MENTAL pengemis bahkan tak berhubungan dengan kemiskinan. Itulah kenapa di Indonesia, mental ini lebih banyak diderita bukan oleh orang-orang yang miskin. Dari level terbawah hingga ke level paling atas. Penyakit ini bersumber pada keinginan hidup hedon dari kondisi yang sebetulnya tak memadai. Alih-alih menjalankan gaya hidup sederhana dan memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan atau pendidikan, justru memaksakan diri berlomba menikmati gaya hidup lux.
Mental pengemis kolektif ini mewujud dalam tata kelola keuangan Negara dengan sebuah kenyataan pahit, subsidi pemerintah lebih banyak dinikmati orang-orang mampu yang sebetulnya tak pantas menerima. Terkini, salah satunya ya program makan bergizi gratis (MBG.) Bahkan anak saya pun menikmatinya. Sementara anak-anak yang betul-betul tak mampu di daerah pelosok justru belum mencicipinya. Pengelolanya pun, justru didominasi pemodal atau bahkan petinggi partai politik dan para anggota DPR/DPRD, alih-alih serius memberi kesempatan kepada pengusaha kecil lokal.
Fenomena ini hanya dapat terjadi akibat mental pengemis. Orang-orang kaya, para pejabat tinggi di lingkaran kekuasaan, yang tak pernah merasa cukup, lalu mengemis lagi mengerjakan proyek pemerintah meski menerobos isu etik. Begitu juga, problem klasik subsidi bahan bakar minyak (BBM,) sesungguhnya lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang berkecukupan. Orang miskin mana punya banyak sepeda motor atau mobil?
Di level bawah, orang-orang dengan mental pengemis tak malu-malu meminta subsidi asuransi kesehatan dari negara. Di lain pihak, lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok, mengecat rambut, membeli smart phone canggih atau perhiasan, bahkan minuman keras. Hal ini tak cuma membuat subsidi negara tak tepat sasaran. Namun menciptakan lingkaran setan, masyarakat tak penah mau menghargai, apalagi menjaga kesehatannya secara serius. Menganggap kesehatan bukan urusannya. Itulah mengapa rumah sakit-rumah sakit pemerintah selalu penuh dengan pasien opname maupun antrian di poliklinik karena orientasi masyarakat bukanlah pada pencegahan namun pengobatan.
Sebutlah saat ini, jumlah penderita TBC paru di Indonesia mencapai urutan terbanyak nomor dua sedunia. Kondisi memperihatinkan ini, bukanlah menerobos dari ruang hampa. Persoalan pelik ini dilahirkan dari pengabaian secara kolektif dan berkepanjangan, bagaimana seharusnya negara membangun dasar sistem dan budaya kesehatan nasional yang penuh tanggung jawab. Mengapa dikatakan kolektif? Karena pengabaian ini nyaris dilakukan oleh semua elemen. Pemerintah, organisasi profesi dan masyarakat sendiri. Tanpa fondasi yang kuat, adalah hanya mimpi, sistem pelayanan kesehatan di tanah air menyamai Singapura atau Negara-negara maju lainnya.
Ini mirip seperti manuver, ingin bersaing di kancah internasional persepakbolaan, dengan menaturalisasi begitu banyak pemain asing. Ini pun dapat disebut sebagai salah satu gejala mental pengemis. Hendak berjaya namun tak serius secara berdikari, dari nol menyiapkan sistem pembinaan, seleksi dan uji coba secara modern dan profesional. Yang ada, justru lagi-lagi kontaminasi politik yang penuh intrik dan ambisi. Lalu mengapa banyak pejabat terjerat kasus korupsi. Apa karena kurang pendapatan? Sudah jelas tidak. Begitu pula fenomena kolusi dan nepotisme. Satu-satunya alasan adalah karena, ya, mental pengemis itu.
Perilaku bernegara seperti itu jelas menghancurkan konsep meritokrasi yang sesungguhnya sebuah syarat untuk sebuah bangsa gemilang. Kroniisme menyebabkan para kroni takkan pernah jujur melaporkan kenyataan buruk pelaksanaan pemerintahan atau masalah yang terjadi dalam masyarakat. Karena takut posisinya terancam jika kinerjanya buruk. Jadi, mental pengemis yang selalu ingin mendapatkan kemudahan itu, diberi kenyamanan, membuat semakin lama negara semakin tertutupi kepalsuan.
Mental pengemis yang menggerogoti hingga puncak pemerintahan, tak pelak membuat sekujur tubuh Negara ini menjadi pengemis kepada dunia. Terutama kepada Negara-negara adi daya yang semakin bahagia melihat bangsa lain penyakitan.
Sang Budha mengatakan, “Dirimu adalah apa yang engkau pikirkan.” Begitulah, kepalsuan yang telah terprogram sejak dalam pikiran, mental pengemis bangsa yang sebetulnya kaya raya ini, telah semakin menjerumuskan Negara menjadi semakin sakit. Hutang, hutang. Hutang Negara kita semakin banyak. Iya kan? [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole





























