WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah lama tidak dipentaskan, alias vakum. Pendukungnya kini, semuanya baru dengan merekrut generasi muda yang memiliki kemauan untuk melestarikan kesenian klasik yang telah diwarisi para leluhurnya tempo dulu. Termasuk memperbaharui kostum serta gamelan pengiringnya.
Pengemasannya juga sangat relevan yang mengedepan inovasi, sehingga tampil lebih segar dengan durasi yang tidak membosankan, serta tema cerita yang lebih fleksibel. “Kebangkitan kesenian arja ini bermula dari keinginan warga untuk “nangiang” Ida Bhatara di Pura Banjar Bukit Buwung pada 2018. Saat itu, warga hanya memperbaiki empat gelungan lama yang masih tersisa, seperti gelungan condong, mantri manis, mantra buduh, dan limbur,” kata Koordinator Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma, I Made Sumantra, Jumat, 15 Mei 2026.
Sumantra mengatakan, pada waktu itu baru sebatas memperbaiki gelungan peninggalan lama, belum ada penarinya. Keinginan menghidupkan kembali kesenian arja itu semakin kuat, pada saat karya di pura banjar, pada Tumpek Bubuh 2025. Kelian Banjar meminta warga segera mencari pelatih agar dramatari arja benar-benar bisa diwujudkan kembali. “Saya kemudian mencari pelatih atas rekomendasi seniman arja senior, Jero Ratna,” ucapnya.
Kesenian arja di Bajar Bukit Buwung itu pernah mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1965-an, namun setelah itu jarang menerima pesanan pentas, dan akhirnya vakum. Arja tersebut kembali dipelajari hingga terbentuk sekaa dramatari arja baru bernama Giri Nata Kusuma. Upaya pelestarian tersebut pun mendapat sambutan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, dengan mempercayai sebagai duta Kota Denpasar untuk tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. “Ini kesempatan yang membanggakan, ini juga tantangan bagi kami,” ucapnya.

Sebab, dalam proses pembentukan sekaa, warga lokal menjadi prioritas sebagai penari dan pendukung pementasan untuk keberlanjutan tradisi tetap terjaga. Tak hanya itu, pemilihan pemain juga banyak melibatkan keturunan para pemain arja generasi sebelumnya. Tradisi regenerasi itu dinilai penting agar karakter dan roh kesenian tetap terpelihara. “Dulu kakeknya menjadi penasar, sekarang diteruskan anak atau cucunya. Jadi memang ada kesinambungan generasi,” ucap Sumantra senang.
Satu hal menarik dari pemilihan penari arja itu, setelah mengalami trance, kerauhan warga pada saat piodalan di pura di banjar tersebut. Ketika piodalan itu, beberapa warga secara spontan menari atau melantunkan tembang arja meski tidak pernah belajar sebelumnya. Ada yang kerauhan dengan menari tokoh limbur, condong, bahkan matembang arja secara alami. “Penari condong yang masih berusia muda itu, terpilih setelah sebelumnya mengalami kerauhan dan menarikan karakter condong saat piodalan,” aku pria yang juga pelatih iringan dramatari arja itu.
Diawal dramatari arja ini dibangkitkan, hanya didukung 7 penari saja. Namun, setelah didapuk menjadi duta seni Kota Denpasar, tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan dramatari arja ditampilkan semua, sehingga menjadi 11 penari. Penambahan tokoh ini juga dikuatkan dengan adanya tanda pada piodalan di tahun 2025. Pada saat itu mementaskan arja dengan 7 penari. Ketika tokoh mantra buduh ngelembar (menari), tiba-tiba salah satu warga bangkit dan menari tokoh mantra manis tanpa sadarkan diri. “Dari tanda itu, jumlah penari arja kemudian dilengkapi sesuai dengan kebuthan tampil di ajang PKB,” imbuhnya.
Dari total pemain yang terlibat, hanya dua orang yang belum menikah, sementara lainnya merupakan warga Banjar Bukit Buwung yang sudah berkeluarga. Setelah dipercaya tampil di PKB, para pemain kemudian dilatih oleh sejumlah seniman senior, sepeti Made Sudira dan Jero Ratna serta dibantu pelatih dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Made Sudarsana melatih tabuh, Made Sudira, Jero Ratna, Wayan Rumasih, serta Rimbit. “Ini menjadi tugas berat bagi kami karena sebagian besar penarinya adalah warga banjar yang tidak semuanya memiliki dasar tari maupun tembang,” ujar Sumantra.

Latihan perdana dimulai pada 18 Januari 2026 setelah dilakukan prosesi nuasen. Demi mengejar persiapan tampil di PKB, latihan dilakukan secara intensif. Atas usulan Jero Ratna, dramatari arja yang akan dipentaskan mengangkat lakon “Katung Pingit”, selaras dengan tema PKB 2026, “Atma Kerthi”. Judul tersebut juga terinspirasi dari kondisi arja lama di Banjar Bukit Buwung yang hanya menyisakan katung dan gelungannya saja. “Katung itu dulu tetap disakralkan walaupun lama tidak digunakan. Dari situlah ide cerita ini muncul,” jelasnya.
Pementasan Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma tersebut akan diiringi barungan gamelan geguntangan, seperti tradisi masa lalu. Namun satu instrumen lama bernama “ber”, alat musik berbentuk lingkaran menyerupai rebana, tidak lagi digunakan karena sudah rusak dimakan rayap. “Penabuh dan semua barungan gamelan geguntangan itu tergolong baru,” imbuhnya.
Sementara itu, seniman senior Ni Ketut Cangkir yang dahulu pernah menjadi pemeran Condong mengaku bangga melihat semangat generasi muda menghidupkan kembali kesenian arja di banjarnya. “Saya senang anak-anak muda sekarang mau belajar dan membentuk kembali sekaa dramatari arja di banjar ini,” ujarnya.
Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, mengatakan keberadaan seni Arja di kawasan Kesiman memang memiliki jejak sejarah yang kuat. Bahkan sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama seperti gelungan Arja masih tersimpan dan kini kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi. “Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali,” paparnya.
Arja merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. Di Kota Denpasar, kesenian ini pernah berkembang kuat di sejumlah wilayah seperti Kesiman, Pedungan, hingga Sanur. Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaannya mulai jarang dipentaskan sehingga kini kembali digeliatkan oleh generasi pelaku seni.

Selain Arja, Denpasar juga masih memiliki sejumlah kesenian klasik yang tetap dijaga keberlangsungannya, seperti Joged Gandrung, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Pajegan, hingga Gender Wayang. Sejumlah kesenian tersebut terus dikembangkan melalui sanggar-sanggar seni berbasis desa adat serta pembinaan generasi muda.
Ia menilai langkah Denpasar mengedepankan kesenian berbasis akar tradisi desa menjadi strategi penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan seni modern. Pemerintah Kota Denpasar berharap pola pembinaan berbasis komunitas itu mampu melahirkan regenerasi seniman baru sekaligus menjaga keberlanjutan seni klasik Bali di masa mendatang. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole




























