23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Banyak Biaya? –Merayakan Hari Suci Mesti Cermat, Bukan Hemat

IK Satria by IK Satria
November 17, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

YADNYA dalam arti sederhananya adalah persembahan suci, persembahan yang dilakukan dengan dasar kesucian. Landasannya adalah kitab suci, dibuat dan dihaturkan oleh orang suci, dipersembahkan di hari yang suci, serta menggunakan alat-alat yang suci dan dilakukan di tempat yang suci. Inilah acara Agama Hindu kita.

Landasan kesucian adalah kata kuncinya sesungguhnya, sekarang kita bisa melihat bahwa yadnya sudah sangat bergeser pemahamannya bagi kita semua. Ada yang menyatakan yadnya adalah korban suci, artinya setelah berkorban, semua urusan selesai. Ada juga yang mengartikan bahwa yadnya adalah rutinitas kehidupan yang spiritual, artinya setelah beryadnya berarti kita sudah spiritual, dan beberapa anggapan lainnya.

Pada hakikatnya marilah kita renungkan, apakah setelah berkorban itu kita sudah mendapatkan kebaikan yang utuh dari alam? Bukankah sesungguhnya kita hanya konsumen dari segala produk alam ini yang kita pikirkan sebagai milik kita? Yang seharusnya kita pelihara baik untuk kebaikan hasilnya pula. Ini artinya kita telah menggeser makna yadnya itu, dari esensinya turun menjadi hanya sekedar rutinitas belaka.

Hal inilah yang kurang pada diri kita saat ini, kurang mengesensi pada hakikat yadnya sesungguhnya, sehingga hasilnyapun kurang mengena, artinya tidak tepat guna. Sebagai hasilnya adalah pandangan bahwa yadnya sudah besar, tetapi penderitan dunia semakin menguat. Padahal dari Yadnya itu sesungguhnya menghasilkan vibrasi kesucian yang mampu menguatkan sradha dan bhakti manusia kepada Tuhan. Pada pelaksanaan Yadnya Suci inilah dihadirkan Tuhan yang Maha Suci itu untuk menyaksikan seluruh rangkaian kesucian yang dipersembahkan.

Sungguh luar biasa jika kita sadari bahwa yadnya suci inilah yang menjadi tolak ukur bertemunya kesucian dan akan menjadi penyangga alam.

Menyangga artinya, alam ini disokong keberlanjutannya oleh yadnya, selain orang suci atau diksa, tapa atau pengekangan, pertiwi sebagai penghidup dan diikat erat oleh keberadaan Panca Maha Bhuta. Sehingga alam menjadi degdeg, kertha dan isinya Bahagia sejahtera. Panca Maha Bhuta inilah sesungguhnya perlu harmonis, bagaikan tali, yang selalu erat mengikat sehingga kokoh berdiri. Hal itu pula agar ikatan kekokohan alam ini tetap terseimbangkan dan tetap berlangsung sesuai hukumnya.

Pemahaman Yadnya itulah yang sesungguhnya mesti muncul dan kita lakukan pada setiap hari suci. Termasuk didalamnya hari suci Galungan dan Kuningan. Menjelang hari suci inilah umat kita merasa berat dengan berbagai pengeluaran yang tentunya tidak sedikit untuk ukuran jaman sekarang. Maka disinilah muncul kata “hemat” dalam beryadnya.

Dalam pandangan saya kata hemat dalam beryadnya ini sangat tidak relevan dengan pemahaman yadnya sebagai persembahan suci di atas. Kata hemat ini menyiratkan ketidakikhlasan yang memunculkan beragama Hindu kita menjadi memberatkan dan semakin jauh dari kesadaran. Nah pada titik inilah kita tidak akan memperoleh hasil dalam persembahan kita.

Maka kita harus cermat dalam mencermati esensi yadnya sebagai persembahan suci agar kita melakukan dan menggunakan sarana yadnya sesuai dengan kemampuan dan apa adanya. Tidak lagi ada pemikiran rajasika yaitu ingin tampil beda, ingin tampil mewah walau sesungguhnya itu dilakukan dengan kepamrihan yang sangat.

Sudah terlalu banyak sloka-sloka Veda menyiratkan bahwa beryadnya itu adalah bentuk kesadaran yang menjadi cetusan kesucian, untuk harapan kesucian dan hasilnya adalah kesucian pula. Maka melalui tulisan ini saya menggugah agar kita beryadnya sesuai dengan kemampuan atau ketulusan sesuai dengan kemampuan, bukan pada meniru orang lain yang mungkin sudah mampu secara ekonomi. Ketulusan itu justru adalah kelapangan hati, kemurnian dalam mempersembahkan dan akan membuat keharmonisan.

Hal konkrit yang bisa kita lakukan pada perayaan suci Galungan dan Kuningan antara lain adalah;

 Pertama, penggunaan buah lokal yang kita punya dan terdekat dengan alam kita, sehingga dengan berisi sebiji saja buah itu maka banten kita sudah dianggap benar oleh kitab suci. Penggunaan daging bisa kita peruntukan dan khususkan untuk sarana ritual, bukan pemenuhan keinginan konsumsi terlebih jika bisa mengurangi menambah minuman keras didalamnya.

Kedua, penjor upakara adalah berisi seluruh isi alam yang kita miliki sekedarnay seperti biji-bijian secukupnya, buah-buahan secukupnya, pala bungkah dan pala gantung, serta dilengkapi dengan pala rambat. Dihias sewajarnya dan secukupnya maka akan menghasilkan penjor upakara penuh makna.

Ketiga yang lebih penting adalah melaksanakan tapa brata sesuai dengan rangkaian hari suci galungan seperti diawali dengan ke elingan pada sugi pengenten, pembersihan lingkungan atau alam semesta pada sugihan jawa, dilanjutkan dengan bersuci pada sugihan bali, dan inilah pondasi pertama. Selanjutnya adalah anyekung jnana pada penyekeban, menata kata dan laku pada penyajaan dan dilanjutkan dengan pengendalian diri dengan baik pada penampahan galungan. Inilah bangunan lanjutan dari pondasi rangkaian galungan sesungguhnya. Jika ini sudah dilakukan maka menancapkan kemenangan (disimbolkan dengan penjor) akan membuat semua menjadi lebih baik.

Mari kita mengenali dan melakukan hakikat yadnya sebagai penyangga alam sesungguhnya, dengan kesungguhan kita secara sekala dan niskala. Bukan hanya memuja, namun juga memelihara. Galungan itu akan menjadi hari perayaan kemenangan sesungguhnya jika kita memang sudah menang setiap hari dalam melaksanakan agama kita sebagai perilaku bajik dan sempurna untuk ukuran kita. Kurangi beryadnya dengan alas an kemewahan dan ingin pamer, karena itu akan mencederai yadnya yang sesungguhnya sangat menghasikan kelimpahan. Rahajeng merayakan kemenangan di Galungan yang sesungguhnya.[T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Next Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Dokter Gila --- Kumpulan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co