HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti belum. Singkat bahasanya, Indonesia tidak lolos.
Apa penyebabnya? Saya rangkumkan tiga di antaranya, (1) pergantian pelatih di waktu yang kurang tepat, (2) kedalaman skuad utama dan pemain pelapis yang tidak seimbang, serta (3) pembinaan dan infrastruktur sepak bola jangka panjang yang jalan di tempat.
Dari tiga penyebab ini, unsur pertama adalah yang paling membuat saya geram, unsur kedua dan ketiga sudah mendapat permakluman dari batin yang terdalam, karena infrastruktur jelek sudah menjadi pemandangan sehari-hari di negara ini, bukan hanya pada ranah sepak bola. Namun, pada tulisan ini saya tidak ingin membahas timnas terlalu jauh. Ada satu aspek lagi yang lebih berpotensi untuk dijadikan sebagai sebuah kebanggaan nasional dan rasanya lebih masuk akal untuk dapat diwujudkan.
Berdasarkan data dari Nielsen The 2022 World Football Report, 69% rakyat Indonesia adalah penggemar sepak bola. Maka dari itu, kegagalan dalam sepak bola tentu saja merupakan patah hati bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Terdengar berlebihan, tetapi itulah faktanya.
Mari kita berandai-andai bahwa rakyat Indonesia sudah ikhlas seratus persen, legawa utuh seluruh pada kegagalan Tim Nasional untuk dapat berpartisipasi pada pagelaran Piala Dunia 2026. Rasa ikhlas dari masyarakat itu seharusnya jangan diabaikan, tetapi direspons oleh pemerintah dengan bijaksana. Hampir 70% rakyat Indonesia yang mencintai sepak bola dan terluka itu sebenarnya butuh disembuhkan, memerlukan penawar lara atas kekecewaan yang harus mereka tanggung bertahun-tahun lamanya.
Lalu, apa yang bisa mengobati luka menganga di dada sebagian besar penduduk Indonesia itu? Jawabannya sederhana, luka yang berasal dari tragedi sepak bola, lebih baik pula jika disembuhkan dengan obat yang formulanya disusun oleh unsur-unsur yang berkaitan dengan sepak bola.
Berbicara tentang sepak bola, otomatis berkaitan dengan elemen-elemen seperti infrastruktur –lapangan, stadion, sekolah sepak bola, gedung asrama pemain–, federasi, pemain, dan wasit. Apakah federasi sepak bola kita bisa diandalkan? Banyak yang apatis terhadap kemungkinan itu.
Apakah sekolah sepak bola di negara kita sudah terbilang mumpuni? Jika dibandingkan dengan negara-negara yang sudah langganan menjadi peserta Piala Dunia, tentu kualitas sekolah sepak bola kita masih jauh tertinggal, kemudian infrastruktur sepak bola di Indonesia sudahkah memenuhi standar? Di beberapa wilayah, sudah, sebagian besar lainnya belum. Maka, berkaca dari fakta itu, satu-satunya harapan yang dapat diandalkan datang dari aspek terakhir, wasit.
Bayangkan saja, sebuah pertandingan besar (perempat final, semifinal, atau bahkan final) di Piala Dunia dipimpin oleh seorang wasit dengan nama yang sangat Indonesia. “This match will be led by a referee from Indonesia, Baskara Sabdatama”, demikian kita mendengar komentator menarasikan persiapan menjelang kick off, sesekali muncul wajah wasit utama, asisten wasit, dan wasit VAR berkulit sawo matang, hidung tidak terlalu mancung, disertai keterangan nama-nama yang “sangat Indonesia” di bagian bawah layar televisi. Ada pula bendera Indonesia di samping nama wasit tersebut.
Sungguh, tidak apa-apa Timnas kita batal tampil di Piala Dunia, tetapi berikan kami sebuah penawar kesedihan itu. Sudah kami turunkan target minimal untuk PSSI. Cukup loloskan wasit-wasit Indonesia itu agar terpilih menjadi pemimpin pertandingan Piala Dunia. Benar-benar sudah kami longgarkan tuntutan dari penggemar timnas Garuda untuk Piala Dunia.
Tidak apa-apa bahwa pada kenyataannya Indonesia Raya batal berkumandang dari pengeras suara di sudut-sudut stadion, asal bisa digantikan dengan desing peluit berfrekuensi sekian desibel yang bunyinya berasal dari gesekan udara rongga dada seorang manusia berdarah Indonesia. Bunyi peluit yang otomatis kami dengar serupa dengan bagian outro lagu kebangsaaan kita, Hiduplah Indonesia Raya. Priiiiiiiiiiiiiit!!!!! Semua rakyat –hampir 70%– Indonesia terbangun dari mimpi dalam keadaan cedera, hati dan perasaan. [T]
Penulis: Iko Amadeus
Editor: Adnyana Ole





























