14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aoroville: Kota Eksperimental

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 4, 2026
in Esai
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo

Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi menyatukan dua arus kesadaran. Pertemuan antara Mirra Alfassa—yang kelak dikenal sebagai The Mother—dan Sri Aurobindo adalah salah satu di antaranya. Ia bukan sekadar peristiwa historis, melainkan sebuah titik balik dalam evolusi spiritual modern.

Mirra lahir di Paris, tumbuh dalam atmosfer rasionalitas Barat, namun sejak kecil telah mengalami pengalaman batin yang sulit dijelaskan oleh logika. Ia merasakan kehadiran suatu kesadaran universal yang membimbingnya dari dalam. Di sisi lain, Sri Aurobindo adalah seorang intelektual brilian lulusan Inggris, pejuang kemerdekaan India, yang kemudian berbalik sepenuhnya ke dalam dunia spiritual setelah mengalami realisasi mendalam dalam kesunyian.

Pertemuan pertama mereka terjadi pada tahun 1914 di Pondicherry, India. Namun, yang menarik adalah pengakuan spontan dari Mirra: ia merasa telah “mengenal” Aurobindo jauh sebelum bertemu secara fisik. Dalam pengalaman batinnya, sosok yang ia temui dalam meditasi ternyata adalah Aurobindo sendiri. Ini memberi kesan bahwa hubungan mereka bukan dimulai dari dunia luar, melainkan dari dimensi kesadaran yang lebih dalam.

Bagi Aurobindo, kehadiran Mirra bukan sekadar murid atau pengikut. Ia melihatnya sebagai mitra spiritual—bahkan sebagai manifestasi dari kekuatan ilahi yang ia sebut sebagai Shakti. Dalam perjalanan yoga integral yang ia kembangkan, aspek transformasi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Dan di sinilah peran Mirra menjadi sentral.

Jika Aurobindo adalah visi dan kesadaran, maka Mirra adalah energi yang mewujudkan visi itu ke dalam bentuk nyata. Kolaborasi mereka melampaui relasi guru-murid; ia adalah sinergi kosmis antara kesadaran dan kekuatan.

Setelah kembali ke Pondicherry pada tahun 1920, Mirra menetap dan mulai membangun komunitas spiritual yang kemudian dikenal sebagai Sri Aurobindo Ashram. Di bawah bimbingan Aurobindo dan kepemimpinan praktis The Mother, ashram ini menjadi laboratorium hidup bagi eksperimen kesadaran.

Menariknya, Aurobindo sendiri semakin menarik diri ke dalam keheningan, sementara Mirra mengambil peran aktif dalam membimbing para sadhaka (praktisi spiritual). Ini bukan pembagian peran biasa, tetapi strategi kesadaran: satu bekerja dari dalam, yang lain dari luar.

Pertemuan mereka mengajarkan sesuatu yang mendalam—bahwa evolusi manusia tidak hanya bergantung pada pencarian individu, tetapi juga pada pertemuan yang tepat. Ada resonansi tertentu yang, ketika bertemu, menciptakan lompatan kesadaran.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini menantang cara kita memandang hubungan manusia. Apakah setiap pertemuan hanyalah kebetulan? Ataukah ada desain kesadaran yang lebih besar yang mempertemukan jiwa-jiwa tertentu untuk tujuan tertentu?

Lebih jauh lagi, pertemuan ini menjadi fondasi bagi sebuah eksperimen besar yang melampaui batas agama, bangsa, dan ideologi—sebuah kota yang kelak dikenal sebagai Auroville.

Namun sebelum sampai ke sana, kita perlu memahami bahwa tanpa pertemuan ini, mungkin tidak akan pernah ada Auroville. Kota itu bukan sekadar proyek arsitektur atau sosial, tetapi manifestasi dari kesadaran yang lahir dari pertemuan dua jiwa.

Pertanyaannya:
Apakah dalam kehidupan kita, kita cukup peka untuk mengenali pertemuan-pertemuan yang berpotensi mengubah arah hidup kita?
Dan jika kita menemukannya—apakah kita berani menjalaninya sepenuhnya?

Auroville: Ketika Visi Menjadi Kota

Jika pertemuan antara Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo adalah benih, maka Auroville adalah pohon yang tumbuh darinya—sebuah eksperimen berani untuk menerjemahkan kesadaran ke dalam kehidupan kolektif.

Didirikan pada tahun 1968 di dekat Pondicherry, Auroville bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah “proyek kesadaran”. Dalam pidato peresmiannya, The Mother menyampaikan visi yang radikal: Auroville adalah milik seluruh umat manusia, tempat di mana orang dari berbagai negara dapat hidup bersama tanpa identitas sempit kebangsaan, agama, atau kepentingan politik.

Di tengah dunia yang terus terfragmentasi oleh identitas, gagasan ini terasa hampir utopis. Namun justru di situlah daya tariknya.

Secara fisik, Auroville dirancang sebagai kota universal dengan pusat spiritualnya yang dikenal sebagai Matrimandir. Bangunan berbentuk bola emas ini bukan tempat ibadah dalam pengertian tradisional, melainkan ruang keheningan—sebuah simbol bahwa pusat kehidupan bukanlah ideologi, melainkan kesadaran.

Tidak ada agama resmi di Auroville. Tidak ada politik dalam arti konvensional. Bahkan konsep kepemilikan pribadi diminimalkan. Semua ini bukan karena penolakan terhadap dunia, tetapi karena upaya melampauinya.

Namun tentu saja, realitas tidak sesederhana visi.

Dalam praktiknya, Auroville menghadapi berbagai dinamika: perbedaan budaya, cara berpikir, bahkan konflik kepentingan. Bagaimana mungkin orang dari berbagai latar belakang hidup tanpa struktur yang jelas? Bagaimana keputusan diambil tanpa sistem kekuasaan yang tegas?

Pertanyaan-pertanyaan ini justru menjadi bagian dari eksperimen itu sendiri.

Auroville bukanlah tempat yang sudah “selesai”. Ia adalah proses yang terus berlangsung. Di sana, kegagalan bukanlah akhir, tetapi bagian dari pembelajaran kolektif. Dalam banyak hal, Auroville mencerminkan kondisi batin manusia itu sendiri: penuh idealisme, namun juga bergulat dengan ego, keterbatasan, dan realitas sehari-hari.

Yang menarik, Auroville juga menjadi laboratorium untuk keberlanjutan. Banyak inisiatif di sana berfokus pada energi terbarukan, pertanian organik, dan gaya hidup sederhana. Ini bukan sekadar tren, tetapi konsekuensi logis dari kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya.

Dalam konteks dunia modern yang semakin kompleks, Auroville seperti cermin. Ia menunjukkan kemungkinan lain—bahwa kehidupan tidak harus selalu didorong oleh kompetisi, akumulasi, dan dominasi.

Namun ia juga mengingatkan: visi besar membutuhkan kesadaran besar. Tanpa transformasi batin, struktur luar akan selalu kembali ke pola lama.

Mungkin di sinilah makna terdalam Auroville: bukan sebagai model sempurna, tetapi sebagai pertanyaan hidup.

Bisakah manusia benar-benar hidup tanpa identitas yang memisahkan?
Bisakah komunitas dibangun di atas kesadaran, bukan kepentingan?
Dan yang lebih mendasar—apakah kita siap berubah, atau hanya ingin dunia yang berubah?

Masa Depan Auroville: Antara Harapan dan Tantangan

Setiap eksperimen besar akan diuji oleh waktu. Begitu pula dengan Auroville. Setelah lebih dari setengah abad sejak didirikan, pertanyaannya bukan lagi “apa itu Auroville?”, tetapi “ke mana ia akan menuju?”

Visi yang diletakkan oleh Mirra Alfassa dan berakar pada pemikiran Sri Aurobindo memang melampaui zamannya. Namun justru karena itu, ia menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas. Ketika jumlah penduduk bertambah dan kebutuhan hidup meningkat, tekanan terhadap sistem sosial dan ekonomi menjadi semakin nyata. Bagaimana mempertahankan semangat tanpa kepemilikan pribadi dalam dunia yang sangat materialistik?

Di sisi lain, ada juga tantangan internal: perbedaan interpretasi terhadap visi awal. Tidak semua orang memahami Auroville dengan cara yang sama. Ada yang melihatnya sebagai proyek spiritual, ada pula yang memandangnya sebagai eksperimen sosial atau bahkan sekadar komunitas alternatif.

Perbedaan ini bisa menjadi kekayaan, tetapi juga potensi konflik.

Selain itu, hubungan dengan pemerintah India dan dunia luar juga menjadi faktor penting. Auroville tidak berdiri di ruang hampa; ia berada dalam konteks negara dan sistem global. Ketegangan antara otonomi komunitas dan regulasi eksternal menjadi isu yang terus berkembang.

Namun di balik semua tantangan itu, ada peluang besar.

Di era krisis global—perubahan iklim, ketimpangan sosial, krisis makna hidup—gagasan yang dibawa Auroville justru semakin relevan. Dunia mulai mencari alternatif: kehidupan yang lebih berkelanjutan, komunitas yang lebih manusiawi, dan makna yang melampaui materi.

Auroville, dengan segala keterbatasannya, telah lebih dulu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Masa depan Auroville mungkin tidak terletak pada kesempurnaannya, tetapi pada keberaniannya untuk terus bereksperimen. Ia tidak harus menjadi model yang ditiru secara utuh, tetapi bisa menjadi inspirasi—bahwa kemungkinan lain itu ada.

Dalam konteks pribadi, Auroville juga mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mendalam: bahwa perubahan dunia tidak bisa dipisahkan dari perubahan diri.

Jika manusia tetap membawa ego, ketakutan, dan keinginan untuk mendominasi, maka sistem apa pun akan mengulang pola lama. Tetapi jika kesadaran berubah, bahkan struktur sederhana pun bisa menjadi ruang transformasi.

Mungkin pada akhirnya, masa depan Auroville bukan hanya tentang kota itu sendiri, tetapi tentang manusia yang terinspirasi olehnya.

Apakah kita berani membayangkan dunia tanpa sekat?
Apakah kita siap hidup lebih sederhana namun lebih sadar?
Dan yang paling penting—apakah kita mau menjadi bagian dari perubahan itu, sekecil apa pun? [T]

Tags: AurovilleindiaKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

Next Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Desa Adat Batur Bangun 'Cihna' di Titik Nol Batur Let ---Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co