JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak beralasan. Para peserta menunjukkan kemampuan melisankan puisi dengan ekspresi, intonasi, dan penghayatan yang mengesankan. Penampilan mereka tidak hanya memukau penonton, tetapi juga mendapat apresiasi dari dewan juri.
Lomba Baca Puisi tingkat SMP berlangsung di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng, Sabtu, 4 Juli 2026. Sebanyak 42 peserta tampil dari total 44 pendaftar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Bali, dengan peserta terbanyak dari Kabupaten Buleleng. Kota Denpasar juga mengirimkan banyak peserta, disusul sejumlah kabupaten lainnya di Pulau Dewata.
Dalam lomba tersebut, para peserta membawakan satu dari lima puisi yang telah ditentukan panitia, yakni Datang ke Mimpiku Saban Malam karya Aries Pidrawan, Bersama Lawan Korupsi, Integritas Tanpa Kompromi karya Eduar, Tidak Berarti Sama karya Heni Dwi Untari, Senja di Taman Lila karya Komang Sujana, serta Menjelajah Tiga Alur Waktu karya Aries Pidrawan. Dari kelima karya itu, Menjelajah Tiga Alur Waktu menjadi puisi yang paling banyak dipilih peserta.
Salah seorang dewan juri, Santi Dewi, mengatakan jumlah peserta Lomba Baca Puisi dalam Singaraja Literary Festival terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurutnya, hal itu menjadi indikator bahwa minat generasi muda terhadap puisi terus berkembang, sekaligus menunjukkan semakin beragamnya gaya pembacaan yang ditampilkan.
“Beberapa peserta sudah mampu membaca puisi dengan sangat matang dan benar-benar menguasai teks yang dibawakan. Ini tentu menjadi hal yang membanggakan,” ujarnya.
Meski demikian, Santi Dewi mengakui kualitas penampilan peserta masih beragam. Sebagian peserta masih tampil terlalu deklamatif dengan lebih menonjolkan aspek pertunjukan daripada penghayatan isi puisi. Di sisi lain, ada pula peserta yang membaca puisi secara datar, layaknya membacakan teks tanpa menghadirkan makna yang terkandung di dalamnya.
“Namun, jumlah peserta tahun ini cukup banyak. Ini menunjukkan kecintaan anak-anak terhadap puisi semakin berkembang, khususnya di Buleleng. Terlihat dari banyaknya peserta yang datang dari berbagai pelosok daerah,” paparnya.
Menurut Santi Dewi, penyelenggaraan festival sastra seperti Singaraja Literary Festival memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi generasi muda. Festival ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan, keberanian, sekaligus apresiasi terhadap karya sastra.
“Saya yang hampir setiap tahun menjadi juri lomba baca puisi melihat perkembangan peserta di Singaraja Literary Festival semakin baik dan semakin beragam,” ungkapnya.
Dalam penilaian, dewan juri menggunakan empat aspek utama, yakni keutuhan pembacaan puisi, vokal, penghayatan, serta penampilan atau gestur saat membawakan puisi. Peserta yang dinilai unggul adalah mereka yang mampu menguasai teks secara utuh sehingga tidak sekadar membaca, melainkan benar-benar menghidupkan isi puisi.
“Sesungguhnya ada banyak catatan dari dewan juri. Namun, terus terang kami cukup sulit menentukan para pemenang karena banyak peserta yang tampil sangat baik,” pungkasnya.
Dewan juri yang terdiri atas Santi Dewi, I Made Sugianto, dan I Gede Aris Pidrawan akhirnya menetapkan Jessika Kaila Diah Rahmadani dari SMP Negeri 5 Denpasar sebagai Juara I. Juara II diraih Ni Wayan Mendha Putri dari SMP Negeri 1 Singaraja, sedangkan Juara III diraih Putu Indigo Pratama. Adapun Juara Harapan I diraih Marvlnia Devani N. dari SMP Negeri 2 Sawan, sedangkan Juara Harapan II diraih Ni Komang Anindya C. dari SMP Negeri 1 Singaraja.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























