ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan akhirnya, tetap meninggalkan rasa bahwa kita belum sempat mengatakan semua yang ingin dikatakan.
Sejak Budhi dirawat di rumah sakit, kami sering berkomunikasi lewat WhatsApp. Berkali-kali aku berkata kepadanya, “Bud, aku akan menjengukmu kalau kamu sudah pulang ke rumah.” Aku ingin menemuinya ketika ia telah kembali ke ruang yang lebih akrab, agar kami bisa berbincang tanpa aroma obat dan bunyi mesin-mesin rumah sakit.
Namun hari itu tak pernah tiba.

Karena ia tak kunjung pulang, pada suatu pagi aku memutuskan untuk menjenguknya di rumah sakit. Tak lama kemudian ia benar-benar pulang—bukan ke rumah yang kami maksud, melainkan ke tempat yang sangat jauh, tempat yang suatu hari akan menjadi tujuan kita semua.
Budhiana dikenal karena garis-garisnya yang sakti. Namun bagiku, kekuatan itu bukan hanya lahir dari tangannya, melainkan dari cara berpikirnya. Pikirannya tajam, kritiknya jernih, tetapi selalu berangkat dari kejujuran. Ia bukan orang yang banyak bicara. Ia hidup dengan prinsip-prinsip yang dipegang tanpa banyak dipertontonkan. Tulus, lurus, lugas, dan berani mengatakan sesuatu tepat di hadapan orangnya. Ia tidak mengenal percakapan di balik punggung. Dalam dunia yang semakin ramai oleh kesan, Budhi memilih berdiri di pihak kebenaran yang sederhana.
Mungkin pada akhirnya, manusia tidak dikenang oleh panjangnya usia, melainkan oleh keteguhan cara ia menjalani hidup.

Bagiku, Budhi bukan sekadar sahabat. Ia adalah bagian dari perjalanan keluargaku. Bersamanya, kedua anak kami menemukan jalan menuju dunia seni. Sejak 2009 kami banyak bekerja bersama, berbagi gagasan, saling mengkritik, dan saling menguatkan. Persahabatan kami dibangun bukan hanya oleh kedekatan, tetapi juga oleh kepercayaan bahwa seni adalah ruang untuk bertumbuh bersama.
Namun hidup selalu menyisakan sesuatu yang belum selesai.
Saat pandemi COVID-19, istriku, Robi, ingin menulis autobiografi tentang Budhi. Buku itu tak pernah sempat terbit. Aku sendiri berjanji akan menyelenggarakan pameran karya-karyanya dan meresponsnya melalui musik yang kutulis. Hingga hari ini, janji itu belum sempat kutunaikan.
Lalu aku menyadari, mungkin memang tidak semua yang bernilai ditakdirkan untuk selesai. Ada karya yang tetap hidup justru karena terus memanggil kita untuk melanjutkannya. Ada persahabatan yang tidak berakhir oleh kematian, sebab ia telah menjadi bagian dari cara kita memandang dunia.

Yang tidak pernah selesai bukanlah hidup, melainkan kasih, persahabatan, dan jejak yang ditinggalkan seseorang di dalam diri orang lain.
Selamat jalan, Budhi.
Terima kasih telah berjalan bersama kami. Terima kasih atas kejujuranmu, keteguhanmu, kritikmu, dan persahabatanmu.
Engkau telah pulang ke tempat yang sangat jauh. Namun seperti semua persahabatan yang lahir dari ketulusan, kepergianmu tidak menutup kisah ini. Ia hanya mengubah cara kami bertemu denganmu—dalam kenangan, dalam karya, dalam musik, dan dalam keheningan.
Karena pada akhirnya, ada hal-hal yang memang tidak pernah selesai.[T]































