3 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 3, 2026
in Esai
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran

TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang saya rasakan ketika seorang sahabat mengirmkan presentasi Prof. Dewa Palguna bertajuk “Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi yang Akan Datang.” Di salah satu slide, beliau menampilkan kutipan Ariel Durant:

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”

“Sebuah peradaban besar tidak dapat ditaklukkan dari luar sampai ia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.”

Kalimat itu mengguncang pikiran saya. Selama ini banyak orang menyalahkan investor, wisatawan, globalisasi, bahkan pemerintah pusat sebagai penyebab berbagai persoalan Bali. Namun kutipan tersebut mengajak melihat ke dalam. Mungkinkah ancaman terbesar terhadap Bali justru berasal dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang Bali sendiri?

Pertanyaan itu tidak lahir dari pesimisme, tetapi dari kecintaan. Sebab mencintai Bali bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, melainkan berani melihat masalah agar dapat diperbaiki.

Ketika Pembangunan Kehilangan Arah

Refleksi tersebut semakin menguat setelah Pansus TRAP mengungkapkan bahwa pembangunan di Bali sudah dikategorikan sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai data menunjukkan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian, pelanggaran tata ruang, tekanan terhadap sumber daya air, dan semakin berkurangnya ruang hidup masyarakat Bali.

Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Prof. Rumawan Salain yang mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung ekologis Bali. Bahkan Ketua Pansus RTRWP Bali, Made Supartha, menggunakan ungkapan yang sangat keras: pembangunan di Bali telah berlangsung secara “brutal dan ugal-ugalan.”

Ungkapan tersebut tentu dapat diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan adanya kekhawatiran serius terhadap arah pembangunan. Sawah berubah menjadi vila, ruang terbuka menjadi kawasan komersial, kawasan suci semakin terdesak, kemacetan meningkat, sementara krisis air mulai dirasakan di berbagai wilayah.

Pembangunan memang diperlukan. Namun pembangunan kehilangan makna ketika pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Peradaban Runtuh dari Dalam

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, melainkan karena kelemahan dari dalam. Korupsi, keserakahan, konflik elite, lemahnya hukum, dan hilangnya moral menjadi penyebab utama kehancuran.

Bali tentu bukan kekaisaran Romawi. Namun hukum sejarah sering kali memiliki pola yang sama. Ancaman terbesar bukanlah wisatawan asing atau investor, melainkan apabila masyarakat kehilangan kemampuan mengendalikan arah pembangunannya sendiri.

Investor hanya dapat membangun apabila diberi izin. Pelanggaran tata ruang hanya dapat terjadi apabila hukum tidak ditegakkan. Korupsi hanya berkembang apabila integritas melemah. Dengan kata lain, faktor eksternal sering kali memperoleh ruang karena adanya kelemahan internal.

Di sinilah kutipan Ariel Durant menjadi relevan. Peradaban tidak hancur dalam semalam. Ia mengalami erosi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan fondasinya.

Krisis Kesadaran di Balik Krisis Lingkungan

Dalam perspektif yang saya gunakan dalam penelitian mengenai kesehatan holistik, akar persoalan sesungguhnya bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran.

Ketika keserakahan menjadi dasar pengambilan keputusan, maka alam berubah menjadi komoditas. Ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, maka hukum mudah diperjualbelikan. Ketika keuntungan jangka pendek menjadi ukuran utama, maka kepentingan generasi mendatang diabaikan.

Dalam konsep Pancamaya Kosha, manusia yang terlalu terikat pada lapisan fisik dan material akan kehilangan keseimbangan batin. Sementara menurut Peta Kesadaran David Hawkins, perilaku yang didominasi rasa takut, nafsu, dan keserakahan berada pada tingkat kesadaran yang rendah. Sebaliknya, pembangunan berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kesadaran yang didasarkan pada keberanian, integritas, kasih, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, penyelamatan Bali bukan hanya persoalan merevisi tata ruang atau memperketat perizinan. Yang lebih mendasar adalah membangun kualitas kesadaran manusia yang mengambil keputusan.

Menjaga Tanah dan Manusia Bali

Pesan Prof. Dwa Palgun tentang menjaga tanah dan manusia Bali sesungguhnya jauh melampaui isu lingkungan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan peradaban. Manusia Bali bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pewaris budaya dan spiritualitas yang telah bertahan berabad-abad.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Bali boleh berkembang, melainkan berkembang untuk siapa dan dengan cara seperti apa?

Apabila pembangunan terus mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan identitas budaya, maka generasi mendatang mungkin hanya mewarisi nama “Bali”, tetapi kehilangan ruhnya.

Namun refleksi ini bukan ajakan untuk pesimis. Justru sebaliknya, ia adalah panggilan untuk melakukan koreksi sebelum terlambat. Bali masih memiliki modal yang sangat besar: keindahan alam, hamparan sawah dengan sistem subak, nilai Tri Hita Karana, gotong royong, dan ribuan orang yang masih bekerja dengan tulus menjaga alam dan budayanya.

Kutipan Ariel Durant seharusnya menjadi peringatan, bukan vonis. Masa depan Bali belum ditentukan. Ia bergantung pada pilihan yang diambil hari ini. Bila masyarakat, pemimpin, akademisi, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Bali bukan hanya akan bertahan, tetapi dapat menjadi contoh bagaimana sebuah peradaban menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia.

Pada akhirnya, menyelamatkan Bali bukan berarti melawan dunia luar. Yang jauh lebih penting adalah menyelamatkan Bali dari kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, seperti diingatkan Ariel Durant, sebuah peradaban besar tidak runtuh karena musuh di luar temboknya, melainkan ketika fondasi di dalam tembok itu mulai rapuh. Dan selama fondasi itu masih dapat diperkuat dengan integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran yang lebih tinggi, harapan bagi Bali akan selalu tetap ada.

Memang sudah terlambat, tetapi Better Late Than Never. Ketika tangan tidak mampu mengepal, setidaknya biarkan mulut tetap bersuara. [T]

Tags: balikesadaranPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Next Post

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails
Next Post
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co