BANYAK orang pernah mendengar kata jaran guyang, sebuah lontar yang berisi teks-teks kuno untuk memikat hati lawan jenis. Namun banyak juga yang tak pernah mengetahui dengan jelas apa sesungguhnya isi dari lontar itu.
Lontar jaran guyang itu ditemukan Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali ketika melakukan Utsawa (festival) Konsérvasi Lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di sebuah rumah di Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Sabtu, 14 Februari 2026.
Dalam kegiatan konservasi lontar itu Penyuluh Bahasa Bali berhasil mengkonservasi dan mengidenfikasi sebanyak 12 cakep lontar. Selain lontar Jaran Guyang, diidentifikasi juga adanya lontar Aji Sumedang, Dharma Usadha, Gaguritan Gagar Mayang, Kanda Pat Rare, Krakah Modre, Panerang Pangujanan, Pawacakan, Pawistren, Piwelas, Pralingga Bhatara Ring Sarira dan Ramayana Maarti.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali di Buleleng, Putu Pertamayasa, mengatakan semua cakep lontar itu yang diidentifikasi itu tergolong umum lontar yang umum, tidak ada yang spesifik, atau tak ada yang tergolong langka. Lontar Jaran Guyang yang membuat banyak orang penasaran itu pun juga termasuk lontar yang tergolong umum.
“Itu semua lontar itu tergolong umum, tak ada yang spesifik,” kata Pertamayasa.
Apa sesungguhnya isi dari lontar Jaran Guyang itu?


Pertamayasa yang akrab dipanggil Ama menjelaskan Jaran Guyang diadaptasi dari salah satu nama murid Calon Arang yang bernama Ni Guyang. Dalam teks-teks Kawiśeṣan, Ni Guyang dikatakan mampu mengubah wujudnya menjadi sosok kuda yang menyeramkan.
“Kata guyang berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuna yang berpadanan dengan berkubang. Barangkali Jaran Guyang berarti kuda yang berkubang,” kata Ama.
Lontar Jaran Guyang, kata Ama, merupakan salah satu jenis judul lontar-lontar Piwĕlas, lontar yang isinya tentang tutorial untuk membuat orang lain menjadi belas kasihan, simpati, terharu, tertarik, tertawan hati dan sejenisnya. Bila cinta ditolak maka Piwĕlas bisa menjadi jalan pintasnya.
“Jenis Piwĕlas merupakan bagian dari klasifikasi Kaṇḍa atau lontar-lontar yang memuat ajaran khusus,” ujar Ama.
Dalam praktiknya, menurut Ama, aplikasi Jaran Guyang menggunakan sarana-sarana tertentu, namun tidak akan diuraikan di sini. Jaran Guyang bila diaplikasikan oleh orang yang memumpuni atau tasak alias matang, maka akan menimbulkan ilusi bagi yang terkena efek.
Korban Jaran Guyang akan menjadi huyang (gelisah, nafsu meningkat); geger (geger, kebingungan); gawok (heran, takjub) saat memperhatikan fisik si pengguna ajian ini. Korban merasa senang bahagia ingin selalu bersama si pengguna. Si Pengguna Jaran Guyang mendapatkan kekuatan dari jiwa Kuda Betina, sedangkan si korban terkena ilusi dari jiwa Kuda Jantan.
“Jika Kuda Betina dan Kuda Jantan yang sedang gelisah, geger, takjub tinggal menunggu kuda-kudaan,” kata Ama.

Sebanyak 12 lontar yang diidentifikasi di Desa Suwug itu milik Kadek Wijadana. Lontar itu warisan dari kakeknya yang pernah berpesan agar lontar itu tetap dijaga.
Menurut Ama, kondisi lontar itu sebagian ada yang utuh, dan beberapa ada beberapa lembarannya yang hilang. Keluarga sebelumnya belum pernah melakukan perawatan secara serius, hanya pada saat Hari Saraswati kadang diturunkan untuk diupacarai.
Ama mengatakan, Penyuluh Bahasa Bali berencana akan melakukan kegiatan lanjutan dengan melakukan alih aksara terhadap lontar-lontar itu.
“Diharapkan program ini dapat berlanjut ke depannya agar masyarakat yg memiliki naskah dapat dilakukan konservasi dan identifikasi,” kata Ama. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























