13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Cica Dwi Febria by Cica Dwi Febria
November 20, 2025
in Persona
Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Penulis Boy Candra berbincang santai di Cafe Steva, ruang literasi yang hangat di tengah budaya nongkrong anak muda. (foto: Cica Dwi Febria)

DI tengah riuh budaya nongkrong anak muda, cafe steva hadir sebagai ruang sunyi berbicara lewat aroma kopi dan rak buku di sudut ruangan. Bagi penulis Boy Candra, tempat ini bukan sekedar cafe melainkan simbol kecil dari gerakan literasi yang hidup di kota Padang.

Boy Candra merupakan seorang penulis muda asal Sumatera Barat yang dikenal lewat karya-karya puitis dan romantisnya. Ia aktif menulis sejak tahun 2011 dan memulai debut di dunia kepenulisan pada tahun 2013 dengan Origami Hati menjadi novel perdananya. Kini Boy Candra telah menerbitkan lebih 30 buku, yang mencakup novel, kumpulan prosa, kumpulan cerita, dan puisi. Gaya tulisannya yang sederhana namun penuh makna menjadikannya dekat dengan pembaca muda di seluruh Indonesia.

Cafe dengan ruangan yang menghadirkan suasana hangat dan tenang, seolah membawa pengunjung ke sebuah perpustakaan kecil yang menenangkan dengan suara musik lembut mengalun dari pengeras suara disetiap sudut dengan khas yang klasik. Dipojok ruangan, rak kayu kecil berdiri dengan tenang, menampung deretan buku sastra, fiksi, dan puisi. Disanalah penulis asal Sumatera Barat, Boy Candra menikmati sore di Cafe Steva, tempat yang dikenal nyaman untuk diskusi dan tempat ngobrol yang cukup asik.

Dalam percakapan sore itu, Boy Candra berbagi pandangan tentang ruang literasi, budaya membaca dan berbagai inspirasi.

Halo, selamat sore Bang Boy.

Iya, sore.

Lagi ngapain nih, Bang?

Lagi duduk ngobrol santai.

Aku boleh nanya-nanya enggak Bang mengenai pandangan Bang Boy terhadap pojok baca seperti ini Bang?

Boleh-boleh.

Saat pertama kali melangkah ke kafe ini, apa yang paling menarik perhatian Bang Boy, aroma kopi, suasananya, atau rak buku kecil di pojok sana?

Sebetulnya cafe ini memang tempat yang sering saya kunjungi, dan tempat ini juga bisa dikatakan bagian dari ide saya dan juga teman-teman karena yang punya cafe kawan baik saya, kebetulan tempat ini juga dekat dengan rumah saya. Steva dulu bukan di sini. Dulu di belakang Kemenkes, di rumah Bang Fatris, pemilik kafe. Baru pindah ke sini sekitar satu setengah tahun lalu.

Apa yang membuat Bang Boy betah berlama-lama di sini? Apakah tempat ini memberi semacam ketenangan atau inspirasi tertentu bagi proses menulis Anda?

Cafe yang konsepnya seperti ini di Padang tidak banyak, yan hanya taruh buku pasti ada, tapi konsep yang ada pustaka cuman ada di Steva, karena di sini juga sering diadakan acara juga, terus menurut saya datang ke cafe ini tidak hanya sekedar beli kopi, melainkan kita bisa baca buku secara gratis dan tempatnya pun asik untuk ngobrol.

Pojok baca ini tampak sederhana, tapi terasa hidup. Menurut Bang Boy, apa makna keberadaan ruang seperti ini di tengah hiruk-pikuk kota dan budaya nongkrong anak muda?

Kalau diibaratkan, toko buku dan perpustakaan itu seperti akar dari pohon peradaban. Orang Minang suka memperbesar kepintaran mereka, tapi tanpa buku, upaya itu jadi tidak lengkap. Tempat seperti ini mestinya bisa jadi ikon kota atau simbol peradaban.

Sebagai seorang penulis yang tumbuh di Sumatera Barat, bagaimana Bang Boy melihat perkembangan budaya membaca dan menulis di daerah ini beberapa tahun terakhir?

Tahun lalu, Sumbar punya angka kunjungan pustaka yang cukup tinggi. Tapi kita perlu lihat juga apakah itu angka semata atau benar-benar kebiasaan membaca. Di Sumatera cukup banyak komunitas literasi bermunculan seperti TBM (Taman Baca Masyarakat), siteba berpuisi, nah itu menandakan gairah literasi yang hidup. Namun, masih ada mahasiswa yang belum pernah baca satu pun buku sastra. Itu agak aneh, tapi nyata.

Apakah ada momen khusus di kafe ini, misalnya ketika sedang membaca atau berbincang dengan pengunjung lain yang pernah memantik ide untuk menulis sebuah cerita atau novel?

Tidak pernah karena belum ada momen yang menarik juga untuk ditulis.

Dari pengamatan Bang Boy, bagaimana respons para pengunjung terhadap pojok baca ini? Apakah mereka benar-benar membaca, berdiskusi, atau sekadar berswafoto?

Banyak yang datang ke sini buat tugas, ada juga yang baca atau sekadar ngobrol. Bang Fatris itu orangnya terbuka. Kalau ada acara mahasiswa, disediakan mic dan sound system gratis.

Cafe ini tampak menjadi titik temu antara dunia sastra dan gaya hidup urban. Menurut Bang Boy, seberapa penting peran ruang-ruang publik seperti ini dalam menghidupkan gerakan literasi lokal?

Sekarang banyak mahasiswa nongkrong di cafe. Nah, kalau di cafe lain kamu cuma dapat kopi, di Steva kamu bisa dapat baca buku juga dan gratis. Apalagi di Sumatera Barat yang bisa dikatakan kota mahasiswa dan tempat- tempat seperti ini justru jadi penting.

Banyak yang bilang minat baca di Indonesia masih rendah. Dari sudut pandang Bang Boy, apa sebenarnya yang membuat orang enggan membaca akses, kebiasaan, atau mungkin kurangnya tempat yang ramah buku seperti ini?

Masalahnya bukan cuma orang suka baca atau enggak, tapi apakah mereka punya kesempatan untuk ketemu dengan buku. Banyak keluarga yang tidak punya buku di rumah, sehingga anak-anak tidak tumbuh dengan kebiasaan membaca, bisa karena ekonomi, bisa karena gak tahu cara beli buku, atau gak terbiasa. Makanya perlu dimulai dari hal kecil bikin rak buku di rumah, atau mahasiswa KKN bikin perpustakaan mini di desa. Membaca itu bukan hal instan, kamu harus nemu dulu buku yang cocok, yang bikin kamu nyaman, baru bisa jadi kebiasaan.

Apakah Bang Boy pernah terlibat dalam kegiatan literasi di kafe ini, seperti bedah buku, diskusi karya, atau sekadar berbagi pengalaman menulis dengan pengunjung lain?

Kalau ada teman-teman penulis datang, seperti JS Khairen, biasanya saya bantu hubungkan dengan Bang Fatris. Tempat ini terbuka banget buat siapa pun yang mau bikin acara literasi.

Jika boleh bermimpi, seperti apa Bang Boy membayangkan masa depan literasi di Sumatera Barat dan peran kecil yang mungkin dimainkan oleh kafe dengan pojok baca seperti ini?

Saya berharap akan ada lebih banyak tempat seperti Steva di Sumatera Barat, di sini orang bisa membaca di luar jam kerja, bahkan malam hari. Karena literasi itu tidak harus selalu di perpustakaan bisa di mana saja, bahkan di antara secangkir kopi dan percakapan yang hangat.

PERCAKAPAN sore itu menutup hari dengan secangkir kopi yang mulai dingin, namun meninggalkan hangatnya gagasan tentang literasi. Dari Boy Candra, kita belajar bahwa membaca dan menulis tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal, tetapi juga dari tempat sederhana seperti sebuah kafe yang memberi ruang bagi ide dan pertemuan.

Cafe Steva bukan hanya tempat menikmati kopi, melainkan bukti bahwa gerakan literasi bisa tumbuh dari hal kecil dari rak buku di pojok ruangan, dari obrolan santai, dan dari semangat untuk terus menyalakan api pengetahuan di tengah budaya nongkrong anak muda. [T]

Penulis: Cica Dwi Febria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Boy Candranovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Cica Dwi Febria

Cica Dwi Febria

Mahasiswa Universitas Negeri Padang

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co