11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbang di Atas Sepi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 8, 2026
in Esai
Terbang di Atas Sepi

Foto: Angga

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.”

Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusia-manusia yang ingin cepat sampai, tetapi terjebak di jalan yang sama-sama padat. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti sindiran sosial yang tajam. Di tengah jalan raya yang panas dan gaduh, seseorang memilih menulis humor. Humor yang pahit.

Di Bali hari ini, terutama kawasan Sarbagita, Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, tulisan itu terasa makin relevan. Jalan-jalan utama nyaris tak pernah benar-benar lengang. Pagi dan sore macet. Malam kadang masih macet. Orang berangkat kerja dengan emosi yang sudah terkuras bahkan sebelum sampai kantor.

Kemacetan di Bali perlahan bukan lagi peristiwa, melainkan rutinitas. Orang mulai hafal titik-titik yang harus dihindari. Simpang Dewa Ruci padat. Jalan Sunset Road tersendat. Jalur Denpasar menuju Canggu seperti antrean panjang yang tak selesai-selesai. Jalan menuju Ubud makin sesak oleh kendaraan wisatawan dan kendaraan lokal yang bercampur tanpa jeda.

Kita hidup dalam zaman ketika perjalanan sepuluh kilometer bisa menghabiskan waktu satu jam lebih. Ironis untuk pulau yang luasnya bahkan tidak sebesar banyak kota metropolitan dunia.

Namun yang lebih ironis, Bali adalah daerah wisata internasional yang sistem transportasi publiknya justru tertinggal. Orang datang dari negara-negara dengan kereta cepat, metro bawah tanah, bus terintegrasi, jalur sepeda yang nyaman, lalu tiba di Bali dan menyaksikan jalanan yang dipenuhi kendaraan pribadi tanpa sistem transportasi umum yang benar-benar kuat.

Akhirnya semua orang dipaksa menjadi pengendara. Anak muda, pegawai, atau mahasiswa harus punya motor. Bahkan kadang satu rumah memiliki tiga sampai lima kendaraan. Motor menjadi kebutuhan primer, bukan lagi pilihan. Padahal dulu Bali tidak sepenuhnya seperti ini.

Sebelum serbuan kendaraan pribadi, Bali pernah memiliki sistem transportasi publik yang hidup. Terminal-terminal ramai. Mikrolet berseliweran. Bus antarkota menjadi penghubung penting antarkabupaten. Orang pergi dari Negara ke Denpasar naik bus. Dari Singaraja ke Gianyar orang bisa bepergian tanpa harus memiliki kendaraan pribadi.

Terminal bukan hanya tempat transit kendaraan, tetapi ruang sosial. Ada pedagang makanan, tukang koran, dan orang-orang yang menunggu sambil mengobrol. Terminal punya denyut kehidupan.

Kini sebagian terminal seperti monumen yang kehilangan fungsi. Bangunannya masih ada, tetapi jiwanya seperti hilang. Mikrolet makin jarang terlihat. Bus antarkota perlahan kalah oleh kendaraan pribadi dan transportasi online.

Banyak anak muda Bali hari ini bahkan mungkin tidak punya pengalaman naik mikrolet antarkota. Mereka lahir ketika motor kredit sudah menjadi budaya. Ketika dealer kendaraan tumbuh lebih cepat daripada halte bus.

Yang menarik, solusi yang paling sering ditawarkan pemerintah adalah membangun jalan baru. Jalan diperlebar. Underpass dibangun, simpang diurai. Pemerintah percaya kemacetan bisa diatasi dengan memperbesar ruang kendaraan.

Pemerintah Kabupaten Badung, misalnya, menyiapkan skema pembangunan beberapa ruas jalan baru untuk mengatasi kemacetan di Bali Selatan. Nilainya mencapai triliunan rupiah. Jalan-jalan baru dirancang untuk mengurai kepadatan kendaraan yang semakin tidak terkendali. Biayanya fantastis. Namun pertanyaannya sederhana. Sampai kapan jalan baru mampu mengejar pertumbuhan kendaraan pribadi?

Sebab pengalaman banyak kota di dunia menunjukkan bahwa semakin banyak jalan dibangun, semakin banyak pula kendaraan yang muncul. Fenomena ini sering disebut induced demand. Ketika jalan diperlebar, orang merasa berkendara menjadi lebih mudah, lalu lebih banyak kendaraan masuk. Kemacetan akhirnya kembali muncul. Kita seperti terus menuang air ke ember bocor.

Masalah Bali mungkin bukan semata kekurangan jalan, melainkan ketergantungan yang terlalu besar pada kendaraan pribadi. Transportasi publik kalah nyaman, kalah cepat, kalah aman, dan kalah terintegrasi. Akibatnya hampir semua orang merasa wajib memiliki kendaraan sendiri.

Bandingkan dengan beberapa negara lain. Di Tokyo, jutaan orang bergerak setiap hari menggunakan transportasi publik. Kereta datang tepat waktu. Jalur antarkota saling terhubung. Orang bisa hidup tanpa memiliki mobil pribadi. Bahkan banyak pekerja kantoran di Tokyo tidak merasa perlu membeli kendaraan.

Di Singapura, pemerintah sejak lama sadar bahwa jalan tidak mungkin terus diperluas. Negara itu kecil. Maka yang diperkuat adalah sistem transportasi publik. MRT dibuat nyaman dan efisien. Bus terhubung dengan baik. Kepemilikan kendaraan pribadi dibatasi dengan pajak dan biaya yang tinggi. Hasilnya bukan berarti Singapura bebas macet sepenuhnya, tetapi masyarakat memiliki alternatif yang jelas selain kendaraan pribadi.

Di Seoul, sistem transportasi publik menjadi bagian penting kehidupan kota. Subway, bus, dan jalur pejalan kaki dirancang saling mendukung. Orang berjalan kaki menuju halte tanpa rasa takut karena trotoar tersedia dengan baik. Sementara di Bali, berjalan kaki kadang terasa seperti aktivitas ekstrem. Trotoar putus-putus. Dipenuhi motor parkir. Bahkan ada jalan tanpa ruang aman bagi pejalan kaki.

Di banyak negara Eropa, transportasi publik tidak dianggap sekadar fasilitas bagi orang miskin. Ia adalah bagian dari budaya kota. Di Amsterdam misalnya, orang naik tram, bus, dan sepeda karena memang nyaman digunakan siapa saja. Menteri, pegawai, mahasiswa, dan wisatawan bisa memakai sistem yang sama.

Sementara di Indonesia, terutama Bali, transportasi publik sering kehilangan prestise. Orang merasa naik kendaraan umum identik dengan keterpaksaan. Begitu mampu membeli motor, mereka meninggalkan angkutan umum. Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal budaya dan arah pembangunan.

Pariwisata Bali berkembang pesat, tetapi pertumbuhan itu tidak selalu diikuti tata ruang dan sistem transportasi yang matang. Hotel, vila, dan kafe-kafe tumbuh. Kendaraan wisata bertambah. Namun jalan-jalan tetap relatif sama. Angkutan publik tidak berkembang secepat industri pariwisata.

Akibatnya jalan raya menjadi ruang rebutan. Wisatawan ingin cepat sampai ke tempat liburan. Pekerja ingin cepat sampai ke kantor. Sopir logistik harus mengantar barang. Pengemudi ojek online mengejar order. Semua bergerak di ruang yang sama. Di tengah situasi itu, tulisan di bak truk tadi terasa seperti suara kecil dari jalanan yang lelah. “Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.”

Kalimat itu terdengar lucu, tetapi juga tragis. Sebab tidak ada yang benar-benar bisa terbang dari kemacetan ini. Bahkan orang kaya sekalipun tetap terjebak lampu merah yang sama. Mobil mewah tetap harus mengantre di jalan yang sama dengan motor tua dan truk pengangkut pasir. Kemacetan pada akhirnya seperti bentuk demokrasi paling absurd di jalan raya. Semua kena.

Namun ada hal lain yang perlahan hilang akibat kemacetan dan dominasi kendaraan pribadi, yakni pengalaman sosial dalam perjalanan. Dulu orang naik bus dan bertemu banyak cerita. Ada percakapan antarpedagang, sopir yang hafal penumpang langganan., atau kernet yang bercanda sepanjang jalan. Perjalanan menjadi ruang interaksi manusia.

Kini perjalanan lebih individual. Orang memakai helm, memasang earphone, menatap peta digital, lalu melaju sendiri-sendiri. Jalan raya menjadi lebih sunyi secara sosial meskipun bising oleh mesin kendaraan. Mungkin karena itu tulisan di bak truk masih terasa penting. Ia seperti pengingat bahwa di jalan raya masih ada manusia yang ingin berbicara, meski lewat kalimat pendek di belakang kendaraan.

Sastra jalanan seperti ini sering dianggap receh, padahal ia merekam psikologi masyarakat. Dari tulisan bak truk, kita bisa membaca humor kelas pekerja, kejengkelan sopir, romantisme rakyat kecil, bahkan kritik sosial. Dan sering kali, kritik paling jujur memang lahir dari jalan. Bukan dari seminar atau ruang rapat hotel, melainkan dari sopir truk yang berjam-jam menghadapi kemacetan sambil mendengar klakson dari belakang.

Barangkali Bali memang membutuhkan jalan baru. Mungkin underpass dan flyover memang perlu. Tetapi tanpa pembenahan transportasi publik yang serius, kemacetan hanya akan dipindahkan dari satu titik ke titik lain. Kita tidak bisa terus bergantung pada kendaraan pribadi sambil berharap jalan raya tetap lengang. Sebab ruang jalan selalu terbatas. Dan pada titik tertentu, kota akan kelelahan menampung kendaraan.

Mungkin suatu hari Bali perlu belajar lagi bahwa transportasi publik bukan simbol kemunduran. Bahwa naik bus bukan aib. Bahwa berjalan kaki bukan aktivitas kelas bawah. Bahwa kota yang sehat bukan kota dengan kendaraan terbanyak, melainkan kota yang memungkinkan manusia bergerak dengan nyaman tanpa harus memiliki kendaraan sendiri.

Sebab jika tidak, kita akan terus hidup dalam perlombaan yang melelahkan. Semua terburu-buru. Semua ingin cepat. Semua ingin mendahului. Padahal ujungnya sama-sama berhenti di lampu merah. Dan di tengah antrean panjang itu, sebuah tulisan di bak truk tiba-tiba terasa seperti filsafat kecil tentang hidup modern. Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi. Masalahnya, manusia tidak punya sayap. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

Next Post

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co