13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026
in Esai
Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang membingungkan untuk dijawab. Menjadi dinamika dalam diri, jika sebuah pertanyaan menimbulkan pertanyaan-pertaanyaan baru, karena jawaban dari sebuah pertanyaan masih kabur atau tidak jelas. Muncullah kemudian kompleksitas pertanyaan yang kian tidak terselesaikan. Nah, ketika itulah diperlukannya kehadiran guru.

Kata ‘guru’ sudah sering terdengar oleh kita. Kata ‘guru sejati’ mungkin pernah terdengar bagi orang-orang yang menekuni arti hidup. Terkadang juga pernah terlintas dalam pikiran maupun telinga kita kata ‘guru sejati’ itu. Namun, apa ‘guru sejati’ itu?  Mari kita renungkan.

Dalam salah satu ajaran kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ada istilah Catur Guru. Itu adalah empat bagian dalam hidup manusia yang bertugas sebagai ‘pencerah’. Pertama disebut Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita, yang kedua disebut Guru Pengajian adalah guru di sekolah atau tempat kursus, ketiga disebut Guru Wisesa yaitu adalah pemerintah, dan keempat disebut Guru Swadyaya yaitu Tuhan.

Jadi, manakah ‘guru sejati’ itu? Apakah keempat bagian dari Catur Guru tersebut merupakan ‘guru sejati’? Mungkin kiranya salah satu dari Catur Guru itu dinamakan guru sejati? Bagaimana jika salah satu dari ‘Catur Guru’ itu tidak dimiliki atau tidak sempat ‘hadir’ memberikan pencerahan hidup? Lalu bagaimana kita sebagai manusia bisa ‘tercerahkan’ oleh guru seperti tugas guru biasanya?

Jika kita perhatikan, keempat bagian dari ‘Catur Guru’ adalah faktor eksternal dari luar diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ manusia supaya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Terlebih menjadi manusia yang ‘manusia’, memiliki budi luhur yang kiranya dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik.

 ‘Catur Guru’ merupakan faktor eksternal dari dalam diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ itu. Lalu apa faktor internal yang bisa ‘mencerahkan’ diri manusia itu sendiri? Faktor internal itu Ialah diri manusia itu sendiri, faktor internal manusialah yang disebut sebagai ‘Guru Sejati’. Mengapa demikian? Kita pahami lagi arti dari ‘Guru Sejati’ yang saya maksud.

Sama halnya dengan beberapa kutipan seperti ‘nandurin karang awak’, ‘berkaca pada diri sendiri’, atau lebih jauh lagi kutipan ‘engkau mencariku sangat jauh, sesungguhnya aku sangat dekat, saking dekatnya engkau tidak dapat melihat aku’. Beberapa contoh kutipan tersebut memiliki arti sama yaitu introspeksi diri, menemukan kesejatian diri.

Sebagian manusia lebih sering memperhatikan hal yang berada di luar dirinya daripada memperhatikan diri sendiri, sehingga sangat bias untuk bisa menyelami dirinya sendiri. Sehingga menibulkan masalah dari luar diri manusia karena saking banyaknya mengejar, memperhatikan, dan mengurus yang diluar dirinya.

Padahal lahir ke dunia ini sudah masalah, buktinya manusia minimal harus makan atau minum, supaya bisa bertahan hidup. Apakah makan dan minum itu gratis? Gratis dalam artian seketika hadir di hadapan manusia? Itu perlu usaha untuk memenuhinya. Setiap makan dan minum yang dikonsumsi manusia ada usaha dalam prosesnya. Adanya proses adalah sama dengan adanya usaha, dan usaha itu sama dengan masalah.

Masalah bisa dibilang masalah karena hal itu tidak datang secara tiba-tiba dihadapan diri manusia, harus ada proses untuk mendapatknya, itu yang dimaksud masalah. Lantas, jika setiap proses adalah masalah, berarti untuk manusia itu sendiri yang banyaknya melewati proses dalam hidupnya, berarti manusia penuh dengan masalahnya sendiri. Lalu, jika sudah banyak masalah di diri manusia, mengapa nambah masalah lagi dengan mengurus hal diluar dirinya? Mari kita pelajari pelan-pelan.

Berawal dari masalah yang dikenal di dalam diri manusia dalam kepercayan Hindu Bali adalah Sad Ripu. Ia merupakan enam musuh yang ada di dalam diri manusia yaitu pertama disebut Kama atau hawa nafsu, kedua disebut Lobha tau keserakahan, ketiga disebut Krodha atau kemarahan, keempat Mada atau kemabukan, kelimat disebut Matsarya atau irihati/dengki, dan yang keenam disebut Moha atau kebingungan.

Hawa nafsu atau bisa disebut dengan suatu keinginan yang tidak terkendalikan. Ia selalu datang, namun tetap harus dikendalikan setidaknya dengan cara berpikir positif. Keserakahan atau rakus atau juga tamak, dan juga iri hati/dengki harus dikendalikan dengan cara bersyukur atas apa yang dimiliki.

Kemarahan dikendalikan dengan kesabaran, kemabukan dikendalikan dengan tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu atau memikirkan sesuatu. Kebingungan atau angkuh dikendalikan dengan menenangkan pikiran dengan berpikir secara jernih.

Secara sederhana begitulah konsepnya, namun kenyataan di kehidupan tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dikondisikan yang berasal dari luar diri manusia. Tiga hal yang mampu mempengaruhi manusia ialah makanan dan minuman, lingkungan, yang lebih ekstrim ialah konsumsi postingan media sosial.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempengaruhi diri dan pemikiran manusia. Jika mengkonsumsi makanan yang dominan pedas, rasa pedas itu mengganggu perut hingga emosi manusia. Minum minuman yang bisa mengganggu pencernaan atau pikiran misalnya miras atau minuman mengandung alkohol. Intinya makanan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh atau pikiran menjadi kurang bagus perlu dikondisikan.

Lingkungan yang kurang ‘sehat’ juga mempengaruhi kebiasaan manusia itu sendiri. Jika lingkungannya kurang ‘sehat’ seperti misalnya pola pikir lingkungan baik itu keluarga, teman, maupun masyarakatnya, jika mental diri manusia tidak kuat, dia akan terpengaruh oleh lingkungannya yang mengarah ke hal yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.

Media sosial pada kehidupan manusia saat ini juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Karena dalam digital mengenal Namanya algoritma, yang mampu mendeteksi kebiasaan manusia dari apa yang sempat dia lihat di postingan-postingan media sosial. Jika manusia fokus mencari dan melihat tentang kesedihan, media sosial dengan lagoritmanya menyesuaikan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat sedih, walaupun dikemudian kesempatan manusia pengguna media sosial tidak mencari hal tersebut.

Secara otomatis jika sering melihat postingan tentang kesedihan, postingan tentang kesedihan mampu menyebabkan otak atau pikiran manusia terjerumus kedalam hal kesedihan. Larut dalam postingan yang kurang positif, hingga memungkinkan manusia itu berada dalam lingkaran pikiran yang kurang baik.

 Jika dilihat secara keseluruhan, Sad Ripu, makanan, lingkungan, dan media sosial yang telah dijelaskan merupakan kenikmatan keduniawian yang sangat berpengaruh membentuk diri manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut perlu dikendalikan oleh diri manusia. Layaknya seorang pendeta, dia mengendalikan dirinya dari hal-hal keduniawian. Lalu, apakah diri manusia harus menjadi seorang pendeta terlebih dulu supaya ada kewajiban melepas sifat keduniawian? Tentu tidak. Semua adalah pilihan.

Diri manusia cukup mempelajari dirinya sendiri, itulah guru sejati. Guru sejati hadir di dalam diri manusia, hadir di dalam nurani manusia, hadir dalam kepekaan dirinya sendiri bagi ia yang berusaha menggali dirinya sendiri. Seperti seorang yang sedang meditasi, mencari inti diri, mencari ketenangan, hingga kedamaian, dan menemukan kesadaran dan pencerahan.

Jika manusia mampu menyelami guru sejati itu, begitu indahnya dunia yang sedikit tidaknya memanusiakan manusia, menjaga keharmonisan dirinya dengan lingkungan, terciptanya keseimbangan kehidupan yang damai, memiliki budi luhur yang dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik. Begitulah harusnya manusia, menemukan guru sejati di dalam dirinya sendiri. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruguru agamahindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

Next Post

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  ---Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co