27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
February 24, 2026
in Esai
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Di Bali ada banyak komunitas, ikatan, atau organisasi tradisional.  Antropolog Clifford Geertz terpesona melihat orang Bali terpaut dalam begitu banyak kelompok atau ikatan atau organisasi tradisional seperti ikatan dadia (warga), banjar, dan seka. Ikatan atau seka ini kadang solid kadang juga renggang dengan struktur longgar.

Seka dibentuk sesuai dengan kepentingan anggotanya, diberikan nama sesuai aktivitasnya. Contohnya banyak seperti sekaa manyi (kelompok orang yang anggotanya menerima pekerjaan panen), subak (oranisasi petani berbasis irigasi), seka tuak (komunitas hobi minum tuak), seka semal (penangkap tupai), seka gong (kelompok gamelan), dan banyak lagi.

Sementara seka tradisional berkembang terus, organisasi modern yang belakangan juga disebut dengan organisasi massa (ormas) mulai muncul. Sejak kapankah Bali mulai mengenal ormas? Mengapa dibentuk? Apakah kegiatannya?

Ormas pertama yang muncul di Bali adalah Setiti Bali (Hidup Bali), tahun 1917. Michel Picard (1999) menyebutkan Setiti Bali sebagai ‘organisasi modern’, bolehlah disingkat ormon. Istilah ormon dipakai untuk membedakan dengan organisasi tradisional seperti sekaa-sekaa yang tentu sudah ada sebelum 1917.

Setiti Bali dibentuk dan dipimpin oleh I Gusti Cakra Tenaya, punggawa (Camat) Sukasada, Buleleng. Menurut Picard, Setiti Bali dibentuk untuk mengkonter Sarekat Islam yang mendirikan cabang di Singaraja.

Setiti Bali bubar tahun 1920, dilanjutkan ormon baru Suita Gama Tirta, dipimpin I Gusti Putu Jlantik, keturunan Raja Buleleng dan anggota Raad van Kerta Singaraja.  Lalu, tahun 1923 muncul organisasi Santi (Santy), didirikan bersama oleh Gusti Putu Jlantik, Cakra Tenaya, dan Ktut Nasa. Nama terakhir adalah seorang guru dari Bubunan, Buleleng.

Kehebatan Santi

Prestasi Santi cukup hebat, terbukti ormon ini berhasil mendirikan sekolah perempuan. Saat itu, jumlah perempuan bersekolah amat sedikit. Kehadiran sekolah perempuan Santi, mendorong remaja putri bersekolah.

Selain sekolah, Santi juga memberikan kursus gamelan dan latihan baca lontar dalam rangka memperdalam ajaran Hindu.

Prestasi luar biasa Santi adalah keberhasilannya menerbitkan kalawarta Santi Adnyana, koran pertama di Bali. Dari koran ini muncul penulis/jurnalis yang kelak berkiprah di media massa berikutnya.

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Organisasi Santi pecah karena tokoh-tokohnya berbeda pendapat dalam berbagai hal termasuk status kasta (jaba vs triwangsa).  Ktut Nasa, seorang jaba, keluar lalu menerbitkan koran Surya Kanta di bawah organisasi bernama sama Surya Kanta, dominan anggotanya kaum jaba. Sementara itu, I Gusti Cakra Tenaya menerbitkan koran Bali Adnyana, seolah sorong triwangsa. Polemik soal agama dan kasta berlangsung di kedua koran tersebut. Seru!!

Kedua koran ini hidup antara tahun 1924-1929. Yang menonjol dalam era lima tahun itu, bukanlah organisasinya, tetapi korannya. Pemerintah kolonial Belanda tidak khawatir dengan perselisihan pendapat yang sangat tajam di antara kedua kubu karena dapat menganggu stabilitas.

Bulan Mei 1926, pemerintah kolonial mensponsori berdirinya ormon yaitu Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali, sesuai namanya untuk semua wangsa dan menyatukan kelompok bertikai. Ketuanya adalah I Gusti Bagus Djelantik, Raja Karangasem, wakilnya adalah Cokorda Gde Raka Sukawati, punggawa Ubud, sedangkan IG Cakra Tenaya menjadi representatif Buleleng.

Organisasi Pelajar

Tahun 1920-an, murid Bali yang bersekolah di rantau Jawa juga membentuk organisasi pelajar yang disebut HUDVO (entah apa singkatannya, ‘O’-nya ‘onderwijs’). Saat liburan, anggota HUDVO pulang ke Bali menggelar pentas drama/tonil/ stambul di Singaraja dan Denpasar untuk menggali dana beasiswa agar lebih banyak lagi anak Bali bisa bersekolah ke Jawa. Tonil mereka pentas dalam bahasa Belanda atau Melayu atau Bali, tergantung penontonnya.

Tahun 1930-an, pelajar Bali membentuk organisasi Bali Dharma Laksana (BDL), yang kemudian menerbitkan majalah Djatajoe. Cabang BDL juga terbentuk di Yogya, anggotanya antara lain adalah I Gusti Made Djelantik (kemudian menjadi dokter dan kritikus seni) dan I Gusti Ngurah Rai (kemudian pahwalan revolusi). Selain menerbitkan majalah, ormon ini juga mendorong remaja untuk sekolah dan melakukan gerakan pemberantasan buta huruf (PBH).

Tahun 1938, anggota BDL mencapai 505 orang (di Bali dan Jawa), wajib berlangganan Djatajoe. Majalah kebudayaan berbahasa Indonesia ini menjadi wadah komunikasi bagi kaum intelektual waktu itu, para anggota BDL yang suka menulis.

Kalangan remaja putri Bali tak mau ketinggalan. Mereka juga membentuk ormon yang diberi nama Puteri Bali Sadar (PBS). Para pengurus PBS juga banyak yang menjadi anggota BDL, seperti suami/pacar mereka. Dengan mendirikan PBS, mereka bisa lebih fokus membantu nasib kaumnya lewat gerakan PBH.

Ketua PBS I Gusti Ayu Rapeg (istri IGP Merta anggota BDL), lewat tulisannya di Djatajoe mendesak pemerintah Belanda untuk mengeluarkan undang-undang perkawinan agar lelaki Bali tidak sekehendak hati berpoligami.

Ada banyak lagi organisasi modern yang dibentuk dan diikuti oleh kaum terdidik Bali. Tujuannya sebagian besar untuk memajukan pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu, mereka aktif menggali dana, lewat jual majalah atau pentas seni.

Ormon Seni

Selain organisasi modern, di Bali juag banyak organisasi seni, seperti Pitamaha yang dibentuk oleh Cokorda Gde Agung Sukawati bersama Walter Spies (Jerman) dan Rudolf Bonnet (Belanda) tahun 1936. Pitamaha antara lain bertujuan memajukan seni rupa Bali. Sesudah kemerdekaan, Cok Sukawati mendirikan Museum Puri Lukisan untuk mewujudkan cita-cita Pitamaha.

Spirit nasionalisme di kalangan pemuda Bali waktu itu masih bersifat kedaerahan atau etnonasionalisme. Spirit nasionalisme yang sesungguhnya baru tampak pada perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tahun 1950 merupakan tonggak penting kehidupan organisasi modern di Bali. Tanggal 14-17 April 1950, organisasi-organisasi pemuda di Bali menggelar Kongres Pemuda se-Bali di Denpasar. Seperti dilaporkan majalah Merdeka (No. 70, 20 Mei 1950, hlm. 7), delegasi kongres sepakat membentuk Kesatuan Pemuda Nasional Indonesia, yang memperjuangkan persatuan Indonesia sesuai dengan cita-cita UUD 1945 (Lihat ‘Kongres Pertama Pemuda Bali 1950, Seruan Kembali ke NKRI’, Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4).

Kehadiran organisasi pemuda atau ormas memang ditentukan oleh situasi kondisi saat dibentuk. Dewasa ini, banyak intelektual yang membentuk ormas untuk menjalankan cita-cita mereka, namun kadang citranya terlanjur tampak pragmatis, sampai rela berkelahi bahkan membunuh sesama warga Bali.

Meski ormas-ormas yang ada juga melakukan kegiatan sosial, citra yang lebih menonjol pada mereka adalah kekerasan daripada kegiatan sosialnya. Dalam situasi demikian, rasanya perlu kita bercermin dari ormon di Bali yang ada pada zaman kolonial yang berjuang memajukan pendidikan dengan tulus (I Nyoman Darma Putra). [T]

  • Versi awal tulisan ini dimuat di Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4, pendamping tulisan Dr. Suryadi berjudul “Kongres Pertama Pemuda Bali 1950: Seruan Kembali ke NKRI”

Penulis: Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bali Adnjanaintelektualkolonialorganisasiorganisasi modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Next Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co