Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang saya rasakan ketika seorang sahabat mengirmkan presentasi Prof. Dewa Palguna bertajuk “Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi yang Akan Datang.” Di salah satu slide, beliau menampilkan kutipan Ariel Durant:
“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”
“Sebuah peradaban besar tidak dapat ditaklukkan dari luar sampai ia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.”
Kalimat itu mengguncang pikiran saya. Selama ini banyak orang menyalahkan investor, wisatawan, globalisasi, bahkan pemerintah pusat sebagai penyebab berbagai persoalan Bali. Namun kutipan tersebut mengajak melihat ke dalam. Mungkinkah ancaman terbesar terhadap Bali justru berasal dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang Bali sendiri?
Pertanyaan itu tidak lahir dari pesimisme, tetapi dari kecintaan. Sebab mencintai Bali bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, melainkan berani melihat masalah agar dapat diperbaiki.
Ketika Pembangunan Kehilangan Arah
Refleksi tersebut semakin menguat setelah Pansus TRAP mengungkapkan bahwa pembangunan di Bali sudah dikategorikan sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai data menunjukkan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian, pelanggaran tata ruang, tekanan terhadap sumber daya air, dan semakin berkurangnya ruang hidup masyarakat Bali.
Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Prof. Rumawan Salain yang mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung ekologis Bali. Bahkan Ketua Pansus RTRWP Bali, Made Supartha, menggunakan ungkapan yang sangat keras: pembangunan di Bali telah berlangsung secara “brutal dan ugal-ugalan.”
Ungkapan tersebut tentu dapat diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan adanya kekhawatiran serius terhadap arah pembangunan. Sawah berubah menjadi vila, ruang terbuka menjadi kawasan komersial, kawasan suci semakin terdesak, kemacetan meningkat, sementara krisis air mulai dirasakan di berbagai wilayah.
Pembangunan memang diperlukan. Namun pembangunan kehilangan makna ketika pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Peradaban Runtuh dari Dalam
Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, melainkan karena kelemahan dari dalam. Korupsi, keserakahan, konflik elite, lemahnya hukum, dan hilangnya moral menjadi penyebab utama kehancuran.
Bali tentu bukan kekaisaran Romawi. Namun hukum sejarah sering kali memiliki pola yang sama. Ancaman terbesar bukanlah wisatawan asing atau investor, melainkan apabila masyarakat kehilangan kemampuan mengendalikan arah pembangunannya sendiri.
Investor hanya dapat membangun apabila diberi izin. Pelanggaran tata ruang hanya dapat terjadi apabila hukum tidak ditegakkan. Korupsi hanya berkembang apabila integritas melemah. Dengan kata lain, faktor eksternal sering kali memperoleh ruang karena adanya kelemahan internal.
Di sinilah kutipan Ariel Durant menjadi relevan. Peradaban tidak hancur dalam semalam. Ia mengalami erosi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan fondasinya.
Krisis Kesadaran di Balik Krisis Lingkungan
Dalam perspektif yang saya gunakan dalam penelitian mengenai kesehatan holistik, akar persoalan sesungguhnya bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran.
Ketika keserakahan menjadi dasar pengambilan keputusan, maka alam berubah menjadi komoditas. Ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, maka hukum mudah diperjualbelikan. Ketika keuntungan jangka pendek menjadi ukuran utama, maka kepentingan generasi mendatang diabaikan.
Dalam konsep Pancamaya Kosha, manusia yang terlalu terikat pada lapisan fisik dan material akan kehilangan keseimbangan batin. Sementara menurut Peta Kesadaran David Hawkins, perilaku yang didominasi rasa takut, nafsu, dan keserakahan berada pada tingkat kesadaran yang rendah. Sebaliknya, pembangunan berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kesadaran yang didasarkan pada keberanian, integritas, kasih, dan tanggung jawab.
Dengan demikian, penyelamatan Bali bukan hanya persoalan merevisi tata ruang atau memperketat perizinan. Yang lebih mendasar adalah membangun kualitas kesadaran manusia yang mengambil keputusan.
Menjaga Tanah dan Manusia Bali
Pesan Prof. Dwa Palgun tentang menjaga tanah dan manusia Bali sesungguhnya jauh melampaui isu lingkungan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan peradaban. Manusia Bali bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pewaris budaya dan spiritualitas yang telah bertahan berabad-abad.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Bali boleh berkembang, melainkan berkembang untuk siapa dan dengan cara seperti apa?
Apabila pembangunan terus mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan identitas budaya, maka generasi mendatang mungkin hanya mewarisi nama “Bali”, tetapi kehilangan ruhnya.
Namun refleksi ini bukan ajakan untuk pesimis. Justru sebaliknya, ia adalah panggilan untuk melakukan koreksi sebelum terlambat. Bali masih memiliki modal yang sangat besar: keindahan alam, hamparan sawah dengan sistem subak, nilai Tri Hita Karana, gotong royong, dan ribuan orang yang masih bekerja dengan tulus menjaga alam dan budayanya.
Kutipan Ariel Durant seharusnya menjadi peringatan, bukan vonis. Masa depan Bali belum ditentukan. Ia bergantung pada pilihan yang diambil hari ini. Bila masyarakat, pemimpin, akademisi, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Bali bukan hanya akan bertahan, tetapi dapat menjadi contoh bagaimana sebuah peradaban menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia.
Pada akhirnya, menyelamatkan Bali bukan berarti melawan dunia luar. Yang jauh lebih penting adalah menyelamatkan Bali dari kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, seperti diingatkan Ariel Durant, sebuah peradaban besar tidak runtuh karena musuh di luar temboknya, melainkan ketika fondasi di dalam tembok itu mulai rapuh. Dan selama fondasi itu masih dapat diperkuat dengan integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran yang lebih tinggi, harapan bagi Bali akan selalu tetap ada.
Memang sudah terlambat, tetapi Better Late Than Never. Ketika tangan tidak mampu mengepal, setidaknya biarkan mulut tetap bersuara. [T]































