25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
in Persona
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

I Nyoman Martono dan ogoh-ogoh Regek Tungek

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal luas sebagai salah satu desa yang menjadi pusat perhatian publik  dengan ogoh ogohnya. Di antara aneka rupa “raksasa” dan perwujudan ogoh ogoh di tiap banjar,  ada sorak sorai anak-anak Banjar Penaka di Catus Pata Tampaksiring,  mengusung satu sosok  ogoh-ogoh dengan tampilan yang menyita perhatian.

Ogoh-ogoh itu sosok perempuan cantik dengan tatapan yang misterius, berayun-ayun di bangsing pohon beringin. Itu gambaran sosok Regek Tungek, salah satu jenis mahkluk halus  dalam kepercayaan masyarakat Bali yang berwujud perempuan cantik.

I Nyoman Martono Dan Aktivitasnya Sebagai Pematung dan Pembuat Ogoh Ogoh

Sosok kreatif yang ada di balik ogoh ogoh Regek Tungek ini adalah I Nyoman Martono, seorang pematung kelahiran tahun 1986 dari Banjar Penaka Tampaksiring. Keseharian Martono adalah seorang pematung beton yang kerap terlibat dalam pengerjaan patung patung monumental baik di ruang publik maupun di berbagai ruang, mulai dari tempat wisata dan ruang publik lainya, tak hanya di Bali tapi juga di luar Bali.

Karir Martono sebagai pematung  telah ia lakoni sejak menamatkan studi seni patung di SMSR, kini SMKN 1 Sukawati, pada tahun 2004, tempat ia belajar mengasah bakat seninya yang telah tumbuh sejak kanak-kanak di lingkungan keluarga maupun banjar dan desa. Mengingat Tampaksiring adalah salah satu lokus yang menjadi basis perkembangan seni rupa dan budaya visual di Bali, di desa ini tumbuh seni ukir tulang, batok kelapa, dan bentuk seni ukir lainya dengan memanfaatkan beragam media.

Pilihan Martono muda untuk menekuni seni patung beton monumental di tengah lingkungan seni ukir tulang maupun batok kelapa menjadi pilihan yang berbeda. Martono memang kerap terpikir untuk memilih hal yang berbeda dari kecenderungan umum yang berkembang di sekitarnya.

Saya selaku penulis mengamati kecenderungan karakteristik personalnya sejak kecil hingga remaja karena kami tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang sama. Sejak kanak-kanak pun kami kerap membuat ogoh ogoh bersama yang kami usung saat pengerupukan.

Aktivitas itu terus berlanjut hingga remaja ketika kami tergabung dalam wadah sekaa teruna. Kami bersama para pemuda segenerasi kala itu selalu terlibat dalam kerja-kerja bersama pembuatan ogoh-ogoh di Banjar Penaka, dan Martono beberpa kali kerap ditunjuk sebagai koordinator atau konseptor visual sejak tahun 2012, 2015, 2016, hingga 2019.

Sejak saat itu dalam setiap perbincangan, Martono selalu mengutarakan niatnya untuk berusaha menampilkan suatu karya yang tak biasa.

Beberapa Karya Bersama I Nyoman Martono Bersama STT Giri Purusotama Banjar Penaka Tampaksiring

Setelah berkeluarga dan memiliki anak, sesuai tradisi tak tertulis yang berkembang di lingkungan Tampaksiring bahwa  seorang kreator ogoh-ogoh yang biasa mengerjakan ogoh-ogoh untuk sekaa teruna akan menyerahkan tongkat estafet pada generasi pemuda berikutnya untuk tampil menjadi kreator ogoh-ogoh. Dengan begitu, di desa itu selalu terjadi regenerasi yang berkelanjutan  di kalangan pemuda.

Hal itu juga yang menyebabkan kenapa di Tampaksiring selalu muncul nama-nama baru dalam seni ogoh-ogoh. Namun para “mantan” kreator ogoh-ogoh pemuda,  termasuk Martono ini,  tetap menyalurkan gairah berkeseniannya. Tidak lagi di balai banjar bersama para pemuda, tapi di lingkungan keluarga bersama anak-anak sembari memberikan hiburan sebagai orang tua untuk anak-anak di lingkungan keluarga dan sekitarnya.

Bawi Srenggi (2020),

Cikra Bala (2023)

Maka sejak tahun 2020 Martono selalu membuat ogoh-ogoh yang akan diusung oleh anak-anak di Banjar Penaka seperti karya “Bawi Srenggi ” pada tahun 2020. Karya ini tidak sempat diarak karena adanya pembatasan kerumunan termasuk pangrupukan karena pandemi covid 19. Lalu ketika pandemi telah berakhir pada 2023 Martono menghadirkan karya “Cikra Bala” .

Paksi Wangke (2024)

Sejak tiga tahun terakhir karya ogoh-ogoh Martono  selalu menarik perhatian tersendiri terutama di media sosial. Sebut saja ogoh-ogoh “Paksi Wangke” tahun 2024. Ogoh-ogoh itu menggambarkan sosok burung pemakan bangkai yang bertengger di atas pohon.

Yang menarik dari “Paksi Wangke”, selain pilihan tematiknya yang tak biasa–karena umumnya ogoh ogoh mengambil perwujudan bhuta kala–juga karena Martono mengangkat perwujudan hewan pengurai yakni burung pemakan bangkai sebagai simbol pengurai dalam rantai makanan.

Secara visual ogoh-ogoh ini mengolah bentuk naturalistik burung pemakan bangkai menjadi lebih imajinatif dan surealistik. Karakter wajah digambarkan sebagai perpaduan antara karakter manusia dengan burung, serta adanya penambahan tangan yang terselip di antara sayap burung yang tampak mengintai.

Bregan Pering (2025)

Pada tahun 2025 tercipta karya yang mencatat viral di sosial media, “Bregan Pering”. Ogoh-ogoh itu menggambarkan sosok wong samar atau tonya yang dipercaya menghuni semak belukar di bantaran sungai. Sosok itu bertengger di atas pohon bambu gading.

Secara visual ogoh ogoh ini menampilkan karakter yang realistik, minim aksesoris, berambut gempel (kusut), wajah menyeringai penuh ambigu antara hendak  menakuti atau sekedar menyapa. Di samping itu, secara komposisi ogoh-ogoh ini dibuat bertengger di atas pohon bambu asli.

Banyak publik yang bertanya tentang bagaimana teknik kontruksi agar figur bregan bisa berdiri di atas pohon bambu. Di sinilah kemapuan ilmu konstruksi Martono sebagai pematung yang telah berpengalaman mengerjakan berbagai jenis dan karakter diaplikasikan.

Ia tampak piawai dan memikirkan betul bagaimana aspek teknis dari kontruksi hingga perwujudan ogoh-ogohnya dengan sangat presisi. Secara tematik selain mengangkat cerita cerita seputar dunia wong samar atau mahkluk halus yang lekat dengan keseharian masyarkat Bali, ada pesan kritis yang tersembunyi di balik karya ini yakni seputar maraknya alih fungsi lahan yang marak terjadi di Bali akibat masifnya pembangunan infrastruktur yang menggeser ruang hijau menjadi hunian atau ruang ruang ekonomi dan industri.

Regek Tunggek (2026)

Setelah sukses dengan “Bregan Pering”, karya Martono semakin ditunggu-tunggu para pencinta ogoh-ogoh. Pertengahan bulan Februari lalu, saya iseng menanyakannya via whatsaap, akan bikin apa tahun ini?

Sambil bercanda ia menjawab, mau bikin ayunan, lalu Ia menunjukkan sebuah maket rancangan ogoh ogoh yang akan dia buat. Sebagai pematung Martono memang selalu mengawali proses kreatifnya dengan maket, bahkan sejak Ia terlibat menggarap ogoh-ogoh di sekaa teruna di banjar, ia kerap membuat maket terlebih dahulu, ketimbang sketsa.

Sambil mengamati kiriman foto maketnya saya bertanya . “Apa konsepnya?”

Ia lalu menjawab, “Regek Tunggek naik ayunan di pohon.” Lalu Ia menambahkan : “Wajahnya nanti akan dibuat cantik tapi berkarakter menyeramkan, biar ada tantangan tersendiri bagaimana menggabungkan karakter cantik, tapi kecantikan yang tak biasa, ada teror, ada sisi misterius, dan menyeramkan didalamnya.”

Saya lalu menjawab, “Ditunggu hasil akhirnya.”

I Nyoman Martono

Dan benar saja ketika hari pengrupukan tiba “Regek Tunggek” karya Martono sudah selesai dan berangsur angsur menarik perhatian publik baik warga sekitar Tampaksiring maupun pengguna sosial media.

Ogoh -ogoh “Regek Tunggek”  ini menarik perhatian karena penggarapanya yang realistik, detail serta ekspresi yang detail dan berkarakter. Tidak mudah menggarap sebuah karakter wajah cantik namun berkesan misterius. Ada kontras yang coba dihadirkan dalam mimik antara tersenyum, tapi senyum yang meneror. Di sini tampak pendalaman dan kepekaan karakter yang dilakukan Martono pada karyanya.

Maket Karya Regek Tungek karya Martono yang ditunjukkan pada penulis

Selain dari sisi visual, secara performatif ogoh-ogoh ini juga memberi ruang interaktif antara ogoh ogoh dan yang mengusung. Aspek interaktif ini hadir dengan objek ayunan yang dikonstruksi sedemikian rupa hingga mampu menghadirkan aspek kinetik namun masih memaksimalkan aspek kinetik yang hadir secara manual dan interaktif. Karena ogoh-ogoh ini tampak berayun ayun karena digerakkan oleh para pengusungnya tanpa sentuhan teknologi mekanik maupun robotik seperti yang telah banyak diterapkan dalam seni ogoh-ogoh di Bali.

Ini gagasan yang berangkat dari hal sedernana namun terasa menarik dan menghentak. Tentu gagasan ini menjadi sesuatu yang berbeda, di mana aspek intereaktif antara ogoh-ogoh dan pengusungnya yang biasanya hanya mengusung atau melakukan gerakan melingser atau berputar, dalam ogoh ogoh Regek Tungek pengalaman interaktif dan ketubuhan itu berkembang menjadi gerakan mengayun-ayunkan ogoh ogoh oleh para pengusungnya.

Karya ini mampu menjadi ruang interaksi yang intim antara si pengusung dengan ogoh ogoh, inilah sisi menarik yang mampu diramu oleh Martono yang mencoba memaksimalkan aspek kerupaan dan aspek performatif.

Detail Karya Regek Tunggek

Demikianlah Martono, sosok sederhana namun selalu gelisah dengan gagasan-gagasan yang kompleks pada aspek kerupaan pada karya-karyanya. Kompleksitas yang dibangun dengan potensi kerupaan itu sendiri, ia percaya hal-hal yang tak biasa bisa lahir dari hal yang biasa dan bersahaja yang luput dari perhatian.

Kesadaran untuk menantang diri sendiri serta didorong oleh keinginan sederhana “mempersembahkan karya untuk menyenangkan anak saya” hal yang kerap ia sampaikan dalam setiap perbincangan. Di sela-sela kesibukannya sebagai pematung , ia selalu menyempatkan dan memberi ruang pada ekspresi dan ruang personalnya untuk terus diekspresikan, ekspresi personal yang dipersembahkan untuk masyarakat.

Tujuannya sederhana. “Mempersembahkan karya yang bisa dinikmati banyak orang,” begitu Martono selalu berkata. [T]

Penaka, Tampaksiring, Maret 2026

Penulis: I Made Susanta Dwitanaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gianyarogoh-ogohSeni Rupatampaksiring
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MASIH PUNYA ‘GURU WISESA’? [Indonesia Punya ‘Guru Wisesa’?]

Next Post

Larangan ‘Maboros’, ‘Mapikat’, dan ‘Masambang’ di Wilayah Subak Abian Gunung Kutul, Desa Pucaksari, Buleleng: Bentuk Perlindungan Satwa

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails
Next Post
Larangan ‘Maboros’, ‘Mapikat’, dan ‘Masambang’ di Wilayah Subak Abian Gunung Kutul, Desa Pucaksari, Buleleng: Bentuk Perlindungan Satwa

Larangan 'Maboros', 'Mapikat', dan 'Masambang' di Wilayah Subak Abian Gunung Kutul, Desa Pucaksari, Buleleng: Bentuk Perlindungan Satwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co