31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Juni Milik Empat Presiden

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
in Esai
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Soekarno, Soeharto, Habibie, Joko Widodo | Foto dari berbagai sumber

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno).

PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster merayakan Bulan Bung Karno sebulan penuh pada bulan Juni. Pada 2026, Bulan Bung Karno memasuki tahun ke-8.  Perayaannya mirip bulan Bahasa Bali sebulan penuh sepanjang Februari. Kedua perayaan itu juga dilakukan berjenjang dan serempak dari Desa, Kecamatan, Kabupaten, sampai Provinsi melibatkan siswa secara berjenjang dari siswa Pendidikan Dasar  sampai mahasiswa Perguruan Tinggi ikut berpartisipasi.

Padahal, kalau ditelisik, ada 4 Presiden Indonesia yang lahir pada bulan Juni : Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, dan Joko Widodo. Soekarno lahir di Surabaya Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun. Soeharto lahir di Kemusuk Desa Argomulyo Sedayu Bantul  Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan wafat 27 Januari 2006 dalam usia 85 tahun. B.J. Habibie lahir di Pare-Pare Sulawesi pada 25 Juni 1936 dan wafat pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Selanjutnya, Joko Widodo lahir di Solo, pada 21 Juni 1961 dan kini masih aktif berpolitik bahkan menyatakan siap berkeliling Indonesia menyambut Pemilu 2029.

Mencermati bulan kelahiran 4 Presiden pada Juni, hanya Soekarno yang dipilih Semesta menjadikan Juni sebagai bulan kelahiran dan kewafatannya. Selain itu, pada 1 Juni 1945 Soekarno juga berhasil merumuskan Dasar Negara Pancasila dua bulan sebelum Indonesia merdeka. Itulah alasan pertama, Juni dirayakan sebagai Bulan Bung Karno.

Alasan kedua, Soekarno adalah satu-satunya Presiden RI yang keluar masuk penjara demi Indonesia merdeka. Ia dipenjara Belanda karena dianggap mengganggu pemerintah Belanda di Indonesia. Pidatonya, Indonesia Menggugat adalah bentuk perlawanan kepada penjajahan Belanda.  Presiden setelahnya, tidak satu pun yang pernah masuk penjara. Hebatnya, Bung Karno produktif di penjara. Semangat literasinya menyala. Ide-ide besar pikirannya tidak pernah terpenjara. Penjara menjadi tempatnya merenung dan berkontemplasi tentang arah masa depan Indonesia bila kelak merdeka. Bung Karno bisa menyederhanakan gagasan besar dengan bahasa sederhana, seperti slogan-slogannya yang merakyat : Merdeka atau Mati !

Alasan ketiga, diplomasi Soekarno sangat berani dan menakutkan bagi negeri adidaya Amerika Serikat. Pada zamannya, Gerakan Nonblok lahir, Konferensi Asia-Afrika (KAA)  digelar di Bandung. Bung Karno menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin Asia yang garang sebuas macan. Melalui Gerakan Nonblok, Bung Karno memosisikan diri sebagai wasit yang netral tetapi dengan semangat senasib sepenanggungan untuk bersama-sama menggalang kemerdekaan. Bersama 4 koleganya, Bung Karno menjadi orkestrator Gerakan Nonblok. Keempatnya adalah  Josip Broz Tito (Presiden Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir), Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana). Bung Karno juga salah satu pencetus KAA I di Bandung (1955) yang melahirkan Dasa Sila Bandung. KAA Bandung terinspirasi dari kesamaan senasib sepenanggungan sesama bangsa yang pernah terjajah dan baru sama-sama merdeka. Hebatnya, Bung Karno menggelar KAA I di Bandung di tengah persiapan Pemilu I yang dalam catatan sejarah disebut Pemilu paling demokratis.

Taufiq Ismail penyair Indonesia mencatat Pemilu I pada 1955 dalam puisi berjudul, “Ketika Indonesai Dihormati Dunia”. Taufiq Ismail menulis,  “Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat/Dengan rasa kangen, pemilihan umum pertama kucatat/Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima”.

Namun demikian, Goenawan Mohammad juga menulis sajak kesaksian pada Pemilu 1955 yang terkesan antithesis dengan kesaksian Taufiq Ismail.  Goenawan Mohamad menulis puisi berjudul, “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”. Tulis Goenawan Muhammad, “Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih/Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik/Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar/ Ia tak ada yang menangisi karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?…”

Kesaksian kedua tokoh penyair bangsa ini terkesan paradoks mengingatkan kita pada cara pandang Chairil Anwar, yang baik dan yang buruk dicatat, sebagaimana Bung Karno dikutip pada awal tulisan ini. Sejarah itu tidak selamanya hitam putih, kadang-kadang abu-abu membuat kabar menjadi kabur. Ingatlah Supersemar yang supersumir. Dokumen aslinya, sampai kini menjadi bahan perdebatan. Ibarat puisi, sejarah  itu  multitafsir, bergantung pada penulis yang umumnya pemenang. Histori versi pemenang perlu diimbangi dengan histori versi pecundang karena keduanya punya hak suara. Menyuarakan kesaksian masing-masing pada zamannya. Di sinilah peran editor yang netral untuk mengonvergensikannya, sebagaimana gagasan Ki Hadjar Dewantara dalam Trikonnya.

Begitulah kita memberikan catatan kepada empat Presiden RI yang lahir pada bulan Juni. Mereka semuanya menjadi pengingat bagi perjalanan sejarah bangsa yang oleh Gus Dur disebut negara yang bukan-bukan secara humoris. Kata Gus Dur, adil saja tidak cukup tanpa makmur. Oleh karena itu, negara ini dicita-citakan menjadi masyarakat yang adil dan makmur. Bahkan, terhadap tiga pendahulunya pun Gus Dur berkelakar, “Soekarno itu negarawan, Soeharto itu hartawan, B.J. Habibie itu ilmuwan, sedangkan saya sendiri hanya wisatawan”, sembari menyindir dirinya sering melakukan kunjungan kerja keluar negeri.

Walaupun keempat Presiden Indonesia terdahulu lahir pada bulan Juni, publik tentu dapat menilai peran mereka masing-masing dengan zaman dan tantangan yang berbeda. Mereka semua punya kelebihan dan kekurangan sebagai konsekuensi dari manusia yang tidak sempurna. Orang bijak akan selalu memetik pelajaran  kebaikan dari mereka untuk memajukan bangsanya. Bangsa yang terkenal religius dan ramah tamah mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan bangsa. Intinya perlu bergotong royong dan musyawarah mufakat dalam membuat keputusan sebagaimana dicita-citakan sejak awal. Soekarno – Hatta adalah duet hasil musyawarah mufakat yang ditetapkan oleh sidang PPKI sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia sehari setelah Kemerdekaan diproklamasikan.

Senyampang dalam suasana Hari Suci Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu, masih dalam suasana Bulan Karno yang juga bulan kelahiran 4 Presiden Indonesia, ada baiknya kita merenung sejenak seraya memasang tamiang dan endongan. Eling ring kauningan sebagai bangsa yang besar berbhineka tidak mudah untuk mengelola tanpa persatuan dan kesatuan. Ibarat paragraf, bangsa ini perlu memiliki ide pokok yang jelas arahnya didukung oleh kalimat-kalimat penjelas yang memenuhi syarat kohesi dan dan koherensi  menyambut Indonesia Emas 2045. Rahajeng Galungan dan Kuningan. Rahayu sekala niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: HabibieJoko WidodoSoehartoSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Next Post

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails
Next Post
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  ---Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co