6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sajaa” Bali Sepi? –Melihat Bali dari Jembrana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 26, 2025
in Esai
“Sajaa” Bali Sepi?  –Melihat Bali dari Jembrana

“SAJAA?” Di Jembrana, kata itu tidak sekadar berarti benarkah? Ia adalah cara orang-orang di Bali Barat menjaga jarak dari kabar yang terlalu cepat dipercaya. Sebuah jeda sebelum menyimpulkan. Sebuah sikap hati-hati terhadap cerita yang datang dari luar kampung. Maka ketika narasi “Bali sepi” beredar menjelang dan selama libur Natal dan Tahun Baru 2026, kata itulah yang pertama kali terlintas di kepala saya.

Sajaa Bali sepi?

Pertanyaan ini terasa penting, sebab selama ini Bali kerap dipersempit menjadi satu wajah saja. Bali dianggap Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, wilayah yang oleh para perencana disebut Sarbagita. Di sanalah bandara, hotel berbintang, beach club, pusat hiburan, dan kemacetan berkumpul. Di sanalah kamera promosi diarahkan. Di sanalah denyut pariwisata Bali seolah berpusat.

Padahal Bali tidak hanya Sarbagita. Ada Karangasem di timur, Buleleng di utara, Jembrana di barat, dan Klungkung yang menyimpan sejarah panjang. Wilayah-wilayah ini kerap hadir sebagai Bali “lain”, seolah berada di luar lingkar utama pariwisata. Ada, tetapi tidak sepenuhnya dianggap.

Narasi “Bali sepi” hampir selalu lahir dari Bali Selatan. Dari hotel-hotel yang kamar kosongnya tampak di aplikasi pemesanan. Dari video pantai yang tidak lagi sesak. Dari jalanan yang, untuk ukuran Badung dan Denpasar, terasa lebih lengang. Lalu kesimpulan pun ditarik dengan cepat, bahwa Bali sedang lesu.

Masalahnya, Bali bukan satu titik koordinat.

Statistik justru berkata sebaliknya. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali meningkat dibanding 2024. Wisatawan mancanegara mendekati angka tujuh juta, wisatawan domestik juga naik. Pemerintah Provinsi Bali bahkan secara terbuka membantah isu Bali sepi. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut narasi tersebut sebagai hoaks karena tidak sesuai dengan data resmi. Secara angka, Bali tidak sedang ditinggalkan.

Namun statistik punya keterbatasan. Ia berbicara tentang jumlah, bukan sebaran. Ia menjelaskan tren, tetapi tidak selalu mampu menangkap pengalaman sehari-hari. Di sinilah jarak antara data dan perasaan mulai terasa.

Dari Jembrana, pertanyaan “Bali sepi atau ramai” terdengar agak asing. Bukan karena Jembrana steril dari pariwisata, tetapi karena kehidupan di sini tidak sepenuhnya bergantung pada grafik kunjungan wisatawan. Sawah masih menjadi lanskap utama. Kebun, ladang, dan hutan masih menjadi penyangga hidup. Orang-orang tetap bekerja dari apa yang mereka tanam dan rawat.

Pantai-pantai di Jembrana indah. Hutan-hutannya lebat. Bukit-bukitnya menawarkan lanskap yang tidak kalah eksotis dibanding Bali Selatan. Tetapi pariwisata di sini hadir sebagai lapisan tambahan, bukan fondasi utama. Karena itu, ketika Bali Selatan cemas oleh isu sepi, di Jembrana isu itu lebih sering berakhir sebagai obrolan ringan di warung kopi.

“Katanya di Badung agak sepi,” ujar seseorang, lalu percakapan beralih ke pupuk, cuaca, atau kabar anaknya yang bekerja di hotel.

Narasi Bali sepi tidak mengubah cara mereka bangun pagi.

Kesan sepi yang dirasakan sebagian orang sesungguhnya berkaitan erat dengan ketimpangan pariwisata. Pariwisata Bali sejak lama terpusat di selatan. Infrastruktur, promosi, dan investasi berputar di wilayah yang sama. Akibatnya, Bali Selatan menjadi terlalu padat, terlalu sibuk, dan pada titik tertentu, melelahkan.

Kemacetan menjadi rutinitas. Kendaraan pribadi membanjiri jalan-jalan sempit. Transportasi publik tak pernah sungguh-sungguh dibangun sebagai solusi. Kita membangun hotel dan vila, tetapi lupa membangun sistem mobilitas yang adil. Bali Selatan tumbuh cepat, tetapi rapuh.

Sebaliknya, Bali Barat, Utara, dan Timur tetap berada di pinggir peta. Bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak menjadi pusat perhatian. Ketika Bali Selatan penuh, Bali dianggap ramai. Ketika Bali Selatan lengang, Bali dianggap sepi. Bali seolah direduksi menjadi satu wajah saja.

Apakah ketimpangan ini murni persoalan ekonomi? Ataukah ada pilihan politik di baliknya? Entahlah. Pertanyaan itu layak diajukan, tetapi tidak harus segera dijawab. Yang jelas, pemusatan pariwisata telah menciptakan ilusi kolektif tentang Bali.

Pandemi COVID-19 memberi pelajaran yang sangat gamblang. Ketika pariwisata runtuh, Bali Selatan terguncang keras. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, ekonomi tersendat. Tetapi di wilayah seperti Jembrana, Karangasem, dan Buleleng, kehidupan tidak sepenuhnya berhenti. Pertanian dan sumber daya lokal menjadi bantalan sosial yang nyata.

Orang Bali bertahan karena masih punya sawah dan kebun. Mereka bisa kembali ke tanah ketika industri pariwisata kolaps. Pandemi memperlihatkan bahwa pariwisata bukan satu-satunya jalan hidup, meski sering diperlakukan seolah demikian.

Ironisnya, setelah pandemi berlalu, orientasi pembangunan kembali ke titik semula. Bali Selatan kembali digenjot. Bali lain kembali menjadi latar. Kita seolah tidak benar-benar belajar.

Karena itu, narasi “Bali sepi” sesungguhnya mengungkap kegelisahan wilayah yang terlalu bergantung pada satu sektor. Yang goyah bukan pulau ini secara keseluruhan, melainkan pusat yang terlalu dibebani.

Dari Jembrana, Bali hari ini tampak berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia tidak euforia, tetapi juga tidak muram. Sawah tetap hijau. Ladang tetap digarap. Upacara adat tetap berlangsung. Pariwisata datang dan pergi tanpa mengguncang fondasi kehidupan.

Ini bukan Bali yang sering muncul di media. Ini Bali yang jarang masuk headline. Bali yang tidak diukur dari okupansi hotel, tetapi dari keberlanjutan hidup warganya.

Mungkin inilah yang membuat narasi Bali sepi terasa janggal jika dilihat dari sini. Sepi atau ramai pariwisata tidak serta-merta menentukan rasa aman orang-orang di desa. Yang lebih menentukan adalah apakah tanah masih bisa ditanami, apakah air masih mengalir, dan apakah kehidupan tetap bisa dilanjutkan.

“Sajaa Bali sepi?” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang pariwisata, tetapi tentang cara kita memandang Bali. Sajaa kita selama ini terlalu lama melihat Bali dari selatan saja. Sajaa kita lupa bahwa pulau ini memiliki banyak wajah, banyak ritme, dan banyak cara hidup.

Jika pariwisata Bali ingin berkelanjutan, barangkali jawabannya bukan menambah hotel di wilayah yang sudah padat, tetapi mengubah cara kita membagi perhatian. Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur bukan Bali kelas dua. Mereka adalah bagian utuh dari pulau ini, dengan potensi dan cara hidupnya sendiri.

Dari Jembrana, saya belajar bahwa sepi dan ramai bukan selalu soal jumlah manusia yang datang, tetapi soal ketahanan hidup ketika mereka pergi. Bali tidak sepi. Yang ada adalah Bali yang terlalu lama dipersempit maknanya.

Sajaa? Benarkah Bali sepi? Atau kita hanya terlalu lama memandang Bali dari arah yang sama. [T]

Tags: balijembranaPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Sekadar Piala, Prestasi di Bangku Sekolah Punya Makna Tersendiri di Hati Aiko

Next Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta  |  Bencana Ekologis

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co