Hakekat manusia yang berjiwa raga dalam proses penyelarasan akan selalu diawali dengan ke berlawanan, sebelum benar-benar bisa menyatukan jiwaraga dalam kehidupan, di dunia nyata, tak nyata.
Keberlawanan bisa dalam bentuk dua dimensi, tiga, empat lima, bahkan multi dimensi. Pengetahuan, dan pemahaman tentang keberlawanan bersifat alamiah sebagai bagian dari bawaan mahluk hidup.
Proses pengetahuan, pemahaman, dan akhirnya menjadi penghayatan ditentukan oleh takdir/karma (bagian dari DNA) , tempat, ruang, waktu, kondisi dan pilihan seseorang dalam menjalankan kehidupannya.
Penderita dan Penyembuh
Setiap manusia pastilah pernah menjadi penderita dalam beragam bentuk, jenis dan sifatnya, sebagai akibat penyatuan jiwa dengan raga.
Misalnya sejak masa kanak, seseorang menderita karena pendengaran, penglihatan, penciuman, pencecapan, pernafasan, makanan, perubahan cuaca, perhatian, keteladanan dan lain-lain.
Berkarma
Sebagai pribadi, seseorang yang mengalami, umumnya secara alami akan berusaha mengatasi penderitaannya.
Namun ketika ia memerlukan bantuan orang lain untuk menyembuhkan penderitaannya, berarti ia berkarma dengan yang membantunya. Karena manusia bersifat multi dimensi maka proses perjalanan berkarma ini akan bersifat bolak balik: penderita, bisa menjadi penyembuh, atau penyembuh bisa menjadi penderita.
Harmonisasi
Terbalikkan itu bisa berwujud teman dan musuh, laki dan perempuan, luar dan dalam, kaya dan miskin, tinggi dan rendah, kiri dan kanan, cinta dan benci, dan seterusnya.
Harmonisasi dari segala keterbalikan itu memerlukan proses panjang dan sangat panjang, dalam kehidupan bahkan dalam kelahiran demi kelahiran.
Tantangannya adalah kama/nafsu atau keinginan yang selalu bergerak ingin berlari, jiwa yang mengingkari raga.
Jadi, harmonisasi keberlawanan harus dimulai pada diam, hening, pada kesadaran sebagai jiwa raga.
Usaha pengharmonisan keberlawanan bisa dilakukan dengan cara paling sederhana, dimulai saat ini dari sini, dari diri sendiri, dari kesadaran untuk mengalami dan menghayati sebagai penderita sekaligus penyembuh.
Semoga pelajaran, kebaikan dan kesadaran datang dari segala penjuru. Salam kasih sepenuh jiwa. [T]


























