PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 2022 silam.
Orang-orang memanggilnya Bang DS. Nama ini menunjukkan selain bentuk penghormatan, juga menunjukkan keterbukaan beliau pada keberagaman. Sebutan “Abang” biasanya disematkan pada laki-laki non-Bali. Sedangkan di Bali, nama Ida Bagus biasanya dipanggil “Aji”, atau “Tu Aji”. Panggilan “Abang” pada seorang Ida Bagus, adalah hal unik dan jarang terjadi.
Tapi begitulah orang Jembrana. Kami sangat “cair”. Tidak fanatik akan identitas dan juga kasta. Namun, bukan berarti kebalian kami hilang atau tergerus oleh sebab heterogenitas. Sejak ratusan tahun lalu kami memang hidup dalam wilayah yang multikultur. Warga Bali, dan warga keturunan Melayu-Bugis, Arab, Tionghoa, bahkan keturunan Belanda hidup damai dan harmonis di Jembrana. Keberagaman itu tetap ada dan terjaga dengan baik hingga sekarang. Tak pernah ada masalah besar.
Bang DS, dalam lingkungan sastra di Jembrana, adalah seseorang yang dituakan, dihormati karena kecerdasan dan sikap egaliter/setara yang selalu ia tunjukkan dimana-mana. Meskipun ada orang-orang yang kurang suka pada beliau, entah karena sikap kritis yang ia sampaikan secara lisan atau tertulis misalnya dalam tulisan berupa esai –atau bahkan unggahan beliau di media sosial– saya rasa itu hal yang biasa dalam negara demokrasi. “Suka” dan “tidak suka” bukan hal aneh.
Pernah mengelola media cetak milik Pemkab Jembrana semasa pemerintahan Bupati I Gede Winasa, Bang DS bersama Bli Nanoq dan Kansas (Wayan Udiana) membuka lapangan kerja baru bagi anak-anak muda dan sahabat mereka sebagai wartawan, loper koran, sekretaris redaksi,
staf administrasi, dan juga kolomnis di majalah G-M maupun tabloid Independent News.
“Anak-anak didik” mereka kini ada yang menjadi wartawan senior sebuah koran besar di Bali. Ada juga yang menjadi penulis dan pegiat teater kawakan di Yogyakarta. Sementara yang lain, bekerja di luar dunia jurnalisme, namun tetap membawa bekal pengalaman selama berkarya di media cetak tersebut. Modal kehidupan yang baik.
Suatu hari, seperti sebuah visi atau pandangan akan masa depan, Bang DS pernah berujar kepada saya: “Angga, nanti istrimu wanita berjilbab, dan kamu berpotensi menjadi seperti Ulil Abshar Abdalla-nya Bali.” Waktu itu, bagi saya ucapannya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, ucapan itu, bisa jadi adalah sebuah visi/vision, Bang DS mampu melihat sesuatu yang belum terjadi. Dalam terminologi Jawa, sering disebut ‘weruh sadurunge winarah’.
Bukan klenik, tentunya. Beliau punya kemampuan analisa secara mendalam. Itu tentunya terbangun dari sejak muda; beliau pernah menjadi wartawan Bali Post, bergaul dengan banyak penyair dan seniman di Denpasar-Bali. Bahkan, mendiang Umbu Landu Paranggi memiliki kedekatan yang erat dengan Bang DS dan keluarganya. Setiap berkunjung ke kota Negara, Jembrana, Pak Umbu menginap di rumah Bang DS dan disuguhi makanan khas Jembrana kesukaan Pak Umbu, yang dimasak oleh Ibu Ketut Mahendri, istri Bang DS. Kami semua merindukanmu, Abang.
Denpasar, Senin 29 Juni 2026





























