5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 2, 2026
in Esai
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

Komik I Jaum

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat yang lisan yang harus mati. Pemiliknya tidak lagi menuturkannya. Dokumen nyaris tak ada. Belum sempat ditulis.

Cerita rakyat hidup dalam lokalitas yang ekslusif dan menjadi pilihan pertama dan mungkin satu-satunya. Dalam kondisi tidak adanya pilihan lain sebagai media hiburan dan pendidikan moral, memberi peluang cerita tersebut bertahan lama. Saat lokalitas itu bocor sehingga terhubung dengan dunia luar maka pilihan baru tersedia yang biasanya menggoda karena baru. Sekolah-sekolah dan media baru adalah pemicu kebocoran lokalitas.

Sekolah-sekolah dasar Inpres yang dibangun di hampir seluruh desa di Indonesia pada masa awal Orde Baru membawa kurikulum nasional. Berbagai mata pelajaran mengenalkan wacana baru bagi anak-anak. Tradisi cerita rakyat mulai bergeser dari forum nenek bercerita ke guru mengajar. Narasi-narasi kurikulum sekolah lebih beragam dan kaya. Materi kurikulum disatukan secara nasional yang artinya tidak bersumber dalam dunia lokal. Cerita rakyat yang hidup di dalam dunia lokal praktis diabaikan. Lambat laun dilupakan.

Faktor lain yang turut serta membunuh cerita rakyat dan forum-forum bercerita adalah buku cetak, media massa, dan media elektronik (radio dan televisi). Media ini benar-benar telah menghancurkan lokalitas lewat penyebaran teks dan siaran-siarannya. Ini berlangsung sangat lama dan semakin menyempurnakan kematian cerita rakyat.

Kematian cerita rakyat memang diratapi. Kondisi ini buruk bagi masyarakat karena menegaskan kehilangan jati diri. Pemerintah pun memulai konservasi dengan berbagai program. Dalam dunia pendidikan dikenal muatan lokal. Kaum akademisi mulai melakukan kajian cerita rakyat. Industri buku tergerak hati untuk menerbitkannya. Ada juga animasi-animasi cerita rakyat untuk siaran televisi. Demikian pun festival dan perlombaan forum cerita rakyat seperti lomba mendongeng atau di Bali misalnya dikenal dengan mesatua. Pelestraian cerita rakyat juga dikaitkan dengan revitalisas bahasa ibu karena media cerita rakyat tentunya bahasa daerah setempat. Program-program tersebut tidak menunjukkan hasil. Rasanya seperti musiman. Semarak sesaat dan hilang. Hal ini terjadi karena niat pelestarian, revitalisasi, atau apapun istilahnya, datangnya dari atas (pemerintah) atau dari luar masyarakat lokal. Perkara lokalitas dilupakan dalam pelestarian cerita rakyat. Lokalitas adalah jaminan bagi hidup matinya cerita rakyat. Kelemahan dan kegagalan pelestarian cerita rakyat yang datangnya dari atas dan dari luar lokalitas, merupakan faktor kunci. Maka dibutuhkan model lain pelestraian cerita rakyat. Model ini ditemukan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

            Cerita bergambar I Kilap

Pedawa adalah desa Bali aga. Bali aga sendiri merupakan lokalistas ekslusif di Bali. Mereka bertahan pada identitas asli dan menolak pengaruh luar dan penyebaran agama Hindu di Bali pada masa lalu. Mereka tetap bertahan pada lokalitas. Lambat laun masifnya pembangunan Bali kletika lokalitas hanya bermakna tempat dan bukan kultur, pertahanan Bali aga runtuh dari dalam. Perubahan terjadi. Lokalitas kultural semakin lemah.

Desa ini menyadarinya dan dipahami sebagai ancaman. Maka lokalitas harus diselamatkan. Karena ia adalah identitas. Memang bukan semata identitas dan simbol tetapi pragmatisme fungsional. Kehidupan lokal mengembangkan nilai-nilai luhur. Ini alasan mengapa penting bagi Desa Pedawa mempertahankan dan kembali ke lokalitas jati diri sejati Bali aga.

Di antara berbagai perkara lokalitas ini, seperti penghormatan air, tata kepercayaan (agama), arsitektur, agrikultur, kesenian, hutan, dll., adalah cerita rakyat. Nasib cerita rakyat ini sama buruknya dengan nasib cerita rakyat dunia yang ditinggalkan dan dikubur oleh media baru sebagai akibat robeknya lokalitas kultural. Sebenarnya satu model pelestraian atau revitalisasi cerita rakyat tengah dimulai di desa ini. Kesadaran yang berkembang di tingkat lokal dan bukan titpan dari atas atau dari luar (pemerintah) bahwa cerita rakyat sangat penting, senyampang warga desa tidak sepakat dengan pandangan pemerintar. Model itu bermula pada kesadaran lokal Desa Pedawa bahwa revitalisasi cerita rakyat sangat penting.

Yang bergerak pun bukan orang luar tetapi warga masyarakat setempat. Beberapa tokohnya misalnya menghubungi Balai bahasa Provinsi Bali dan meminta tolong untuk melakukan program revitalisasi cerita rakyat. Gayung bersambut! Selama proyek revitalisasi ini, masyarakat Desa Pedawa dilibatkan. Revitalisasi ini berhasil menemukan kembali sejumlah cerita rakyat penting di Desa Pedawa, seperti I jaum, I Kilap, I Klenting Sari, dan Pan Srunang. Proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga yang digagas oleh pemiliknya bekerja sama dengan lembaga Balai bahasa Provinsi Bali pun sukses menghidupkan kembali cerita-cerita yang telah hilang puluhan tahun. Selain faktor lokalitas, sukses proyek ini ditentukan oleh masih tersisanya para penutur atau pewaris yang pada umumnya generasi tua Desa Pedawa (usia 80-90 tahun). Mereka diminta bercerita dan direkam. Mereka mengkonstruksi cerita dari sisa-siswa ingatannya. Tim proyek medokumentasi dengan cermat. Lalu dihasilkan suatu prototipe baru cerita berupa teks tertulis dalam bahasa Bali dialek Bali aga serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Komik I Jaum

Setelah proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga ini berlangsung, cerita-cerita lokal yang sudah pernah mati itu, memulai babak baru dalam perjalananya menuju masa depan di era digital saat ini. Cara menikmati cerita di dalam forum-forum tradisi juga dimanfaatkan di dalam proyek revitalisasi dengan memilih cerita I Jaum sebagai lakon. Dari prototipe cerita yang ada tim merancang pertunjukan cerita yang pada dipertunjukkan di balai desa setempat. Ini adalah apresiasi yang menjadi darah dan napas bagi hidupnya sebuah cerita rakyat. Demikianlah kisahnya perjalan hidup kembali cerita rakyat di desa Bali aga, Pedawa. Cerita ini kembali karena niat dari dalam lokalitas Bali aga Pedawa. Ini adalah sebuah model konservasi cerita rakyat dengan mengutamakan peran lokalitas.

Babak selanjutnya perjalanan dan hidup baru cerita rakyat Bali aga Pedawa muncul ketika Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha melakukan program Desa Binaan (2026) di desa ini. Lewat beberapa tim kini perjalanan cerita rakyatnya semakin bervariasi. Cerita-cerita tersebut diresepsi secara kreatif dan diwujudkan dalam sejumlah alih wahana. Dari prototipe cerita yang autentik dalam bahasa Bali dengan dialek Bali aga serta tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia dan kenangan serta ingatan ketika cerita I Jaum dipertunjukkan di Balai Desa; kini ada sejumlah media baru sebagai apresiasi dan kelangsungan hidup beberapa cerita (I Jaum dan I Kilap).

Mengunjungi Balai Desa Pedawa, berjumpa dengan mural berukuran besar (12 x 4 m). Di sini dua cerita (I Jaum dan I Kilap) digambar oleh tim desa binaan dari Prodi Seni Rupa yang dipimpin langsung oleh dosen seniman pelukis I Wayan Sudiarta. Ketika cerita rakyat hidup dalam imajinasi sosial maka lewat karya mural ini I Jaum dan I Kilap hadir secara visual. Tiga ekor anjing milik I Jaum yang bertarung melawan babi-babi Dadong Raksasa hidup dalam visualisasi masyarakat. Demikian pula usaha petani Pedawa membangun bendungan untuk mengairi sawah mereka bergerak dan menunjukkan masa lalu desa ini ketika sawah masih berjaya sebelum dirombak oleh vegetasi cengkeh.

Resepsi artisitik yang lain, yang juga masih berupa alih wahana, dilakukan oleh tim desa binaan yang diketuai oleh dosen seni rupa, Langen Broto Sutrisno, dalam bentuk media baru yakni cerita bergambar I Kilap  dan komik I Jaum. Alih wahana cerita Bali aga Desa Pedawa ini sangat kaya dan media baru yang lebih masuk akal akan menjadi jaminan kehidupan cerita-cerita tersebut. [T]

Tags: bulelengcerita rakyatDesa Pedawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Next Post

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co