12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
in Esai
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdekaan. NU Bali, sejauh yang bisa ditelusuri sudah berdiri sejak tahun 1934.

Data ini didapatkan pada daftar hadir Muktamar NU ke IX yang dilaksanakan di Banyuwangi Pada 23-24 April 1934, dimana ada dua utusan yang hadir dari Bali. Bahkan, sebelum pelaksanaan Muktamar di ujung timur pulau jawa itu, sebagaimana cerita dari para sesepuh di Jembrana, KH Abdul Wahab Chasbullah (Tokoh Pendiri NU) datang langsung ke Jembrana untuk memperkenalkan NU, dan tentu mengajak tokoh muslim setempat untuk ikut pada perhelatan akbar di Banyuwangi, yang secara geografis tidak jauh dari Jembrana.   

Hasil terpenting dari Muktamar di Banyuwangi ini, adalah disetujuinya pembentukan wadah khusus bagi anak anak muda NU, yang kemudian diberi nama Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), dan belakangan berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Dari sana, NU mulai diperkenalkan kepada masyarakat Muslim Bali, sekaligus membentuk sayap mudanya GP Ansor. NU terbukti diterima, karena tidak lama setelah itu, pelajar muslim Bali yang sebelumnya belajar agama ke Lombok, pada tahun 1935 mulai banyak yang mondok ke Jawa. Salah satunya pelajar asal Desa Pegayaman Buleleng bernama Affandi, mondok ke Pondok Tebuireng Jombang. Hal ini sebagaimana catatan Wayan Suardika, mahasiswa Sejarah Universitas Udayana dalam skripsi yang ditulisnya dengan judul “Perkembangan Nahdlatul Ulama di Bali” pada tahun 1988.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Masjid di Bali | Foto: Ist

Pada tahun tahun setelahnya, Angkatan pelajar muslim Bali terus bertambah untuk mondok di Jawa, seperti pada tahun 1954, Ahmad Damanhuri asal Loloan Jembrana berangkat mondok ke Pondok Tambakberas Jombang dibawah asuhan langsung KH. Abdul Wahab Chasbullah. Kelak Damanhuri pada tahun 1963 menjadi Ketua PC GP Ansor Jembrana dan memainkan peran yang sangat penting pada dinamika sosial tahun 1965-1966.

Peran Penting GP Ansor di Bali

Pertama, keterlibatan pada masa revolusi kemerdekaan di Bali. Perjuangan rakyat Bali bahu membahu melawan Belanda yang berupaya merebut kembali pasca proklamasi 1945. Perjuangan bersama lintas agama ini, untuk di Bali, pada zaman Kerajaan sudah terbiasa dilakukan para pasukan  muslim, meski yang dibelanya adalah Raja yang berbeda agama.

Ditambah lagi, pada konteks tahun 1945, setelah NU sudah mulai menyebarkan paham keagamaan yang akomodatif terhadap tradisi, sekaligus memiliki pandangan kebangsaan yang kuat untuk membela tanah air, anak anak muda NU saat itu terjun ke medan laga pertempuran bersama pejuang lainnya. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam makam pejuang muslim yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Bali.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Gereja di Bali | Foto: Ist

Kedua, memainkan peran penting pada masa chaos 1965-1966. Kejadian ini lebih dikenal zaman Gestok oleh masyarakat Bali. Pada catatan Soe Hok Gie, di Bali sedikitnya ada 80 ribu jiwa menjadi korban akibat konflik ideologi politik dari pusat, yang merembet ke daerah termasuk Bali. Dimana saat itu, nyawa sangat mudah dihilangkan dengan tuduhan atau dicap komunis.

Konflik terbuka dialami GP Ansor versus PKI, sebagaimana berita yang diturunkan Harian Suara Indonesia pada tanggal 15 November 1965, melaporkan terjadi bentrokan fisik di Gerokgak Buleleng pada hari Kamis 11 November 1965 yang menewaskan 4 Anggota PKI, 2 Anggota Ansor, dan 1 Anggota PNI, serta puluhan lainnya luka luka. Konflik ini pecah karena ada isu penyerangan dari Pemuda Rakyat yang berafiliasi dengan PKI.

Bentrokan juga terjadi di Tegalbadeng Jembrana pada 30 November 1965 yang menewaskan 2 Anggota Ansor dan 1 orang Tentara. Konflik ini dipicu adanya kecurigaan kepada anggota PKI yang melakukan rapat gelap. Saat hendak dibubarkan, terjadi bentrok hingga menewaskan 2 orang anggota Ansor, yang setelah itu memancing kemarahan massa terhadap simpatisan PKI.

Pada massa “pembersihan” ini, GP Ansor meski terlibat bersama Pemuda PNI dan Tentara, melakukan penyisiran dengan hati hati, karena tidak semua harus “dihabisi” karena dicap PKI. Ada orang orang yang tidak mengerti apa apa, tapi akhirnya menjadi korban.

Dalam situasi mencekam dan chaos, agar tidak semua dihabisi, Kartu Tanda Anggota (KTA) Ansor menjadi kartu sakti sebagai bukti seseorang tidak terafiliasi dengan PKI. Bahkan mereka yang sebelumnya bukan anggota, mendatangi ketua ketua Ansor untuk meminta dibuatkan KTA Ansor. Kemudian Anggota Ansor di Desa Desa bersama pemuda lainnya setiap malam melakukan ronda untuk turut serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.   

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

Ketiga, Ansor menjadi Jembatan Keharmonisan. Pasca peristiwa Bom Bali, narasi identitas mulai massif didengungkan, mulai dari pertemuan resmi hingga obrolan warung kopi. Kewaspadaan karena memang pariwisata membutuhkan kenyamanan dan keamanan, diterjemahkan dengan berlebih yang mengarah ke SARA.

Peristiwa Bom Bali dari kaca mata manapun, tidaklah dibenarkan, termasuk Muslim Bali sendiri sangat mengutuk kejadian tersebut. Bom Bali bukan hanya meluluhlantakan bangunan di Legian Kuta, tapi juga berimbas pada hancurnya bangunan harmonis Hindu-Islam yang sudah ratusan tahun terbangun harmonis.

Beberapa upaya dilakukan NU Bali, utamanya para aktivis GP Ansor Bali dengan berkoordinasi dengan pihak keamanan terkait menyisir dan memetakan sebaran paham keagamaan yang mengarah pada radikalisme. Paham keagamaan yang radikal ini sangat bertentangan dengan cara pandang NU yang moderat. Bahkan karena GP Ansor konsen dengan isu keharmonisan, tak jarang terjadi riak riak kecil tatkala berhadapan dengan kelompok ekstrem kanan ini.

Selanjutnya, GP Ansor di Bali selalu melakukan kerjasama simbolis, baik dengan dialog maupun pengamanan. Tak jarang kita sering menyaksikan satuan khusus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengamankan upacara keagamaan bersama Pecalang, baik upacara Hindu mapun Islam. Kedekatan ini ingin menunjukan bahwa Hindu yang disimbolkan melalui Pecalang bisa berdampingan dengan Banser yang representasi dari Muslim Bali.

Diluar isu keharmonisan, GP Ansor Bali kini terus bergerak agar kemanfaatan bisa dirasakan masyarakat Bali, mulai dari isu lingkungan hingga pada advokasi bantuan hukum pada masyarakat lemah.  [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ansor BulelengGP AnsorMuslimmuslim baliNahdlatul Ulama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Next Post

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co