarkannya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























