22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 2, 2026
in Esai
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

Komik I Jaum

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat yang lisan yang harus mati. Pemiliknya tidak lagi menuturkannya. Dokumen nyaris tak ada. Belum sempat ditulis.

Cerita rakyat hidup dalam lokalitas yang ekslusif dan menjadi pilihan pertama dan mungkin satu-satunya. Dalam kondisi tidak adanya pilihan lain sebagai media hiburan dan pendidikan moral, memberi peluang cerita tersebut bertahan lama. Saat lokalitas itu bocor sehingga terhubung dengan dunia luar maka pilihan baru tersedia yang biasanya menggoda karena baru. Sekolah-sekolah dan media baru adalah pemicu kebocoran lokalitas.

Sekolah-sekolah dasar Inpres yang dibangun di hampir seluruh desa di Indonesia pada masa awal Orde Baru membawa kurikulum nasional. Berbagai mata pelajaran mengenalkan wacana baru bagi anak-anak. Tradisi cerita rakyat mulai bergeser dari forum nenek bercerita ke guru mengajar. Narasi-narasi kurikulum sekolah lebih beragam dan kaya. Materi kurikulum disatukan secara nasional yang artinya tidak bersumber dalam dunia lokal. Cerita rakyat yang hidup di dalam dunia lokal praktis diabaikan. Lambat laun dilupakan.

Faktor lain yang turut serta membunuh cerita rakyat dan forum-forum bercerita adalah buku cetak, media massa, dan media elektronik (radio dan televisi). Media ini benar-benar telah menghancurkan lokalitas lewat penyebaran teks dan siaran-siarannya. Ini berlangsung sangat lama dan semakin menyempurnakan kematian cerita rakyat.

Kematian cerita rakyat memang diratapi. Kondisi ini buruk bagi masyarakat karena menegaskan kehilangan jati diri. Pemerintah pun memulai konservasi dengan berbagai program. Dalam dunia pendidikan dikenal muatan lokal. Kaum akademisi mulai melakukan kajian cerita rakyat. Industri buku tergerak hati untuk menerbitkannya. Ada juga animasi-animasi cerita rakyat untuk siaran televisi. Demikian pun festival dan perlombaan forum cerita rakyat seperti lomba mendongeng atau di Bali misalnya dikenal dengan mesatua. Pelestraian cerita rakyat juga dikaitkan dengan revitalisas bahasa ibu karena media cerita rakyat tentunya bahasa daerah setempat. Program-program tersebut tidak menunjukkan hasil. Rasanya seperti musiman. Semarak sesaat dan hilang. Hal ini terjadi karena niat pelestarian, revitalisasi, atau apapun istilahnya, datangnya dari atas (pemerintah) atau dari luar masyarakat lokal. Perkara lokalitas dilupakan dalam pelestarian cerita rakyat. Lokalitas adalah jaminan bagi hidup matinya cerita rakyat. Kelemahan dan kegagalan pelestarian cerita rakyat yang datangnya dari atas dan dari luar lokalitas, merupakan faktor kunci. Maka dibutuhkan model lain pelestraian cerita rakyat. Model ini ditemukan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

            Cerita bergambar I Kilap

Pedawa adalah desa Bali aga. Bali aga sendiri merupakan lokalistas ekslusif di Bali. Mereka bertahan pada identitas asli dan menolak pengaruh luar dan penyebaran agama Hindu di Bali pada masa lalu. Mereka tetap bertahan pada lokalitas. Lambat laun masifnya pembangunan Bali kletika lokalitas hanya bermakna tempat dan bukan kultur, pertahanan Bali aga runtuh dari dalam. Perubahan terjadi. Lokalitas kultural semakin lemah.

Desa ini menyadarinya dan dipahami sebagai ancaman. Maka lokalitas harus diselamatkan. Karena ia adalah identitas. Memang bukan semata identitas dan simbol tetapi pragmatisme fungsional. Kehidupan lokal mengembangkan nilai-nilai luhur. Ini alasan mengapa penting bagi Desa Pedawa mempertahankan dan kembali ke lokalitas jati diri sejati Bali aga.

Di antara berbagai perkara lokalitas ini, seperti penghormatan air, tata kepercayaan (agama), arsitektur, agrikultur, kesenian, hutan, dll., adalah cerita rakyat. Nasib cerita rakyat ini sama buruknya dengan nasib cerita rakyat dunia yang ditinggalkan dan dikubur oleh media baru sebagai akibat robeknya lokalitas kultural. Sebenarnya satu model pelestraian atau revitalisasi cerita rakyat tengah dimulai di desa ini. Kesadaran yang berkembang di tingkat lokal dan bukan titpan dari atas atau dari luar (pemerintah) bahwa cerita rakyat sangat penting, senyampang warga desa tidak sepakat dengan pandangan pemerintar. Model itu bermula pada kesadaran lokal Desa Pedawa bahwa revitalisasi cerita rakyat sangat penting.

Yang bergerak pun bukan orang luar tetapi warga masyarakat setempat. Beberapa tokohnya misalnya menghubungi Balai bahasa Provinsi Bali dan meminta tolong untuk melakukan program revitalisasi cerita rakyat. Gayung bersambut! Selama proyek revitalisasi ini, masyarakat Desa Pedawa dilibatkan. Revitalisasi ini berhasil menemukan kembali sejumlah cerita rakyat penting di Desa Pedawa, seperti I jaum, I Kilap, I Klenting Sari, dan Pan Srunang. Proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga yang digagas oleh pemiliknya bekerja sama dengan lembaga Balai bahasa Provinsi Bali pun sukses menghidupkan kembali cerita-cerita yang telah hilang puluhan tahun. Selain faktor lokalitas, sukses proyek ini ditentukan oleh masih tersisanya para penutur atau pewaris yang pada umumnya generasi tua Desa Pedawa (usia 80-90 tahun). Mereka diminta bercerita dan direkam. Mereka mengkonstruksi cerita dari sisa-siswa ingatannya. Tim proyek medokumentasi dengan cermat. Lalu dihasilkan suatu prototipe baru cerita berupa teks tertulis dalam bahasa Bali dialek Bali aga serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Komik I Jaum

Setelah proyek revitalisasi cerita rakyat Bali aga ini berlangsung, cerita-cerita lokal yang sudah pernah mati itu, memulai babak baru dalam perjalananya menuju masa depan di era digital saat ini. Cara menikmati cerita di dalam forum-forum tradisi juga dimanfaatkan di dalam proyek revitalisasi dengan memilih cerita I Jaum sebagai lakon. Dari prototipe cerita yang ada tim merancang pertunjukan cerita yang pada dipertunjukkan di balai desa setempat. Ini adalah apresiasi yang menjadi darah dan napas bagi hidupnya sebuah cerita rakyat. Demikianlah kisahnya perjalan hidup kembali cerita rakyat di desa Bali aga, Pedawa. Cerita ini kembali karena niat dari dalam lokalitas Bali aga Pedawa. Ini adalah sebuah model konservasi cerita rakyat dengan mengutamakan peran lokalitas.

Babak selanjutnya perjalanan dan hidup baru cerita rakyat Bali aga Pedawa muncul ketika Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha melakukan program Desa Binaan (2026) di desa ini. Lewat beberapa tim kini perjalanan cerita rakyatnya semakin bervariasi. Cerita-cerita tersebut diresepsi secara kreatif dan diwujudkan dalam sejumlah alih wahana. Dari prototipe cerita yang autentik dalam bahasa Bali dengan dialek Bali aga serta tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia dan kenangan serta ingatan ketika cerita I Jaum dipertunjukkan di Balai Desa; kini ada sejumlah media baru sebagai apresiasi dan kelangsungan hidup beberapa cerita (I Jaum dan I Kilap).

Mengunjungi Balai Desa Pedawa, berjumpa dengan mural berukuran besar (12 x 4 m). Di sini dua cerita (I Jaum dan I Kilap) digambar oleh tim desa binaan dari Prodi Seni Rupa yang dipimpin langsung oleh dosen seniman pelukis I Wayan Sudiarta. Ketika cerita rakyat hidup dalam imajinasi sosial maka lewat karya mural ini I Jaum dan I Kilap hadir secara visual. Tiga ekor anjing milik I Jaum yang bertarung melawan babi-babi Dadong Raksasa hidup dalam visualisasi masyarakat. Demikian pula usaha petani Pedawa membangun bendungan untuk mengairi sawah mereka bergerak dan menunjukkan masa lalu desa ini ketika sawah masih berjaya sebelum dirombak oleh vegetasi cengkeh.

Resepsi artisitik yang lain, yang juga masih berupa alih wahana, dilakukan oleh tim desa binaan yang diketuai oleh dosen seni rupa, Langen Broto Sutrisno, dalam bentuk media baru yakni cerita bergambar I Kilap  dan komik I Jaum. Alih wahana cerita Bali aga Desa Pedawa ini sangat kaya dan media baru yang lebih masuk akal akan menjadi jaminan kehidupan cerita-cerita tersebut. [T]

Tags: bulelengcerita rakyatDesa Pedawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

Next Post

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co