24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
January 12, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwear, ilustrasi wayang menghiasi poster konser musik, aksara lokal digunakan pada kemasan kopi kekinian, hingga ornamen etnik tampil percaya diri di feed insgatam anak muda.

Fenomena ini menjadi menarik, sebab desain tradisional sempat dianggap kuno, berat dan tidak relevan dengan selera generasi digital. Namun kini hadir kembali bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai bahasa visual yang baru. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa desain tradisional kembali populer di era yang begitu modern dan serba cepat?

Kejenuhan Visual Modern

Salah satu jawabannya bisa terletak pada kejenuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah visual yang nyaris seragam. Font sans serif yang mirip satu sama lain, palet warna netral, layout bersih dengan ruang kosong berlimpah, serta gaya minimalis yang diulang terus-menerus.

Gaya tersebut sering disebut dengan flat design. Flat Design merupakan gaya desain yang menonjolkan aspek pendekatan karakter minimalism (kesederhanaan), usefulness (kegunaan), dan cleanliness (kerapian) (Yasa, dkk. (2022:221). Sehingga dapat dikatakan bahwa desain yang dihasilkan nantinya akan terkesan sederhana dengan tampilan yang datar. Desain seperti itu memang fungsional dan efisien, tetapi pada titik tertentu ia kehilangan keunikan.

Di media sosial, kejenuhan mulai terasa. Saat kita scrolling layar handphone, banyak sekali kita jumpai konten visual hadir dengan gaya yang hampir sama. Di sinilah desain tradisonal menawarkan sesuatu yang berbeda. Membawa kesan detail, tekstur dan keberagaman akan bentuk, sehingga terasa “ramai” dan disitulah muncul daya tariknya. Desain tradisional menjadi semacam gerakan dari seorang desainer untuk menciptakan tren terhadap jenuhnya visual yang terlalu flat dan homogen.

Desain Tradisional sebagai Pembawa Cerita

Kalau coba kita amati kebanyakan desain modern beorientasi pada fungsi dan estetika semata, sedangkan desain tradisional bisa membawa cerita disitu. Seperti motif batik, ukiran atau ilustrasi tradisional tidak lahir dari ruang kosong. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai dan filosofi yang dapat diwariskan lintas generasi.

Di era komunikasi visual saat ini, audience mulai tertarik dengan makna di baliknya. Tidak lagi hanya mementingkan pada tampilan yang indah. Kita hidup di zaman di mana storytelling bisa menjadi point kunci. Definisi storytelling itu sendiri merupakan seni menggambarkan peristiwa nyata atau nonfiksi menggunakan gambar atau suara, termasuk pengalaman pribadi dan pembelajaran hidup (Oliver, 2008). Desain tradisional menawarkan narasi yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh template desain global. Karena dari setiap visual memiliki cerita yang terasa lebih manusiawi dan bermakna.

Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Hal ini berkaitan juga dengan popularitas desain tradisonal sebagai bentuk pencarian identitas. Globalisasi membuat batas budaya semakin kabur. Mulai dari brand, produk, bahkan gaya hidup sering kali terlihat serupa, tak peduli berasal dari negara mana. Dalam situasi ini, desain tradisional hadir sebagai penanda identitas visual yang membedakan. Seperti contoh brand lokal sepatu Aerostreet yang kolaborasi dengan “Wonderful Indonesia”, membuat sepatu dengan motif ukiran dan batik di Indonesia.

Bagi banyak kreator dan brand lokal, penggunaan elemen tradisional bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap. Ia menjadi cara untuk mengatakan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru, nilai lokal bisa menjadi kekuatan di tengah pasar global yang kompetitif.

Peran Generasi Muda dan Media Sosial

Salah satu poin menariknya, kebangkitan desain tradisional justru banyak dipelopori oleh generasi muda. Generasi ini yang lahir dan tumbuh di era digital justru tidak melihat tradisi ini sebagai sesuatu yang sakral dan kaku. Mereka berani mencoba berkreasi, memadukan dan mendistorsi visual tradisional agar sesuai dengan konteks zaman. Seperti beberapa brand lokal yang menggunakan model anak muda sebagai bentuk kampanyenya, seperti contoh dari brand Bateeq yang membuat pakaian bermotif batik untuk Laki-laki dan perempuan.

Tentu ini memberi citra bahwa anak muda tetap bisa tampil stylish walaupun menggunakan batik. Ditambah lagi adanya media sosial dapat dijadikan ruang promosi yang masif. Karena penggunanya didominasi oleh generasi muda, hal ini dapat secara tidak sadar dapat meng-       influence mereka untuk melihat bagaimana desain tradisional yang direinterpretasi menjadi gaya baru. Hasil ini tidak hanya sekedar “kembali ke masa lalu”, melainkan dialog antartradisi dan modernitas.

Tradisi yang Fleksibel dan Adaptif

Stigma tentang desain tradisional yang terkesan kaku dan tidak fleksibel perlahan mulai hilang. Justru sebaliknya, desain terbukti bisa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai medium, salah satunya dalam ranah fashion.

Ketika ditempatkan dan dikonsep secara matang, visual tradisional mampu berbicara dengan bahasa zaman sekarang. Di sini letak kekuatannya, tradisi tidak harus dibekukan untuk dilestarikan. Ia bisa bergerak, berubah dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Desain tradisional yang kembali populer hari ini adalah desain yang berani bernegosiasi dengan zaman.

Lebih dari Sekadar Tren Estetika

Kepopuleran desain tradisional bukan hanya masalah selera visual; itu adalah ekspresi dari keresahan, pencarian makna, dan kebutuhan akan identitas di dunia yang serba cepat. Dirancang untuk berfungsi sebagai alat untuk komunikasi sosial dan budaya, bukan hanya sebagai hiasan.

Ketika desain tradisional digunakan secara sadar dan kontekstual, ia bisa menjadi agen perubahan. Ia mengajak kita untuk melihat kembali akar budaya, menghargai proses dan memahami bahwa visual memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang.

Kesimpulan

Popularitas desain tradisional saat ini menunjukan satu hal yang penting; masa depan desain bukan soal memilih antara modern atau tradisional. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, kekuatan desain terletak pada dialog antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global.

Desain tradisional kembali populer karena ia mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa visual zaman sekarang. Selama ia terus dimaknai, diolah dan dikontekstualkan, tradisi tidak akan pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang dengan cara yang baru. [T]

Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaindesain tradisionalSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Next Post

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co