CANGKIR TEH YANG MENUA
kita masuki rumah baru, AC yang tidak dingin
rapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi
: “au, kita berbagi cerita, berbagi kebahagiaan dan
bersulang cangkir teh dari porselen yang menua!”
dan tidak ada lagi dusta, tidak ada lagi hal-hal yang
membuat curiga– kita tulis baris-baris puisi di seluruh
dinding rumah: tidak ada lagi batas dan sekat di antara
hati; tidak ada lagi yang perlu dipertengkarkan
di sepanjang jalan yang panjang
di bawah terik sinar matahari.
h.lst.14 April 2026
DI BAWAH TERKAMAN LASER
di bawah terkaman sinar laser; perut dan punggung
serupa layar tipis dari plastik: jantung hati limpa usus
terdeteksi dan ternyata menyimpan misteri
di mana rasa sakit sembunyi, di mana rahasia rindu
dan cinta?
hidup sering bersandar pada dinding fatamorgana, pada
pertarungan tak berujung hingga ke bilik paling sunyi
ke pendar mata maut: “au, aku mau engkau adalah tajam
pisau puisi mengiris rindu dan cinta, hingga ke hulu waktu,
ke peluk paling ngilu!”
biarlah aku sendiri cemas dan sakit, mencatat sejarah
yang orang lain tidak perlu tahu: “aku sudah terbiasa
menapaki jalan tandus terjal di bukit karang sunyi
menyulam perca rindu dan cinta jadi jubah penyair!
Cirebah, 6 April 2026
PUSAT CAHAYA
ya Allah, kota ini Tanah Haram-Mu– hati serunduk-runduk memasuki,
getar sukmaku, tawaf-sa’i-tahalul, ampunku ya Allah
ini tempat suci, tempat paling mulia di muka bumi: Ka’bah, rumah pertama
menyembah Allah; batu demi batu disusun Ibrahim dan Ismail, Jibril membawa
Hajar Aswad, batu mulia dari surga, di sudut Ka’bah, tanda dimulainya thawaf—
ikatan langit dengan bumi: ya Allah doa-doa kumau menembus ruang dan waktu;
aku menjadi bayi, menjadi sesuatu yang nol, di hadapan-Mu air mataku tetes
ke hati paling dalam, aku sunyi sesunyi-sunyinya di tengah keramaian
dari bukit shafa ke bukit marwah– berlari-lari kecil di antara dua pilar hijau;
sayangilah, bermurah hatilah yang Mahamenerima, yang Mahamulia….
di tengah gelombang, pusaran manusia– mengagungkan Allah, langkah dan
tubuhku lebur ke dalam Cahaya; aku kosong, murca dalam tetes air mata, ampun,
ampunilah aku!
pusaran manusia tak henti-henti mengagungkan-Nya
dan aku ingin kembali lagi
ingin menangis dan berdoa
seraya mengelilingi Ka’bah
: “yang bisa datang hanyalah karena panggilan-Nya, au, datanglah kekasihku!”
malam pun turun di zamzam tower
langit biru bersih.
Mekah, 5 Februari 2026
KUSAMBUT PANGGILAN-MU
matahari pecah di atas masjid bir ali; berbaju ihram, talbiyah,
tiada sekutu bagi-Mu…
akulah makhluk paling sederhana, bibir kering, tetapi zikirku tiada henti
: bukit batu, jalan tol, barisan kecil pohon gersang, hamparan gurun, tak ada
sepotong pun puisi, di kejauhan gerombolan domba serta unta, terpencar
kampung-kampung rumah-rumah kubus
sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan milik-Mu; aku sujud sedalam-
dalamnya seikhlas-ikhlasnya, aku seserpih debu, ampun aku, ampunilah
kusambut panggilan-Mu, debar dada, air mata tetes jua…
au, aku debu, ampun aku, ampunilah!
Madinah-Mekah, 4 Februari 2026
REMBULAN DI ATAS NABAWI
di antara deru langkah menjelang subuh, aku tertegun; mekar rembulan
di atas nabawi– kesunyian yang menakjubkan; keagungan dan kemuliaan
hati-jiwaku berguncang
di atas bumi
kalau engkau membenci
kalau engkau muak
kalau engkau menghina
aku terima: aku hina, aku fana
rembulan itu sunyi
aku ingin terayun sunyi
rembulan itu suci
aku ingin suci
rembulan itu mulia
aku ingin sederhana
rembulan itu cahaya
aku musafir
yang berkendara doa
au, rembulan di atas nabawi
kian memacu jantungku
untuk berburu rahmat-Mu
langkah tergesa
untuk sujud di bawah sejuk
cahaya-Mu
: zikirku zikir puisi retak!
Masjid Nabawi, 4 Februari 2026
.
Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole





























