ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno. Ketiganya adalah tokoh bangsa yang mencintai bangsanya dengan cara berbeda. Chairil Anwar mencintai bangsanya dengan menjaga, merawat, dan mengabadikan Bung Karno dalam puisinya yang terkenal “Persetujuan dengan Bung Karno”. Sementara itu, Sjahrir adalah ring satu lingkar kekuasaan Bung Karno.
Jika mencermati asal-usul, Chairil Anwar adalah keponakan Sutan Sjahrir berasal dari Medan, sedangkan Bung Karno dari Jawa Timur beribu Bali, Ida Ayu Nyoman Rai. Bung Karno adalah macan podium yang menjinakkan macan Amerika dan Inggris. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”, tanda nyali besar Sang Bung Karno seperti Sang Fajar menyingsing. Pantas disebut Putra Sang Pajar. Makin siang makin galak dan makin ganas menaklukkan lawan. Semangat Bung Karno, terasa benar dalam puisi “Dipenogoro”-nya Chairil yang menggambarkan : “Pedang di kanan, keris di kiri/Berselempang semangat yang tak bisa mati”. Bahkan sampai kini, di Bali Bulan Bung Karno dirayakan dari tingkat sekolah, desa, Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi. Itu berlangsung sejak Gubernur Wayan Koster.
Sesaat setelah meninggal Bung Karno pada 21 Juni 1970, tetua Bali bahkan mengimajinasikan Bung Karno muncul di bulan. Imajinasi tanda kesetiaan pada Bung Karno. Pengagum Bung Karno di Bali rerata memajang foto/lukisan Bung Karno yang memegang keris sebagai simbol senjata tradisional. Artinya, semangat nasionalisme Bung Karno tidak meninggalkan kearifan lokal Nusantara. Pun tidak minder di hadapan bangsa-bangsa maju di dunia. Pertanda Bung Karno pejuang yang memuliakan glonakalisasi (global, nasional, lokal)- -isasi sebagai medium diplomasi. Hanya orang yang berkecerdasan tinggi mampu menyeimbangkan dan mengutuhkan ketiga semangat itu dalam elan nafas perjuangan. Sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara dengan Trikon-nya yang Bung Karno terjemahkan dalam semangat Trisakti untuk menata bangsa.
Baik Ki Hadjar Dewantara maupun Bung Karno sama-sama memiliki pandangan yang sama dalam bidang kebudayaan. Ki Hadjar Dewantara menerjemahkan kebudayaan dengan tiga mantra sakti Caraka (cipta, rasa, dan karsa) sebagai unsur pembentuk. Kelak, mantra inilah menjadi asal-muasal secara etimologi Ceraken Kebudayaan (Bali). Ki Hadjar Dewantara juga memperkenalkan Trikon (konsentris, kontinuitas, konvergensi) dalam membina dan menumbuhkembangkan Pendidikan dan kebudayaan. Growth mindset dari psikolog Stanford, Carol Dweck sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan secara linguistik dipersepsikan sebagai Kata Benda, dalam pola pikir Growth mindset , kebudayaan adalah Kata Kerja. Kerja-kerja kebudayaan adalah kerja dinamis tanpa berkesudahan (kontinuitas).
Di dalam mantra trisakti-nya Bung Karno, kebudayaan diterjemahkan dalam satu frase : berkepribadian dalam kebudayaan. Dua frase yang lain adalah berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik. Jadi, kedua tokoh besar ini sama dalam memandang kebudayaan yang kelak keduanya juga sama-sama mengaplikasikan ke ranah berbangsa dan bernegara. Ki Hadjar Dewantara melalui Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Bung Karno mengorkestrasi melalui tahta presiden selama 20 tahun.
Ke-Medan-an Sjahrir dan Chairil yang cenderung blakblakan dan ceplas-ceplos dengan tingkat kepercayaan tinggi memberikan keleluasaan keduanya membangun narasi yang kuat berpijak pada literatur yang terpercaya. Keduanya juga kutu buku. Bahkan demi memenuhi hausnya membaca, Chairil pernah mencuri buku di Pasar Senen Batavia toko buku milik Belanda. Dalam konteks Bali, Chairil Anwar adalah maling maguna. Yang membedakan keduanya adalah jalan perjuangan yang ditempuh. Yang satu melalui jalur birokrasi yang ketat menjaga marwah kepemimpinan dengan puncak jabatan sebagai Perdana Menteri, yang satunya bohemian urakan yang memungut kata-kata kasar dan tajam untuk membingkai puisinya. Dari kata-kata paling sarkas hingga kata-kata paling humanis, ia berpuisi. Semangat zaman pun terpotret melalui puisinya. Bahkan kata-kata dalam puisinya menyejarah dan sering dikutip : Aku ingin hidup seribu tahun lagi, hidup hanya menunda kekalahan, sebelum pada akhirnya menyerah, sekali berarti setelah itu mati, dan sejumlah kata-kata bertuah penyemangat dan motivasi.
Keliteratan keduanya berhasil menaklukkan kata-kata untuk memperjuangkan nama Indonesia di kancah pergaulan bangsa-bangsa yang beradab. Bagi, Chairil, pena adalah senjata. Kata-kata adalah pelor yang ditembakkan untuk menjinakkan lawan di tengah situasi yang gamang sesaat Proklamasi dibacakan Bung Karno didampingi Bung Hatta.
Dalam puisinya berjudul, “Karawang Bekasi” Chairil menulis bait-bait yang bukan fiktif tetapi fakta hasil pergumulannya dengan lingkar kekuasaan. Mengabadikan tokoh sejarah bangsa dalam puisi, seperti mematri namanya dalam prasasti :
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Apa makna puisi-puisi kebangsaan Chairil bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertama, keleluasaan Chairil berada di lingkar satu Sjahrir yang Perdana Menteri pertama RI, memungkinkannya mendapatkan saripati kata bertuah termasuk nuansa emosi yang menyertainya. Diskusi dan perdebatan antara Soekarno, Hatta, dan Sjahrir tampaknya juga mengilhami puisi-puisi Chairil. Namun di ujungnya, semua dicatat dan ditulis dengan indah. Semua diberi tempat dan ruang. Tiada ada yang ditinggal, yang bajik dan yang batil. Yang halus dan yang kasar. Namun, tidak mungkin semua peristiwa di lingkar kekuasaan itu dapat dinyatakan dalam puisi dengan kata-kata terbatas. Paling tidak, puisi-puisi Chairil Anwar cukup memadai untuk menjadi pendamping bacaan sejarah. Oleh karena itu, guru Sejarah pun perlu mengapresiasi karya sastra termasuk puisi. Pendekatan interdisipliner antar mata pelajaran adalah hal yang diseyogyakan. Tidak zamannya lagi untuk menunjukkan egosektoral dalam bidang keilmuan karena pada hakikatnya semua cabang ilmu yang terpilah-pilah menjadi mata pelajaran itu beribukan satu : Filsafat.
Kedua, Chairil menempatkan ketiga tokoh bangsa itu sebagai pahlawan yang setara saling melengkapi. Repetisi kata “menjaga” menandakan pengamanan dan penegasan bahwa para pejuang itu selalu diajak bergandengan tangan seperti dinyatakan dalam “Persetujuan dengan Bung Karno”. Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu/ Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945/Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu/Aku sekarang api aku sekarang laut….
Ketiga, Chairil selain mencatat dan ikut membesarkan Soekarno yang memang sudah besar sebelum Chairil lahir 1922, ketika Bung Karno sudah aktif di pergerakan. Chairil yang dimuliakan kewafatannya sebagai Hari Puisi pada 28 April, sementara Juni sepenuhnya milik Bung Karno. Sejarah lahirnya istilah Pancasila pada 1 Juni 1945, Bung Karno lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun. Walaupun demikian, keduanya sama-sama pendobrak. Bung Karno adalah pendobrak yang memerdekakan bangsanya dan Chairil adalah pendobrak bahasa yang meninggalkan gaya bahasa pujangga baru. Hebatnya Chairil bisa merangsek di ring satu kekuasaan sebagai penyair walaupun mati muda dalam usia 27 tahun. Dengan tinta emas Chairil menjaga Bung Karno. Selamat merayakan Bulan Bung Karno. Salam Budaya! [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole






























