SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah dan penuh kreatifitas, pengarakan ogoh-ogoh. Sebuah medium seni yang melambangkan bhuta kala atau roh-roh jahat menurut keyakinan Hindu Bali, tidak hanya menjadi bagian dari ritus keagamaan, tetapi juga menjadi sebuah ruang ekspresi seni bagi generasi muda Bali terutama sekaa teruna di setiap banjar.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul perdebatan-perdebatan yang terjadi di masyarakat, terutama media sosial. Sebagian masyarakat atau warganet mengkritik bahkan terlihat seperti menghakimi para seniman yang membuat ogoh-ogoh dengan menggunakan mesin atau teknologi mekanis. Bagi mereka—para warganet–penggunaan mesin di ogoh-ogoh dianggap merusak tradisi dan menghilangkan nilai sakral ogoh-ogoh.
“Sing metaksu!” ucap salah seorang warganet. “Sing pragat-pragat,” ucap yang lain yang mengacu kepada salah satu kelompok pemuda pembuat ogoh-ogoh.
Perdebatan-perdebatan ini sebenarnya menarik untuk dibaca lebih dalam. Ia bukan sekedar persoalan teknis tentang boleh atau tidaknya mesin digunakan, melainkan bagaimana lantas cara masyarakat memandang hubungan antara tradisi, kretifitas dan perubahan zaman.
Pertama-tama, perlu sebenarnya kita sadari dan paham bahwa sebuah tradisi tidak pernah benar-benar statis. Banyak orang seting membayangkan tradisi sebagai sesuatu yang harus sama persis seperti masa lalu. Padahal, dalam kenyataannya, tradisi selalu berkembang mengikuti konteks sosial masyarakatnya.
Ogoh-ogoh sendiri bukanlah tradisi yang sangat kuno dalam bentuk yang kita kenal hari ini. bentuk ogoh-ogoh yang besar dan megah itu mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1980-an. Sejak saat itulah ogoh-ogoh terus mengalami perubahan. Mulai dari segi bentuk, bahan, Teknik pembuatan dan konsep-konsep artistiknya. Jika dahulu ogoh-ogoh banyak dibuat dari bambu dan kertas sederhana, kini banyak seniman yang menggunakan resin, clay dan rangka besi. Bahkan beberapa tahun lalu masih banyak yang menggunakan Styrofoam karena bahan yang murah dan tidak memakan banyak waktu untuk membentuknya.
Lalu polemik tentang mesin sebenarnya membuka diskusi yang lebih penting, antara batas inovasi dan esensi ritual. Dalam konteks kegamaan, ogoh-ogoh memiliki makna simbolis, yaitu sebagai representasi energi negatif atau bhuta kala yang kemudian dinetralisir melalui prosesi pengarakan dan pembakaran ogoh-ogoh. Jika penggunaan teknologi masih berada dalam kerangka simbolis tersebut, maka ia dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan seni. Namun, jika ogoh-ogoh berubah sepenuhnya menjadi ajang pamer teknologi, maka kekhawatiran masyrakat terhadap hilangnya makna ritual patut dipertimbangkan. Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata pada mesin, melainkan pada bagaimana kemudian inovasi itu ditempatkan dalam konteks budaya dan ritus yang terjadi hari ini.
Fenomena penghakiman di media sosial juga menjadi persoalan tersendiri. Banyak komentar yang muncul dengan nada keras, bahkan merendahkan para pembuat ogoh-ogoh. Padahal, ogoh-ogoh biasanya dikerjakan secara gotong royong oleh pemuda banjar dengan dana yang terbatas dan proses kerja yang panjang. Bagi mereka, anak-anak muda, membuat ogoh-ogoh bukan hanya soal ritus namun juga proses belajar seni, kerja kolektif dan kebanggaan suatu banjar/sekha demen. Ketika kritik disampaikan tanpa memahami proses tersebut, maka kemudian diskusi budaya berubah menjadi sekedar ajang saling menyalahkan.
Padahal, ketika kita sadari perkembangan ogoh-ogoh di Bali sudah menunjukkan makna yang berbeda. Banyak ogoh-ogoh hari ini tidak hanya menampilkan sosok bhuta kala yang ada pada cerita-cerita lama, namun hari ini ogoh-ogoh sudah merujuk pada isu-isu sosial yang ada di Indonesia. Korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan, hingga perundungan di mayrakat. Ini kemudian menunjukkan bahwa ogoh-ogoh telah berkembang menjadi ruang komunikasi budaya yang hidup. Ia tidak hanya merepresentasikan mitologi, tetapu juga kegelisahan sosal masyarakat hari ini.
Dari sini terlihat bahwa polemik ogoh-ogoh sebenarnya merupakan refleksi dari dinamika masyarakat Bali itu sendiri. Di satu sisi ada keinginan untuk menjaga nilai tradisi dan kesakralan ritual, tetapi di sisi lain ada dorongan kuat untuk terus berinovasi dan mengekspresikan kreatifitas. Kedua hal ini tidak selalu harus saling bertentangan. Tradisi yang sehat justru adalah tradisi yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar nilainya.
Pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan hanya tentang medium seni yang diarak di jalanan. Ia juga menjadi cermin kehidupan masyarakat Bali itu sendiri. Dalam berbagai macam polemik ogoh-ogoh yang menggunakan mesin, yang sebenarnya sedang dipertanyakan bukan menyoal teknologi, tetapi bagaimana budaya pada akhirnya dapat mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman. [T]
Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole


























