16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sajaa” Bali Sepi? –Melihat Bali dari Jembrana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 26, 2025
in Esai
“Sajaa” Bali Sepi?  –Melihat Bali dari Jembrana

“SAJAA?” Di Jembrana, kata itu tidak sekadar berarti benarkah? Ia adalah cara orang-orang di Bali Barat menjaga jarak dari kabar yang terlalu cepat dipercaya. Sebuah jeda sebelum menyimpulkan. Sebuah sikap hati-hati terhadap cerita yang datang dari luar kampung. Maka ketika narasi “Bali sepi” beredar menjelang dan selama libur Natal dan Tahun Baru 2026, kata itulah yang pertama kali terlintas di kepala saya.

Sajaa Bali sepi?

Pertanyaan ini terasa penting, sebab selama ini Bali kerap dipersempit menjadi satu wajah saja. Bali dianggap Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, wilayah yang oleh para perencana disebut Sarbagita. Di sanalah bandara, hotel berbintang, beach club, pusat hiburan, dan kemacetan berkumpul. Di sanalah kamera promosi diarahkan. Di sanalah denyut pariwisata Bali seolah berpusat.

Padahal Bali tidak hanya Sarbagita. Ada Karangasem di timur, Buleleng di utara, Jembrana di barat, dan Klungkung yang menyimpan sejarah panjang. Wilayah-wilayah ini kerap hadir sebagai Bali “lain”, seolah berada di luar lingkar utama pariwisata. Ada, tetapi tidak sepenuhnya dianggap.

Narasi “Bali sepi” hampir selalu lahir dari Bali Selatan. Dari hotel-hotel yang kamar kosongnya tampak di aplikasi pemesanan. Dari video pantai yang tidak lagi sesak. Dari jalanan yang, untuk ukuran Badung dan Denpasar, terasa lebih lengang. Lalu kesimpulan pun ditarik dengan cepat, bahwa Bali sedang lesu.

Masalahnya, Bali bukan satu titik koordinat.

Statistik justru berkata sebaliknya. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali meningkat dibanding 2024. Wisatawan mancanegara mendekati angka tujuh juta, wisatawan domestik juga naik. Pemerintah Provinsi Bali bahkan secara terbuka membantah isu Bali sepi. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut narasi tersebut sebagai hoaks karena tidak sesuai dengan data resmi. Secara angka, Bali tidak sedang ditinggalkan.

Namun statistik punya keterbatasan. Ia berbicara tentang jumlah, bukan sebaran. Ia menjelaskan tren, tetapi tidak selalu mampu menangkap pengalaman sehari-hari. Di sinilah jarak antara data dan perasaan mulai terasa.

Dari Jembrana, pertanyaan “Bali sepi atau ramai” terdengar agak asing. Bukan karena Jembrana steril dari pariwisata, tetapi karena kehidupan di sini tidak sepenuhnya bergantung pada grafik kunjungan wisatawan. Sawah masih menjadi lanskap utama. Kebun, ladang, dan hutan masih menjadi penyangga hidup. Orang-orang tetap bekerja dari apa yang mereka tanam dan rawat.

Pantai-pantai di Jembrana indah. Hutan-hutannya lebat. Bukit-bukitnya menawarkan lanskap yang tidak kalah eksotis dibanding Bali Selatan. Tetapi pariwisata di sini hadir sebagai lapisan tambahan, bukan fondasi utama. Karena itu, ketika Bali Selatan cemas oleh isu sepi, di Jembrana isu itu lebih sering berakhir sebagai obrolan ringan di warung kopi.

“Katanya di Badung agak sepi,” ujar seseorang, lalu percakapan beralih ke pupuk, cuaca, atau kabar anaknya yang bekerja di hotel.

Narasi Bali sepi tidak mengubah cara mereka bangun pagi.

Kesan sepi yang dirasakan sebagian orang sesungguhnya berkaitan erat dengan ketimpangan pariwisata. Pariwisata Bali sejak lama terpusat di selatan. Infrastruktur, promosi, dan investasi berputar di wilayah yang sama. Akibatnya, Bali Selatan menjadi terlalu padat, terlalu sibuk, dan pada titik tertentu, melelahkan.

Kemacetan menjadi rutinitas. Kendaraan pribadi membanjiri jalan-jalan sempit. Transportasi publik tak pernah sungguh-sungguh dibangun sebagai solusi. Kita membangun hotel dan vila, tetapi lupa membangun sistem mobilitas yang adil. Bali Selatan tumbuh cepat, tetapi rapuh.

Sebaliknya, Bali Barat, Utara, dan Timur tetap berada di pinggir peta. Bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak menjadi pusat perhatian. Ketika Bali Selatan penuh, Bali dianggap ramai. Ketika Bali Selatan lengang, Bali dianggap sepi. Bali seolah direduksi menjadi satu wajah saja.

Apakah ketimpangan ini murni persoalan ekonomi? Ataukah ada pilihan politik di baliknya? Entahlah. Pertanyaan itu layak diajukan, tetapi tidak harus segera dijawab. Yang jelas, pemusatan pariwisata telah menciptakan ilusi kolektif tentang Bali.

Pandemi COVID-19 memberi pelajaran yang sangat gamblang. Ketika pariwisata runtuh, Bali Selatan terguncang keras. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, ekonomi tersendat. Tetapi di wilayah seperti Jembrana, Karangasem, dan Buleleng, kehidupan tidak sepenuhnya berhenti. Pertanian dan sumber daya lokal menjadi bantalan sosial yang nyata.

Orang Bali bertahan karena masih punya sawah dan kebun. Mereka bisa kembali ke tanah ketika industri pariwisata kolaps. Pandemi memperlihatkan bahwa pariwisata bukan satu-satunya jalan hidup, meski sering diperlakukan seolah demikian.

Ironisnya, setelah pandemi berlalu, orientasi pembangunan kembali ke titik semula. Bali Selatan kembali digenjot. Bali lain kembali menjadi latar. Kita seolah tidak benar-benar belajar.

Karena itu, narasi “Bali sepi” sesungguhnya mengungkap kegelisahan wilayah yang terlalu bergantung pada satu sektor. Yang goyah bukan pulau ini secara keseluruhan, melainkan pusat yang terlalu dibebani.

Dari Jembrana, Bali hari ini tampak berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia tidak euforia, tetapi juga tidak muram. Sawah tetap hijau. Ladang tetap digarap. Upacara adat tetap berlangsung. Pariwisata datang dan pergi tanpa mengguncang fondasi kehidupan.

Ini bukan Bali yang sering muncul di media. Ini Bali yang jarang masuk headline. Bali yang tidak diukur dari okupansi hotel, tetapi dari keberlanjutan hidup warganya.

Mungkin inilah yang membuat narasi Bali sepi terasa janggal jika dilihat dari sini. Sepi atau ramai pariwisata tidak serta-merta menentukan rasa aman orang-orang di desa. Yang lebih menentukan adalah apakah tanah masih bisa ditanami, apakah air masih mengalir, dan apakah kehidupan tetap bisa dilanjutkan.

“Sajaa Bali sepi?” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang pariwisata, tetapi tentang cara kita memandang Bali. Sajaa kita selama ini terlalu lama melihat Bali dari selatan saja. Sajaa kita lupa bahwa pulau ini memiliki banyak wajah, banyak ritme, dan banyak cara hidup.

Jika pariwisata Bali ingin berkelanjutan, barangkali jawabannya bukan menambah hotel di wilayah yang sudah padat, tetapi mengubah cara kita membagi perhatian. Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur bukan Bali kelas dua. Mereka adalah bagian utuh dari pulau ini, dengan potensi dan cara hidupnya sendiri.

Dari Jembrana, saya belajar bahwa sepi dan ramai bukan selalu soal jumlah manusia yang datang, tetapi soal ketahanan hidup ketika mereka pergi. Bali tidak sepi. Yang ada adalah Bali yang terlalu lama dipersempit maknanya.

Sajaa? Benarkah Bali sepi? Atau kita hanya terlalu lama memandang Bali dari arah yang sama. [T]

Tags: balijembranaPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Sekadar Piala, Prestasi di Bangku Sekolah Punya Makna Tersendiri di Hati Aiko

Next Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta  |  Bencana Ekologis

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co