26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sajaa” Bali Sepi? –Melihat Bali dari Jembrana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 26, 2025
in Esai
“Sajaa” Bali Sepi?  –Melihat Bali dari Jembrana

“SAJAA?” Di Jembrana, kata itu tidak sekadar berarti benarkah? Ia adalah cara orang-orang di Bali Barat menjaga jarak dari kabar yang terlalu cepat dipercaya. Sebuah jeda sebelum menyimpulkan. Sebuah sikap hati-hati terhadap cerita yang datang dari luar kampung. Maka ketika narasi “Bali sepi” beredar menjelang dan selama libur Natal dan Tahun Baru 2026, kata itulah yang pertama kali terlintas di kepala saya.

Sajaa Bali sepi?

Pertanyaan ini terasa penting, sebab selama ini Bali kerap dipersempit menjadi satu wajah saja. Bali dianggap Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, wilayah yang oleh para perencana disebut Sarbagita. Di sanalah bandara, hotel berbintang, beach club, pusat hiburan, dan kemacetan berkumpul. Di sanalah kamera promosi diarahkan. Di sanalah denyut pariwisata Bali seolah berpusat.

Padahal Bali tidak hanya Sarbagita. Ada Karangasem di timur, Buleleng di utara, Jembrana di barat, dan Klungkung yang menyimpan sejarah panjang. Wilayah-wilayah ini kerap hadir sebagai Bali “lain”, seolah berada di luar lingkar utama pariwisata. Ada, tetapi tidak sepenuhnya dianggap.

Narasi “Bali sepi” hampir selalu lahir dari Bali Selatan. Dari hotel-hotel yang kamar kosongnya tampak di aplikasi pemesanan. Dari video pantai yang tidak lagi sesak. Dari jalanan yang, untuk ukuran Badung dan Denpasar, terasa lebih lengang. Lalu kesimpulan pun ditarik dengan cepat, bahwa Bali sedang lesu.

Masalahnya, Bali bukan satu titik koordinat.

Statistik justru berkata sebaliknya. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali meningkat dibanding 2024. Wisatawan mancanegara mendekati angka tujuh juta, wisatawan domestik juga naik. Pemerintah Provinsi Bali bahkan secara terbuka membantah isu Bali sepi. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut narasi tersebut sebagai hoaks karena tidak sesuai dengan data resmi. Secara angka, Bali tidak sedang ditinggalkan.

Namun statistik punya keterbatasan. Ia berbicara tentang jumlah, bukan sebaran. Ia menjelaskan tren, tetapi tidak selalu mampu menangkap pengalaman sehari-hari. Di sinilah jarak antara data dan perasaan mulai terasa.

Dari Jembrana, pertanyaan “Bali sepi atau ramai” terdengar agak asing. Bukan karena Jembrana steril dari pariwisata, tetapi karena kehidupan di sini tidak sepenuhnya bergantung pada grafik kunjungan wisatawan. Sawah masih menjadi lanskap utama. Kebun, ladang, dan hutan masih menjadi penyangga hidup. Orang-orang tetap bekerja dari apa yang mereka tanam dan rawat.

Pantai-pantai di Jembrana indah. Hutan-hutannya lebat. Bukit-bukitnya menawarkan lanskap yang tidak kalah eksotis dibanding Bali Selatan. Tetapi pariwisata di sini hadir sebagai lapisan tambahan, bukan fondasi utama. Karena itu, ketika Bali Selatan cemas oleh isu sepi, di Jembrana isu itu lebih sering berakhir sebagai obrolan ringan di warung kopi.

“Katanya di Badung agak sepi,” ujar seseorang, lalu percakapan beralih ke pupuk, cuaca, atau kabar anaknya yang bekerja di hotel.

Narasi Bali sepi tidak mengubah cara mereka bangun pagi.

Kesan sepi yang dirasakan sebagian orang sesungguhnya berkaitan erat dengan ketimpangan pariwisata. Pariwisata Bali sejak lama terpusat di selatan. Infrastruktur, promosi, dan investasi berputar di wilayah yang sama. Akibatnya, Bali Selatan menjadi terlalu padat, terlalu sibuk, dan pada titik tertentu, melelahkan.

Kemacetan menjadi rutinitas. Kendaraan pribadi membanjiri jalan-jalan sempit. Transportasi publik tak pernah sungguh-sungguh dibangun sebagai solusi. Kita membangun hotel dan vila, tetapi lupa membangun sistem mobilitas yang adil. Bali Selatan tumbuh cepat, tetapi rapuh.

Sebaliknya, Bali Barat, Utara, dan Timur tetap berada di pinggir peta. Bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak menjadi pusat perhatian. Ketika Bali Selatan penuh, Bali dianggap ramai. Ketika Bali Selatan lengang, Bali dianggap sepi. Bali seolah direduksi menjadi satu wajah saja.

Apakah ketimpangan ini murni persoalan ekonomi? Ataukah ada pilihan politik di baliknya? Entahlah. Pertanyaan itu layak diajukan, tetapi tidak harus segera dijawab. Yang jelas, pemusatan pariwisata telah menciptakan ilusi kolektif tentang Bali.

Pandemi COVID-19 memberi pelajaran yang sangat gamblang. Ketika pariwisata runtuh, Bali Selatan terguncang keras. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, ekonomi tersendat. Tetapi di wilayah seperti Jembrana, Karangasem, dan Buleleng, kehidupan tidak sepenuhnya berhenti. Pertanian dan sumber daya lokal menjadi bantalan sosial yang nyata.

Orang Bali bertahan karena masih punya sawah dan kebun. Mereka bisa kembali ke tanah ketika industri pariwisata kolaps. Pandemi memperlihatkan bahwa pariwisata bukan satu-satunya jalan hidup, meski sering diperlakukan seolah demikian.

Ironisnya, setelah pandemi berlalu, orientasi pembangunan kembali ke titik semula. Bali Selatan kembali digenjot. Bali lain kembali menjadi latar. Kita seolah tidak benar-benar belajar.

Karena itu, narasi “Bali sepi” sesungguhnya mengungkap kegelisahan wilayah yang terlalu bergantung pada satu sektor. Yang goyah bukan pulau ini secara keseluruhan, melainkan pusat yang terlalu dibebani.

Dari Jembrana, Bali hari ini tampak berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia tidak euforia, tetapi juga tidak muram. Sawah tetap hijau. Ladang tetap digarap. Upacara adat tetap berlangsung. Pariwisata datang dan pergi tanpa mengguncang fondasi kehidupan.

Ini bukan Bali yang sering muncul di media. Ini Bali yang jarang masuk headline. Bali yang tidak diukur dari okupansi hotel, tetapi dari keberlanjutan hidup warganya.

Mungkin inilah yang membuat narasi Bali sepi terasa janggal jika dilihat dari sini. Sepi atau ramai pariwisata tidak serta-merta menentukan rasa aman orang-orang di desa. Yang lebih menentukan adalah apakah tanah masih bisa ditanami, apakah air masih mengalir, dan apakah kehidupan tetap bisa dilanjutkan.

“Sajaa Bali sepi?” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang pariwisata, tetapi tentang cara kita memandang Bali. Sajaa kita selama ini terlalu lama melihat Bali dari selatan saja. Sajaa kita lupa bahwa pulau ini memiliki banyak wajah, banyak ritme, dan banyak cara hidup.

Jika pariwisata Bali ingin berkelanjutan, barangkali jawabannya bukan menambah hotel di wilayah yang sudah padat, tetapi mengubah cara kita membagi perhatian. Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur bukan Bali kelas dua. Mereka adalah bagian utuh dari pulau ini, dengan potensi dan cara hidupnya sendiri.

Dari Jembrana, saya belajar bahwa sepi dan ramai bukan selalu soal jumlah manusia yang datang, tetapi soal ketahanan hidup ketika mereka pergi. Bali tidak sepi. Yang ada adalah Bali yang terlalu lama dipersempit maknanya.

Sajaa? Benarkah Bali sepi? Atau kita hanya terlalu lama memandang Bali dari arah yang sama. [T]

Tags: balijembranaPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Sekadar Piala, Prestasi di Bangku Sekolah Punya Makna Tersendiri di Hati Aiko

Next Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta  |  Bencana Ekologis

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co