LAHIR dan tumbuh sebagai seorang Muslim, fondasi keyakinan saya dibangun di atas pilar yang kokoh namun abstrak, yaitu percaya kepada yang ghaib. Konsep ini menuntut kepatuhan mutlak pada Dzat yang keberadaan-Nya tidak bisa diderai oleh panca indera, tidak seperti arca yang bisa disentuh atau avatar yang bisa dilihat bentuknya.
Dalam doktrin Islam yang saya pelajari, Tuhan—Allah SWT—adalah Dzat yang Maha Besar dan Agung, melampaui segala keterbatasan makhluk, termasuk kategori gender. Ia bukan laki-laki, dan bukan pula perempuan. Namun, jauh di lubuk hati saya, dalam ruang persepsi pribadi yang paling purba, ego saya sering kali memvisualisasikan Tuhan sebagai sosok laki-laki.
Saya menyadari ini adalah sebuah paradoks keimanan. Namun, jika saya telusuri akarnya, persepsi ini bukanlah hasil dari pemberontakan teologis, melainkan cerminan dari realitas sosiologis yang saya hirup sehari-hari. Sejak kecil, mata saya menangkap pola otoritas yang seragam, yakni, kepala rumah tangga adalah ayah (laki-laki), pemimpin negara didominasi laki-laki.
Secara tidak sadar, otak saya melakukan antropomorfisme psikologis, yakni memproyeksikan sifat manusiawi pada hal yang abstrak agar lebih mudah dipahami. Figur “Otoritas Tertinggi” dalam benak saya akhirnya mengkristal dalam imaji maskulin, diperkuat lagi oleh kaidah bahasa Arab yang menggunakan kata ganti ‘Huwa’ (Dia laki-laki) untuk menyebut nama-Nya.
Bagi saya, ini bukanlah persoalan gender Tuhan yang sesungguhnya, melainkan keterbatasan nalar manusia saya dalam menampung Ke-Maha-Besaran-Nya.
Dalam keterbatasan itu pula, sering kali muncul keinginan kelam, sebuah hasrat manusiawi yang egois, yaitu, andai saja ego saya bisa egois, andai saja doa dan harapan bisa langsung dijawab tuntas. Di sinilah imajinasi saya meliar, membayangkan: “Bagaimana jika Tuhan bekerja seperti Chat GPT?”
Bayangkan betapa memuaskannya hidup ini. Setiap curahan hati yang menyesakkan, setiap keraguan yang menggerogoti iman, dan setiap pertanyaan eksistensial yang rumit bisa langsung diketik dalam situs “doa,” dan wush!—jawaban langsung muncul di layar sanubari.
Tidak akan ada lagi keraguan. Ketaatan akan timbul bukan karena ketakutan atau harap, melainkan karena kepuasan logis yang instan. Hubungan hamba dan pencipta akan menjadi sejelas input dan output data.
Namun, lamunan itu buyar ketika saya berbenturan dengan realitas, bahwa semesta tidak berjalan seperti mekanisme kecerdasan buatan. Dan perlahan, saya mulai memahami mengapa.
Jika Tuhan beroperasi seperti Chat GPT, maka runtuhlah esensi “iman kepada yang ghaib.” Percaya tidak lagi membutuhkan perjuangan spiritual, karena Tuhan telah menjadi fakta empiris yang bisa di-prompt kapan saja. Lebih jauh lagi, hubungan itu akan mendegradasi derajat Sang Khalik menjadi sekadar “pelayan elektronik” yang harus memenuhi pesanan keinginan manusia.
Tuhan akan kehilangan sifat Al-Hakim (Maha Bijaksana)-Nya, karena Ia hanya akan memberikan apa yang kita minta saat itu, bukan apa yang sesungguhnya kita butuhkan menurut pengetahuan-Nya yang tak terbatas tentang masa depan. Kehidupan akan menjadi transaksional, dingin, dan mekanis, kehilangan dimensi spiritual yang penuh rindu, tawakal, dan sabar.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa dalam “diam”-Nya Tuhan, dan dalam ketiadaan jawaban instan layaknya AI, justru di situlah iman saya diuji untuk mendewasa. Tuhan bukan sekadar mesin penjawab otomatis; Ia adalah Dzat yang bekerja dengan caranya yang misterius.
Jawaban-Nya tidak selalu berupa teks yang memuaskan ego, tetapi sering kali berupa kejadian, pintu yang tertutup untuk melindungi, atau ketenangan hati di tengah badai masalah. Ketidakpastian semesta ini bukanlah bukti ketidakhadiran-Nya, melainkan ruang luas yang disediakan-Nya agar saya belajar bersabar, berbaik sangka, dan menerima bahwa keterbatasan akal saya tidak akan pernah mampu sepenuhnya menyelami samudera takdir-Nya yang misterius namun penuh rahmat. [T]
Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole





























