12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 3, 2026
in Esai
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dunia yang Selalu Berulang

SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola yang sama terus berulang: perebutan pengaruh, ketakutan akan ancaman, dan perjuangan mempertahankan identitas. Dalam konteks hari ini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa regional. Ia adalah cerminan dinamika global yang lebih besar—tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan, ditantang, dan dinegosiasikan.

Konflik semacam ini jarang berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kepentingan energi, rivalitas ideologis, keamanan regional, hingga pertarungan pengaruh antara kekuatan besar seperti China dan Rusia. Dunia modern yang terhubung secara ekonomi membuat setiap percikan konflik memiliki gema global.

Namun pertanyaannya lebih dalam: apakah perang selalu soal keserakahan? Ataukah ia lebih sering lahir dari ketakutan kolektif yang tak terselesaikan?

Ketakutan dan Ambisi: Dua Wajah Kekuasaan

Dalam analisis geopolitik klasik, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional. Keamanan, stabilitas, dan kelangsungan rezim menjadi prioritas utama. Ketika satu pihak merasa terancam—baik secara militer, ekonomi, maupun ideologis—reaksi defensif sering kali berubah menjadi ofensif.

Di sinilah ketakutan dan ambisi bertemu.

Ketakutan melahirkan kebijakan preventif. Ambisi melahirkan ekspansi pengaruh. Keduanya saling memperkuat. Negara yang merasa terancam akan memperkuat militernya; negara lain membaca itu sebagai ancaman baru. Siklus ini disebut sebagai security dilemma—dilema keamanan—yang sering menjadi akar konflik modern.

Dalam konteks Timur Tengah, ketegangan tidak hanya soal dua negara. Ia melibatkan aktor regional lain seperti Israel dan Arab Saudi, yang memiliki kepentingan strategis masing-masing. Persaingan pengaruh di kawasan ini telah berlangsung selama puluhan tahun, dan setiap eskalasi militer membawa risiko meluasnya konflik melalui jaringan aliansi dan proksi.

Energi, Jalur Perdagangan, dan Realitas Ekonomi

Sering kali perang dipahami sebagai pertarungan ideologi. Namun realitasnya, ekonomi memainkan peran sentral. Timur Tengah adalah jantung produksi energi dunia. Jalur pelayaran seperti Selat Hormuz menjadi nadi distribusi minyak global. Ketika stabilitas kawasan terganggu, harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan pasar keuangan bereaksi.

Di sinilah dampak konflik terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Negara seperti Indonesia, yang tidak terlibat langsung secara militer, tetap merasakan konsekuensinya melalui kenaikan harga minyak, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian pasar.

Harga emas biasanya naik saat konflik meningkat. Investor mencari aset aman. Rupiah bisa melemah jika arus modal keluar. Subsidi energi membengkak. Inflasi merayap naik. Perang di satu wilayah dapat menjadi beban ekonomi bagi masyarakat di belahan dunia lain.

Pelajaran pentingnya: di era globalisasi, tidak ada konflik yang benar-benar lokal.

PBB dan Batas Kekuatan Diplomasi

Banyak orang berharap lembaga internasional mampu mencegah perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang dibentuk dengan tujuan menjaga perdamaian dunia. Melalui Dewan Keamanan, resolusi gencatan senjata dapat dikeluarkan, sanksi dapat dijatuhkan, dan misi penjaga perdamaian dapat dikirim.

Namun realitas politik membatasi peran tersebut. Di United Nations Security Council, lima anggota tetap memiliki hak veto. Ketika konflik melibatkan kepentingan langsung negara besar, resolusi tegas sering terhenti oleh veto.

PBB sering berperan sebagai forum dialog dan penyalur bantuan kemanusiaan. Ia mampu menurunkan tensi, tetapi jarang mampu memaksa kekuatan besar menghentikan konflik jika kepentingan strategis mereka dipertaruhkan.

Ini bukan kegagalan total, tetapi refleksi dari sistem internasional yang masih berbasis keseimbangan kekuatan.

Perang dan Kesadaran Kolektif

Jika kita melihat konflik dari perspektif psikologis dan spiritual, misalnya melalui gagasan Map of Consciousness yang diperkenalkan oleh David R. Hawkins dalam Power vs. Force, perang sering muncul dari tingkat kesadaran kolektif yang didominasi oleh ketakutan, kemarahan, dan kebanggaan nasional.

Ketika narasi publik dibangun atas dasar ancaman dan balas dendam, ruang dialog menyempit. Retorika menjadi lebih keras. Kompromi dianggap kelemahan. Di titik ini, diplomasi rasional sulit berkembang.

Sebaliknya, perdamaian membutuhkan keberanian politik—bukan sekadar untuk melawan musuh, tetapi untuk menghadapi opini domestik yang mungkin tidak sabar terhadap kompromi.

Meskipun pendekatan ini bukan analisis ilmiah hubungan internasional, ia memberi refleksi penting: konflik besar sering kali berakar pada kondisi psikologis kolektif, bukan hanya perhitungan material.

Indonesia dan Posisi Bebas Aktif

Bagi Indonesia, konflik global menjadi ujian ketahanan ekonomi dan sosial. Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang untuk menjaga netralitas dan mendorong dialog. Namun netralitas tidak berarti kebal terhadap dampak.

Kenaikan harga minyak dapat membebani APBN. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor. Ketidakpastian global dapat menunda investasi. Bahkan isu Timur Tengah bisa memicu polarisasi opini di dalam negeri.

Pelajaran pentingnya adalah memperkuat fondasi domestik: diversifikasi energi, ketahanan pangan, stabilitas fiskal, dan literasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstrem.

Konflik global mengajarkan bahwa stabilitas nasional bukan hanya soal militer, tetapi juga soal ketahanan ekonomi dan kedewasaan sosial.

Apakah Perang Dipicu oleh Keserakahan?

Keserakahan sering disebut sebagai akar perang. Memang, perebutan sumber daya dan dominasi ekonomi memainkan peran penting dalam sejarah konflik. Namun menyederhanakan perang sebagai akibat keserakahan semata mengabaikan dimensi lain yang tak kalah kuat: rasa takut kehilangan pengaruh, ancaman terhadap identitas, dan kebutuhan mempertahankan legitimasi kekuasaan.

Perang modern biasanya merupakan hasil interaksi kompleks antara kepentingan ekonomi, kalkulasi keamanan, dan dinamika domestik. Elite politik bisa memanfaatkan konflik untuk konsolidasi kekuasaan. Industri tertentu mungkin diuntungkan. Tetapi faktor-faktor tersebut beroperasi dalam sistem internasional yang kompetitif.

Dengan kata lain, keserakahan mungkin menjadi bahan bakar, tetapi ketakutan sering menjadi pemantik.

Jalur Menuju Perdamaian

Upaya damai membutuhkan beberapa langkah mendasar:

  1. De-eskalasi militer untuk mencegah salah perhitungan.
  2. Dialog langsung maupun jalur belakang agar kompromi dapat dinegosiasikan tanpa tekanan publik berlebihan.
  3. Jaminan keamanan timbal balik, sehingga tidak ada pihak merasa terancam eksistensial.
  4. Pengamanan jalur perdagangan internasional, demi stabilitas ekonomi global.
  5. Pengurangan perang proksi, yang sering memperpanjang konflik regional.

Perdamaian jarang tercapai melalui kemenangan mutlak. Ia biasanya lahir dari kesadaran bahwa biaya konflik telah melampaui manfaatnya.

Pelajaran untuk Kita Semua

Perang mengajarkan bahwa dunia terhubung secara mendalam. Ketika satu kawasan bergolak, seluruh sistem merasakan dampaknya. Harga emas naik, pasar saham bergejolak, mata uang melemah, dan masyarakat biasa menanggung beban inflasi.

Namun pelajaran yang lebih dalam bersifat moral dan reflektif.

Pertama, kekuasaan tanpa kebijaksanaan cenderung menciptakan siklus konflik. Dominasi mungkin memberi keuntungan jangka pendek, tetapi stabilitas jangka panjang membutuhkan legitimasi dan kepercayaan.

Kedua, ketakutan kolektif dapat lebih berbahaya daripada ambisi. Narasi ancaman yang terus-menerus diperkuat akan menutup ruang empati dan dialog.

Ketiga, masyarakat sipil memiliki peran penting. Opini publik yang kritis dan rasional dapat mendorong pemimpin untuk memilih diplomasi daripada eskalasi.

Keempat, ketahanan domestik adalah kunci menghadapi gejolak global. Negara yang ekonominya kuat, masyarakatnya dewasa, dan institusinya stabil akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Menatap Masa Depan

Konflik antara negara besar dan regional mungkin tidak akan hilang dari panggung dunia. Sistem internasional masih didasarkan pada keseimbangan kekuatan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa dialog dan kompromi dapat mencegah perang besar berkepanjangan.

Kita hidup di era di mana senjata semakin canggih, tetapi dampaknya semakin luas. Perang modern bukan hanya soal garis depan, tetapi juga soal pasar keuangan, siber, energi, dan opini publik.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari setiap konflik adalah kesadaran bahwa perdamaian bukan kondisi alami; ia harus diusahakan. Ia membutuhkan keberanian untuk menahan diri, kebijaksanaan untuk memahami perspektif lawan, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Perang mungkin tentang kekuasaan.
Tetapi masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita mengelola kekuasaan itu dengan tanggung jawab.

Dan mungkin, di situlah pelajaran untuk kita semua. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Next Post

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co