SAYA sering bertanya-tanya, sejak kapan manusia merasa memiliki hak untuk mengatur hidup makhluk lain demi hiburan, kenyamanan, dan keuntungan mereka sendiri. Pertanyaan itu muncul setiap kali saya melihat kandang-kandang di kebun binatang, pertunjukan sirkus dengan hewan, atau gajah yang tubuhnya dilukis warna-warni seperti kanvas berjalan. Semua itu disebut hiburan, edukasi, bahkan pelestarian. Namun jika kita berhenti sejenak dan membalik sudut pandang, yang terlihat justru penjara.
Secara harfiah, kebun binatang adalah penjara bagi hewan. Mereka dikurung di ruang yang jauh lebih sempit dibanding habitat aslinya. Jeruji besi, kaca tebal, dan parit buatan menjadi batas kebebasan mereka. Manusia datang sebagai pengunjung, memotret, menunjuk, tertawa, lalu pulang. Sementara itu, hewan-hewan tersebut tetap tinggal di sana, menjalani hidup yang sama setiap hari, tanpa pilihan lain.
Saya membayangkan jika keadaan ini dibalik. Jika manusia dipaksa hidup di ruang terbatas, diamati setiap hari oleh makhluk lain yang menganggapnya hiburan. Makan, tidur, dan bergerak diatur oleh pihak yang berkuasa. Apakah itu tidak disebut kejam? Apakah manusia masih bisa menerimanya dengan alasan edukasi dan rekreasi?
Sering kali kebun binatang dibela atas nama konservasi. Saya tidak menyangkal bahwa ada kebun binatang yang benar-benar berusaha melestarikan spesies langka. Namun realitanya, banyak yang lebih berfungsi sebagai tempat tontonan. Hewan dipajang agar menarik pengunjung dan menghasilkan keuntungan. Seekor singa yang berjalan mondar-mandir tanpa henti di kandangnya bukan sedang berolahraga, melainkan menunjukkan tanda stres. Burung yang mencabuti bulunya sendiri bukan sedang merawat diri, tetapi mengalami gangguan perilaku.
Eksploitasi yang lebih jelas terlihat ada pada sirkus. Hewan-hewan dilatih melakukan hal-hal yang tidak pernah menjadi bagian dari naluri mereka. Gajah dipaksa berhitung dan melukis, monyet dipaksa bersepeda. Sorak sorai penonton dan tepuk tangan membuat semua itu tampak menyenangkan. Namun di balik pertunjukan, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana proses latihan berlangsung.
Agar hewan mau patuh, paksaan hampir tidak terelakkan. Tidak ada hewan yang secara alami ingin melakukan atraksi demi hiburan manusia. Ketakutan, hukuman, dan tekanan sering kali menjadi alat utama. Bagian ini jarang terlihat, karena yang ditampilkan hanyalah hasil akhir yang menghibur.
Ironisnya, manusia merasa bangga atas kecerdasan dan empatinya, tetapi justru menggunakan kecerdasan itu untuk menundukkan makhluk lain. Hewan dipaksa meniru perilaku manusia, sementara jati diri alaminya dihapus perlahan. Tepuk tangan penonton menutupi penderitaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Eksploitasi hewan juga terjadi dalam wisata interaktif. Gajah dilukis tubuhnya seperti kanvas hidup. Hewan-hewan dijadikan tunggangan, dipaksa membawa manusia berjam-jam. Bagi manusia, itu pengalaman wisata yang menyenangkan. Namun bagi hewan, itu beban fisik dan mental yang berulang.
Di alam, hewan seharusnya bebas bergerak, mencari makan, dan hidup sesuai nalurinya. Dalam sistem hiburan manusia, kebebasan itu dirampas. Hewan tidak lagi dilihat sebagai makhluk hidup, melainkan sebagai alat hiburan dan sumber keuntungan.
Saya tidak menulis ini dengan menganggap diri saya sepenuhnya suci. Saya juga pernah mengunjungi kebun binatang dan menikmati pertunjukan hewan. Namun semakin lama, semakin terasa ada yang salah. Ada jarak antara kesenangan manusia dan penderitaan hewan yang sengaja diabaikan.
Pertanyaan yang terus muncul adalah sampai kapan manusia membenarkan semua ini. Sampai kapan kebebasan makhluk lain dianggap lebih rendah dari hiburan sesaat. Jika empati benar-benar menjadi nilai kemanusiaan, seharusnya empati itu juga berlaku bagi hewan.
Bagi saya, penjara tidak selalu berbentuk jeruji besi. Terkadang, penjara itu berbentuk hiburan yang dianggap wajar. Dan selama manusia masih menertawakan penderitaan hewan, barangkali yang sebenarnya terkurung bukan hanya mereka, tetapi juga nurani manusia. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























