SUARA alarm berdering pukul 04.30 pagi. Suaranya terdengar di setiap sudut rumah yang masih terlelap. Tubuh-tubuh yang tertidur mulai menggeliat. Sepasang mata perlahan-lahan terbuka. Hampir di setiap pagi hari ada “drama” di rumah kami. Ya, apalagi kalau bukan adik perempuanku yang susah dibangunkan – ia masih terlelap di mimpinya. Begitu pun aku – yang tidak pernah benar-benar terbangun karena suara alarm itu. Bagi kita alarm sesungguhnya adalah suara khas bapak saat membangunkan untuk sholat subuh. Suaranya lugas, hangat dan penuh perhatian.
Sementara bapak masih berjibaku membangukan adik, tiba-tiba ibu sudah berada di samping tempat tidurku. Semua jendela kamar telah terbuka lebar. Embusan angin pagi yang beraroma tanah basah, ciri khas bau tanah saat turun hujan – menyelinap masuk kamar dan menyapu rasa kantukku. Ibu selalu menjadi orang yang pertama kali masuk kamarku di pagi hari. Ia juga yang membangunkanku untuk sholat, merapikan tempat tidur, dan membersihkan kamar. Tanpa banyak bicara – ia sebenarnya telah memberikan parenting class terbaiknya. Perhatiannya tak pernah absen dan tak pernah setengah-setengah. Banyak hal kecil yang tanpa kusadari telah berkembang menjadi kebiasaanku sehari-hari.
Suasana tiba-tiba menjadi hening dan khusyuk. Saat kami sekeluarga sedang menjalankan sholat subuh. Sejak kecil, aku diajarkan untuk bisa sholat tepat waktu dan tidak meninggalkanya. Dan setelah sholat berjamaah, biasanya ada semacam pesan yang disampaikan bapak kepada kami, misalnya: sholat adalah ibadah yang memberikan kesempatan untuk berdialog batin dengan Allah swt. secara langsung. Jika hal itu terlewatkan, maka kita akan kehilangan kesempatan langka tersebut. Setiap detik yang terbuang adalah bagian hidup yang tak bisa kembali. Pesan itu sangat lekat di ingatanku, seperti kunci yang membuka pintu-pintu kesadaran. Sholat bukan sekadar ritual, tetapi wujud syukur dan pengingat tujuan sebenarnya tentang hidup.
Aktivitas yang tak pernah terlewatkan selanjutnya adalah jogging. Bapak mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan batin dan fisik. Meskipun aku seringnya suka mager – bapak tak pernah menyerah begitu saja. Dalam hal fisik, aku tidak seperti adikku – ia rajin berolahraga dan mengatur pola makan dengan ketat. Postur tubuhku kecil bahkan tidak setinggi adikku. Kadang aku merasa minder. Tapi bapak tak pernah melihatku sebagai “anak kecil”. Ia melihatku sebagai “pejuang besar” yang terus bertumbuh. Setiap anak berhak untuk mendapatkan kepercayaan. Setiap anak diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.
Sepulang jogging, biasanya ibu telah menyiapkan sarapan yang menyehatkan. Dengan kepiawaiannya memasak, dalam sekejap berbagai menu telah tersaji di meja makan, seperti: sayur sup jamur, ayam goreng, dan tempe. Tidak lupa buah-buahan dan susu. Ini bukan semata rutinitas biasa, tapi begitulah bahasa cintanya — tak terucap tapi membekas sempurna.
Bagiku selalu saja ada “we time” bersama kedua orang tuaku – di sela kesibukannya masing-masing. Memang bukan masalah kuantitas, tapi lebih ke kualitas. Mereka tidak hanya menjadi orang tua saja. Mereka bahkan bisa menjadi teman, guru, bahkan konsultan personal yang bisa diandalkan. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, sepulang sekolah yang melelahkan – curhatanku masih punya tempat untuk didengar dengan penuh perhatian oleh ibu. Konseling gratis bukan? Ya, ini bisa kulakukan karena kebetulan jam pulang sekolah dan jam pulang kerja Ibu sama. Hampir bisa dipastikan aku selalu bisa pulang sekolah bersama ibu
Peran kedua orang tuaku terasa seperti paket komplit – keduanya saling melengkapi. Selalu ada ruang di setiap kekosongan diriku. Peran bapak sudah seperti mesin pencari ala google – kamus berjalan bagiku. Banyak hal yang aku ingin ketahui terjawab dengan logis, make sense, dan analoginya mudah dipahami. Begitu pun seorang ibu yang mengisi kekosonganku dengan perannya, seperti: mengajarkanku hafalan, ilmu sosial, keuangan, life skill dan lain-lainnya. Ibuku sangat bisa diandalkan.
Dari keduanya aku belajar banyak hal. Tidak semuanya tentang akademis. Tapi dalam hal soft skill dan life skill, seperti: belajar menerima kekalahan, menjadi pribadi yang dewasa, tumbuh kembang simpati, dan banyak hal lainnya. Ya, merekalah role model terbaikku. Saya meyakini hal-hal seperti itulah yang membersamai tumbuhkembangnya karakterku sejauh ini.
Satu hal lagi yang sangat menginspirasi dari mereka – banyak aturan yang berlaku di rumah berasal dari kesepakatan bukan paksaan, seperti: istirahat cukup, beribadah tepat waktu, disiplin mengelola uang saku, dan lain-lain. Aturan berlaku untuk semua anggota keluarga dengan prinsip keadilan yang demokratis. Aturan bukan sekedar larangan, tapi sebagai bentuk perlindungan yang membentuk karakter. Sebuah investasi di masa depan. Masa depanku yang berada di era media sosial, modernisasi, dan segala bentuk disrupsi digital lainnya. [T]
Penulis: Almeera Firdausy Kinasih
Editor:Adnyana Ole


























