DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda. Jika panggung festival dipenuhi alunan musik, pertunjukan teater, tari, hingga pembacaan puisi, maka Beranda Pustaka menjadi oase yang mengajak pengunjung menikmati ketenangan melalui buku, diskusi, dan perjumpaan lintas komunitas.
Keberadaan Beranda Pustaka menjadikan atmosfer festival terasa semakin hidup, kreatif, sekaligus intelektual. Ruang ini menghadirkan harmoni antara seni pertunjukan dan budaya literasi, mempertemukan seniman, penulis, pegiat komunitas, serta pencinta buku dalam satu ruang komunal yang hangat dan terbuka.
Dikelola oleh Komunitas Aghumi, Beranda Pustaka berlangsung di Perpustakaan Taman Werdhi Budaya Art Centre Denpasar dengan mengusung tema “Akses Literasi, Harmoni Generasi”. Pameran buku secara resmi dibuka oleh sastrawan sekaligus Kurator Festival Seni Bali Jani VIII, Oka Rusmini, pada Sabtu, 11 Juli 2026. Selama festival berlangsung hingga 25 Juli 2026, masyarakat dapat mengunjungi Beranda Pustaka setiap hari mulai pukul 10.00 WITA.
Prosesi pembukaan diawali dengan pembacaan surat dari Perpustakaan Widya Kusuma sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem literasi di Bali. Pembacaan surat tersebut menjadi simbol kolaborasi antarlembaga dan komunitas dalam menghadirkan ruang literasi yang inklusif, terbuka, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Suasana pembukaan pun terasa semakin akrab melalui sajian lumpia yang menghangatkan kebersamaan para tamu undangan.
Dalam sambutannya, Oka Rusmini mengatakan, Festival Seni Bali Jani VIII melalui tema “Kembara Sukma: Atma Kerthi” mengajak masyarakat melakukan perjalanan batin di tengah pesatnya pembangunan dan derasnya arus globalisasi.
“Festival Seni Bali Jani VIII melalui tema Kembara Sukma: Atma Kerthi mengajak masyarakat melakukan perjalanan batin di tengah pesatnya pembangunan dan derasnya arus globalisasi,” ujar Oka Rusmini.
Menurutnya, Beranda Pustaka menjadi ruang yang mempertemukan buku, seni, dan masyarakat melalui beragam aktivitas yang dapat diikuti seluruh pengunjung festival. Selama penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati pameran dan bazar buku, pameran kartun, pembacaan tarot, koordinat baca, serta jamming dan open mic.
Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat, interaktif, dan menyenangkan. Beranda Pustaka tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk berdialog, berekspresi, serta bertukar gagasan melalui seni dan literasi.
“Beranda Pustaka yang mengusung tema Membaca Jiwa, Merawat Sukma menjadi ruang untuk kembali mengenali diri melalui buku, sastra, dan dialog yang mampu merawat jiwa sekaligus memperkuat kebudayaan. Semoga Beranda Pustaka mampu menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan berbagai peluncuran buku, diskusi sastra, hingga pagelaran puisi sebagai wadah refleksi dan pertukaran gagasan,” harap Oka Rusmini.
Rangkaian pembukaan ditutup dengan pembacaan dramatik naskah oleh Kurator Ida Bagus Martinaya. Penampilan tersebut menghadirkan suasana reflektif yang mengajak pengunjung menyelami makna sastra sebagai medium yang menghubungkan pengalaman hidup, kebudayaan, dan perjalanan batin manusia. Pembacaan dramatik itu sekaligus menandai dimulainya seluruh rangkaian program Beranda Pustaka selama Festival Seni Bali Jani VIII.
Ketua Komunitas Aghumi, Wulan Dewi Saraswati menjelaskan, Beranda Pustaka lahir dari kebutuhan akan ruang bersama yang semakin dirasakan generasi muda di Kota Denpasar.
“Di tengah padatnya aktivitas Kota Denpasar, masih banyak remaja yang membutuhkan ruang untuk bertemu, membaca buku, bertukar pikiran, dan membangun relasi yang positif. Melalui Beranda Pustaka, kami ingin menghadirkan ruang yang terbuka dan nyaman agar generasi muda dapat bertumbuh bersama melalui literasi, seni, dan kolaborasi,” ujarnya.
Melalui partisipasinya dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Komunitas Aghumi berharap Beranda Pustaka mampu menjadi ruang budaya yang memperkuat ekosistem literasi dan kesenian di Bali. Beragam program, kolaborasi komunitas, serta ruang diskusi diharapkan dapat mengajak masyarakat menikmati festival dengan cara yang lebih dekat, interaktif, dan bermakna, sekaligus menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebelum resmi dibuka, Beranda Pustaka telah lebih dulu diramaikan oleh berbagai kegiatan kolaboratif bersama sejumlah komunitas. Salah satunya adalah program Cerita di Beranda: Ketikan yang digagas Komunitas Singgah Kata. Program ini menghadirkan ruang mendengar, di mana kisah para pengunjung diabadikan menjadi lembaran kata menggunakan mesin tik klasik.
Selain itu, Komunitas Aksaraya menggelar workshop “Mengalami Taman Budaya: Siasat Baru Menulis Cerita” bersama Gde Aryantha Soethama. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak mengeksplorasi ruang Taman Budaya sebagai sumber inspirasi, berdialog, dan mengolah pengalaman menjadi karya tulis.
Komunitas Aghumi sendiri merupakan komunitas seni pertunjukan yang aktif mengembangkan gerakan literasi dan ruang kreatif masyarakat. Lewat berbagai program dan kolaborasi, komunitas ini terus berupaya menumbuhkan budaya membaca, berdialog, dan berkarya sebagai bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Bali.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























