12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Bahaya Laten Ke(tidak)intiman Komunikasi dalam Perkawinan!

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
January 1, 2026
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Salah satu tantangan terbesar dalam perkawinan adalah ketika riak-riak kecil permasalahan berubah menjadi ombak badai yang mengguncangkan. Alih-alih bertukar ide dan gagasan penuh persuasi, justru berubah menjadi kesalingan yang saling menyakiti satu sama lain. 

Rangkaian kalimat yang diutarakan seolah seperti berondongan peluru yang dimuntahkan dari senapan laras panjang. Intonasi nada dan tatapan mata, ibarat belati yang menghunjam tanpa belas kasihan. Tidak hanya itu, bahkan pada titik tertentu marah dalam kesenyapan justru menjadi bom atom yang siap menghancurkan semua rasa yang pernah ada, nyaris tanpa sisa. 

Walhasil, perbedaan yang sesungguhnya masih bisa didialogkan, kehilangan kesempatan untuk menemukan titik kesepakatannya.  Relasi pasangan suami istri yang seharusnya penuh kelindan kasih sayang, justru terkadang terjebak dalam ruang saling melukai dan menimbulkan kekecewaan yang tak terperi.

Situasi ini berpotensi merentankan perkawinan ke tepi jurang kehancuran, termasuk memberi ruang kepada ‘orang ketiga’ memasuki benak dan rasa pada salah satu atau malah masing-masing pasangan. Hal ini sesungguhnya menarik untuk disimak. Mengapa perkawinan yang ‘katanya’ ruang persamuhan akan rasa kewelasasihan, justru laksana padang kurusetra yang siap meniadakan yang berseberangan?

Relasi Romantis yang Dinamis

Salah satu kekeliruan terbesar adalah membaca perkawinan sebagai akhir dari sebuah relasi romantis dua anak manusia. Mengapa demikian? Relasi romantis itu tidak bersifat linear, yang diawali dari perkenalan, merasakan adanya kedekatan, hingga saling terbuka satu sama lain dan memutuskan untuk mengokohkan komitmen dalam perkawinan. 

Relasi romantis, sejatinya bersifat sirkuler dan dinamis. Betul, bahwa perkawinan menjadi puncak tertinggi artikulasi komitmen akan kesetiaan terhadap pasangan. Namun demikian, perkawinan bukanlah melulu struktur belaka.  Padahal merujuk dari Segrin & Flora (2011) perkawinan sebagai bentuk keluarga, tidak hanya dari aspek struktur dan fungsi saja, melainkan juga sebagai sebuah interaksi. Atau dengan kata lain, perkawinan merupakan sebuah ‘ruang yang hidup’ di mana interaksi diantara pasangan suami istri akan senantiasa tak berkesudahan sejauh terikat konteks keseharian, harapan, dan tujuan yang diyakini bersama dalam perkawinan.  

Sehingga, naif bila perkawinan bersifat statis, karena hampir bisa dipastikan akan selalu cair bahkan sangat dinamis. Kemajemukan dan berkembangnya peran, yang awalnya adalah ‘dua orang yang saling jatuh cinta’ kemudian menjadi menantu bagi keluarga pasangannya, orangtua bagi anak, mertua dan besan ketika anak sudah menikah, bahkan menjadi kakek nenek! Ini sungguh menegaskan betapa relasi romantik pasangan suami istri tidak akan benar-benar sama di awal perkawinan.  Itu saja, baru dari konteks tambahan peran sebagai orangtua, belum lagi bila dikaitkan dengan usia, karir, relasi sosial dan keluarga besar, tentunya akan memberikan kompleksitas dan kerumitan tersendiri yang menyedot energi.

Nah, pada titik-titik di mana energi begitu tersedot, di situlah kerentanan emosi terjadi yang menyulut pertikaian di antara pasangan.  Walhasil, masing-masing pasangan tidak dapat mengendalikan pilihan verbal dan non-verbal dalam mengekspresikan perasaan dan pandangannya, sehingga disadari atau tidak menciderai perasaan pasangan. 

Pasangan kehilangan fokus dari menyampaikan pandangannya menjadi memaksakan perspektifnya. Pasangan tidak lagi menekankan pada urgensi dan rasionalisasi atas sudut pandangnya, melainkan terjebak dalam menegasikan pemikiran di luar yang diyakininya. Walhasil, kata-kata tidak lagi menjelaskan ide, gagasan, pemikiran dan perasaan melainkan menekankan pada kebenaran tunggal versi dirinya sekaligus menyatakan bahwa di luar versinya adalah sebuah kesalahan.

Parabahasa tidak lagi mengedepankan atensi dan afeksi yang bersifat kesalingan yang apresiatif, tapi tergoda untuk agitatif dan agresif.  Implikasinya jelas, masing-masing pasangan akan merasa terluka, karena dua hal, pertama, tersakiti oleh pilihan ucapan dan bahasa tubuh yang merendahkannya dan kedua, tersakiti karena dituturkan oleh orang yang dicintai. 

Belum lagi ketika ada pihak-pihak di luar perkawinan yang ikut campur, baik dengan niat baik ataupun ada niat tersembunyi di balik intervensinya.   Kerentanan ini semakin diperparah, ketika justru mencari pelarian dengan orang lain, dan mempersepsikan pelarian itu memberikan kenyamanan. Sangat mungkin, akibat dari komunikasi yang tersumbat, pilihan kata yang tidak menjaga perasaan dan memuliakan pasangan, menjadikan rasa cinta yang ada perlahan terkikis, tergerus, serta hambar.  Walhasil, perkawinan bukan lagi surga yang turun di bumi, melainkan neraka yang tercipta di dunia. 

Intimasi Melalui Komunikasi

Situasi ini, sekali lagi menjadi sangat rentan bagi keutuhan perkawinan, karena memicu pasangan untuk ‘malas’ membangun intimasi melalui komunikasi, yang muaranya meredupkan hasrat yang ada dan meresikokan komitmen yang selama ini dibangun. Padahal,  perilaku komunikasi sesungguhnya manifestasi dari proses mental yang berlangsung pada diri setiap individu, dan bertransformasi dalam olah verbal maupun non-verbal  (Widjanarko, 2025).

Lebih lanjut diungkapkan, bahwa hakikat dari komunikasi adalah persuasif serta membangun persepsi, sikap, dan perilaku yang diharapkan.  Komunikasi tidak hanya sebagai ruang pengiriman atau pertukaran pesan belaka, melainkan juga untuk ruang untuk memanusiawikan diri, yang tidak berada dalam ruang hampa budaya (Lusiana, 2025). 

Lebih spesifik lagi, dalam konteks komunikasi keluarga, maka interaksi menjadi landasan yang fundamental sekaligus pilar yang mengokohkan kelindan perasaan dan pikiran yang ada setiap anggota keluarga, termasuk di dalamnya adalah pasangan suami istri (Widjanarko, Marhaeni, dan Runtiko, 2023).

Lalu, bagaimana cara menatakelola keintiman komunikasi di dalam perkawinan, sehingga interaksi dapat berjalan secara sehat, harmonis, dan menyegarkan pasangan untuk senantiasa memadu kasih?

Berangkat dari pemikiran tersebut, maka dibutuhkan sebuah ikhtiar komunikasi diantara pasangan suami istri, baik yang baru memulai mahligai perkawinan atapun yang sudah makan asam garamnya bahtera rumah tangga. Harapannya, semua bisa didialogkan dengan ‘kepala dingin’ dan ‘kehangatan’ jiwa diantara keduanya, khususnya manakala terjadi perbedaan.

Pertama, setiap pasangan perlu melatih cara dalam menyampaikan pandangan yang potensial berbeda perspektifnya. Alih-alih ingin detail dan komprehensif, justru malahan terkadang yang disampaikan lebih terwarnai kebuncahan emosi dan tidak memberi kesempatan pasangannya untuk menyimak dengan utuh. 

Pilihlah waktu yang tepat serta situasi yang nyaman. Mulailah dengan memberikan gambaran situasi yang ada, kemudian mendeskripsikan alasan mengapa memiliki sudut pandang tersebut. Pastikan ada jeda, cermati bahasa tubuh pasangan, dan beri ruang kepada pasangan untuk memberi tanggapan selama dialog berlangsung.

Kedua, setiap pasangan perlu melatih cara dalam menyimak. Godaan terbesar saat menyimak adalah ketika kita mendengarkan untuk merespon, alih-alih untuk mencoba mengerti apa yang sesungguhnya disampaikan pasangan. Kita terjebak untuk seolah-olah mengerti apa yang dimaksudkan dan melakukan simplifikasi dalam menyimpulkan pesan berdasarkan sudut pandang kita sendiri.  Mulailah mendengarkan dengan bahasa tubuh yang supportif, jangan tergesa-gesa menafsirkan sebelum pesan itu utuh tersampaikan, peka dengan kebutuhan pasangan, apakah dia ingin mendapatkan solusi, ataukan dia lebih ingin untuk didengarkan.

Ketiga, setiap pasangan perlu berempati dengan kemungkinan ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari gaya komunikasi masing-masing. Setiap pasangan kita dibesarkan dengan pola komunikasi keluarga yang berbeda-beda. Maka, menjadi penting untuk saling mengenal dan mendalami pola dan gayanya, sehingga proses komunikasi menjadi lebih mengena sekaligus efektif.

Bayangkan, ketika salah satu dibesarkan dengan gaya demokratis bertemu dengan pasangan yang diasuh dengan gaya otoritatif, tentu diperlukan penyelarasan terlebih dahulu, bila tidak ingin terjadi situasi yang malah menjadi konfrontatif.  Setiap pasangan kiranya perlu menjadi lebih terbuka menceritakan bagaimana di masa kecil mereka diasuh, dibesarkan dan cara komunikasi masing-masing, sehingga menjadi lebih memahami alih-alih menghakimi.

Berada dalam ikatan perkawinan, sejatinya adalah menjadi ada dan mengada pada  ruang dan waktu yang akan dihabiskan melalui mekanisme negosiasi dua pribadi yang berbeda,  namun bersepakat untuk menjalankan kehidupan bersama.  Perkawinan adalah momentum terindah bagi dua anak manusia yang saling menggenapkan kehidupannya dengan keberadaan pasangannya.

Otentisitas yang dimiliki masing-masing pasangan, tentunya akan menjadi kekuatan yang menyempurnakan kebahagiaan dan menguatkan keyakinan mengapa perkawinan ini dipilih, dijalani, dan dipertahankan.  Keintiman komunikasi akan memampukan pasangan menjaga daya pikatnya masing-masing, merayakan keberbagian pikiran dan perasaan yang dimiliki tanpa meniadakan perbedaan setiap pasangan sebagai sebuah keterberian.

Maka, jangan pernah ragu untuk membangun keintiman komunikasi sedini mungkin, menjaganya agar tak berkesudahan, sehingga memaknai perspektif yang berbeda menjadi dinamika yang menggelorakan asmaradahana yang ada alih-alih sebagai pemantik konflik berkepanjangan. [T]

Tags: komunikasiperkawinansuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Next Post

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran ---Membaca Tahun dari Barat Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co