Tubuh abu-abu besar, kalung benang menjuntai-juntai, rambut jabrik, dan juluran lidah perlambang ekspresi yang mengerikan tergambar dari ogoh-ogoh Bhuta Wiru, Sekaa Teruna Genie Giri Suci, Banjar Wanayu, Desa Bedulu, Gianyar dalam penilaian lomba ogoh-ogoh Kabupaten Gianyar yang digelar pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Di balik wajah menyeramkan milik Bhuta Wiru, menurut sinopsisnya, ogoh-ogoh ini dibuat dengan pertimbangan tiga landasan utama, yakni: landasan teologis, landasan filosofis, dan landasan sosiologis.
Secara teologis, dalam Lontar Panca Durga, diceritakan bahwa Dewi Durga melakukan semadi di seluruh penjuru mata angin dan melahirkan berbagai manifestasi bhuta yang menempati ruang kosmis tertentu. Di empat penjuru tersebut beliau bernama Raji Durga yang menempati wilayah utara, Sri Durga di sebelah timur, Dhari Durga di sebelah selatan, dan Suksmi Durga di sebelah barat. Pecahan kekuatan ini kemudian juga menempati sembilan arah mata angin, salah satunya adalah Bhuta Wiru, yang menempati arah Timur Laut (Kaja-Kangin) dan berkaitan dengan energi yang merepresentasikan kekuatan Dewa Sambhu.
Secara filosofis, Bhuta Wiru melambangkan keseimbangan energi alam. Dalam tradisi Bali, Bhuta Wiru dikaitkan dengan pertemuan energi sasih kapat dan sasih kalima, yang dilambangkan dengan warna hitam dan putih, kemudian menghasilkan warna abu-abu. Warna abu-abu ini mencerminkan konsep Rwa Bhineda, yaitu prinsip dualitas dalam kehidupan: terang dan gelap, baik dan buruk, positif dan negatif. Keduanya bukan untuk saling meniadakan, tetapi untuk menciptakan keseimbangan.

Secara sosiologis, dalam kehidupan masyarakat Bali, konsep Bhuta Wiru diwujudkan melalui ritual Bhuta Yadnya, khususnya dalam upacara Caru Panca Siya. Rangkaian caru yang biasanya dilaksanakan dari sasih kapat hingga sasih kaulu, sebagai upaya menyeimbangkan energi alam. Puncaknya terjadi pada Tawur Kesanga, yaitu upacara Bhuta Yadnya pada sasih terakhir sebelum memasuki bulan suci. Melalui ritual ini, masyarakat Bali menunjukkan kesadaran bahwa manusia harus menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dengan demikian, Bhuta Wiru bukan hanya simbol kosmis atau raksasa berwajah mengerikan, tetapi juga bagian dari praktik budaya yang menjaga keseimbangan kehidupan.
Koordinator penggarap, Wayan Deva Arya Satya juga menjelaskan bahwa keseluruhan desain ogoh-ogoh dirancang dengan pendekatan yang simbolik.
“Posisi tubuh yang jongkok menggambarkan Bhuta Kala yang sedang “nadah saji” atau menerima persembahan, sementara gerakan tangan ke depan melambangkan proses mengambil sajian. Setelah menerima persembahan tersebut, sosok Bhuta Wiru divisualisasikan mulai bangkit, sebagai simbol perubahan sifat dari energi liar menjadi lebih netral dan akhirnya berperan sebagai penjaga,” ungkapnya.

Selain itu, melalui narasi yang dibawa Bhuta Wiru, Sekaa Teruna Genie Giri Suci ingin mengajak kita untuk merenungkan kembali pemaknaan bhuta. Bukan sebagai perusak, namun penyeimbang.
“Konsep ini kami angkat untuk menunjukkan bahwa Bhuta Kala tidak selalu dimaknai negatif, tetapi bisa menjadi harmonis ketika manusia mampu menjaga keseimbangan,” sambung Wayan Deva.
Terlepas dari narasi dalam sinopsis, jika dilihat secara bentuk, tak ayal jika ogoh-ogoh di Kabupaten Gianyar selalu memiliki daya tawar seni yang berbeda dari wilayah lain. Ogoh-ogoh berdiri tunggal, mengedepankan anatomi, dan penggunaan ornamen yang minimalis.
Adapun beberapa detail kecil yang turut memperkuat makna, seperti benang tridatu sebagai lambang pengikatan diri, uang kepeng sebagai simbol penebusan, serta bulu merak di bagian lengan yang melambangkan kekuatan dan kepercayaan diri. Sementara itu, mata tanpa pupil menggambarkan Bhuta Kala sebagai kekuatan kosmis yang melampaui batas ruang dan persepsi manusia. Kosong. Hampa.
Melalui proses panjang dari Desember 2025 sampai rampung pada 14 Maret 2026, berangkat dari dana kas dan sumbangan dari masyarakat Banjar Wanayu, Bhuta Wiru menjadi sebuah kebanggaan bagi Sekaa Teruna Genie Giri Suci dan masyarakat Banjar Wanayu. Terlebih lagi, tahun ini adalah kali perdana Banjar Wanayu mengikuti perlombaan.
“Ini pertama kali kami melombakan ogoh-ogoh. Kami merasa bangga karena sudah berani keluar dari zona nyaman. Namun tentu masih banyak yang harus dievaluasi. Semoga tahun depan bisa diperbaiki dan dioptimalkan kembali,” ungkap I Wayan Gitawan, Ketua Sekaa Teruna Genie Giri Suci.

Meski belum mendapatkan hasil di atas kertas. Menurut pemuda dari STGGS (Sekaa Teruna Genie Giri Suci), ajang ini lebih dari sekadar ajang kreativitas, proses pembuatan ogoh-ogoh ini juga menjadi ruang pembelajaran dan kebersamaan bagi generasi muda di Banjar Wanayu. Melalui karya Bhuta Wiru, Sekaa Teruna Genie Giri Suci ingin menegaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan media edukasi budaya yang mengandung pesan mendalam, khususnya tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai landasan keharmonisan hidup. [T]
Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole



























