23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
in Opini
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah disediakan, dan seremoni telah dilaksanakan. Seolah-olah kehadiran negara cukup dibuktikan dengan pidato, papan nama proyek, serta potret-potret peresmian yang beredar luas di media. Padahal ukuran sesungguhnya dari sebuah kebijakan nasional bukanlah seberapa ramai ia dipertontonkan di pusat, melainkan seberapa adil ia menjangkau pinggiran. Di situlah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang menghadapi ujian moralnya: apakah ia sungguh dirancang untuk seluruh anak bangsa, atau tanpa sadar sedang dijalankan dengan logika lama yang Jawa-sentris, dekat pada pusat kuasa, tetapi jauh dari wilayah yang justru paling membutuhkan perhatian.

Kegelisahan itu bukan lahir dari kecemburuan geografis, melainkan dari realitas yang terbaca terang. Di pulau Jawa, geliat MBG di lingkungan pesantren bergerak cepat, lengkap dengan koordinasi kelembagaan, peresmian demi peresmian, kunjungan pejabat, dan narasi optimisme yang terus diproduksi. Kehadiran para pejabat tinggi seperti Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya dalam berbagai momentum peluncuran program menghadirkan kesan bahwa negara sedang bekerja penuh tenaga. Namun republik ini bukan hanya Jawa. Republik ini juga hidup di ruang-ruang yang jauh dari sorot kamera, di wilayah minoritas Muslim yang justru memerlukan sentuhan kebijakan yang lebih peka, lebih hati-hati, dan lebih sungguh-sungguh. Salah satu ruang sunyi itu adalah Bali.

Di Bali, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan; ia adalah benteng kebudayaan, penjaga akidah, dan rumah peradaban kecil umat Islam yang hidup sebagai minoritas. Di sana, keberadaan pesantren memikul beban yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengajar kitab dan membina santri. Ia juga menjaga rasa aman psikologis komunitas, memelihara identitas keagamaan, serta menjadi simpul ketahanan sosial bagi umat yang hidup di tengah lanskap plural yang khas. Karena itu, ketika program sebesar MBG datang ke lingkungan pesantren di Bali, yang dibutuhkan bukan sekadar distribusi makanan, melainkan kehadiran negara yang memahami sensitivitas sosial-keagamaan yang hidup di dalamnya. Negara harus datang dengan kehormatan, dengan kehati-hatian, dan dengan standar yang lebih tinggi, terutama dalam urusan halal yang bagi umat Islam bukan detail administratif, melainkan prinsip etik yang menyentuh inti keyakinan.

Di titik inilah keresahan itu tumbuh. Berbagai pesantren di Bali justru menghadapi tawaran skema dapur MBG yang menimbulkan kegelisahan karena persoalan kepastian sertifikasi halal belum sepenuhnya tegak sebagai fondasi mutlak. Ini bukan soal teknis, bukan pula sekadar soal administrasi yang bisa dibereskan belakangan. Dalam konteks komunitas Muslim minoritas, halal bukan formalitas; halal adalah martabat. Halal adalah bentuk penghormatan negara terhadap keyakinan warganya. Ketika jaminan halal belum hadir secara kokoh, sementara program terus didorong dengan semangat percepatan, yang terbaca bukanlah ketegasan kebijakan, melainkan kegagapan memahami substansi. Negara tampak terlalu sibuk mengejar target kuantitatif, tetapi kurang tekun mendengar kualitas kegelisahan yang hidup di lapangan.

Padahal, jika kita mau jujur, aspirasi dari pesantren-pesantren Bali bukanlah suara yang datang tiba-tiba. Saluran komunikasi telah dibuka. Proposal telah diajukan. Ikhtiar kelembagaan telah ditempuh. Fasilitasi dari Majelis Ulama Indonesia telah hadir. Harapan telah diletakkan secara formal kepada pusat. Namun yang dirasakan hingga kini adalah lambannya respons konkret, seolah-olah wilayah minoritas Muslim tetap harus berdiri lebih lama di ruang tunggu kebijakan, sementara wilayah yang dekat dengan pusat kekuasaan lebih dahulu mendapatkan prioritas implementasi. Kesan seperti ini berbahaya, sebab ia menimbulkan persepsi bahwa distribusi perhatian negara tidak sepenuhnya ditentukan oleh tingkat kebutuhan, tetapi oleh kedekatan struktural dengan pusat pengambilan keputusan.

Karena itu pertanyaan dari Bali hari ini bukanlah pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan moral-politik yang sangat mendasar: kapan pejabat Badan Gizi Nasional datang langsung ke Bali untuk meresmikan MBG khusus pesantren dengan skema yang benar-benar matang, jaminan halal yang tidak menyisakan keraguan, serta perhatian yang setara sebagaimana yang diberikan kepada banyak pesantren di Jawa? Kapan negara menunjukkan, bukan lewat pidato melainkan lewat tindakan nyata, bahwa santri di Bali memiliki nilai yang sama dengan santri di pusat-pusat besar pendidikan Islam di Jawa? Kapan kehadiran negara benar-benar menyentuh wilayah yang secara sosial lebih rentan, lebih sensitif, dan lebih membutuhkan afirmasi kebijakan?

Bangsa ini tidak dibangun hanya oleh angka-angka anggaran, tetapi oleh rasa adil yang hidup di dada warganya. Ketika rasa adil itu mulai retak, maka program sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi moralnya. MBG semestinya menjadi simbol pemerataan gizi sekaligus pemerataan perhatian negara. Namun jika yang terasa justru ketimpangan sentuhan kebijakan—ramai di pusat, samar di pinggiran—maka yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan kekecewaan yang perlahan mengendap menjadi kritik historis. Dan kritik itu akan terus menggema dari Bali, dari Nusa Tenggara Barat, dari berbagai wilayah Indonesia Timur, sampai negara benar-benar membuktikan bahwa kebijakan nasional tidak boleh berhenti pada mereka yang paling dekat dengan pusat kuasa, melainkan harus terlebih dahulu hadir kepada mereka yang paling lama menunggu di beranda republik. [T]

Penulis: KH Ketut Imaduddin Jamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: makanan bergiziPendidikanpesantren
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Next Post

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

KH Ketut Imaduddin Jamal

KH Ketut Imaduddin Jamal

Dewan Pertimbangan Majlis Ulama Indonesia Provinsi Bali dan Pengelola Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan Bali

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co