24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilarang “Onani” di Teater Kalangan

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Esai

 

PERTAMA saya benar-benar ingin mengucapkan selamat pada Teater Kalangan. Tidak saja sekadar ucapan Tahun Baru, Hari Ibu, Natal, atau keberhasilan pementasan yang telah terselenggara selama tahun 2017. Selama satu tahun kemarin saya pikir adalah perjuangan terhebat bagi Teater Kalangan untuk melakukan kerja agar rumah (kelompok) tidak saja jadi tempat nongkrong “sesama jenis”.

Akan tetapi, sekali lagi selamat karena telah menjadikan Kalangan sebagai tempat yang tidak eksklusif di dunia yang sudah serba kotak-kotak, bulat, kubus, balok, dan bentuk lainnya yang tak berpintu.

Ucapan selamat pada Teater Kalangan juga sekaligus adalah rasa terima kasih saya. Terima kasih sudah membuat saya berani mengakui bahwa selama ini saya terlalau asik “onani”. Saya pikir selama ini  kurangnya refleksi pada diri saya dalam menyikapi banyak hal, termasuk lingkungan telah membuat diri cukup sesat memaknai hidup. Sampai kemudian saya tiba pada titik penuh ketidakberteriman dan segala macam pertanyaan lengkap dengan sesalnya.

Mungkin patut kita renungkan bersama juga, bahwa tanpa kita sadari segala bentuk ketidakberterimaan yang kita alami ini karena kita membuat jarak yang terlalu jauh, hingga kita menjadi orang-orang yang sangat individualis dan fanatik pada selera. Yang terjadi kemudian adalah kecenderungan memisahkan diri dari yang kita angap berbeda pilihan, selera, dan cara pandang. Walhasil, karena tidak suka kita tidak berteman, karena tidak sejalan kita mencemooh, menghujat, dan menghakimi. Padahal untuk berkenalan saja kita belum pernah mencobanya.

Itu yang saya temukan kemudian dalam diri dan baru mampu saya sadari tiga bulan sejak Teater Kalangan mengucapkan selamat datang ke rumahnya pada saya. Rumah itu dihuni berbagai macam orang dari berbagai kalangan. Tidak saja orang-orang seni, tetapi juga pekerja, siswa, mahasiswa, pedagang, aktivis, bahkan pengangguran sekalipun. Mereka duduk bersama, bicara dari satu topik ke topik lain, dengan sungguh-sungguh atau sekedar candaan.

Ucapan selamat datang adalah ruang pengasingan bagi saya sebagai pengunjung baru. Undangan pertemuan terus berjalan dan pengasingan terus saya rasakan tanpa penyelesaian. Setiap kalimat dalam percakapan dari setiap orang adalah jarak yang panjang untuk ditempuh, untuk mampu masuk dalam percakapan. Itu melelahkan, meresahkan, menyedihkan, dan menyakitkan. Tapi satu hal penting yang kemudian saya pelajari dari kejadian itu, bahwa belajar adalah membawa diri ke dalam kekosongan yang perlu diisi. Ada kerendahan diri dan hati yang perlu dibina. Yang saya tahu kemudian bahwa kedatangan saya  bukanlah sebagai “aktris teater” yang diundang untuk mengisi acara bersama Teater Kalangan.

Kepulangan jadi tanda-tanda tanya, kedatangan jadi keyakinan

Perlu waktu cukup lama untuk menyadari ini. Saya atau kita semua selama ini mungkin terlalu mabuk pada segala pujian dan tepuk tangan dari rumah kita sendiri-sendiri. Ini tentu tidak hanya terjadi di kelompok teater, tetapi juga di kelompok-kelompok lainnya, seperti halnya kelompok seni, seperti musik, seni gambar, vocal, dan tari. Begitu pula dengan lingkungan akademik yang masing-masing punya penjurusannya.

Saya rasa ruang-ruang itu yang selama ini sering kita jadikan batasan pertemanan atau pergaulan untuk membangun diri. Oleh karena itu, tidak salah kemudian apabila saya sebut diri saya atau kita semua yang masih melakukan hal demikian sebagai kalangan yang suka “onani”. Apa bedanya kemudian kecenderungan sikap kita selama ini dengan onanai yang sesungguhnya? Kepuasan, kebenaran, kesalahan, kita kungkung jadi milik sendiri, nikmat-nikmat sendiri, tanpa refleksi, tanpa diskusi, atau mencoba melihat dari sudut pandang lain di luar kelompok.

Hal itu kemudian saya kira disadari benar oleh Teater Kalangan dalam membina kelompoknya. Menghilangkan batasan-batasan pergaulan, dengan memasuki dan mengenal berbagai skena dalam pergaulan atau kehidupan. Ini adalah kunci membangun kehidupan kelompok yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kemudian jika dalam berbagai produksi Kalangan selalau muncul wajah-wajah baru yang ikut jadi bagian di atas panggung mereka.

Kehadiran Nindya misalnya, seorang Mahasiswa Kedokteran yang mencintai musik serta Putu Deoris Mahasiswa Desain yang gila baca di TBK. Kawan-kawan yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam teater ini tiba-tiba saja ada di Teater Kalangan, terlibat sebagai pemain atau tim pementasan. Ini adalah hal yang aneh bagi saya, yang terbiasa selalu bersama-sama dengan yang sealiran selera dan pilihan.

Prihal “onani” itu, bagi Teater Kalangan tentu saja tidak berhenti pada persoalan pergaulan dan anggota kelompok. Berikutnya saya sadari juga perihal membina orang-orang yang masuk ke dalamnya untuk tidak onani pada nyamannya mereka sendiri-sendiri. Maksudnya, yang bisa desain ya tidak selalu tugasnya harus desain, tapi bisa juga ambil belajar ambil kerjaan lainnya.

Dalam hal kedudukan di sebuah kelompok biasanya selalau diisi dengan jabatan-jabatan tertentu bukan? Di Teater Kalangan juga ada. Tapi ada perbedaan yang membelajarkan saya kemudian ketika ada di tengah-tengah mereka. Bahwa tidak ada aturan yang membatasi kalau sutradara adalah orang yang memimpin tetek bengak kegiatan latihan. Misalkan ya seperti saat latihan pemanasan. Siapa saja boleh memimpin. Sekali lagi, ini untuk menghindari kecenderungan kebiasaan “onani” yang saya maksudkan.

Ada yang terbesit kemudian dalam diri saya, bahwa kebiasaan kita menyikapi kedudukan sangatlah kaku dan patriarki. Mirip seperti kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya. Saya seorang guru, fenomena yang terjadi di Teater Kalangan sangat dekat dengan apa yang terjadi di lingkungan saya ketika berposisi sebagai guru di sekolah. Saya ingin mengajukan pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan bila diposisikan sebagai siswa dalam sebuah ruang kelas, kalau seorang guru datang dan mengatakan, “Baik, hari ini kita jadikan ruang kelas sebagai taman kota. Pilih saja taman dalam kota seperti yang kalian inginkan. Semua boleh memilih tempat dan gayanya sendiri untuk selama dua jam pelajaran. Lakukanlah hal selayaknya di taman kota.”

Tindakan seperti apa yang anda pilih? Saya yakin benar jawabannya sangat bervariasi dan nampak sepakat dengan tawaran yang diberikan bukan? Dalam hal ini, karena saya ajukan kepada pembaca, jawabannya dapat saya duga seperti apa.

“Wah asik! Itu baru guru luar biasa.”

“Bah, kalau aku seneng banget!”

“Kalau aku mau main bola aja.”

“Aku pacaranlah! Di taman kota kan banyak yang pacaran.”

Lalu bagaimana jika anda yang sedang membaca tulisan ini bukan hanya sebagai pembaca, tetapi benar-benar sebagai siswa di dalam kelas? Semua jawaban di atas tentu tidak akan terjadi. Yang paling memungkinkan adalah, adanya pertanyaan, “Apa men ya yang dilakukan?”. Sebuah hal yang membingungkan bukan? Realitanya, ketika siswa diajak belajar selayaknya pembelajaran, yang terjadi antara guru dan siswa di dalam kelas sering dianggap tidak menyenangkan, kaku, membosankan, dan berbuah hasil tidak mengesankan. Ketika diberikan tawaran berlaku semaunya pun membuat semuanya kebingungan.

Lagi-lagi hal itu saya temukan kemudian di Teater Kalagan. Dalam proses latihan yang saya ikuti di Teater Kalangan, kecenderungan sikap menggurui karena kedudukan itu tidak pernah saya rasakan. Setiap anggota memiliki porsi yang sama dalam berpendapat atau berlaku. Hal itu ternyata menyangkut harapan dari Teater Kalangan untuk mencoba menjadikan siapa saja dalam kelompoknya dapat berperan menjadi apa saja. Entah itu sutadara, musik, desain, atau yang lainnya.

Hal itu dirintis pembinaannya dari kegiatan berlatih, atau model latihan yang dipilih. Pernah mencoba permen nano-nano? Nah, kurang lebih sensasinya seperti itu. Satu benda dihisap, dua-tiga rasa terlampaui. Ketika latihan misalnya, saya bisa merasakan sedang melakukan berbagai kegiatan yang membahagiakan. Tidak beban. Tidak tertekan.

Kurang lebih begitu, kenapa dilarang “onani” di Teater Kalangan. Kalau benar sama seperti yang saya pikirkan, harapan Teater ini selain membesarkan dirinya juga sedang membangun harapan untuk membesarkan setiap orang yang datang berkunjung dan berproses bersamanya untuk menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih saat keluar dari pintu rumah mereka.

Ya, sekurang-kurangnya mungkin seperti yang saya rasakan, pikirkan, dan lakukan. Bahwasanya, sesekali kita butuh ruang pengasingan sebagai refleksi untuk tetap belajar merendahkan diri dan hati. Menyadari, bahwa dunia ini lebih indah dari sekedar “onani” kalau kita mau jalan-jalan ke luar pagar rumah sendiri. (T)

Tags: KreativitasTeaterTeater Kalangan
Share37TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Next Post

“Chat Vs Surat” – Tentang Kesulitan Siswa Belajar Menulis

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

“Chat Vs Surat” – Tentang Kesulitan Siswa Belajar Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co