“SAJAA?” Di Jembrana, kata itu tidak sekadar berarti benarkah? Ia adalah cara orang-orang di Bali Barat menjaga jarak dari kabar yang terlalu cepat dipercaya. Sebuah jeda sebelum menyimpulkan. Sebuah sikap hati-hati terhadap cerita yang datang dari luar kampung. Maka ketika narasi “Bali sepi” beredar menjelang dan selama libur Natal dan Tahun Baru 2026, kata itulah yang pertama kali terlintas di kepala saya.
Sajaa Bali sepi?
Pertanyaan ini terasa penting, sebab selama ini Bali kerap dipersempit menjadi satu wajah saja. Bali dianggap Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, wilayah yang oleh para perencana disebut Sarbagita. Di sanalah bandara, hotel berbintang, beach club, pusat hiburan, dan kemacetan berkumpul. Di sanalah kamera promosi diarahkan. Di sanalah denyut pariwisata Bali seolah berpusat.
Padahal Bali tidak hanya Sarbagita. Ada Karangasem di timur, Buleleng di utara, Jembrana di barat, dan Klungkung yang menyimpan sejarah panjang. Wilayah-wilayah ini kerap hadir sebagai Bali “lain”, seolah berada di luar lingkar utama pariwisata. Ada, tetapi tidak sepenuhnya dianggap.
Narasi “Bali sepi” hampir selalu lahir dari Bali Selatan. Dari hotel-hotel yang kamar kosongnya tampak di aplikasi pemesanan. Dari video pantai yang tidak lagi sesak. Dari jalanan yang, untuk ukuran Badung dan Denpasar, terasa lebih lengang. Lalu kesimpulan pun ditarik dengan cepat, bahwa Bali sedang lesu.
Masalahnya, Bali bukan satu titik koordinat.
Statistik justru berkata sebaliknya. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali meningkat dibanding 2024. Wisatawan mancanegara mendekati angka tujuh juta, wisatawan domestik juga naik. Pemerintah Provinsi Bali bahkan secara terbuka membantah isu Bali sepi. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut narasi tersebut sebagai hoaks karena tidak sesuai dengan data resmi. Secara angka, Bali tidak sedang ditinggalkan.
Namun statistik punya keterbatasan. Ia berbicara tentang jumlah, bukan sebaran. Ia menjelaskan tren, tetapi tidak selalu mampu menangkap pengalaman sehari-hari. Di sinilah jarak antara data dan perasaan mulai terasa.
Dari Jembrana, pertanyaan “Bali sepi atau ramai” terdengar agak asing. Bukan karena Jembrana steril dari pariwisata, tetapi karena kehidupan di sini tidak sepenuhnya bergantung pada grafik kunjungan wisatawan. Sawah masih menjadi lanskap utama. Kebun, ladang, dan hutan masih menjadi penyangga hidup. Orang-orang tetap bekerja dari apa yang mereka tanam dan rawat.
Pantai-pantai di Jembrana indah. Hutan-hutannya lebat. Bukit-bukitnya menawarkan lanskap yang tidak kalah eksotis dibanding Bali Selatan. Tetapi pariwisata di sini hadir sebagai lapisan tambahan, bukan fondasi utama. Karena itu, ketika Bali Selatan cemas oleh isu sepi, di Jembrana isu itu lebih sering berakhir sebagai obrolan ringan di warung kopi.
“Katanya di Badung agak sepi,” ujar seseorang, lalu percakapan beralih ke pupuk, cuaca, atau kabar anaknya yang bekerja di hotel.
Narasi Bali sepi tidak mengubah cara mereka bangun pagi.
Kesan sepi yang dirasakan sebagian orang sesungguhnya berkaitan erat dengan ketimpangan pariwisata. Pariwisata Bali sejak lama terpusat di selatan. Infrastruktur, promosi, dan investasi berputar di wilayah yang sama. Akibatnya, Bali Selatan menjadi terlalu padat, terlalu sibuk, dan pada titik tertentu, melelahkan.
Kemacetan menjadi rutinitas. Kendaraan pribadi membanjiri jalan-jalan sempit. Transportasi publik tak pernah sungguh-sungguh dibangun sebagai solusi. Kita membangun hotel dan vila, tetapi lupa membangun sistem mobilitas yang adil. Bali Selatan tumbuh cepat, tetapi rapuh.
Sebaliknya, Bali Barat, Utara, dan Timur tetap berada di pinggir peta. Bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak menjadi pusat perhatian. Ketika Bali Selatan penuh, Bali dianggap ramai. Ketika Bali Selatan lengang, Bali dianggap sepi. Bali seolah direduksi menjadi satu wajah saja.
Apakah ketimpangan ini murni persoalan ekonomi? Ataukah ada pilihan politik di baliknya? Entahlah. Pertanyaan itu layak diajukan, tetapi tidak harus segera dijawab. Yang jelas, pemusatan pariwisata telah menciptakan ilusi kolektif tentang Bali.
Pandemi COVID-19 memberi pelajaran yang sangat gamblang. Ketika pariwisata runtuh, Bali Selatan terguncang keras. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, ekonomi tersendat. Tetapi di wilayah seperti Jembrana, Karangasem, dan Buleleng, kehidupan tidak sepenuhnya berhenti. Pertanian dan sumber daya lokal menjadi bantalan sosial yang nyata.
Orang Bali bertahan karena masih punya sawah dan kebun. Mereka bisa kembali ke tanah ketika industri pariwisata kolaps. Pandemi memperlihatkan bahwa pariwisata bukan satu-satunya jalan hidup, meski sering diperlakukan seolah demikian.
Ironisnya, setelah pandemi berlalu, orientasi pembangunan kembali ke titik semula. Bali Selatan kembali digenjot. Bali lain kembali menjadi latar. Kita seolah tidak benar-benar belajar.
Karena itu, narasi “Bali sepi” sesungguhnya mengungkap kegelisahan wilayah yang terlalu bergantung pada satu sektor. Yang goyah bukan pulau ini secara keseluruhan, melainkan pusat yang terlalu dibebani.
Dari Jembrana, Bali hari ini tampak berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia tidak euforia, tetapi juga tidak muram. Sawah tetap hijau. Ladang tetap digarap. Upacara adat tetap berlangsung. Pariwisata datang dan pergi tanpa mengguncang fondasi kehidupan.
Ini bukan Bali yang sering muncul di media. Ini Bali yang jarang masuk headline. Bali yang tidak diukur dari okupansi hotel, tetapi dari keberlanjutan hidup warganya.
Mungkin inilah yang membuat narasi Bali sepi terasa janggal jika dilihat dari sini. Sepi atau ramai pariwisata tidak serta-merta menentukan rasa aman orang-orang di desa. Yang lebih menentukan adalah apakah tanah masih bisa ditanami, apakah air masih mengalir, dan apakah kehidupan tetap bisa dilanjutkan.
“Sajaa Bali sepi?” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang pariwisata, tetapi tentang cara kita memandang Bali. Sajaa kita selama ini terlalu lama melihat Bali dari selatan saja. Sajaa kita lupa bahwa pulau ini memiliki banyak wajah, banyak ritme, dan banyak cara hidup.
Jika pariwisata Bali ingin berkelanjutan, barangkali jawabannya bukan menambah hotel di wilayah yang sudah padat, tetapi mengubah cara kita membagi perhatian. Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur bukan Bali kelas dua. Mereka adalah bagian utuh dari pulau ini, dengan potensi dan cara hidupnya sendiri.
Dari Jembrana, saya belajar bahwa sepi dan ramai bukan selalu soal jumlah manusia yang datang, tetapi soal ketahanan hidup ketika mereka pergi. Bali tidak sepi. Yang ada adalah Bali yang terlalu lama dipersempit maknanya.
Sajaa? Benarkah Bali sepi? Atau kita hanya terlalu lama memandang Bali dari arah yang sama. [T]


























