6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
in Panggung
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Kelima penari Perempuan di Sawah sebelum pentas | Foto: Istimewa

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Sekar Jagat, Selat Segara, atau tari penyambutan Bali lainnya, pembukaan festival justru menghadirkan sebuah tari kontemporer.

Tarian ini juga tidak disajikan di atas panggung utama, melainkan di area penonton, tepat di pintu masuk kawasan bersejarah tempat festival berlangsung. Berbeda dengan tari penyambutan yang umumnya mengedepankan keindahan visual, karya ini lebih menitikberatkan gerak tubuh sebagai bahasa simbolik untuk menyampaikan gagasan, emosi, sekaligus kritik sosial.

Tari berjudul Perempuan di Sawah dipentaskan oleh Komunitas Lemah Tulis sebelum acara pembukaan resmi dimulai. Tarian ini dibawakan oleh lima penari perempuan dengan mengangkat tema perempuan dan tradisi persawahan sebagai narasi agraris yang menyoroti ketangguhan perempuan dalam menjaga ketahanan pangan, siklus bercocok tanam, serta dialog antara kehidupan pedesaan dan modernitas. Kostumnya tampak sederhana, tetapi mendukung suasana sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Iringan musik elektronik pun berhasil membangun atmosfer pertunjukan.

“Tari Perempuan di Sawah sebenarnya merupakan hasil pemangkasan dari garapan teater-tari tahun 2024 yang berjudul Prakertaning Dharma Pemaculan. Agar sesuai dengan tema SLF tahun ini, yakni perempuan, saya mengangkat sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul yang berbeda,” ujar penggarap tari, Putu Bratria Dama Dayanu, usai pementasan.

Kelima penari Perempuan di Sawah sebelum pentas | Foto: Istimewa

Dalam koreografinya, tari ini memadukan gerak keseharian petani dengan eksplorasi gerak yang lebih dinamis dan cenderung bebas. Melalui perpaduan tersebut, tari ini menyampaikan pesan mengenai pentingnya memuliakan sawah sebagai ruang kehidupan. “Di tengah pesatnya pembangunan, berbagai aktivitas pertanian mulai tergerus, sementara keberadaan sawah di Bali terus menghadapi beragam persoalan yang mengancam kelestariannya,” ujarnya.

Meski dikemas dengan pendekatan kontemporer, tari ini tetap berpijak pada tradisi bertani masyarakat Bali dengan penekanan pada simbolisme gerak dan hubungan manusia dengan alam.

Pertunjukan dibagi ke dalam beberapa bagian. Pada bagian pertama, kelima penari membawa kendi sebagai simbol tradisi mapag toya, yakni ritual menyambut air sebelum mengolah sawah. Gerakan mengambil air dilakukan secara sederhana, tetapi sarat makna tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan unsur utama dalam sistem irigasi pertanian.

“Mapag toya merupakan simbol bahwa air adalah bagian paling penting dalam pengairan sawah,” sebutnya.

Bagian kedua menampilkan eksplorasi gerak tangan, terutama membuka dan mengepalkan telapak tangan sebagai simbol ilmu Jyotisa atau ilmu perbintangan. Adegan ini menggambarkan kebiasaan petani Bali pada masa lalu yang menjadikan posisi bintang dan sistem wariga sebagai pedoman untuk menentukan waktu yang tepat menanam padi maupun palawija.

Kelima penari Perempuan di Sawah sebelum pentas | Foto: Istimewa

Menurut Putu Bratria, para petani tradisional tidak sekadar menanam berdasarkan perkiraan. Meski belum mengenal kalender modern, mereka memperhatikan wariga, ilmu perbintangan, hari baik, serta kondisi iklim yang diyakini berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Bagian ketiga menggambarkan berbagai aktivitas di sawah, mulai dari menanam padi, mencangkul, hingga mengusir burung yang mengganggu tanaman. Seluruh proses pertanian divisualisasikan melalui rangkaian gerak yang dinamis sebagai representasi kehidupan sehari-hari para petani.

Sementara itu, bagian keempat merupakan puncak pertunjukan yang mengangkat tema pemuliaan sawah.

“Pada bagian ini kami kembali merepresentasikan Tari Sang Hyang Dedari sebagai simbol bahwa alam juga memiliki pesan yang disampaikan melalui manusia. Garapan ini sebenarnya merupakan pengembangan dari karya tahun 2024, hanya saja dipadatkan, baik dari sisi pemain maupun alur cerita, agar sesuai dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini,” ungkapnya.

Pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit ini diiringi musik elektronik yang dipadukan dengan nuansa tradisi. Kostum para penari didominasi tiga warna, yakni merah, hitam, dan putih, yang melambangkan Tridatu sekaligus merepresentasikan nilai-nilai Tri Hita Karana.

“Walaupun mengangkat tema persawahan, konsep Tri Hita Karana tetap hadir di dalamnya. Ada aspek Palemahan saat manusia mengolah sawah, Pawongan melalui semangat gotong royong, dan Parahyangan yang diwujudkan dengan mengawali setiap proses bercocok tanam melalui upacara,” pungkas Putu Bratria Dama Dayanu.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: komunitas lemah tulisPerempuan di SawahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026tari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Next Post

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

by tatkala
November 6, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

Read moreDetails

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
0
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

Read moreDetails

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails
Next Post
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co