MENJELANG Nyepi, kemeriahaan anak-anak muda dalam menggarap atau menggotong ogoh-ogoh sering kali diekspresikan lewat lagu oleh grup band local di Bali. Tetapi, berbeda halnya dengan Anak Trali Bezi (ANTRABEZ), band merupakan binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan itu justru mengangkat makna Nyepi itu sendiri. Mereka menghadirkan lagu yang lahir dari perenungan, keheningan, dan relasi manusia dengan semesta lewat karya spesial berjudul “Bali Menyepi”.
Lagu “Bali Menyepi” dirilis di Kantor Lapas Kerobokan, Senin 16 Maret 2026, beberapa hari menjelang perayaan Tahun Baru Saka 1948 itu. Band ini digawangi oleh I Wayan Kariasa pada vocal, Rian Paulus Situmorang pada gitar, Renon Ferdian pada piano, Shofan Kusuma Firdaus pada bass & synth, Fendi Eko Prasetyo pada percussion dan drum serta Putu Eka Wira pada vokal dan suling. Pada acara merilis single “Bali Menyepi” itu, ANTRABEZ juga menampilkan lagu Shafer Societies dan lagu Kita Pulang.
Ketika disajikan dalam acara tersebut, energy lagu “Bali Menyepi” terasa sangat kuat. Lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan sebuah persembahan reflektif untuk Bali—ruang spiritual yang sejenak dibebaskan dari hiruk-pikuk dunia. Lagu ini menangkap momen langka ketika alam kembali bernapas tanpa beban ego manusia. Lewat lirik-lirik yang jujur dan kontemplatif, ANTRABEZ menggambarkan kontras antara dunia yang “tersiksa oleh ego” dan Bali yang menemukan kembali kesunyian sucinya.
Kalimat seperti “Hari ini Bali ku bernafas bebas tanpa polusi mu” menjadi simbol pelepasan—baik dari kebisingan fisik maupun batin. Nuansa lagu iberjalan pelan, namun menghadirkan ruang untuk merenung. Repetisi kalimat “Bali ku menyepi, Bali ku sendiri” bukan dimaknai sebagai kesepian, melainkan sebagai bentuk kemandirian spiritual—sebuah kondisi ketika alam dan manusia saling mengamati dalam diam.

ANTRABEZ juga meresapi nilai utama Nyepi melalui empat prinsip Catur Brata Penyepian yang tersurat dalam lirik: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, Amati Lelungan — sebuah ajakan untuk berhenti, mengamati, dan kembali menyelaraskan diri dengan semesta.
Pada bagian akhir, lagu ini berubah menjadi doa visual dan emosional: Bali yang “merekah anggun”, malam yang “berkilau bintang”, dan kerinduan akan kasih cinta semesta.
Semua itu bagai sebuah pengingat bahwa dalam keheningan, selalu ada harapan dan keindahan yang lahir kembali. “Dengan “Bali Menyepi”, ANTRABEZ mengajak pendengar untuk tidak hanya mendengarkan musik, tetapi juga mengalami keheningan, merayakan Nyepi sebagai ruang refleksi, dan memaknai kembali hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas,” kata Penulis lagu dan lirik, Octav Sicilia.
Band yang telah berkarya selama sekitar 12 tahun ini menghadirkan lagu bernuansa pop alternatif yang sarat pesan refleksi dan spiritualitas. Lagu “Bali Menyepi” juga telah dirilis di seluruh platform digital menjelang Hari Raya Nyepi, tepatnya pada 13 Maret 2026. Sebagai soundtrack sunyi bagi Bali dan siapa pun yang ingin belajar diam sejenak di tengah dunia yang terus berisik.
Lagu tersebut direkam di Antrabez Studio Lapas Kelas IIA Kerobokan Recording. Mixing dan mastering dilakukan oleh Shofan Kusuma Firdaus. Sementara photo, video & design dipercayakan kepada Ahmad Choirul Umam, dan seluruh proses produksi mematuhi regulasi resmi lembaga pemasyarakatan. Seizin Kanwil-Direktorat Jendral Pemasyarakatan Bali.

“Musik yang dibawakan ANTRABEZ memiliki kebebasan dalam berekspresi. Karya musik tidak perlu dibatasi oleh label genre tertentu selama mampu menyampaikan pesan yang kuat kepada pendengar,” kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bali, Decky Nurmansyah yang turut hadir dalam peluncuran single tersebut.
Lagu “Bali Menyepi” ini tercipta untuk mengingatkan agar membuang ego dalam diri demi menjadi pribadi yang lebih baik. “Mmomentum Nyepi ini menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan karya yang mengajak masyarakat melakukan kontemplasi, melepaskan ego, serta memperkuat nilai-nilai toleransi dan kebersamaan,” jelas Decky Nurmansyah.
“Sata merasa mendapatkan ilmu baru. Ia merasa betul-betul diberikan kesempatan mengasah vocal yang dimiliki. Disini, saya diberikan pengetahuan yang lebih. Dibalik menjalani hukuman penjara, saya bisa mendapatka hal-hal yang sangat positif untuk hidup kedepannya,” kata salah satu personil ANTRABEZ, Fendi Eko Prasetyo.
Sebelumnya, Fendi mengaku tidak biasa main musik. Music hanya mendengarkan music. Tetapi, saat menjalani hukuman itu, ia belajar pada teman-temannya yang lebih dulu. “Setelah ke luar tentu tidak bias bersama grup band ini karena hukumannya berbeda-beda, tetapi untuk kesempatan bermnain music itu sangat teruka, karena sudah mendapat bekel baru di dunia music. Kemungkinan nanti, rilis lagu atau bikin band,” ujar pria berusia 30 tahun yang difonis 5 tahun 5 bulan itu.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























