23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 10, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 10 April 2026

Apakah ada kearifan leluhur Bali dalam memilah sampah?

Kakek saya (lahir 1901) mengajari saya memilah sampah sedari kecil. Ajaran ini merupakan praktik kuno dan umum dalam masyarakat Bali, dan kakek saya hanya mewariskannya kepada saya. Pemilahan sampah tradisional Bali adalah sebagai berikut:

1.⁠ ⁠Lemekan — Kategori ini mencakup sampah yang cepat terurai menjadi kompos, seperti daun di halaman atau “teba” (halaman belakang). Ini menjadi “lemekan” (pupuk alami) tanpa pengolahan khusus.

2.⁠ ⁠Sisan paon — Sampah dapur yang dipilah menjadi dua jenis: Sampah sayur dan buah (termasuk dalam kategori “lemekan”) dan sisa tulang daging atau ikan, yang diklasifikasikan sebagai “bangkaan.”

3.⁠ ⁠Bangkaan/Bangke — Bangkai, seperti tikus mati, kadal, hewan peliharaan, atau hewan liar. Semua ini dikuburkan. Dahulu, desa kami memiliki pemakaman khusus untuk hewan. Beberapa desa masih memiliki lokasi khusus untuk menguburkan hewan peliharaan atau hewan liar yang mati. Sisa tulang dan daging dari kategori “sisan paon” secara khusus dikuburkan di sini. Jadi, “bangkaan” memang dikuburkan.

4.⁠ ⁠Kekereng — Barang-barang yang dikenakan atau dibawa, seperti tas, ikat pinggang, dan topi—barang-barang yang melekat atau dikenakan di tubuh setiap hari. Jika barang-barang “kekereng” ini dibuang, harus dipisahkan dari sampah lain, dan dikuburkan secara khusus. Pamali (tabu) untuk membuang pakaian bekas sembarangan di sungai, dan dilarang mencampurnya dengan sampah lain. Pamali adalah konsep bahwa pelaku yang melanggar ini akan jatuh sakit atau mengalami kemalangan, baik segera maupun di masa depan.

5.⁠ ⁠Perabotan (Peralatan Rumah Tangga) — Membuang barang-barang rumah tangga bekas ke sungai adalah “pamali”. Setiap peralatan rumah tangga harus ditinggalkan di ‘teba’ (halaman belakang) sampai membusuk dengan sendirinya. Membuangnya ke laut, sungai, atau terutama danau, dan tempat-tempat lain adalah “pamali”. Apa pun yang telah dikenakan di tubuh kita atau digunakan membawa energi pemiliknya dan tidak boleh dibuang sembarangan.

Bagaimana dengan kantong plastik? Apakah itu termasuk ‘kekereng’ atau ‘perabotan’?

Berdasar pengalaman saya sebagai anak kecil yang tumbuh di pedesaan, kantong plastik digunakan kembali berkali-kali, dan setelah rusak, digulung dan disimpan di tempat khusus. Terkadang kami di desa menggulung semua kantong plastik bekas dan menjadikannya bola untuk bermain sepak bola. Ini termasuk dalam kategori ‘”kekereng”, terbuat dari bahan yang tidak dimaksudkan untuk ”lemekan”.

Leluhur kami di Bali Utara tidak hanya memilah sampah; bahkan kuburan pun dipilah. Di desa-desa Bali kuno, terdapat lahan atau tanah desa khusus untuk kuburan hewan. Terdapat pemakaman khusus untuk bayi disebut Sema Bajang (Bajangan), ada kuburan khusus untuk mereka yang meninggal secara “tidak normal,” dan setra/sema (pemakaman) umum untuk masyarakat umum. Masyarakat Bali Aga tidak mengkremasi jenazah atau membakar benda-benda yang dianggap mencemari udara. Mereka juga tidak membuang sampah ke sungai atau laut, yang mencemari air, karena hal ini dianggap “pamali” (tabu).

Mengenai apa yang boleh dibakar, lontar (manuskrip daun palem Bali) TATTWA WIT menjelaskan: Ketika Bhagawan Purbbhasomi dan Bhagawan Romacana melakukan ritual pemurnian bumi, beberapa bahan alami yang harus dibakar digunakan sebagai wewangian—“maka papanganan agni, samiddha utama, candhana, majegau, kelapa, dupa, titibakaken tengah kundha…” Hal-hal yang boleh dibakar termasuk kayu atau bahan-bahan wangi, terbatas pada cendana, majegau, dan dupa, untuk ibadah. Membakar apa pun selain untuk ibadah mengundang bhuta-kala—energi buruk dan penyakit.

Leluhur Bali memiliki dasar logika. Mereka memiliki wiweka (diskriminasi): Mereka memiliki kebiasaan memilah dan mampu membedakan. Jika Bali saat ini menghadapi krisis sampah dan tidak mengembangkan “logika pemilahan” ini, itu berarti keturunannya (orang Bali sekarang) tidak lagi memahami logika leluhur Bali.

Logika pemilahan ini juga harus digunakan untuk membedakan antara calon pemimpin Bali: mereka yang “bangkaan” (“manusia seperti bangkai”) dan mereka yang “lemekan” (memberi manfaat). Tanpa kemampuan untuk membedakan —antara “bangkaan” dan jatma tulus-ngayah (mengabdi tulus kepada sesama) — urusan lingkungan, sosial, dan spiritual di Bali tidak akan mampu menemukan pemimpin berkualitas baik —jatma pinilih.

“Logika pemilahan”, pengolahan, dan penanggapan terhadap masalah lingkungan di Bali, sangat perlu dikembangkan dalam masyarakat Bali, termasuk dalam mengatasi tantangan berbagai jenis sampah dan sampah modern lainnya, mulai dari daur ulang hingga pengubahannya menjadi energi terbarukan. Landasannya adalah ‘logika pemilahan dan pengolahan’, yang telah diwariskan dari leluhur Bali. Hal ini harus dipahami dan diimplementasikan di Bali untuk menuju masa depan yang lebih baik. [T]

Tags: balileluhurSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Next Post

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co