Manusia Bali penting memiliki taksu sebagai kekuatan batin yang membentuk kualitas mental, karakter, dan kemampuan kerja pribadi (swagina). Tanpa taksu yang berpijak pada nilai agama dan karakter diri yang kuat, manusia sulit hidup eksis dan bermakna.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si saat menjadi narasumber Widyatula (Seminar) bertajuk “Parindikan Taksun Jadma Bali Nyujur Kaparipurnan Nganutin Teks-teks Lontar” dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (9/2/2026).
Seminar yang dipandu Ni Made Ari Dwijayanthi, S.S., M.Hum selaku moderator itu diikuti ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen perguruan tinggi di Bali, serta penyuluh Bahasa Bali.
Prof. Suka Yasa menjelaskan, taksu lahir dari keterhubungan antara karakter diri (swagina) dan pengabdian kerja atau profesi (swakarma). Jika keduanya dijalankan secara sungguh-sungguh dan selaras, maka kehidupan manusia akan dihidupi oleh guna-gina atau kekuatan spiritual.
Ia menyoroti perubahan pandangan manusia modern yang cenderung memandang bumi sebagai benda mati. Padahal dalam pandangan tradisi, bumi adalah entitas hidup yang menghidupi manusia sebagai bapa akasa dan ibu pertiwi. “Pandangan organis ini bergeser. Alam diperlakukan semena-mena, tanah dikapling untuk dijual, hutan dibabat, dan akhirnya memunculkan berbagai bencana,” ungkapnya.
Menurutnya, berbagai bencana alam merupakan respon dari perilaku manusia yang melanggar Rta atau hukum alam. Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali menekuni sastra dan teks-teks lontar, yang sejatinya telah memuat ajaran harmoni manusia dengan alam. “Yang penting adalah interpretasi sesuai zaman, dengan tetap berpijak pada desa kala patra,” imbuhnya.
Prof. Suka Yasa juga menekankan pentingnya menghidupkan ruang-ruang diskusi sastra atau ruang nyastra. Tidak sekadar membaca, tetapi juga berlatih untuk memperoleh pengalaman spiritual. “Selama ini kita baru membaca, belum disertai laku atau latihan, sehingga pemahaman spiritualnya tertunda,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, S.Ag., M.Si, mengatakan generasi muda, khususnya dari kalangan kampus, mulai membangkitkan taksunya dengan menyesuaikan konteks kekinian. Melalui Bulan Bahasa Bali, generasi muda diajak menghidupkan taksu lewat pelaksanaan nilai-nilai dharma, ketuhanan, dan sifat-sifat kedewaan.
Ia menegaskan, langkah awal membangkitkan taksu dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menjalankan Tri Kaya Parisuda sebagai dasar penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. “Tahapan awalnya adalah Pancayama Brata dan Panca Niyama Brata, sebelum masuk lebih dalam ke sastra,” jelasnya.
Menurutnya, sastra sejatinya dihidupkan dari dalam diri melalui kesadaran karakter dan pelaksanaan swadarma masing-masing. “Jalani semua itu bertahap, sesuai umur dan kemampuan. Laksanakan tugas sebaik-baiknya dengan terus belajar,” pesannya.
Ia juga mengapresiasi ajakan Prof. Suka Yasa untuk memperbanyak ruang diskusi. Menurutnya, diskusi sastra sudah tumbuh di banjar-banjar, sekaa-sekaa, dan komunitas belajar kakawin. “Tinggal bagaimana memperdalam pemahaman, dimulai dari hal sederhana menuju tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya. [T]



























