NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa Tampaksiring, yang semakin tahun semakin dikenal luas sebagai salah satu desa yang menjadi pusat perhatian publik dengan ogoh ogohnya. Di antara aneka rupa “raksasa” dan perwujudan ogoh ogoh di tiap banjar, ada sorak sorai anak-anak Banjar Penaka di Catus Pata Tampaksiring, mengusung satu sosok ogoh-ogoh dengan tampilan yang menyita perhatian.
Ogoh-ogoh itu sosok perempuan cantik dengan tatapan yang misterius, berayun-ayun di bangsing pohon beringin. Itu gambaran sosok Regek Tungek, salah satu jenis mahkluk halus dalam kepercayaan masyarakat Bali yang berwujud perempuan cantik.

Sosok kreatif yang ada di balik ogoh ogoh Regek Tungek ini adalah I Nyoman Martono, seorang pematung kelahiran tahun 1986 dari Banjar Penaka Tampaksiring. Keseharian Martono adalah seorang pematung beton yang kerap terlibat dalam pengerjaan patung patung monumental baik di ruang publik maupun di berbagai ruang, mulai dari tempat wisata dan ruang publik lainya, tak hanya di Bali tapi juga di luar Bali.
Karir Martono sebagai pematung telah ia lakoni sejak menamatkan studi seni patung di SMSR, kini SMKN 1 Sukawati, pada tahun 2004, tempat ia belajar mengasah bakat seninya yang telah tumbuh sejak kanak-kanak di lingkungan keluarga maupun banjar dan desa. Mengingat Tampaksiring adalah salah satu lokus yang menjadi basis perkembangan seni rupa dan budaya visual di Bali, di desa ini tumbuh seni ukir tulang, batok kelapa, dan bentuk seni ukir lainya dengan memanfaatkan beragam media.
Pilihan Martono muda untuk menekuni seni patung beton monumental di tengah lingkungan seni ukir tulang maupun batok kelapa menjadi pilihan yang berbeda. Martono memang kerap terpikir untuk memilih hal yang berbeda dari kecenderungan umum yang berkembang di sekitarnya.
Saya selaku penulis mengamati kecenderungan karakteristik personalnya sejak kecil hingga remaja karena kami tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang sama. Sejak kanak-kanak pun kami kerap membuat ogoh ogoh bersama yang kami usung saat pengerupukan.
Aktivitas itu terus berlanjut hingga remaja ketika kami tergabung dalam wadah sekaa teruna. Kami bersama para pemuda segenerasi kala itu selalu terlibat dalam kerja-kerja bersama pembuatan ogoh-ogoh di Banjar Penaka, dan Martono beberpa kali kerap ditunjuk sebagai koordinator atau konseptor visual sejak tahun 2012, 2015, 2016, hingga 2019.
Sejak saat itu dalam setiap perbincangan, Martono selalu mengutarakan niatnya untuk berusaha menampilkan suatu karya yang tak biasa.




Setelah berkeluarga dan memiliki anak, sesuai tradisi tak tertulis yang berkembang di lingkungan Tampaksiring bahwa seorang kreator ogoh-ogoh yang biasa mengerjakan ogoh-ogoh untuk sekaa teruna akan menyerahkan tongkat estafet pada generasi pemuda berikutnya untuk tampil menjadi kreator ogoh-ogoh. Dengan begitu, di desa itu selalu terjadi regenerasi yang berkelanjutan di kalangan pemuda.
Hal itu juga yang menyebabkan kenapa di Tampaksiring selalu muncul nama-nama baru dalam seni ogoh-ogoh. Namun para “mantan” kreator ogoh-ogoh pemuda, termasuk Martono ini, tetap menyalurkan gairah berkeseniannya. Tidak lagi di balai banjar bersama para pemuda, tapi di lingkungan keluarga bersama anak-anak sembari memberikan hiburan sebagai orang tua untuk anak-anak di lingkungan keluarga dan sekitarnya.


Maka sejak tahun 2020 Martono selalu membuat ogoh-ogoh yang akan diusung oleh anak-anak di Banjar Penaka seperti karya “Bawi Srenggi ” pada tahun 2020. Karya ini tidak sempat diarak karena adanya pembatasan kerumunan termasuk pangrupukan karena pandemi covid 19. Lalu ketika pandemi telah berakhir pada 2023 Martono menghadirkan karya “Cikra Bala” .

Sejak tiga tahun terakhir karya ogoh-ogoh Martono selalu menarik perhatian tersendiri terutama di media sosial. Sebut saja ogoh-ogoh “Paksi Wangke” tahun 2024. Ogoh-ogoh itu menggambarkan sosok burung pemakan bangkai yang bertengger di atas pohon.
Yang menarik dari “Paksi Wangke”, selain pilihan tematiknya yang tak biasa–karena umumnya ogoh ogoh mengambil perwujudan bhuta kala–juga karena Martono mengangkat perwujudan hewan pengurai yakni burung pemakan bangkai sebagai simbol pengurai dalam rantai makanan.
Secara visual ogoh-ogoh ini mengolah bentuk naturalistik burung pemakan bangkai menjadi lebih imajinatif dan surealistik. Karakter wajah digambarkan sebagai perpaduan antara karakter manusia dengan burung, serta adanya penambahan tangan yang terselip di antara sayap burung yang tampak mengintai.

Pada tahun 2025 tercipta karya yang mencatat viral di sosial media, “Bregan Pering”. Ogoh-ogoh itu menggambarkan sosok wong samar atau tonya yang dipercaya menghuni semak belukar di bantaran sungai. Sosok itu bertengger di atas pohon bambu gading.
Secara visual ogoh ogoh ini menampilkan karakter yang realistik, minim aksesoris, berambut gempel (kusut), wajah menyeringai penuh ambigu antara hendak menakuti atau sekedar menyapa. Di samping itu, secara komposisi ogoh-ogoh ini dibuat bertengger di atas pohon bambu asli.
Banyak publik yang bertanya tentang bagaimana teknik kontruksi agar figur bregan bisa berdiri di atas pohon bambu. Di sinilah kemapuan ilmu konstruksi Martono sebagai pematung yang telah berpengalaman mengerjakan berbagai jenis dan karakter diaplikasikan.
Ia tampak piawai dan memikirkan betul bagaimana aspek teknis dari kontruksi hingga perwujudan ogoh-ogohnya dengan sangat presisi. Secara tematik selain mengangkat cerita cerita seputar dunia wong samar atau mahkluk halus yang lekat dengan keseharian masyarkat Bali, ada pesan kritis yang tersembunyi di balik karya ini yakni seputar maraknya alih fungsi lahan yang marak terjadi di Bali akibat masifnya pembangunan infrastruktur yang menggeser ruang hijau menjadi hunian atau ruang ruang ekonomi dan industri.

Setelah sukses dengan “Bregan Pering”, karya Martono semakin ditunggu-tunggu para pencinta ogoh-ogoh. Pertengahan bulan Februari lalu, saya iseng menanyakannya via whatsaap, akan bikin apa tahun ini?
Sambil bercanda ia menjawab, mau bikin ayunan, lalu Ia menunjukkan sebuah maket rancangan ogoh ogoh yang akan dia buat. Sebagai pematung Martono memang selalu mengawali proses kreatifnya dengan maket, bahkan sejak Ia terlibat menggarap ogoh-ogoh di sekaa teruna di banjar, ia kerap membuat maket terlebih dahulu, ketimbang sketsa.
Sambil mengamati kiriman foto maketnya saya bertanya . “Apa konsepnya?”
Ia lalu menjawab, “Regek Tunggek naik ayunan di pohon.” Lalu Ia menambahkan : “Wajahnya nanti akan dibuat cantik tapi berkarakter menyeramkan, biar ada tantangan tersendiri bagaimana menggabungkan karakter cantik, tapi kecantikan yang tak biasa, ada teror, ada sisi misterius, dan menyeramkan didalamnya.”
Saya lalu menjawab, “Ditunggu hasil akhirnya.”

Dan benar saja ketika hari pengrupukan tiba “Regek Tunggek” karya Martono sudah selesai dan berangsur angsur menarik perhatian publik baik warga sekitar Tampaksiring maupun pengguna sosial media.
Ogoh -ogoh “Regek Tunggek” ini menarik perhatian karena penggarapanya yang realistik, detail serta ekspresi yang detail dan berkarakter. Tidak mudah menggarap sebuah karakter wajah cantik namun berkesan misterius. Ada kontras yang coba dihadirkan dalam mimik antara tersenyum, tapi senyum yang meneror. Di sini tampak pendalaman dan kepekaan karakter yang dilakukan Martono pada karyanya.

Selain dari sisi visual, secara performatif ogoh-ogoh ini juga memberi ruang interaktif antara ogoh ogoh dan yang mengusung. Aspek interaktif ini hadir dengan objek ayunan yang dikonstruksi sedemikian rupa hingga mampu menghadirkan aspek kinetik namun masih memaksimalkan aspek kinetik yang hadir secara manual dan interaktif. Karena ogoh-ogoh ini tampak berayun ayun karena digerakkan oleh para pengusungnya tanpa sentuhan teknologi mekanik maupun robotik seperti yang telah banyak diterapkan dalam seni ogoh-ogoh di Bali.
Ini gagasan yang berangkat dari hal sedernana namun terasa menarik dan menghentak. Tentu gagasan ini menjadi sesuatu yang berbeda, di mana aspek intereaktif antara ogoh-ogoh dan pengusungnya yang biasanya hanya mengusung atau melakukan gerakan melingser atau berputar, dalam ogoh ogoh Regek Tungek pengalaman interaktif dan ketubuhan itu berkembang menjadi gerakan mengayun-ayunkan ogoh ogoh oleh para pengusungnya.
Karya ini mampu menjadi ruang interaksi yang intim antara si pengusung dengan ogoh ogoh, inilah sisi menarik yang mampu diramu oleh Martono yang mencoba memaksimalkan aspek kerupaan dan aspek performatif.

Demikianlah Martono, sosok sederhana namun selalu gelisah dengan gagasan-gagasan yang kompleks pada aspek kerupaan pada karya-karyanya. Kompleksitas yang dibangun dengan potensi kerupaan itu sendiri, ia percaya hal-hal yang tak biasa bisa lahir dari hal yang biasa dan bersahaja yang luput dari perhatian.
Kesadaran untuk menantang diri sendiri serta didorong oleh keinginan sederhana “mempersembahkan karya untuk menyenangkan anak saya” hal yang kerap ia sampaikan dalam setiap perbincangan. Di sela-sela kesibukannya sebagai pematung , ia selalu menyempatkan dan memberi ruang pada ekspresi dan ruang personalnya untuk terus diekspresikan, ekspresi personal yang dipersembahkan untuk masyarakat.
Tujuannya sederhana. “Mempersembahkan karya yang bisa dinikmati banyak orang,” begitu Martono selalu berkata. [T]
Penaka, Tampaksiring, Maret 2026
Penulis: I Made Susanta Dwitanaya
Editor: Adnyana Ole





























